Tampilkan postingan dengan label Cerbung : Endless Love. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerbung : Endless Love. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Juni 2012

Endless Love | part 3


Hari Pertunangan



Rumah besar itu tampak sibuk. Lalu-lalang orang cekatan mengangkat bebungaan. Dari satu sudut ke sudut lainnya. Ibu Satria malah ikut turun tangan, memberi aba-aba dari kursi rodanya. Kinta menawarkan bantuan, namun ditolak mentah-mentah.

“Tidak usah, Kin. Kau temani Kayla ngobrol saja. Dia ada di halaman samping. Sudah sana.” Kinta mengangguk patuh.


Kinta mendapati Kayla sedang duduk di tepian kolam ikan. Kinta melangkah mendekat. Lalu menyapa Kayla dengan ramah.

“Eh, Kinta. Sejak kapan datang?” Rambut Kayla yang panjang sedikit tersibak saat ia menoleh ke belakang.

“Baru saja,” jawab Kinta pendek.

“Duduk, Kin.” Kayla tersenyum menawarkan. Gadis itu tidak seburuk yang dipikirkan Kinta. Kayla justru sangat ramah, tatapan yang bersahabat. Kinta ikut duduk di tepian kolam.

“Kau pasti menyusulku kesini karena diusir Tante Ema.” Kayla melempar sesuatu yang sejak tadi ia genggam ke dalam kolam. Dalam sekejap, ikan-ikan membuat air berkecipak.

“Kau benar sekali.” Kinta menyeringai.

“Aku juga mengalami hal itu tadi.” Kayla menahan tawa.

“Oh ya, Satria mana? Aku tidak melihatnya.” Kinta mengedarkan pandangan. Kayla menoleh, melupakan sejenak kolam di depannya.

“Dari semalam Satria belum keluar dari kamarnya. Aku sudah coba membujuk, dan gagal. Tante Ema juga tidak bisa berbuat lebih. Mungkin hanya kau yang bisa membujuknya. Tolong, kau temui dia sekarang. Aku takut terjadi apa-apa dengannya.” Kayla menatap penuh harap. Kinta menelan ludah. Aku juga sangat takut terjadi apa-apa dengan Satria. Kinta cepat berdiri, menghilang di balik pintu, membiarkan Kayla duduk sendirian disana.


Kinta menaiki anak tangga, cepat-cepat. Dalam benaknya ia sangat khawatir. Kinta mengetuk pintu dengan tangan gemetar.

“Satria, ini aku.” Kinta sedikit menempelkan kepalanya di daun pintu, berkata amat lirih. Pintu terbuka, Kinta gelagapan, mencoba menyeimbangkan tubuhnya. Satria terlihat berantakan. Kinta mengerutkan alis. Apa pula yang terjadi dengan laki-laki ini?

“Kau kenapa? Ada masalah apa?” Kinta menggamit kedua bahu Satria.
Satria melangkah kembali ke kamar, tidak menjawab pertanyaan Kinta tadi. Ia duduk di tepi kasur. Kinta berjalan ke arah jendela, membuka gorden lebar-lebar. Sinar matahari menyilaukan mata, persis menerpa wajah Satria yang kusut. Kinta menarik kursi, duduk tepat di hadapan Satria. Pandangan mereka saling bertemu.

“Katakan apa yang mengganggu hatimu. Aku tahu, jadi kau tak perlu menutupinya.” Kinta mendesak. Satria menghela napas, beranjak berdiri.

“Biarlah cukup aku yang tahu. Lebih baik kau pulang, Kin.” Satria menatap langit cerah di luar sana dari jendela. Kinta tergagap.

“Aku hanya ingin mengurangi bebanmu. Jadi, apa salahnya aku tahu?” Kinta masih saja mendesak.

“Kau datang kan malam ini?” ucap Satria sengaja mengalihkan pembicaraan.

“Tentu saja. Mana mungkin aku melewatkan momen penting seperti ini.” Kinta sungguh sesak mengatakan kalimat itu. Momen penting?

“Akhirnya!” seru seseorang di ambang pintu. Satria dan Kinta kompak menoleh.

