Tampilkan postingan dengan label Cerpen Umum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Umum. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Maret 2013

SEPTEMBER (Kau dan Aku)





Aku adalah salah satu orang di antara milyaran orang di bumi yang menjadi korban ‘broken home’. Mempunyai jiwa pemberontak, tentu saja. Kehidupanku sangat berbeda jauh dengan mereka yang mempunyai keluarga yang utuh. Aku anak tunggal yang selalu menjadi piala bergilir untuk Mama dan Papa. Mereka akan berlomba-lomba memaksaku tinggal dengan salah satu di antara mereka. Lantas, setelah aku menuruti apa mau mereka, kalian tahu apa yang mereka lakukan? Sama saja. Mereka lebih memilih sibuk dengan bisnis mereka. Aku hanya dijadikan pajangan di rumah besar mereka.
Hingga aku memutuskan untuk kabur. Terlalu nekad untuk ukuran seorang perempuan. Status itu tidak masalah bagiku—selama aku bisa menjaga diri. Aku melambaikan tangan saat sebuah bis muncul dari seberang jalan.
Aku duduk persis di dekat jendela, kebetulan hujan turun dan membuat hatiku tenang. Hujan selalu membuatku lega, ada perasaan tenang saat melihat air turun dari langit. Seperti ada yang menemani tangisku—meski di depan semua orang aku tidak pernah menangis. Ternyata hujan turun lebih cepat di awal bulan September.
Hujan masih deras saat aku turun dari bis. Aku berlari kecil, langsung ke arah danau. Tidak banyak yang tahu dengan keberadaan danau ini, karena letaknya yang kurang strategis—jauh dari pusat kota. Butuh waktu sepuluh menit untuk sampai ke danau dari tempatku turun dari bis tadi.
“Maaf…” Ia menoleh begitu aku datang. Aku mengerutkan dahi, lantas berpikir sejenak. Mungkin orang ini menyadari keterkejutanku atau memang ia meminta maaf karena telah mengambil ‘tempat’ku. Aku menggeleng. Ia juga basah kuyup sepertiku. Heran saja melihat ada orang di sini. Padahal selama bertahun-tahun aku ke sini, aku tidak pernah melihat orang menyambangi danau ini.
“Sekali lagi maaf ya, Mas?” katanya ragu.
“Mas?” aku melongo, terkaget-kaget.
“Saya udah pantas dipanggil ‘mas’ ya?” tanyaku balik. Ia memiringkan kepala, memandangiku dari ujung sepatu sampai ke rambut. Dan bodohnya, aku ikutan memandangi penampilanku sendiri.
            “Terus saya harus panggil apa?” tanyanya berbasa-basi. Entah mengapa, aku tidak sesebal seperti biasanya. Mungkin karena ia mempunyai tatapan yang ramah.
            “Panggil Septi aja,” kataku mengulurkan tangan. Tunggu.. kenapa aku se-extrovert ini? padahal bisa saja orang ini orang jahat. Ia menyambut uluran tanganku.
            “Fajar… Fajar Septa.” Ia mantap menyebutkan namanya. Aku tertegun.
            “Lahir bulan September juga?” tanyaku, spontan. Ia mengangguk. Aku menatapnya cukup lama. Lelaki ini seperti mempunyai apa yang aku cari selama ini. Saking lamanya aku menatapnya, sampai aku tidak sadar jika dari tadi kami kehujanan. Kulihat ia mulai menggigil.
            “Berteduh di bawah pohon, yuk!” aku menarik tangannya ke sebuah pohon rindang yang besar. Ia menurut.
            “Baru pertama kali ke sini?” tanyaku kemudian, setelah kami duduk di akar pohon yang besar. Ia mengangguk.
            “Ini kan udah sore. Mama kamu nggak bakal khawatir?” entah mengapa tiba-tiba ia bertanya demikian. Aku terhenyak.
            “Nggak. Mamaku nggak bakal khawatir,” jawabku, memaksakan bibirku tersenyum.
            “Kamu sendiri?” tanyaku saat melihat ia terdiam.
            “Saya nggak seberuntung kamu, atau orang-orang pada umumnya. Saya nggak punya orangtua. Sewaktu saya masih kecil saya hidup di panti.” Ia bercerita seraya menatapku.
            “Dan sekarang, meski saya mempunyai hidup yang layak. Saya tidak pernah merasa bahagia, karena tidak ada orangtua di samping saya.” Lanjutnya. Aku memutus pandangan kami. Hujan sudah reda beberapa menit yang lalu.
            “Maaf, saya jadi cerewet gini,” ia tersenyum. Aku menggeleng, tidak masalah.
            “Ini hampir petang. Dan saya harus pulang. Saya harap kamu juga pulang. Orangtua kamu pasti cemas sekali.” Ia berdiri dan mengulurkan satu tangannya kepadaku. Aku menggeleng. Ia berkerut dahi.
            “Saya masih pengen di sini,” kataku, menjawab kebingungannya.
            “Baiklah, saya akan temani kamu di sini sampai kamu mau pulang,” katanya, sangat tulus. Lalu ia kembali duduk di sampingku.
            “Percuma,” kataku. Ia sedikit mencodongkan tubuhnya untuk menatap wajahku. “Saya nggak akan pulang,” lanjutku.
            “Kamu mau ikut saya ke panti? Nggak jauh kok dari sini. Kebetulan saya kangen pengen mampir sana. Kamu bahaya kalau di sini sendirian,” ucapnya, penuh perhatian.
            “Nggak. Saya nggak mau merepotkan siapa pun. Nggak masalah kalau saya sendiri di sini, sudah terbiasa.” Aku menoleh, dan mendapati ia yang menghela napas. Mungkin sudah bingung membujukku dengan cara apa lagi.
            Ia tersenyum sekali lagi, “baiklah, saya akan temani kamu di sini, sampai pagi.” Ia lalu berjalan ke tepi danau, duduk menghadap danau. Aku menatap punggungnya, lantas menyusulnya.
            “Kenapa kamu baik banget sama saya? Kita kan baru kenal?” tanyaku sangat penasaran.
            Tanpa menoleh ia pun menjawab, “saya yakin kamu sedang menghadapi masalah besar. Meski saya tidak tahu masalah apa itu.”
            “Kamu lihat bulan itu?” tanyanya, mengalihkan pembicaraan. Aku mengangguk, meski ia tidak menoleh kepadaku.
            “Cahayanya selalu menenangkan. Bagi saya apa pun bentuk bulan, tetap saja indah dipandang.” Ceritanya dengan antusias, sementara aku menatap pantulan bulan di permukaan danau yang tenang.
            “Fajar?” gumamku.
            “Iya?” sahutnya cepat.
            “Tanpa saya melihat bulan di langit. Saya sudah merasa ada bulan di samping saya, tanpa saya melihatnya, cahayanya bisa saya rasakan.” Ia tertawa setelah mendengar kalimatku ini.
            “Saya digombalin nih,” ia masih tertawa. Aku menyikut lengannya.
            Tuhan, terimakasih untuk pertemuan tidak sengaja ini. Setelah sekian lama aku menganggap semua orang egois, kini aku menemukan seseorang yang mampu mematahkan semua prasangka burukku. Selama ini aku terlalu sulit menemukan orang yang benar-benar tulus. Tetapi kali ini, aku mulai percaya jika di antara milyaran orang di bumi, ada di antara mereka yang hadir untuk menemani kesedihanku.
            Aku tergeragap mendengar dering ponsel. Saat menoleh aku mendapati Fajar sedang mengangkat ponselnya.
            “Halo? Iya? Aku lagi di danau. Iya iya, besok aku pulang.” Ia langsung menutup teleponnya, obrolan yang singkat.
            “Dari siapa?” tanyaku dengan lancang.
            “Hmm.. calon istri,” jawabnya serius. Aku tersenyum sebisa mungkin.
            “Dia pasti sangat bahagia sekali.” Aku kembali menatap tenangnya air danau.
            “Aku tidak tahu apakah dia bahagia atau tidak,” katanya.
            “Kenapa? Aku kalau jadi dia pasti akan selalu bersyukur karena punya kamu.” Aku samar tertawa. Sampai butuh beberapa detik untuk menyadari apa yang sudah aku katakan. Ia diam, hanya menatapku sekilas.

