Minggu, 13 Mei 2012

Semua Tentang Kita | part 3


***


“Kok, baru pulang Fel?” Mama sudah berdiri di depan pintu, alisnya naik menatapku. Aku sangat yakin Mama sempat melihat Farish.

“Tadi kejebak hujan di sekolah, Ma.” Aku menggaruk kepala. Berjalan mengendap-endap di samping Mama. Aku sedikit lega, setidaknya tidak kena omelan karena baru pulang pukul lima sore.


Saat berjalan menuju kamar, aku melihat Icha sedang makan puding di meja makan. Aku menyeringai jahil, seraya menenteng dua sepatu, aku mendekatinya.

“Enak nih.” Aku mencolek pipi tembemnya. Icha menatapku galak.

“Nggak enak!” Icha mulai gusar, mendekap piring pudingnya dengan kedua tangannya.

“Ehm, kalau nggak enak, sini, buat kak Fel aja.” Aku hampir mendapatkan kesempatan mencicipi puding itu.

“Mama, Mama! Kak Fel nakal nih.” Icha berteriak-teriak, mengamuk, memukul-mukulkan sendok plastiknya ke tanganku, mengusir. Aku menjulurkan lidah, mencibirnya. Icha malah mengayunkan kakinya. Satu sendal jepitnya melayang ke wajahku. Aku mengaduh. Sendal itu bukan dari gabus, tetapi dari kayu! Aku berlalu dengan sebal, ingin menjitak bocah kecil itu, tidak jadi, Mama terlanjur datang, aku hanya nyengir lalu kembali berjalan ke arah kamar. Keningku cukup nyut-nyutan terkena lemparan sendal tuyul itu. Besok-besok aku harus menggunakan cara yang lebih aman. Seperti halnya memakai helm anti pecah.


Icha sangat berpengaruh dalam hidupku. Anak kecil yang baru berumur lima tahun itu sangat menyebalkan. Dan lagi-lagi aku yang diwajibkan untuk mengalah. Sama seperti pada malam-malam sebelumnya, malam ini pintu kamarku diketuk lagi. Aku membuka pintu dengan malas.

“Apalagi?” Aku mendelik, Icha berdiri di depan kamarku, tangannya mendekap boneka elmo. Sebenarnya boneka itu milikku yang beberapa hari lalu dirampas secara paksa. Dengan berat hati aku merelakan, meskipun itu pemberian Farish.

“Mau apalagi?” Aku bertanya sekali lagi. Icha bukannya menjawab, malah asyik menggigit jarinya.

“Ih, nggak boleh. Nanti bisa cacingan hlo!” Aku membungkuk, mensejajari tinggi badan Icha, lantas menarik paksa jarinya dari dalam mulutnya.
“Di kamar kak Fel ada apa aja?” Icha membulatkan mata, memaksa melihat kamarku dari sela kakiku. Kamarku dikira toserba kali ya? Aku menggelengkan kepala, pasrah, terpaksa membiarkan Icha masuk sebelum mulut mungilnya berkoar-koar. Icha lincah menyentuhi satu per satu barangku. Mulai dari jam weker hingga boneka-boneka, entah malam ini boneka apa yang akan dirampasnya. Aku hanya melirik polah-tingkahnya dari meja belajarku, mengibaskan tangan, kembali fokus ke layar laptop.

Aku baru akan peduli kalau sampai Icha berhasil merobohkan kamarku. Dengan begitu aku mempunyai modus untuk melarang tuyul itu masuk kamarku lagi. Beberapa menit kemudian, aku tidak mendengar anak itu rusuh mengobrak-abrik benda lagi. Kali ini aku menoleh, pantas saja Icha sejak tadi diam saja, orang dia sibuk makan coklat. Apa? Coklat? Aku cepat mendekatinya, merampas coklat itu dari tangannya. Percuma saja, tinggal bungkusnya yang tersisa. Aku tak habis pikir bagaimana Icha bisa menemukannya, padahal coklat itu sudah kusimpan di tempat yang paling aman. Emang dasarnya udah tuyul, mau disimpan dimana aja tetap ketahuan. Aku meraih tisu, mengelap bibir dan tangan Icha yang berlepotan. Jangan sampai Mama tahu jika Icha makan coklat lagi, bisa-bisa aku yang remuk. Setelah bersih, aku terpaksa menggendong Icha keluar dari kamarku, malam sudah larut. Aku sempat kesal, bagaimana tidak? Icha keluar dari kamarku menenteng dua boneka. Itu artinya bonekaku berkurang satu lagi.



***


“Mamaaa..” Icha berseru manja, matanya mengerjap.

“Apa sayang? Diapain lagi sama kak Fel?” Mama berteriak dari dapur. Kok aku? Aku menatap Icha galak, meringis, kedua tanganku terjulur, mendesah seperti mak lampir. Icha mengerucutkan bibirnya, menangis kencang, melempar apa-saja yang ada didekatnya. Untung aku masih bisa menghindar, dan untungnya semua alat makan Icha terbuat dari plastik melamin.