“Kau hebat, Kin. Dan kau Satria, kau berhasil membuat aku dan Tante Ema begitu khawatir. Tapi untungnya Kinta datang tepat waktu.” Kayla menghambur masuk. Kinta mendeham, aku bahkan jauh lebih khawatir. Satria mengusap wajahnya.

“Emm, daripada bengong. Lebih baik kita makan bersama di luar. Bagaimana? Kalian setuju kan?” Kayla berhasil membuat suasana mencair.

“Ide yang bagus.” Kinta menimpali. Satria tidak tertarik untuk menjawab. Tetapi mau tidak mau ia harus ikut.


Cukup lama Kinta dan Kayla menunggu Satria keluar dari kamarnya. Baru setengah jam kemudian Satria muncul dari balik pintu. Kinta dan Kayla serempak berdiri bersamaan untuk menyambut Satria. Kinta kalah cepat. Kayla yang berhasil mengambil posisi, bergelayut manja di lengan Satria. Entahlah apa yang dirasakan Kinta saat ini.


“Kita mau makan dimana?” tanya Kinta menoleh ke belakang. Ia memang duduk di kursi depan. Satria dan Kayla duduk di belakang.

“Terserah kau saja.” Satria yang menjawab. Kayla hanya tersenyum di samping Satria. Kinta menarik napas. Ia begitu takut ketika perlahan posisinya direbut oleh Kayla.

Mereka tiba di sebuah restoran. Satria memilih posisi duduk di dekat jendela. Kinta dan Kayla duduk bersebelahan, saling bersitatap heran, sekaligus merasa aneh dengan sikap Satria yang masih dingin. Seorang pelayan datang menghampiri meja mereka. Setelah selesai menyebutkan pesanan, pelayan itu pun berlalu.

“Kau terlihat murung. Harusnya begini.” Kayla menyentuh kedua pipi Satria, menarik pipinya hingga tersungging seulas senyum. Kinta acuh tak acuh.

“Aku bisa senyum sendiri.” Satria melepas tangan Kayla dari pipinya. Kayla langsung terdiam.

“Kapan kalian akan menikah?” tanya Kinta, ia sebenarnya tidak berminat melontarkan pertanyaan itu. Itu sama saja membuat luka hatinya menganga.

“Kinta, kita saja belum resmi bertunangan. Aku terserah Satria saja. Bahkan lebih cepat lebih baik, bukan?” tawa Kayla pecah. Satria diam, menatap kebisingan suara Kayla dengan datar. Kinta mengutuk dirinya sendiri. Lihat saja seberapa jauh jawaban itu mampu merobohkan hatinya. Lebih cepat lebih baik. Kinta tergugu, enggan bertanya macam-macam.


Pesanan datang, dua orang pelayan yang mengantar. Kayla senang hati melayani Satria, meraih gelas di nampan dengan hati-hati.

“Oh ya, kapan kau akan menyusul kami berdua?” tanya Kayla setelah dua pelayan tadi pergi. Satria menatap Kayla, menggeleng pelan, jangan pertanyaan itu. Kayla yang paham dengan isyarat itu buru-buru mengalihkan pembicaraan.

“Lebih baik kita cepat makan. Nanti keburu dingin.” Kayla tersenyum kaku. Kinta menghela napas tertahan.


 ***


Seusai dari restoran, mereka mampir ke sebuah kedai es cream. Lagi-lagi karena Kayla yang memintanya. Hanya Kayla yang turun dari mobil. Sedangkan Satria dan Kinta menunggu di dalam mobil.

“Aku lelah, Kin.” Satria berkata lirih. Kinta sontak menoleh, menggigit bibir.

“Yakinlah ini semua memang yang terbaik. Kau tak boleh menyerah. Kayla wanita yang sangat baik.” Kinta memandangi spion yang memantulkan wajah Satria yang layu.

“Dan aku harus menepiskan hatiku demi perjodohan ini.” Satria mengiyakan. Percakapan itu berakhir ketika Kayla kembali.



***


“Kau mau aku jemput, Kin?” kata Satria di ujung telepon.

“Tidak perlu. Aku pergi bersama Arga. Setengah jam lagi dia datang menjemput.” Kinta menolak secara halus. Asal tahu saja, Kinta tidak pernah menolak apapun yang berhubungan dengan Satria. Kali ini menjadi pengecualian.