***

            “Om Septa!!!” Semua anak-anak kecil berlari dari teras tanpa diberi aba-aba. Aku yang berdiri di sampingnya sampai tersingkirkan.
            Anak-anak itu menggiring tangan Septa ke dalam panti. Aku hanya mengekor di belakang mereka. Septa sepenuhnya menguasai hati anak-anak kecil itu. Aku tersenyum melihat Fajar yang mulai kewalahan.
            “Septa? Kapan datang?” Wanita paruhbaya muncul dari dapur. Fajar mencium tangan wanita itu.
            “Ini teman saya, Bun.” Fajar mengenalkanku. Wanita itu tersenyum dan menjabat uluran tanganku.
            “Septi,” kataku. Ia mematung begitu mendengar namaku.
            “Astaga.. nama kalian sangat mirip!” Ia berseru, membuat anak-anak berdecak.
            “Cuma kebetulan, Bunda.” Fajar menyela. Aku tersenyum kikuk.
            “Bau gosong, Bunda!!” anak-anak kompak berseru. Bunda kalap, lantas berlari ke dapur. Fajar tersenyum maklum.
           
Aku berkeliling panti yang mempunyai halaman belakang cukup luas. Fajar menemaniku. Suasana yang masih pagi membuat udara masih terasa sejuk. Embun masih menempel di pucuk dedaunan, juga di rumput yang terpotong rapi.
            “Di sini damai banget!” komentarku. Kami berhenti sejenak. Aku duduk di salah satu ayunan kayu. Fajar menyandarkan tubuhnya di tiang ayunan.
            “Kalau mau kamu bisa tinggal di sini,” katanya.
            “Memang boleh?” tanyaku, belum yakin.
            “Boleh banget,” ia mengacak rambut pendekku dengan gemas.
            “Septi! Septa! Ayo sarapan dulu!” Bunda berteriak dari ambang pintu belakang. Kami menoleh dengan kompak. Bisa dibayangkan bagaimana aku cukup terkejut dengan panggilan dua nama itu. Seolah-olah aku dan Fajar ini saudara kembar. Aku juga baru sadar jika semua penghuni panti selalu memanggilnya ‘Septa’.
            “Ayo jangan sungkan-sungkan,” Bunda tersenyum dengan ramahnya kepadaku. Fajar malah berinisiatif menyendokkan nasi goreng ke piringku, aku menahan tangannya. Dan aku terjebak dalam tatapan matanya yang teduh. Suara gaduh dari anak-anak yang berebut krupuk pun membuyarkan tatapan mata kami. Untung saja tidak ada yang menyadarinya.
            Setelah selesai sarapan aku ikut bergabung dengan anak-anak di halaman belakang. Aku ikut bermain bola dengan mereka. Dengan cepat aku melipat jeans panjangku sampai ke lutut. Fajar menjadi wasitnya. Permainan semakin sengit saat aku berhasil mencetak gol. Anak-anak yang tidak se-team denganku memprotes kepada Septa. Mereka tidak terima. Jadilah Septa mau tidak mau ikut bermain di team lawan.
            Keadaan berimbang, kedua team saling susul menyusul skor. Kami melakukan celebration—yang menurutku cukup aneh—setiap kali berhasil membuat gol. Tapi ini sangat mengasyikkan. Aku tidak pernah se-gembira ini.

BRUKKK!

            Aku terjatuh ketika ada anak yang tidak sengaja menyingkat kaki kananku. Fajar berlari menghampiriku.
            “Mana yang sakit?” tanyanya dengan panik. Aku menggigit bibir saat pergelangan kakiku terasa nyeri. Fajar memijat kakiku, aku mengaduh kesakitan saat ia menyentuh bagian yang sakit.
            “Anak-anak, udahan ya mainnya. Sekarang waktunya mandi,” katanya memberi perintah untuk bubar. Aku masih meringis kesakitan.
            “Bisa berdiri?” tanyanya kemudian setelah anak-anak membubarkan diri. Aku mencoba berdiri sendiri, dan.. HAP! Aku yang nyaris terjatuh ke tanah tertahan oleh kedua tangannya.
            “Biar saya gendong ya?” ia menawarkan diri, lalu berjongkok di depanku. Aku langsung naik ke punggungnya. Ia membawaku ke kamar Bunda.
            “Hloh, Septi kenapa?” Bunda bertanya dengan heran.
            “Tadi jatuh pas main bola sama anak-anak. Kakinya keseleo.” Fajar menjelaskan saat aku hendak membuka mulut.
            Bunda duduk di tepi kasur, menyentuh kakiku yang kini mulai kebiruan. Lalu tanpa aba-aba ia memijat kakiku. Aku refleks mencari pegangan yang ada di dekatku. Terpaksa, satu tangan Fajar kuremas dengan kencang. Kulihat Fajar tidak keberatan, meski aku tahu ia pasti kesakitan. Aku sampai ingin menangis karena terasa sakit sekali.
            “Sudah.. besok pasti akan sembuh,” kata Bunda, selesai mengurut kakiku. Aku lega sekali. Tangan Fajar yang sejak tadi aku pegang sudah berkeringat.
            “Maaf ya..” Aku melepas tangannya.
            “Nggak apa-apa,” lagi-lagi ia menatapku dengan ramah.
            “Saya jadi merepotkan,” kataku. Bunda menggeleng.
            “Kamu ini, apanya yang merepotkan.” Bunda berkata tegas.
            “Oh ya, tadi Rani telepon. Dia khawatir sama kamu, katanya kamu disuruh pulang.” Bunda berbalik setelah sampai di ambang pintu. Fajar hanya mengangguk.
            “Jangan bikin dia tambah khawatir,” kataku. Fajar hanya diam.
            “Saya nggak punya pilihan lain.” Ia menatapku sekilas, lantas melangkah keluar kamar.