“Aduh, kenapa ribut-ribut?” Mama berjalan dari arah dapur, membawa dua gelas susu diatas nampan. Mama panik begitu melihat Icha menangis.

“Icha diapain sama kak Fel?” Mama menatapku tak kalah galak.
“Ditakut-takutin pakai itu!” Icha menunjuk tanganku, lebih tepatnya menunjuk kuku-ku yang panjang.

“Icha bohong tuh, Ma. Udah ah, Fel berangkat dulu ya.” Aku buru-buru mencium tangan Mama sebelum kena omelan pagi, aku juga sudah mendengar suara motor Farish.

“Dadah, monster kecil.” Aku iseng mengacak rambut Icha. Dia balas menepuk tanganku kencang.


***


“Bianka satu kelas sama aku.” Farish membuka pembicaraan.

“Terus?” Aku menatapnya tidak mengerti.

“Nggak bakal cemburu kan?” Farish mencolek pipiku.

“Aku percaya sama kamu.” Aku merangkulnya. Pagi ini, mumpung sekolah masih sepi, kami berdua duduk lesehan di lapangan basket.

“Yank, aku cinta banget sama kamu.” Farish merubah posisinya. Aku meluruskan kaki, Farish meletakkan kepalanya di pangkuanku.

“Aku juga.” Aku melingkarkan tangan di lehernya.

“Berarti kalau kita pisah nanti, kamu harus bisa menjalani harimu tanpa aku.” Farish mengelus tanganku yang ada di lehernya.

“Kok gitu?” Aku cemberut.

“Kamu mau nggak nikah sama aku?” Farish tidak menjawab pertanyaanku, memilih menanyakan hal itu.

“Mau. Tapi nggak mungkin kan nikah sekarang?” Aku tertawa, dia juga ikut tertawa lebar.

“Nanti, tunggu sampai aku mapan dulu ya, yank.” Tangan Farish terangkat, menyentuh pipiku.

“Aku nggak suka hlo dikasih janji-janji.” Aku menangkap tangannya. Farish mengangguk. Aku selalu percaya apapun yang dikatakannya.



Aku mendadah Farish dari kejauhan, kami masuk ke kelas masing-masing. Baru dua langkah memasuki kelas, Dewi datang menghadangku.

“Huh, lo tega sama gue. Kemarin masa ditinggalin sendirian di lapangan!” Dewi mengomel, nyolot.

“Iya, maaf.” Aku menaikan alisku sebelah.

“Gue nggak mau tahu, nanti siang lo kudu temenin gue nonton semifinal. Teamnya Dika masuk!” Dewi menudingku dengan telunjuknya, mengancam, mengoyak kedua bahuku.

“Halah, gue jamin teamnya Dika nggak bakal masuk final!” Aku menyibak tubuhnya, berjalan melewatinya. Dewi tidak terima dengan ucapanku tadi, mengintil di belakangku sambil mendumal.

“Ah, tega banget lo ngomong gitu.” Dewi duduk di depanku, memprotes.

“Cari duduk, Wi. Gue capek berdiri terus.” Aku mengeluh. Sial, kenapa tadi aku mau diajak nonton semifinal nggak penting ini? Apalagi dari kejauhan aku melihat Dika melambaikan tangan kepadaku. Tetapi dengan girang Dewi membalas melambaikan tangan. Dika mengerutkan dahi, menurunkan tangannya cepat. Aku menutup mulutku, menahan tawa yang akan lepas.

“Fel, gue boleh duduk disini kan?” Bianka tiba-tiba datang, menepuk pundakku, aku sedikit kaget. Aku hanya mengangguk. Tanpa aku menjawabnya pun dia akan tetap duduk disampingku.

“Udah berapa lama pacaran sama Farish?” tanyanya mencoba basa-basi.

“Hampir tiga tahun.” Aku sama sekali tidak sudi menatap wajahnya.

“Wow, kalian hebat! Dulu, waktu masih SMP, kita cuma bisa bertahan selama tiga bulan.” Bianka berdecak kagum, aku menyunggingkan bibir. Jadi, mereka sempat berpacaran? Dan, jangan-jangan Bianka sampai sekarang masih mengharapkan Farish?

“Farish masih romantis kan?” Bianka menyentuh lenganku, memaksa agar aku menoleh.

“Masih.” Jawabku sedikit kesal. Dia sengaja memancingku atau bagaimana?

“Bagus deh.” Bianka tersenyum licik. Aku membuang muka lagi, amit-amit menatap wajahnya yang sok-imut. Aku merasa posisiku mulai terancam, apalagi Bianka satu kelas dengan Farish. Aku benar-benar merasa khawatir, takut jika Bianka akan merebut Farish dariku.


“Apa gue bilang, bener kan?” Aku tersenyum menang.