“Satria..” panggil Kinta ragu.

“Ada apa? Kau berubah pikiran?” tebak Satria terdengar senang.

“Semoga kau akan bahagia dengan pilihan ini.” Kinta mendekap mulutnya, air mata bergulir begitu deras. Satria tercekat, segera menutup telepon. Kinta mendekap ponselnya, ia menyandarkan tubuhnya di dinding sudut kamar. Di lain tempat, dalam waktu yang bersamaan, Satria menyandarkan punggungnya di bingkai jendela. Semua terasa menyakitkan. Satria menangis dalam diam.


***


Kinta duduk mematung di depan cermin. Tangannya bergerak amat lambat. Bedak tipis membuat wajah putihnya terlihat natural. Sekian lama ia menatap pantulan dirinya dalam cermin. Sekian menit. Hingga terdengar suara klakson yang membuat Kinta tersadar. Kinta bergegas berdiri. Ia sedikit kerepotan saat menuruni anak tangga dengan high heels. Gaunnya yang panjang membuat langkah kakinya terganggu. Benar saja. Tepat ketika hampir sampai di anak tangga terakhir, Kinta tersandung.

“Aduh, hati-hati, Nona!” Arga berhasil menangkap tubuh Kinta yang hampir terjungkal. Kinta menyeka dahinya.

“Untung kau datang.” Kinta tersenyum lega. Arga takjub memandangi Kinta dari atas sampai bawah. Gaun itu terlihat sempurna. Cantik. Kinta melambaikan tangan.

“Eh, maaf, habisnya kau cantik sekali!” Arga menggaruk kepala, gugup. Kinta nyengir.


***

“Kau tidak mau berpegangan? Kalau jatuh, aku tak mau tanggung.” Arga pura-pura menakut-nakuti.

“Baiklah.” Kinta terpaksa menggandeng lengan Arga sesaat ketika sudah sampai di pelataran dan berniat akan menaiki anak tangga. Arga senantiasa mengumbar senyum. Bagaimana tidak? Kinta, gadis yang ia cintai sejak setahun yang lalu, kini seperti sudah di depan mata. Tinggal menunggu kapan waktu yang tepat untuk mengatakannya. Arga sibuk membenak harapan-harapan indah.

Kinta gemetar menginjakkan kaki di ruangan itu. Ruangan yang megah itu penuh dengan pendar lampu-lampu yang indah. Bunga-bunga yang menghias dinding. Kinta menelan ludah. Tamu undangan memenuhi setiap sudut, saling bercengkerama. Kinta mengedarkan pandangannya. Persis ketika Satria dan Kayla berdampingan menuruni tangga, Kinta tertegun. Arga tersenyum di sampingnya.


Kinta berusaha untuk bertahan, ia bertekad tidak akan meninggalkan acara. Bibirnya menyunggingkan seulas senyum. Sementara hatinya tersayat. Lihatlah bagaimana detik-detik ketika Satria dan Kayla bertukar cincin. Kinta memilih membuang muka atau menunduk, ia tak sanggup melihatnya.


Satria tampak ragu ketika hendak memasang cincin di jari manis Kayla. Ibunya terus meyakinkan. Tetapi apa yang terjadi? Cincin itu jatuh, menggelinding, dan tepat berhenti di bawah Kinta.


Kinta cukup terkejut melihat cincin itu tergeletak di dekat kakinya. Ia membungkuk untuk mengambilnya. Kinta melangkah maju untuk menyerahkan kembali cincin itu pada Satria. Kalau ada yang menyadari, langkah Kinta terasa sangat rapuh. Satria memandang ke arahnya. Kinta mengulurkan tangan menyerahkan cincin tadi, tersenyum kaku. Satria sempat melihat mata Kinta yang memerah.


Kinta berbalik. Ia tidak berani berlama-lama menatap Satria. Tepuk tangan buncah di ruangan itu dalam sekejap. Kinta menoleh, tidak, ia takut melihatnya. Ia bergegas menyibak kerumunan. Berlari. Ia melepas high heels, mengangkat gaunnya yang panjang. Kinta berlari melewati jalan setapak yang ditumbuhi rumput liar. Ia menangis. Langit bergemuruh, petir menyalak tajam. Ia terjatuh tepat ketika satu rintik air turun dari langit. Ia bangkit, tidak peduli kakinya yang terkilir. Kinta kembali berlari di tengah hujan yang semakin deras. Ya Tuhan, apakah ada yang tahu seberapa sakit ia sekarang?