***
           
Danau ini seperti biasanya, selalu sepi, bahkan siang sekali pun. Hanya derap angin yang samar terdengar, membawa dedaunan kering terbang. Air danau itu tetap tenang dan bening seperti biasanya. Masih sama seperti kemarin. Hanya saja bedanya tidak ada Fajar di sini. Jelas sekali perbedaannya. Aku mengais satu kerikil dari tanah, lalu mengambil ancang-ancang untuk melemparkannya ke tengah danau. Aku ingin melampiaskan semuanya. Perasaan sendiri, kesepian, semua sesak di dada. Aku ingin melemparnya bersama dengan kerikil itu. Namun yang terjadi malah sebaliknya, aku merasa duniaku semakin sepi.
            “Kakak lagi ngapain?” Aku terkejut karena tiba-tiba anak kecil itu sudah berdiri di sampingku.
            “Eh, kamu.. Maaf ya, kakak nggak bisa ikut main bola lagi.” Aku menepuk-nepuk bahunya.
            “Dimas minta maaf ya kak. Kemarin pagi aku bikin kakak jatuh, sampai kakak harus kesakitan waktu dipijat Bunda.” Anak yang bernama Dimas itu tertunduk, merasa sangat bersalah. Aku rasa kemarin ia tidak berani meminta maaf karena takut Bunda marah.
            “Nggak apa-apa. Nggak sakit kok,” kataku berdusta.
            “Kakak udah kenal lama sama kak Septa?” tanyanya, memutar balik topik pembicaraan.
            “Baru beberapa hari yang lalu. Di danau ini,” jawabku. Ia kemudian tampak berpikir.
            “Sayang ya, sebentar lagi kak Septa bakal nikah!” katanya dengan nada yang kecewa.
            “Terus kalau nggak nikah emangnya kenapa?” tanyaku sembarangan.
            “Ya biar nikah sama kakak aja,” katanya dengan lugu. Aku membelalakkan mata. Anak sekecil ini berbicara demikian?
            “Dimas mau lihat kak Septa bahagia kan?” tanyaku. Ia mangangguk cepat.
            “Tapi aku nggak suka sama kak Rani!” serunya, membuatku terheran lagi.
            “Tetapi kamu harus menghargai apa yang sudah menjadi keputusan kak Septa. Nanti kalau kamu sudah dewasa pasti akan mengerti,” aku tersenyum. Dimas tidak mengotot lagi, ia akhirnya diam.

***

            Mendung sudah berarak di atas sana, membentuk segumpalan awan hitam. Hujan pasti akan turun sebentar lagi. Aku sama sekali belum mau beranjak dari tepi danau. Tanpa terasa, sudah satu minggu aku tinggal di panti. Hidup di tengah anak-anak yang masih lugu, ikut bermain dengan mereka. Dengan di sini aku seperti bisa mengganti waktu bersama keluargaku. Berada di antara mereka aku bisa merasakan rasanya mempunyai keluarga yang lengkap. Meski aku tahu, setiap anak panti selalu mempunyai kisah masing-masing. Tapi mereka selalu ceria, tidak pernah mengeluh. Sangat berbeda jauh denganku.
            “Septi…”
            “Iya?” aku menoleh secara teratur. Mataku berhenti sejenak pada sosoknya yang berdiri di belakangku.
            “Ah, kapan datang?” aku tanpa sadar langsung memeluknya.
            “Baru aja.. sama Rani,” jawabnya. Secepat mungkin aku melepas pelukanku saat mendengar nama itu disebut.
            “Di mana dia sekarang?” tanyaku, melongokkan kepala ke sekitar.
            “Lagi di panti,” ia beringsut duduk di tepi danau. Aku masih berdiri.
            “Kapan kalian menikah?” tanyaku, tanpa bergeming.
            “Lusa. Kamu jangan lupa datang ya.” Ia menoleh dan tersenyum kepadaku.
            “Saya pasti akan datang,” jawabku tanpa ragu.
            “Sayang.. kamu di sini ternyata. Aku cari kemana-mana nggak ketemu!” aku membalikkan badan, dan mendapati wanita cantik dengan rambut tergerai berdiri di belakang persis dari tempatku berdiri. Itu pasti Rani. Aku menoleh ke samping tepat saat Fajar berjalan ke arah Rani berdiri. Dibanding dengan Rani aku tidak ada apa-apanya.
            “Rani,” katanya, mengulurkan tangannya yang putih mulus. Aku menjabat tangannya, “Septi.”
            Pertemuan itu seperti menyadarkanku, kalau aku ini bukan siapa-siapa di mata Fajar. Seperti diingatkan kalau sebentar lagi mereka akan menikah. Seperti yang aku katakan waktu itu. Alangkah bahagianya menjadi wanita ini, sebentar lagi ia akan bersanding dengan Fajar. Sementara aku, pungguk merindukan bulan.

***
           
Aku merindukan saat-saat dimana kamu ada untukku, dan hanya untukku. Kamu pernah bilang jika kamu tidak memiliki pilihan lain. Kenapa? Sementara ada aku yang ingin menjadi pilihanmu yang entah ke berapa. Tetapi besok kamu akan menjadi miliknya. Apakah kita bisa duduk bersama di tepi danau seperti biasanya?
Kenapa setiap aku merasa hidupku telah lengkap, takdir harus mengambilnya kembali? Apa aku tidak berhak untuk bahagia?
“Saya akan pulang nanti.” Aku menatap dua burung yang terbang rendah di atas danau.
“Akhirnya..” katanya sangat lega.
“Saya sangat bahagia karena sempat mengenal orang sepertimu. Tapi, apakah suatu hari nanti kita akan bertemu kembali?” ujarku masygul.
Ia tertawa, “besok jadi datang kan? Berarti kita masih bisa bertemu.”
“Maksud saya.. apakah kita bisa duduk bersama di tepi danau seperti sekarang?” tandasku. Fajar mengatupkan bibirnya.
“Saya tidak tahu,” gumamnya lirih.

Saat itu aku mengerti bagaimana rasanya kehilangan orang yang sangat kita sayangi.

***

Hari yang aku takutkan sudah tiba di depan mataku. Tinggal menunggu beberapa jam saja maka harapanku akan padam. Aku duduk termenung di bingkai jendela kamarku. Aku tidak tahu, apakah aku harus datang atau tidak ke pernikahan itu. Yang jelas Mama menyerahkan semua keputusan kepadaku. Tentu saja ia memilih memikirkan proyek-proyeknya daripada ikut campur dalam masalahku.
Hujan turun pagi itu, hanya rintik kecil, namun sedikit membuatku tenang. Aku sudah yakin dengan keputusanku. Apa pun yang terjadi, aku tidak akan datang ke pernikahan itu. Pengecut? Iya, aku memang pengecut. Aku terlalu lemah untuk urusan semacam ini.
Fajar.. aku selalu berharap jika suatu hari nanti Tuhan masih mengijinkan kita untuk bertemu.

***

            Tahun-tahun berlalu sebagaimana mestinya—
             

            Tidak ada Septi yang dulu. Septi yang pemberontak sudah tidak ada. Juga tidak ada Septi yang maskulin. Yang ada sekarang adalah Septi yang baru. Penurut dan bisa menerima keadaan sesakit apa pun itu. Aku akhirnya bisa menerima segala hal yang memang seharusnya aku hadapi, bukan malah aku hindari. Aku belajar banyak tentang arti kehidupan dari anak-anak panti, dan tentu saja dari Fajar. Lelaki itu mengajariku banyak hal. Termasuk cara ia tersenyum. Tanpa sengaja aku mulai terbiasa meniru cara ia tersenyum. Papa dan Mama sampai tidak percaya dengan perubahanku yang drastis. Meskipun sampai detik ini aku belum bertemu dengan Fajar. Padahal aku sudah mencoba mencarinya berulang kali ke panti, juga ke danau. Tapi tidak ada, Bunda juga tidak tahu keberadaan Fajar. Katanya, terakhir kali Fajar ke panti sudah setahun yang lalu.
           
             Ia seperti sengaja menghilang tanpa jejak. Selalu membuat tidurku tidak pernah nyenyak setiap malamnya. Atau memang ia sengaja menghindar dariku? Alasannya apa? Apa ia takut aku akan membuat rumah tangganya dengan Rani berantakan? Aku sangat yakin bukan itu alasannya. Walau—bisa dibilang—aku baru mengenalnya, aku sangat tahu ia tidak mungkin sejahat itu.
            Aku mengisi hari-hariku dengan hunting novel ke semua toko buku yang ada di kota ini. Papa dan Mama sebenarnya sudah berpuluh kali menyuruhku bekerja di kantor mereka, tetapi aku selalu menolaknya. Bagiku, aku belum siap untuk fokus bekerja selama… aku belum menemukan Fajar.