“Iya.” Jawabnya lesu. Dewi sedih melihat team Dika yang gugur di semifinal.

“Udah ya, seorang Dewi tuh nggak pantes nangis.” Aku merangkulnya saat berjalan menuju kelas. Dewi tetap saja menangis, aku sampai heran, begitu besar cintanya untuk Dika. Aku menepuk-nepuk pundaknya. Setelah mengantar Dewi ke kelas, aku berniat menemui Farish di lapangan basket. Aku ingin ikut akustikan seperti kemarin. Dengan riang aku berjalan di tepi lapangan. Langkahku tiba-tiba terhenti, menggelengkan kepala, sekali lagi menatap kerumunan yang ada di lapangan itu. Hampir tidak percaya, aku menyeka keningku, bagaimana ini terjadi? Bianka, dia merusak segalanya, selalu berusaha merebut posisiku.

Bianka duduk disamping Farish. Kadang menggelayuti lengan Farish dengan manja, tertawa riang. Hei, itu posisiku! Saking asyiknya sampai-sampai Farish tidak melihat kehadiranku. Aku disini, di tepi lapangan, menyaksikan semuanya dengan amat jelas. Aku menyeka pipiku yang hangat, cukup, aku memutuskan untuk beranjak, untuk apa disini? Hanya akan menambah rasa sakit hatiku. Aku lebih memilih menangis di kamar mandi, hanya disana aku bisa meluapkan segalanya. Dadaku sesak mengingatnya, semua terasa nyata didepan mataku. Aku sangat takut kehilangan Farish. Itu saja.



Bel pulang sekolah berbunyi, seperti biasa, Farish sudah duduk di depan kelasku, menungguku.

“Habis nangis ya?” Farish hampir menyentuh pipiku.

“Cuma kurang tidur aja.” Aku menepis tangannya.

“Ah, tadi pagi kamu nggak kayak gini kok.” Farish masih ngeyel. Aku menghembuskan nafas.

“Aku mau pulang sekarang aja.” Aku berjalan mendahului, meninggalkan Farish yang masih duduk. Sebenarnya, aku ingin terlihat baik-baik saja seperti tidak terjadi apa-apa, tapi aku tidak bisa menutupinya.



Aku berlalu begitu saja tanpa mengucapkan salam. Mama yang duduk di sofa terheran-heran menatapku, bahkan sampai tidak sempat menegurku, lebih sibuk mengamatiku. Aku menghempaskan tubuhku diatas kasur, menatap langit-langit kamarku dengan mata berkaca. Aku sampai tidak menyadari jika Icha ada di kamarku. Sedang apa dia? Aku meliriknya sebentar. Dia hanya berdiri di samping ranjangku. Melakukan apa? Aku penasaran, bangkit dari kasur, lalu mendekati Icha. Lihat apa yang sedang dilakukan monster kecil itu! Aku mencembungkan mata, tidak percaya, darimana dia mempunyai ide gila itu? Aku melihat tangan mungilnya sedang asyik mengobok-obok aquarium. Jari-jarinya lincah menangkapi ikan emas kecil yang ada didalamnya. Airmataku langsung berganti dengan darah yang mendidih.

“Icha!!!” Aku berteriak jengkel. Icha menatapku dengan wajah polosnya.

“Kak Fel berisik ah! Nanti ikannya lari!” Icha meletakkan telunjuk kirinya di bibir, menatapku galak. Sejak tadi ikannya juga sudah kalang-kabut!








Bersambung—

Semua Tentang Kita | part 2



Baru saja aku menutup pintu, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu lagi. Aku naik pitam, mengambil sendal jepit, aku ingin menimpuk kalau-kalau yang datang Dika lagi. Tanganku langsung terhenti begitu melihat yang datang bukan Dika, melainkan Farish. Aku meringis melihat Farish yang sedang melipat dahi, menatapku dan sendal ditanganku secara bergantian.

“Mau nimpuk aku?” Farish menunjuk dirinya sendiri. Aku segera melepas sendal itu dari tanganku.

“Bukan. Tadi niatnya buat nimpuk Dika.” Aku nyengir kuda.

“Dika ke sini? Ngapain dia?” tanyanya dengan nada cemburu.

“Tuh, ngasih bunga mawar.” Aku menunjuk tempat sampah di dekat pintu. Farish tertawa terpingkal-pingkal.

“Eh, keluar yuk.” Farish sudah berhenti tertawa, menatapku antusias.

“Rumah lagi nggak ada orang. Jalan-jalan ke depan komplek aja ya.” Farish mengangguk setuju. Aku tersenyum menyambut uluran tangannya.


Kami berjalan saling bergandengan tangan, sesekali Farish merangkul bahuku, saling melempar canda, tertawa.

“Besok kalau udah lulus, mau lanjut kuliah dimana?” Aku bertanya iseng.

“Maunya sih di hati kamu.” Farish mencolek daguku. Aku diam mendengar jawaban itu. Setiap kali aku bertanya tentang hal ini, dia tidak pernah menjawabnya dengan serius.

“Kenapa? Kok sedih sih?” Farish menatap lurus ke depan, tangannya mengacak rambutku pelan.

“Aku sangat takut bila nanti kita tidak bersama lagi.” Aku berkata dengan suara serak, satu tetes menetes dari mataku.

“Yank, nggak boleh ah punya pikiran kayak gitu.” Farish mengusap pipiku.

“Aku hanya takut—” Aku menggigit bibir, tidak melanjutkan kalimatku.

“Justru aku yang harusnya takut. Sekarang, Dika udah berani nyamperin kamu ke rumah, bawa mawar pula.” Farish menyeringai, memotong kalimatku, mengacak poniku.

“Aku kan cintanya cuma sama kamu.” Jawabku melempar senyum. Farish gemas menarik pipiku. Aku balas menendang kakinya. Dia pura-pura mengaduh, aku kira dia tidak akan kesakitan. Begitu aku mendekatinya, Farish malah balas menggelitikiku, tanpa ampun aku langsung menginjak kakinya. Kali ini dia beneran mengaduh.


***


Hari minggu ini aku cukup senang. Farish mau ikut menemaniku pergi ke toko buku. Dia hanya mengekor dibelakangku. Sepertinya dia sedang menutupi rasa bosan. Aku mengangkat bahu, dia memang tidak suka jika kuajak ke toko buku. Entah apa modusnya sehingga siang ini dia mau-mau saja mengantarku mencari buku.

“Yank..” Aku memanggilnya dengan manja.

“Apa?” Farish menoleh, menghampiriku.

“Itu, ambilin.” Aku menunjuk sebuah novel di rak paling atas. Farish ber-oh kemudian, tanpa ba-bi-bu langsung mengangkat tubuhku. Tanganku akhirnya bisa meraih novel tebal itu.

“Udah, buruan turunin. Malu dilihat orang!” Aku mendesis pelan, baru saja aku melihat tatapan aneh dari karyawati toko. Farish hanya nyengir, lalu menurunkan tubuhku. Setelah cukup lelah berkeliling, aku segera menuju tempat kasir. Saat aku menoleh, aku tidak mendapati Farish ada disampingku. Kemana dia? Aku celingukan mencari, meninggalkan novel tadi di meja kasir. Aku mengitari rak-rak buku. Memanyunkan bibir ketika aku melihat Farish berbincang akrab dengan seorang perempuan. Dengan langkah memburu aku menghampiri mereka yang sedang asyik bercengkrama.

“Eh, pacar kamu ya?” Perempuan itu menunjukku sebelum aku sempat menegur mereka. Farish sedikit terkejut melihatku.

“Iya. Ini pacar gue.” Farish cepat merangkulku. Aku tersenyum kaku.

“Bianka.” Perempuan itu mengulurkan tangan, tersenyum tipis.

“Felisa.” Aku menjabat tangannya, aku sedikitpun tidak membalas senyumannya.

“Bianka ini temen SMP-ku.” Farish girang bercerita. Aku melengos, siapa juga yang mau berkenalan lebih dekat dengan perempuan itu? Sejak awal, aku sudah tidak nyaman dengan Bianka. Entah, yang pasti ini bukan soal cemburu.

“Eh, makan bareng kita aja, yuk?” Farish menawarkan dengan antusias. Aku melotot tidak terima.

“Ng.. Boleh deh.” Bianka riang menerima ajakan Farish. Aku gemas sekali, ingin sekadar menimpuk perempuan itu dengan novel tebal tadi. Apa boleh buat, jadinya kami bertiga mampir ke sebuah foodcourt. Aku lebih memilih memesan cappucino saja. Tiba-tiba saja selera makanku hilang.

Aku lebih banyak diam. Bianka malah agresif mengajak Farish mengobrol ini-itu yang bagiku tidak penting sama sekali. Aku seperti kambing congek melihat mereka berdua sibuk dengan perbincangan yang entah membahas apa. Sedikit merasa mangkel, aku dengan sebal memainkan sendok di cangkirku yang sudah kosong. Hello? Di sini aku dianggap apa sih? Angin atau apa!


Farish dengan cepat bisa menangkap ketidaknyamanan-ku. Farish buru-buru berpamitan, meminta maaf kepada Bianka karena tidak bisa berlama-lama. Aku melipat dahi, menggeleng tidak percaya, sempat-sempatnya mereka bertukar nomer telepon.



Sepanjang jalan menuju rumah, aku mematung, tidak memberi reaksi apapun, energiku sudah terlumat habis saat di foodcourt tadi. Tanganku bahkan tidak berpegangan, aku cukup terkesiap ketika Farish menarik tanganku lalu melingkarkan di perutnya. Aku menyandarkan kepalaku di bahunya tanpa ragu.

“Aku nggak suka sikap kamu tadi. Ganjen tahu!” Aku berkata pelan.