            “Semua jadinya dua ratus lima puluh ribu, Mbak.” Kasir itu mengeja angka yang tertera di layar komputernya, selesai menghitung novel-novel yang kubeli.
            “Sebentar ya, Mas.” Aku segera merogoh dompet yang ada di dalam tas tanganku. Tanganku sulit sekali untuk mencarinya. Karena cukup kesal, aku menarik sembarangan note kecil yang menghalangi tanganku. Tanpa kuduga, ponselku ikut tertarik keluar dan terpelanting ke lantai. Aku menaruh tasku di meja kasir. Aku berniat berjongkok untuk mengambil ponselku. Tetapi seseorang sudah terlebih dahulu mengambilnya dari lantai.
            “Lain kali hati-hati ya, Mbak. Untung nggak rusak,” katanya, menyodorkan ponselku.
            “Iya, terimakas..” aku mendongakkan wajah untuk melihat siapa orang yang telah berbaik hati mengambilkan ponselku.
            “Saya.. saya nggak mimpi kan?” Aku menepuk pipiku dua kali. Tidak mudah untuk menyadarinya. Aku menutup mulutku saking shocknya. Orang yang selama beberapa tahun aku cari kini berdiri tegak di hadapanku. Senyumannya masih sama seperti yang dulu. Tidak pernah berubah sedikit pun.
            Aku berlinangan air mata. Ini untuk pertama kalinya aku menangis. Tuhan mengabulkan semua doa-doaku selama ini. Aku cepat menghapus air mata yang terlanjur menetes di pipi. Fajar tak kalah terkejutnya denganku. Ia diam mematung.
            Aku langsung membayar novel-novelku begitu dompet sudah kutemukan. Saat aku menoleh, Fajar sudah menghilang. Aku berlari keluar. Kulihat ia melangkah cepat di trotoar. Aku berlari menyusulnya, tidak peduli meski aku memakai high heels.
            “Fajar! Fajar!!!” teriakku. Namun ia tidak mau berhenti, menoleh saja tidak. Aku sampai tidak menyadari ada batu di depanku.
            “Arrrrghhh!” pekikku. Tubuhku terjatuh di kerasnya trotoar. Semua novelku berhamburan dari plastiknya. Aku tidak sanggup berdiri.
            “Mana yang sakit?”
            Ternyata ia masih peduli kepadaku. Ia kembali saat mendengar jeritanku tadi. Fajar membantuku berdiri, ia yang mengais novel-novelku yang jatuh berserakan. Ia mengajakku duduk di taman yang tak jauh dari sana.
            “Kenapa kamu menghindari saya?” tanyaku heran. Ia belum mengeluarkan suara.
            “Saya salah apa? Soal pernikahan itu? Saya minta maaf, waktu itu saya tidak datang karena.. karena.. karena..” Aku terbata-bata, bingung mencari alasan yang tepat.
            “Saya tidak jadi menikah,” gumamnya. Aku cukup terkejut, “kenapa tidak jadi?” desakku.
            “Rani hamil tanpa sepengetahuan saya, dan dia lebih memilih lelaki itu. Padahal saya ikhlas menerima ia apa adanya, termasuk bayi yang dikandungnya,” katanya seraya mengusap wajahnya. Aku membulatkan mata, tidak percaya.
            “Bukan hamil sama saya, tapi sama mantannya.” Fajar kali ini menatapku, takut aku salah sangka.
            “Alasan selama ini kamu menghilang karena ini?” tanyaku refleks.
            “Saya terlalu mencintai dia. Hingga butuh waktu bertahun-tahun untuk membuat hati saya ikhlas..” Fajar melanjutkan ceritanya. Aku, untuk kedua kalinya meneteskan air mata.
            “Kok malah kamu yang nangis?” ia tersenyum, menyeka pipiku. Aku bergetar saat jemarinya menyentuh pipiku. Getaran apa ini? apa ini yang orang sebut dengan cinta? Apa aku yang terlalu bodoh untuk menyadari perasaanku sendiri? Hei, untuk apa selama bertahun-tahun aku selalu resah menantinya? Bukankah ini yang dibilang cinta? Kenapa aku tidak peka?
            “Kok malah bengong?” ia melambaikan tangan di depan wajahku.
            “Eh.. ini jujur hlo, saya menangis dua kali waktu bertemu kamu. Padahal saya selama ini selalu berpura-pura tegar di depan semua orang. Tapi tadi di luar kemampuan saya,” aku terkekeh. Fajar juga tertawa mendengar penjelasanku.
            “Kamu sekarang berubah banyak ya? Dulu waktu aku bertemu kamu pertama kali di danau, wajah kamu murung, walau kamu memang berhasil menutupinya.” Fajar berhasil membawaku memutar kembali memori pertemuan kami di danau beberapa tahun silam.
            “Kamu itu baiknya persis malaikat. Tapi masih aja ada wanita yang menyia-nyiakan kamu,” aku mencoba mengungkapkan kebencianku pada Rani.
            “Mungkin memang takdir saya belum bertemu dengan jodoh saya,” ia berkata dengan tenang.
            “Saya selalu berharap kamu mendapatkan jodoh terbaik.. wanita yang berperangai sempurna.” Aku tersenyum, persis dengan cara ia tersenyum.
            “Mungkin hanya kamu yang bisa menirukan cara saya tersenyum.. dengan persis.” Fajar terkekeh. Aku mati kutu seketika karena ketahuan menjiplak senyumnya.
            “Terima kasih untuk semua pelajaran hidup yang kamu berikan kepada saya. Saya selalu beruntung setiap kali bertemu dengan kamu. Saya seperti menemukan kembali bulan saya. Ya, saya tahu, tapi bagi saya bulan di langit tidak indah tanpa ada kamu,” ucapku, ia hanya tersenyum tidak mengerti.
            “Wah, saya digombalin lagi!” ia tertawa lebar.
            “Saya serius..” Aku sedikit kesal.
            “Saya juga serius mau nikah sama kamu!” tandasnya, tidak mau kalah. Tunggu…
            “Iya, saya juga se… apa? Apa yang kamu bilang barusan?” aku sampai lupa bernapas. Ya Tuhan—
            Ia berdiri, lalu secara perlahan berlutut di depanku. Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku celananya. Semua orang yang ada di taman mulai tertarik untuk melihat lebih dekat. Bahkan para pengguna jalan ikutan penasaran dengan apa yang tengah terjadi. Wajahku bersemu merah padam. Seluruh tubuhku bergetar hebat.
            “Saya mau kamu menjadi tempat saya meletakkan hati saya,” ia mulai merangkai kata. Satu tanganku ia genggam dengan lembut. Semua orang bersiul, ada yang bertepuk tangan.
            “Saya ingin kamu menjadi tempat saya pulang. Menjadi tempat saya bermuara,” lanjutnya, bersiap memakaikan cincin ke jari tengahku. Aku hampir meleleh. Tepuk tangan semakin riuh terdengar.
            “Yang terakhir. Saya ingin… saya-lah yang menjadi bulan untukmu. Selamanya—” Tepuk tangan membahana.
            Fajar menunggu jawaban dariku. Ia menatapku dengan mata yang teduh. Tepuk tangan sudah mereda. Puluhan pasang mata yang menyaksikan menahan napas mereka. Situasi berganti tegang dan mendebarkan. Aku mengangguk pelan, diiringi dengan banjir tepuk tangan. Ia perlahan memakaikan cincin ke jari tengahku. Aku memeluknya yang masih berlutut di depanku. Tuhan— apa ini kebahagiaan yang sudah lama menantiku? Aku mengerti arti kata ‘bahagia’ sekarang.