“Iya. Maaf ya, yank. Sikapku tadi agak keterlaluan.” Farish menyentuh tanganku. Aku mendongak, aku kira dia tidak mendengar ucapanku tadi. Aku mempererat tanganku, lega sekali karena Farish mau mengakui kesalahannya. Hari ini aku mendapat pelajaran penting tentang sebuah arti kesetiaan. Aku sangat menghargai bagaimana usaha Farish untuk menjaga perasaanku. Ya, meskipun aku sempat jengkel dibuatnya.


***


Sudah terdengar klakson motor di depan rumahku. Aku menyibak gorden jendelaku, melihat Farish yang sudah standby di depan pagar rumah. Aku bergegas, berpamitan dengan Mama, lantas menyambar sepotong roti tawar.

“Kok tumben pagi amat?” tanyaku heran.

“Semalam nggak ada bola.” Farish terkekeh.


Aku kembali melirik layar hp-ku. Jam enam lebih lima belas menit. Pantas saja sekolah masih sepi begini.

“Cari sarapan dulu, yuk.” Aku langsung menarik tangan Farish menuju kantin yang tak jauh dari tempat parkir. Kami duduk berdua, memesan dua mangkok soto dan dua gelas teh hangat.

“Eh, nanti classmeeting apa ya?” Farish bertanya spontan. Aku mengangkat bahu, tidak tahu-menahu soal itu.
“Kalau futsal jangan ikut ya, yank.” Aku melarang mengingat penyakit asmanya.

“Iya.” Jawabnya pendek. Aku menatapnya takzim. Bukan aku sok-ngatur, aku hanya tidak ingin melihat Farish tumbang seperti tempo hari.




“Eh, katanya bakal ada anak baru loh.” Rere berseru, suaranya melengking tajam memenuhi langit-langit kelas. Aku menutup kuping, berlalu dengan cuek di depannya, sedikitpun tidak mau tahu tentang kabar itu. Aku sedikit lega, hari ini kelas free, hanya ada kegiatan classmeeting saja. Aku membuang nafas, sejak lima menit yang lalu, tanganku ditarik-tarik paksa oleh Dewi, sibuk mengajak menonton futsal di lapangan. Aku memilih untuk menyerah, akhirnya aku mau mengikuti rengekan Dewi.

“Aduh, cool man! Lihat Fel, itu Dika ganteng banget!” Dewi heboh menunjuk ke arah lapangan. Hei, apa barusan yang dia bilang? Aku menyeka keningku. Aku menempelkan punggung tanganku dikeningnya, tidak panas, masih waras. Dewi terus saja berseru mendukung Dika. Aku menyeringai, bagaimana kalau Dewi tahu jika Dika masih mengejar-ngejarku sampai saat ini? Aku benar-benar tidak mengerti ekspresi seperti apa yang akan Dewi tujukan kepadaku.


Tiba-tiba saja angin berhembus kencang. Semua pemain di lapangan pun kompak menoleh ke arahku. Tergugu, bahkan sampai melongo. Aku penasaran, ikut menoleh ke belakang. Dewi sepertinya juga ikut bergeming. Adegan ini layaknya slow-motion. Lihatlah siapa yang baru saja berjalan anggun lewat di belakangku. Dewi reflek menunjuk-nunjuk orang itu,
“Itu anak barunya!”


Hah? Aku sepenuhnya belum percaya ini. Apa aku saja yang salah lihat? Bianka bersekolah di SMA ini? Ini sulit kuterima. Bagaimana mungkin perempuan ganjen itu ada di sekolah ini? Lihat saja bagaimana dia mampu membius anak-anak cowok sampai mematung begitu. Aku memajukan bibir, sepertinya sudah takdirku untuk melihat wajah Bianka setiap hari. Aku jadi teringat sesuatu, Farish dimana ya? Aku melirik Dewi yang kini sudah kembali bersorak heboh. Dengan iseng aku meninggalkan Dewi di tepi lapangan seorang diri. Aku berlarian mencari Farish.
Aku berhenti di depan perpustakaan, mengatur nafas, lelah mencari Farish. Akhirnya aku baru menemukan Farish setelah aku berinisiatif menyambangi lapangan basket. Benar saja—setelah tadi aku melarang dia ikut tanding futsal—dia ternyata sedang duduk di tengah lapangan basket bersama teman-temannya, bermain gitar dan bersenandung riang. Farish berhenti memetik gitar begitu melihat aku melambaikan tangan dari tepi lapangan. Dia meletakkan gitar, teman-temannya bersiul-ria ketika Farish berlari kecil menghampiriku.

“Ada apa?” Farish menyentuh lenganku.

“Bianka sekolah di SMA ini!” Aku mengoyak tangannya.

“Oh ya?” Farish menanggapi dengan datar, terkesan tidak mau tahu dan peduli.

“Kok cuma gitu doang reaksinya?” Aku heran sendiri. Bukankah seharusnya dia senang mendengar berita ini?