TAMAT.

Kamis, 24 Januari 2013

“Cinta Bukan Kita”



“Apa yang terlihat oleh kedua mataku tidak cukup untuk mengubah harapan menjadi kenyataan indah. Aku salah jika menyimpulkan atas apa yang aku lihat saja, tanpa mendengar. Aku yang salah di sini. Karena aku berani mempertaruhkan harapanku pada waktu semu. Aku membiarkan hatiku luruh bersama waktu yang kembali membawa cinta itu. Cinta yang tak akan pernah bisa kusentuh dengan mata hatiku. Cinta yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menghapusnya...”


Aku sedang duduk di depan kelas ketika seseorang memanggil namaku. Suara yang sudah tidak asing lagi bagiku. Aku menoleh secara teratur, sambil menahan senyum dengan malu-malu. Orang yang tadi memanggil namaku tersenyum kepadaku. Wajah teduh itu. Sayangnya, aku hanya menatapnya datar. Ingin aku membalas senyumnya. Namun, aku langsung teringat jika semua ini hanya kepalsuan. Aku sudah tahu semuanya, apa maksud dari senyum itu. Sejak saat itu, aku berjanji dengan hatiku, tidak akan pernah berharap kepadanya lagi.

***

“RE! REEEEENA!!” Orang di sampingku berteriak histeris, tidak tahu berapa kali dia memanggilku. Aku spontan menoleh dengan sebal. Seenaknya saja dia memutus lamunanku.

“Aduh! Jangan lihat ke gue! Awas itu di depan!!” Teriaknya lagi. Aku kembali menatap ke depan. Menginjak pedal rem sekuat mungkin. Orang di sampingku sudah menjerit, menutup kedua matanya. Aku juga kalap ketika aku berhasil membanting setir. Mobilku memang tidak kenapa-kenapa.. Tapi, tapi.. Aku langsung gemetar.

“Jantung gue copot!” komentar Gita, mengelus dada sambil mengatur nafas.

“Eh, lo mau kemana? Jangan bilang lo mau nolongin dia!” Gita melotot, menarik sebelah lenganku. Satu tanganku sudah membuka pintu.

“Gue takut dia kenapa-kenapa. Ini semua juga gara-gara gue.” Aku berusaha melepas cengkramannya.

“Bahaya Re. Ini tempat sepi. Lo nggak takut kalau ternyata orang itu penipu?” Gita mulai gelisah, mempererat lenganku.

“Terserah. Lo mau di sini apa ikut gue keluar,” kataku tegas. Gita melepas tanganku. Aku berlari keluar, ke arah sebuah pohon besar di ujung jalan. Kepulan asap mulai mengepul dari mesin mobil. Aku mengetuk kaca pintunya berkali-kali. Coba membuka pintu. Sial. Terkunci dari dalam.

“Udah, Re! Mending kita kabur aja. Gue taku..” Gita menyusul, menarik-narik lenganku.

“Kabur? Lo nggak lihat?!” Aku menunjuk kepulan asap yang menebal.

“Terus.. Terus.. Kita harus berbuat apa?” Gita ikut panik, berusaha membuka pintu.

“Percuma. Sekarang, lo ambil tongkat di bagasi.” Perintahku gusar. Gita menanggapi dengan cepat intruksiku.

Setelah tongkat sudah ada di tanganku, aku mundur selangkah. Tepat dalam satu hantaman, kaca itu retak. Dua hantaman, kaca itu sempurna berguguran menjadi kepingan kecil. Aku melempar tongkat sembarangan. Bergegas tanganku membuka pintu dari dalam, lewat pecahan kaca. Setelah pintu terbuka, aku beralih menatap Gita yang mematung melihat siapa sosok yang ada di dalam mobil.

“Jangan bengong. Bantu gue. Cepat!” teriakku yang kewalahan memapah orang itu keluar dari mobil. Gita tersadar, bergegas membantu. Tepat ketika baru dua langkah dari mobil itu, ledakan hebat terdengar. Aku dan Gita refleks terjatuh bersama orang itu. Aku menarik nafas berat, tidak terbayangkan bagaimana kalau terlambat satu detik saja.
Api mengungkung mobil sampai hangus tak berbentuk. Aku dan Gita bangkit, secepat mungkin melaju ke rumah sakit terdekat. Gita yang mengemudi. Aku duduk di belakang bersama orang itu. Kepalanya yang bersimbah darah kuletakkan di pahaku. Tidak peduli dress putih-ku penuh bercak merah.


Dalam diam, Gita sibuk dengan jalan di depan, sementara tanganku meraba pelipis orang itu yang sobek. Entah datangnya dari mana, air mata tiba-tiba menggelayut di sudut mataku. Aku mengusap rambutnya. Melihat dia yang samar terbatuk kecil. Aku langsung menyingkirkan tanganku dari kepalanya. Nafasku tersendat di dada. Air mataku terlanjur jatuh tanpa bisa kutahan. Dalam diam aku menangis. Dalam diam aku juga mulai mengenali siapa orang ini.

***

Sudah hampir satu jam aku dan Gita tiba di rumah sakit. Aku tidak banyak bicara, menyerahkan orang itu kepada dokter dan suster. Gita duduk di sampingku, membersihkan luka sisa pecahan kaca di tangan kananku dengan kapas.

“Kok dari tadi lo diam terus?” Gita memutus lamunanku, mulai membebatkan kain kasa.

“Nggak kenapa-kenapa,” jawabku pendek.

“Gue kayak pernah lihat orang itu sebelumnya. Tapi di mana ya?” ucap Gita, setelah selesai dengan urusan membebat. Aku berdiri, membelakangi Gita yang masih duduk.

“Siapa?” Gita ikut berdiri, menyentuh bahuku. Aku sedikit menoleh, lantas menunduk.

Aku hanya mampu menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan Gita. Untuk apa menyebut nama itu lagi. Bertahun-tahun aku habiskan percuma untuk mengubur nama itu. Tapi kini semua usahaku terasa sia-sia.

“Saudari Rena..” Suara dokter menyela, aku bergegas melangkah ke depan pintu.

“Pasien terus-menerus menyebut nama Anda.” Dokter itu berkata jelas. Tanpa menunggu perintah, aku masuk ke ruangan di mana orang itu tergeletak dengan selang-selang plastik di sekujur tubuh. Tidak sempat berhenti ketika Gita mencoba mencegahku.

“Re..na.. Re..na.” Suara yang samar terdengar dari balik alat bantu pernapasan. Tubuhku membeku seketika. Dia memanggil namaku berkali-kali? Dengan mata yang tertutup rapat dia menyebut namaku? Aku tak percaya ini. Tuhan, katakan padaku kalau semua ini tidak nyata.


Lima menit diam mematung di samping ranjangnya. Akhirnya aku terpatah-patah meraih tangannya yang diinfus. Setitik bening menetes di tangannya. Ruangan ini menjadi hampa. Otakku mulai memutar kenangan-kenangan masa lalu. Aku menutup mata, menghilangkan apa yang sedang ada dalam otakku sekarang. Gagal. Tidak ada yang bisa kuhilangkan. Semua sudah terlanjur kembali.