“Terus, aku harus gimana? Menggelar red carpet buat nyambut dia?” Farish tertawa geli. Aku baru sadar, dia hanya tidak mau aku cemburu lagi seperti kemarin siang. Makanya dia pilih cuek-cuek saja. Farish mengajakku untuk bergabung bersama teman-temannya. Aku juga ikut menyumbangkan suara dan Farish yang memetik gitarnya. Acara ini lebih mengasyikan ketimbang acara classmeeting.



“Eh, kok malah hujan?” Aku bergumam lirih. Sekarang, hanya bisa merapatkan tangan di tepi hall. Farish lebih terlihat tenang daripada aku.

“Ayo, nekad aja, yank.” Farish tiba-tiba menarik tubuhku.

“Nggak mau!!” Aku membentaknya, tidak sengaja. Aku menarik tanganku kembali. Sedikit menyesal tadi membentaknya. Farish berdiri disampingku seraya melipat tangan di dada.

“Aku nggak mau kamu sakit. Tunggu sampai hujannya reda ya.” Aku menyandarkan kepalaku di bahunya. Farish membelai kepalaku. Di hall hanya menyisakan kami berdua. Semua murid sudah pulang sebelum hujan turun. Selang beberapa menit, hal yang tidak pernah kuduga, ternyata Bianka belum pulang. Dia ikut berdiri disamping Farish.

“Kalian juga belum pulang?” Bianka menyapa dengan nada terkejut.

“Belum.” Farish menjawab dengan jutek.

“Kapan sih hujannya reda?” Bianka sibuk mondar-mandir, mengibaskan rambut.







Bersambung—

“Biarkan Aku Mencintaimu” (bagian 6)



Aku Mencintaimu




Hari berlalu lebih cepat dari yang aku bayangkan. Jauh dari Mita selama berbulan-bulan, dan aku bisa melewatinya tanpa keluhan. Aku mengusap wajahku, mendengar pintu diketuk. Aku bergegas melangkah untuk membukanya.

“Kerja bagus! Papa bangga sekali. Siapa yang menyangka kau menang proyek itu.” Papa takjub menepuk-nepuk pundakku. Aku menyunggingkan bibir. Papa datang ke ruanganku hanya untuk menyampaikan hal itu. Sebelum pergi, Papa sempat berpesan, “Jangan terlalu diforsir! Malam ini seharusnya kau pergi berkencan, eh, setidaknya pergi bersenang-senang bersama temanmu.” Papa terkekeh, hampir kelepasan menyindirku tentang pacar. Aku balas menyeringai. Papa melangkah keluar.

Aku kembali terduduk di kursi empukku. Mengelus dahi yang berkerut. Aku merasa tidak punya kewajiban untuk merayakan malam tahun baru. Buat apa coba?


Malam beranjak semakin larut. Aku sedikit menyibak gorden, kerlap-kerlip menghias penjuru ibukota. Perasaan yang membuncah memenuhi langit yang entah terlihat begitu menawan, meski bintang enggan bersinar, tersaput awan tipis. Aku kembali melamun. Tiba-tiba saja perasaan itu datang. Mita. Nama itu sekarang memenuhi setiap ruang di otak sekaligus hatiku. Mengapa perasaan itu tak kunjung menghilang? Meski aku berulang kali berusaha membunuhnya. Aku tidak pernah tahu kapan persisnya segumpal rasa itu bersemayam di hatiku. Aku terlalu sibuk untuk menyadarinya. Rasanya, usahaku sekarang untuk menjauhi Mita terasa sangat sia-sia. Detik ini saja, dari jarak puluhan kilometer, aku kewalahan meredamnya. Apa aku harus pergi ke ujung dunia supaya aku bisa melupakannya? Tidak. Aku bukanlah seorang pengecut. Kenapa aku harus memupus seperti ini jikalau di depan sana masih banyak jalan.


Aku meraih kunci. Berjalan melewati ambang pintu. Melangkah ke dalam lift, menekan tombol dengan tidak sabar. Sedikit melirik arlojiku. Pukul 23.30. Aku memacu kecepatan mobil diatas rata-rata. Aku mengumpat berkali-kali. Sial! Jalanan macet. Aku mengaduh, seharusnya tadi aku mengambil jalan alternatif lain.

Aku semakin mendumal, tepat pukul duabelas aku baru sampai di apartemen. Aku berlarian melewati lantai basement. Lift penuh. Aku berinisiatif lewat tangga. Tidak peduli berapa anak tangga yang harus aku lewati. Satu tanganku berpegangan pada pembatas tangga, dan tangan yang satu menggenggam kembang api. Aku sedikit berjongkok ketika sudah sampai di lantai sepuluh. Napasku tersengal-sengal sekian detik. Tanpa menunggu banyak waktu, aku langsung mendatangi kamar Mita. Sedikit gugup saat mengetuk pintu. Sementara menunggu, aku acap kali membenahi rambut mohawk yang terasa kuyup oleh keringat. Aku juga merapikan kemejaku, terampil mengusap wajah yang basah. Aku tersenyum tanggung melihat Mita membuka pintu. Dia kaku menatapku. Dan aku, bodohnya, malah melamun. Sampai-sampai Mita menepuk pipiku. Aku kikuk, mencoba bersikap normal. Tidak banyak yang berubah. Dia masih seperti Mita yang kemarin.

“Ikut gue, yuk!” tanpa menunggu interupsinya, aku langsung saja menarik tangannya. Aku mengajaknya menikmati sisa-sisa malam tahun baru di gedung tertinggi apartemen.

“Yaela! Lo telat kali! Tuh, lihat. Jam duabelas udah lewat!” Mita sengaja mendekatkan jam tangannya. Aku menepis tangannya pelan.

“Nggak ada salahnya, kan?” Aku nyengir, menyerahkan satu kembang api padanya. Mita heran menerimanya. Matanya langsung berkaca-kaca.

“Kenapa? Ada yang salah sama kembang apinya?” tanyaku yang melihat Mita gemetar memegangnya. Dia menggeleng.

“Ng.. Nggak apa-apa. Eh, mana koreknya?” Mita sengaja mengalihkan perhatianku. Aku cepat merogoh saku.


Mita terlihat berbinar ketika cahaya kembang api menempa wajahnya. Aku sangat terpesona. Mita tertawa geli ketika percik api kecil mengenai tangannya. Sampai dia berteriak jengkel saat aku iseng menyodorkan kembang api milikku. Mita mendelik tajam. Aku mengacungkan dua jari tangan. Tanda berdamai.


Aku sangat menikmati detik-detik ini. Aku sampai tidak ingin memalingkan wajahku dari Mita. Entahlah, senyum yang mengembang di bibir tipisnya seakan mampu menghentikan duniaku. Mampu membuatku melayang.

Kami duduk bersebelahan di tepian gedung sejam kemudian. Dari atas sini masih terlihat hingar-bingar yang masih memenuhi setiap sudut kota. Disini, hanya senyap, tidak terdengar suara apapun dari atas gedung. Aku mencuri pandang, tepat sekali, saat itu juga persis ketika Mita menoleh kepadaku. Aku sempat gelagapan. Pura-pura sibuk untuk menyembunyikan pipiku yang memerah, grogi. Mita tiba-tiba merentangkan kedua tangannya. Satu lengannya terjulur tepat di depan wajahku. Aku menoleh lagi. Mita sedang menutup matanya. Aku akan menggunakan kesempatan ini sebaik mungkin. Aku sentuh tangannya, awalnya penuh keraguan, tetapi aku terus meneguhkan hati. Mita terkesiap membuka matanya, lantas menatapku heran. Aku harus mengatakannya sekarang!

“Aku mencintaimu, Mita—” ungkapku. Aku hampir tidak percaya. Entah darimana datangnya keberanian itu, yang tiba-tiba merasup setiap aliran darahku. Aku menggenggam jemarinya. Mita tertunduk.

“Maaf, tapi bukan aku orangnya. Aku yakin, kamu pasti akan mendapatkan wanita yang jauh lebih baik.” Mita menggigit bibir, kepalanya menggeleng tertahan. Aku tercengang demi mendengar penolakannya. Hatiku kembali menciut. Bagai sterofoam disiram bensin. Meleleh.

“Hanya—hanyalah Mita wanita terbaik yang pernah aku temui!” kilahku, sedikit melonggarkan tangannya. Mita menarik tangan yang tadi sempat aku genggam.

“Cukup, Mal! Aku nggak mau kita bertengkar cuma karena masalah sepele ini!” Mita berkata galak. Giliran aku yang tertunduk kaku. Aku mengusap tengkukku yang basah. Apa yang dia bilang? Cuma masalah sepele? Astaga, aku tidak tahu apa arti cinta dimata Mita! Se-rendah itu kah? Aku memang sepatutnya selalu memupus. Nyatanya, apa yang menjadi kecemasanku bukan isapan jempol belaka. Mita memang tidak merasakan apa yang aku rasa.


Mita bangkit berdiri lima menit kemudian. Aku sibuk mematung, membiarkan dia pergi tanpa berkata. Aku bisa mendengar derap langkahnya yang semakin menjauh. Aku mengusap wajah tegangku. Baiklah. Biar, biar saja cinta ini tumbuh sendiri tanpa aku memupuk harapan lagi.


Menjelang pagi, ketika matahari menyemburat kemerahan di ufuk timur, langit yang cerah menyambut pagi. Aku masih tergugu di tepian gedung. Entah berapa lama aku melamun. Aku merasa penolakan itu cukup menikam ulu hatiku. Aku tidak menyesal, aku bahkan sangat lega sudah mengatakannya. Aku akan tetap mencintainya. Dengan atau tanpa Mita menerimanya.