“Aku ada di sini,” kataku pelan sekali, tercekat. Hanya itu kalimat yang mampu keluar dari bibirku. Sisanya hanya diam, membiarkan suara mesin pengontrol detak jantung serta tetesan infus yang memenuhi ruangan.

***

Pagi-pagi sekali aku sudah duduk di balik meja kantor. Duduk diam, menyibak gorden jendela lebar-lebar. Berpangku tangan, memainkan bolpen di tangan. Membiarkan ponselku yang berdering berkali-kali. Juga membiarkan pintu ruanganku diketuk Gita berpuluh kali. Aku menyibak rambutku dengan jari-jariku. Sesak menjalari dadaku sejak semalam. Membuat waktuku berantakan dalam sekejap.

“Re.. Buka pintunya! Ada telepon dari pihak rumah sakit!” Gita berteriak keras, sudah putus asa mengetuk pintuku tanpa hasil. Aku tidak peduli seberapa keras suaranya, berita itu membuatku bertindak cepat. Spontan meraih ponsel di meja, memutar kunci sembarangan. Lantas menarik tangan Gita.

“Suster bilang apa?” tanyaku panik. Antara ingin mendengar jawaban Gita dan takut mendengar berita yang buruk.

“Dia udah sadar,” jawab Gita seadanya. Aku terdiam sekarang. Dia sadar? Apa aku kuat bertemu dengannya sekarang?

“Lo jadi aneh semenjak...” Ucap Gita ragu.

“Apanya yang aneh?” tanyaku tidak terima. Gita fokus mengemudi.

“Gue tahu dari mata lo, Re. Jadi.. Siapa dia?” tanyanya penuh selidik.

“.....”

“RE?”

“Emang penting ya?”

“Gue serius Re..”

“Lo nanti juga bakal tahu sendiri.” Aku memutus percakapan. Gita nampak kesal. Aku menghela nafas.

***

Koridor menuju ruangan tempat ia dirawat terasa lebih panjang. Semakin aku melangkah, maka keraguan semakin menggelayut di hatiku. Tidak. Aku harus tetap melangkah. Aku ingin melihat kondisinya sekarang.


Ruangan itu berada di sudut, aku sudah dekat, dan bisa melihat siapa yang sedang berdiri di depan pintu. Langkah kuperlambat, Gita yang berjalan cepat menyadari aku yang tertinggal di belakang.

“Ayo, Re. Kenapa malah berhenti di sini.” Gita menghampiri, menarik lenganku. Aku diam menurut.

Terlihat wanita anggun berdiri di depan kamar Zam.

“Eh, temannya Zam ya?” Wanita itu menoleh, urung membuka pintu.

“ZAM?!” Gita berkerut dahi.

“I..ya mbak,” jawabku, sebelum Gita bertanya macam-macam.

“Prita..” Wanita itu mengulurkan tangan.

“Rena.” Aku menjabat tangannya. Gita melamun, baru setelah aku menepuk pundaknya, ia menyebut nama.

“Ayo masuk..” Prita mempersilahkan, tersenyum anggun. Gita yang melangkah terlebih dahulu. Aku yang terakhir menutup pintu. Butuh beberapa detik untuk membalikkan badan. Dan.. Ya, aku melihat dia yang sedang berusaha duduk, dengan bantuan Prita. Tapi, tunggu.. Siapa Prita? Hubungan mereka apa?

Prita memeluk Zam begitu melihat Zam membuka matanya. Aku yang berada di belakang Gita hanya menunduk, seperti belum siap bertemu dengan Zam sekarang. Sebenarnya apa yang harus aku takutkan? Tidak ada. Kenapa aku tidak bisa mengendalikan kecemasanku? Aku melamun, dan Gita dengan sengaja menyikut perutku. Aku mengaduh.

“Re..na?” Suara itu mengarah kepadaku. Mampus! Aku menggigit bibir bawahku. Setelah kupikir lagi, lebih baik aku tadi tidak usah memaksa datang kemari.

“Ng.. Iya? Eh, gimana keadaan kamu? Sudah baikan?” Aku menggeser tubuhku ke samping, sejajar dengan Gita. Ya, setidaknya hanya kalimat itu yang mampu keluar.

“Makasih ya,” katanya tersenyum kepadaku.

“Buat apa?” tanyaku tidak mengerti. Aku melirik Gita yang memutar bola matanya. Mungkin ia mulai sebal dengan tingkahku yang aneh.

“Buat malam itu. Meski aku tidak sepenuhnya sadar. Aku melihat kamu berjuang untuk menyelamatkanku. Aku tidak tahu jika terlambat sedetik saja, mungkin aku sudah hangus ikut terbakar.” Zam menceritakan dengan detail. Dia ingat apa yang terjadi malam itu? Apa dia juga melihat aku yang hendak menyentuh wajahnya? Kuharap dia lupa dengan bagian itu.

“Aku yang seharusnya minta maaf. Aku yang—” Kalimatku terpotong begitu Gita sengaja menginjak kakiku. Aku melotot kepada Gita, tidak mau kalah, Gita juga malah mempelototiku. Aku tahu maksudnya mengapa tiba-tiba ia menginjak kakiku. Tapi aku harus tetap mengatakannya. Prita yang sejak tadi memilih diam, sekarang berdehem. Aku menyudahi aksi mata dengan Gita. Zam menunggu aku melanjutkan kalimatku.

“Aku tahu mungkin malam itu kamu nggak konsen nyetir.” Zam mendahului, tersenyum. Aku dan Gita terkesiap. Prita juga ikut membulatkan matanya.

“Maaf...” Ucapku sangat menyesal.

“Iya, aku maafin,” kata Zam singkat. Sepertinya aroma keberatan tercium dari Prita.

“Hloh? Nggak bisa gitu aja dong, Sayang! Dia yang bikin kamu celaka. Nggak mudah dibayar hanya dengan kata maaf!” Prita meledak sudah, galak sekali menatapku. Sampai-sampai membuat Gita tak berkutik. Wanita ini diam-diam menghanyutkan!

Tunggu.. Prita memanggil Zam dengan sebutan Sayang?

“Tenang, Sayang, lagian aku juga nggak apa-apa.” Zam menenangkan wanita di sampingnya itu. Sayang? Aku sesak mendengar sebutan itu. Apa yang harus aku cemburukan? Tidak ada.

“Dan kalian berdua, jangan pernah datang kemari lagi! Sudah cukup Zam seperti ini. Apa kalian belum puas?” Sepertinya usaha Zam sia-sia. Kali ini Prita dengan intonasi tinggi mengusirku dan Gita, menunjuk pintu dengan telunjuknya.

“Biasa aja ya! Emang lo pikir kita apa? Masih mending kita mau tanggung jawab!” Gita menanggapi dengan geram. Ternyata sejak tadi Gita diam bukan karena takut dengan Prita. Tetapi rupanya sedang mengumpulkan tenaganya. Jika tidak cepat kupegang tangan Gita, mungkin mereka berdua sudah saling menjambak rambut. Atau saling mencakar? Ya, mungkin dua-duanya.

“Aku pamit ya, Zam. Semoga cepat sembuh,” kataku berpamitan, Zam mengangguk pelan. Gita menjulurkan lidahnya, sengaja mengejek Prita.


***


“Cewek sinting!” umpat Gita di dalam mobil. Emosinya belum mereda.