Aku mengucek mata, bahkan rasa kantukku ikut sirna. Aku bergegas bangkit, menepuk-nepuk celana yang kotor kena debu.

“Masih disini ternyata.” Seseorang berseru dari belakangku. Aku memutar tubuhku. Mengatupkan mulut rapat ketika aku tahu siapa yang datang.

“Samalam ketiduran disini,” jawabku tak kalah datar. Tidur? Mana sempat otakku memikirkan tidur, sementara hatiku sedang berkecamuk?


Mita melangkah mendekat. Aku beranikan untuk bersitatap dengannya. Mata indah itu sembab, kantung mata yang lebam.

“Pulang, gih!” usirnya halus. Aku terkesiap dari lamunanku.

“Lupakan soal tadi malam. Anggap saja aku sedang bergurau.” Aku menyeringai tipis. Mita menggeleng. Dahiku langsung berkerut seiring gelengannya. Aku mengibaskan tangan. Terburu-buru melangkah melewatinya.

“Ikmal!” serunya kemudian. Aku berhenti sejenak untuk menatapnya dari jarak cukup jauh.

“Ehm.. Aku mau bilang kalau—” Mita menggigit bibir, urung melanjutkan kalimatnya.


Apa? Hatiku tak sabar menanti kalimat selanjutnya.


“Hati-hati di jalan!” serunya lagi. Jadi hanya itu? Aku tersenyum kaku. Kembali melangkah. Mita mungkin belum mempercayaiku untuk menjadi— Ya, aku sadar betul. Aku baru mengenalnya setengah tahun yang lalu. Dan, ternyata enam bulan memang belum cukup untuk meyakinkan Mita. Entah, berapa lama lagi sampai Mita benar-benar mau membuka hatinya. Memberiku kesempatan itu.


Mobil yang aku kemudikan sudah keluar dari halaman apartemen. Pagi yang indah, gumamku. Sisa-sisa perayaan semalam masih buncah. Aku memperlambat laju mobil, menoleh keluar. Aku tersenyum melihat serombongan anak muda bercengkrama. Aku menelan ludah. Semalam, malam tahun baruku terasa hambar. Hanya ditemani dengan penolakan itu.

***


“Bagaimana acaramu semalam? Pasti seru, bukan?” Papa bertanya dari balik koran yang membentang menutupi wajahnya. Aku duduk di kursi sebelahnya. Menghela napas tertahan.

“Pasti berantakan, ya?” tebak Papa tanpa melirikku. Hanya berdehem, lalu membalik koran ke halaman selanjutnya.

“Ikmal ditolak mentah-mentah…” Aku sempat menceritakan hal ini kepada Papa tempo hari. Dan ia sangat mendukungku.

“Oh ya? Malang sekali gadis itu. Ah, jangan-jangan dia cuma jual mahal. Kau seharusnya tidak boleh menyerah begitu saja!” Papa serampangan melipat korannya, lantas membantingnya ke atas meja. Aku sedikit kaget.

“Dia bukan gadis sembarangan, Pa. Aku terlalu mencintainya. Jadi butuh waktu untuk—” Aku sengaja menghentikan kalimatku, menelan ludah.

“Kau belum mengenalkan gadis itu pada Papa!” sanggahnya galak. Aku memperbaiki posisi duduk.

“Diterima saja tidak. Kenapa harus mengenalkan kepada Papa?” sergahku sebal. Papa terkekeh menepuk bahuku.

“Baru begitu saja kau sudah menyerah!” Papa tergelak menertawakanku. Aku mendengus lirih.

“Kalian berdua sedang memperebutkan apa? Lagaknya seperti rapat DPR!” Mama datang dari balik pintu. Membawa dua cangkir teh di atas nampan.

“Ini, si Ikmal nembak—” Papa menutup mulut dengan tangannya setelah aku berdehem cukup keras. Bisa bahaya kalau Mama tahu tentang ini!

“Nembak? Emangnya nembak siapa?” Mama sibuk menatapku dan Papa secara bergantian.

“Nembak, emm, eh iya, nembak bikin KTP, Ma. Kemarin KTP-ku hilang.” Aku menjelaskan dengan berlepotan. Untungnya, Mama tidak tertarik lagi untuk bertanya. Mama kembali ke dapur. Aku mengelus dada. Papa pura-pura sibuk membuka lipatan koran, membacanya lagi. Papa sedang menutupi rasa malunya karena hampir keceplosan tadi.

“Pa, korannya terbalik!” Aku cengengesan berdiri. Papa buru-buru membenarkan posisi korannya.



Aku berjalan ke arah balkon. Angin pagi masih terasa hening. Aku berpangku tangan di atas besi pembatas balkon. Mataku menatap lurus ke depan. Aku sudah pasrah, biarlah takdir yang akan menentukan kemana hati ini akan berlabuh. Mita? Entahlah.







Bersambung—

Cari Blog Ini