“Ngapain sih lo ambil hati. Dia berhak marah, secara dia kan pacarnya Zam.” Ucapku, berat rasanya menyebut kata ‘pacarnya’.

“Kenapa? Jangan bilang lo cemburu!” Gita menudingku, pintar sekali membaca gelagatku.

“Udahlah, yang penting Zam nggak marah dan nuntut kita.” Aku mengalihkan pembicaraan. Untung Gita tidak tertarik membahasnya lagi.

“Eh...”

“Apa lagi?” tanyaku sebal. Kali ini apa yang akan terlontar dari mulut cerewetnya?

“Zam itu siapa sih, Re? Aku yakin banget, aku pernah lihat. Tapi di mana ya?” Gita menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Aku mendengus kesal. Kenapa malah pertanyaan ini yang keluar?

“Zam itu kakak kelas kita dulu. Ingat nggak?” tanyaku menoleh kepadanya. Ia sedang mengingat-ingat. Tidak kusangka jika daya ingatnya sudah turun.

“Astaga!! Jadi dia orangnya? Aduh, jodoh kali sama lo, Re!” Gita terkekeh. Apa yang lucu? Aku dengan sengaja menginjak pedal rem. Gita hampir mencium dashboard.

“Lo jangan ngawur deh, Git. Lo bilang jodoh? Bullshit!” Sergahku cepat. Tidak semudah itu, ini terlalu rumit.


***


Beberapa hari aku tidak menjenguk Zam, meski aku sangat mengkhawatirkannya. Aku hanya sekadar ingin tahu kondisinya, tapi Gita berhasil mencegahku. Lagipula ada Prita yang menjaga Zam. Lantas kenapa aku malah gelisah? Bukankah keberadaanku di sana hanya akan mengganggu saja?


Aku tidak pernah mengira jika orang di masa laluku datang kembali. Tanpa permisi. Semesta seperti berkonspirasi mengatur kecelakaan malam itu. Hingga akhirnya aku bertemu Zam. Cinta yang tidak pernah bisa kumiliki sejak dulu hingga sekarang. Tidak ada yang salah dengan takdir. Hanya saja, menyakitkan ketika aku harus menghadapi apa yang seharusnya hilang dari hidupku.


Seperti pagi ini. Aku melajukan mobilku menuju kantor tempatku bekerja. Ada yang berbeda pagi ini. Aku membanting setir, berbelok ke kanan. Tidak, aku tidak lupa jalan ke kantorku. Tapi entah mengapa mendadak aku mengambil keputusan untuk menuju rumah sakit. Sekuat mungkin aku menahan diri. Maka semakin yakin aku ingin melihat keadaan Zam. Aku membuang napas, untung Gita tidak berangkat bersamaku.


Dari jarak lima meter aku memandangnya diam-diam. Zam sedang duduk di teras belakang yang menghadap ke taman. Ia duduk di kursi roda, diam, dan terlihat sendirian. Apa Prita baru saja pulang atau memang belum datang?


Dari tempatku berdiri, aku bisa melihat separuh wajahnya yang datar menatap riak kecil di kolam dekat taman. Tidak ada yang pernah berubah. Lesung pipitnya yang menawan, sorot matanya yang teduh. Semua detail yang tidak pernah aku lupakan. Tuhan, andai aku boleh meminta. Kembalikan mata teduh dan lesung pipit itu ke sisiku. Jangan biarkan waktu memisahkan lagi—


“Rena?”


Wajah itu menoleh secara tiba-tiba. Aku yang salah tingkah karena ketahuan mengintip tidak sengaja menjatuhkan stopmap dari tanganku. Aku menepuk jidat. Antara malu dan grogi berbaur menjadi satu. Sementara Zam mendekat, aku masih kerepotan memunguti kertas-kertasku yang berantakan.

“Rena?” ulang Zam, aku sedikit mendongak.

“Eh, bagaimana keadaanmu?” tanyaku begitu aku selesai merapikan kertasku.

“Udah agak mendingan, Re.” Zam tersenyum, memperlihatkan lengkungan di pipinya. Ia mengajakku untuk mengitari taman. Aku tentu tidak menolak. Urusan terlambat masuk kantor itu masalah belakangan.

“Syukur kalau gitu. Oh ya, kok aku nggak lihat Prita ya?” tanyaku saat aku mendorong kursi roda Zam pelan.

“Dia baru pulang tadi pagi. Aku yang maksa. Setelah urusan di rumah selesai, dia pasti ke sini.” Zam tampak berbinar. Ada kejanggalan yang aku rasakan. Tapi aku langsung menepisnya.

“Sekarang kerja di mana?” Melihat aku yang terdiam, Zam langsung mengalihkan pembicaraan. Aku menghentikan gerakan tanganku. Zam sedikit menoleh ke belakang.

“Kerja di perusahaan periklanan,” jawabku singkat. Zam tersenyum. Aku tidak tahu ia tersenyum untuk apa.

“Kamu tahu, Re? Aku merasa sangat bersalah. Seharusnya waktu itu aku tidak mempermainkanmu. Dan sekarang aku menyesal. Kamu mau kan memaafkanku?” Zam berujar dengan nada bergetar, namun tidak ada keraguan di sana. Ucapan perminta-maafan itu terdengar tulus.

“Aku sudah melupakan semuanya, Zam. Tidak ada yang salah. Juga bukan salah takdir. Barangkali memang begitu cara kita bertemu. Tetapi, sungguh, kamu tidak perlu meminta maaf.” Aku berhenti mendorong kursi rodanya. Terasa menyakitkan saat aku mendengar kalimat itu keluar dari mulutku sendiri. Apa yang sudah aku katakan? Membohongi hatiku? Mengelabui perasaanku sendiri?

“Kamu baik, Re. Itu yang membuatku menyesali perbuatanku dulu. Tak seharusnya aku—” Zam tidak meneruskan kalimatnya begitu aku berjongkok di sampingnya dan menyentuh tangannya.

“Berhentilah meminta maaf,” kataku. Zam mengangguk patuh. Lengang untuk beberapa saat kemudian.


Zam tersenyum, aku belum berdiri dari posisi jongkokku. Aku lantas menoleh ke arah di mana senyuman Zam mendarat. Sudah bisa ditebak siapa yang datang. Aku bergegas berdiri, mengambil jarak dari Zam. Ini jauh lebih baik daripada ada kesalahpahaman. Kulihat langkah Prita semakin lebar, dan begitu sampai ia langsung mencium kedua pipi Zam. Apa kalian tahu apa yang sedang terjadi di relung hatiku?

Prita sepertinya pura-pura tidak melihat kehadiranku. Ia langsung mengajak Zam untuk kembali ke ruangannya. Dan aku dibiarkan berdiri di sini sendirian. Zam sempat menoleh ke belakang dua kali, tetapi Prita berhasil mengalihkan perhatian Zam. Kuusap kening yang berkeringat. Tidak ada yang lebih baik selain meninggalkan tempat ini dan segera pergi ke kantor. Aku rasa sekarang Gita sudah gemas menunggu di ruanganku.


***


“Beli apa sih? Buruan kenapa! Mau hujan, Re!” Gita sempat mengomel saat aku menghentikan mobilku di pelataran kedai buah. Aku juga sebal, kenapa ia tadi harus pulang bersamaku!

“Lima menit, Git. Lo juga nggak bakal kehujanan kalau lo diam dan duduk manis di dalam mobil.” Aku mendorong pintu mobil, menyisakan Gita yang bersungut-sungut ria.

“Buat apa beli parcel buah?” tanyanya spontan setelah enam menit aku keluar dari kedai itu. Aku tidak menjawab.

“Jangan bilang kita ke rumah sakit sekarang! Buat apa? Zam kan udah sembuh. Gue sih nggak mau ya. Nenek lampir itu pasti ada di sana!” Gita bergidik. Aku hanya menyeringai, tidak ada yang perlu aku jawab.

***

Rumah sakit, hujan deras turun membalut sore yang kelabu...


Gita mengekor di belakangku. Ia mencoba mengimbangi langkahku yang tergesa melewati koridor. Bahkan dengan konyolnya Gita melepas high heelsnya. Aku terus berjalan tanpa mempedulikan Gita.


Pintu berderit pelan ketika aku membukanya. Zam terbaring di ranjangnya. Sendiri. Tidak ada Prita di sini. Mungkin dia belum datang. Aku melangkah masuk.

“Eh, maaf membangunkanmu..” Aku menggigit bibir melihat Zam yang membuka mata.

“Rena? Sendirian?” Zam menyelidik. Aku mengangkat bahu, “tadi bareng Gita.”


Aku duduk di kursi samping ranjangnya. Kami sempat terlibat percakapan ringan. Mulai dari membahas masa SMA dulu sampai kepindahan Zam. Aku baru tahu jika Zam ikut pindah kedua orangtuanya. Namun tiga tahun yang lalu Zam memutuskan kembali ke kota ini.
“Memulai lembaran hidup yang baru.” Itu jawaban yang terlontar dari mulutnya begitu aku tanya alasan ia kembali ke kota ini. Aku hanya manggut-manggut.

“Zam, aku bawa Aliya—” Prita menghambur masuk dan langsung tercekat melihat aku duduk di samping Zam. Aku menoleh, melihat Prita yang membulatkan mata. Ekspresi keberatan tergambar jelas di raut wajahnya. Aku yang sadar akan tatapan itu langsung bangkit dari dudukku.

“Selama ini aku membiarkan kamu datang ke sini. Bukan berarti kamu juga bebas mengambil tempatku.” Prita berkata dengan mata memerah. Aku merasa bersalah. Prita benar. Tidak seharusnya aku di sini. Aku menunduk. Ada yang luput dari mataku. Dan aku baru menyadari setelah aku menundukkan kepala. Anak kecil yang manis. Mengenakan rok putih selutut. Rambutnya yang ikal dikuncir kuda. Ia menatap tidak mengerti. Sesekali menggenggam tangan Prita lebih kencang. Giliran aku yang terhenyak saat melihat pipi anak manis itu. Pipi yang berlesung pipit, sama seperti milik Zam.

“Maaf. Aku tidak pernah bermaksud untuk mengacaukan kehidupan kalian,” ucapku dengan gemetar. Mataku terasa hangat. Kumohon, jangan menetes di sini!


Gita muncul di depan pintu dengan menenteng high heelsnya di tangan. Ia menatapku dan Prita dengan curiga. Juga tidak luput menatap anak kecil yang digandeng Prita. Gita kali ini membisu. Benar-benar tidak mengerti apa yang harus keluar dari mulutnya. Prita masih menatapku. Aku mengalihkan mataku kepada Zam. Tidak ada sepatah kata yang keluar dari mulut Zam.

“Ma, aku pengen peluk Papa!” Gadis kecil yang baru berumur dua tahun itu merajuk dengan kalimat yang berlepotan. Prita mengangkat gadis itu, tangan Zam yang menerimanya. Terlanjur sudah. Air mata tanpa bisa kutahan meluncur begitu saja. Gita menarik tanganku sebelum situasi bertambah menyakitkan.


Dalam genggaman tangan Gita, aku sempat menoleh ke ruangan itu. Aku sepenuhnya sadar atas apa yang aku lihat dan dengar tadi. Tidak ada yang bisa mengubahnya menjadi mimpi.


***


Aku berjalan lunglai memasuki rumahku dengan mata yang sembab. Gita ikut masuk, barangkali ia cemas aku akan nekad melakukan apa saja.

“Rena—” sergahnya. Aku menoleh dan mendapati cermin besar yang merefleksikan diriku.

“Gue tahu, gue tahu gimana rasanya. Sesakit apa hati lo sekarang, gue ngerti...” Gita memecah kesunyian dengan suara lembutnya. Aku masih menatap cermin, sedikit pun tidak menoleh.


Tanganku meraih guci kaca di atas meja dengan sembarangan. Gita tergesa mencegah, namun kalah cepat dengan tanganku. Aku melemparnya dalam satu tarikan napas. Gita berteriak karena terkejut. Cermin besar itu remuk sudah. Serpihan cermin besar tadi bergemerincing menghujam lantai lantas terberai menjadi serpihan kecil. Kedua kakiku lemas, bahuku naik turun. Akhirnya aku jatuh terduduk di lantai. Aku menangis kencang, meremas rambut panjangku. Gita lantas mendekat dengan hati-hati. Ia merangkulku.

“Jangan seperti ini, Re. Hidup kalian memang sudah berbeda. Zam bahagia dengan keluarga kecilnya.” Gita berbisik di telingaku. Ya, aku tahu di mana letak kesalahanku. Karena sejatinya apa yang terlihat oleh kedua mataku tidak sama dengan apa yang menjadi rahasia di balik harapan-harapanku. Memori itu terputar dalam otakku. Malam ketika aku menyebabkan kecelakaan Zam. Ketika aku hendak menyentuh wajahnya. Saat aku melihat senyum di lesung pipitnya. Pancaran mata teduhnya—Menyakitkan! Aku terkulai lemah, jatuh di pangkuan Gita.


Aku memasuki lorong yang sepi. Sejauh mata memandang hanya putih pekat yang bisa tertangkap oleh mataku.

Di mana aku?

Apa aku sudah mati?

Aku berdiri dengan berpegangan pada dinding. Tidak ada siapa pun di sini. Kosong. Seperti ruang hampa. Aku mencoba berteriak. Memanggil nama siapa saja yang aku kenal—termasuk Zam.

‘Rena?’

Aku mencari sumber suara berasal. Yang ternyata dari belakangku. Aku berbalik dan mendapati Zam berdiri di ujung. Ia tersenyum mengulurkan tangannya. Perlahan aku mendatanginya. Saat aku ingin menyambut uluran tangannya. Ia menghilang begitu saja. Jemariku menyentuh udara yang kosong. Aku mulai menangis dan kembali terjatuh ke lantai yang terasa dingin menusuk tulang. Kenapa Tuhan? Kenapa? Mengapa Engkau mendatangkannya kembali ke dalam hidupku hanya untuk membuatku mengerti kalau aku dan Zam tidak ditakdirkan untuk bersama?




“...ketika aku memutuskan untuk berhenti dan melupakan, aku dihadapkan pada dua pilihan; mengenangnya atau menghapusnya? Aku tidak tahu harus memilih yang mana, waktu hanya memberiku waktu yang singkat untuk memilih. Jika aku mengenangnya, aku akan tetap hidup di antara bayangnya. Dan bila aku menghapusnya, maka aku seyogyanya akan membiarkan waktu melenyapkannya. Aku tidak ingin kehilangannya, waktu yang aku rangkai bersamanya tidak sebentar. Sang waktu, bila engkau ingin membawanya pergi dari hidupku, maka beri aku waktu sebentar saja untuk merasakan kehadirannya yang nyata untuk terakhir kali. Walau hanya sedetik waktu—”





TAMAT

Cari Blog Ini