Kinta terduduk lemas di tepi danau kecil yang tak jauh dari rumah Satria. Ia tertunduk lemah di sana. Ia tidak peduli tubuhnya yang kuyup, juga tak peduli gaun putihnya kotor. Biarlah ia sesuka hati melampiaskan rasa sakit hatinya.

Di tengah acara, Arga tampak gelisah mencari Kinta. Satria juga merasakan hal yang serupa. Ia sudah berusaha mencari di setiap sudut ruangan, tetap saja tidak ada.

“Kinta dimana?” tanya Satria panik.

“Aku juga sedang berusaha mencarinya.” Arga terdengar tak kalah cemas.

“Kita coba mencarinya di luar,” usul Arga. Satria mengangguk tanpa mempedulikan acara yang belum selesai. Kayla dan ibunya sempat melarang, namun Satria tetap pergi. Kayla kecewa dibuatnya.


“Tadi ada yang melihat Kinta berlari ke arah danau.” Arga mengembangkan payung di teras.

“Kita harus cepat. Aku takut terjadi apa-apa dengannya.” Satria hampir kalap. Mereka berdua melangkah cepat, menerabas tingginya ilalang. Satria bisa melihat sosok itu terpekur di tepi danau. Ia ingin berlari menghampiri, tetapi Arga mencegah.

“Biar aku saja,” ucap Arga mengambil langkah cepat. Entah dengan alasan apa, Satria menurutinya.


Arga persis berdiri di belakang gadis itu. Ia ragu saat menyentuh pundak Kinta dari belakang. Kinta menoleh, dan mendapati Arga yang kehujanan sedang berdiri di belakangnya. Arga membimbing Kinta untuk berdiri.

“Kau kenapa? Katakan padaku,” desak Arga menggamit kedua lengan Kinta. Hujan semakin menderas.

“Jawab aku, Kin!” teriak Arga mengoyak lengan Kinta.

“Aku hanya ingin sendiri.” Kinta menepis tangan Arga.

“Tidak. Aku tidak akan membiarkanmu sendirian disini.” Arga tetap bersikeras.

“Aku mohon..” Kinta berkata lirih. Arga mendekap gadis itu kuat-kuat. Kinta tidak menolaknya. Kinta sungguh tidak tahu kalau sebenarnya ada Satria disana.


Payung yang sejak tadi ia genggam kini terjatuh, lantas terhempas oleh deru angin. Ia tidak sanggup melihatnya. Satria mematung, matanya tak sedikitpun berkedip dari dua sosok itu. Perasaan apa ini? Satria tidak rela melihat Kinta berada dalam pelukan Arga. Kenapa bukan ia yang berada disana? Kenapa bukan ia saja yang mendekap dan menenangkan Kinta? Mengapa harus Arga yang melakukan semua? Satria memutuskan untuk pergi dari sana. Ia sangat takut jika hatinya tergores semakin dalam. Cukup malam ini saja.





Bersambung—


Selasa, 12 Juni 2012

Endless Love | part 2

Cincin Pertunangan



Satria tergugu, berdiri di dekat salah satu jendela kamarnya, kedua tangannya terbenam di saku celana. Matanya menyiratkan kepedihan yang begitu mendalam. Tentang keputusan itu. Ia seperti sedang menyesalinya. Wajah kakunya tertunduk, sekarang ia memilih untuk duduk menjuntai di bingkai jendela besar itu. Hanya satu nama yang memenuhi otaknya. Kayla? Bukan. Kinta? Tentu saja.


Satria mengambil keputusan bukan berdasar pada hatinya. Ia terpaksa mengiyakan, ketika ibunya yang sedang sakit, memintanya untuk bertunangan dengan Kayla. Saat itu, Satria tidak tega menolak permintaan ibunya. Sekarang, Satria merasa keputusan ini adalah kesalahan terbesarnya. Tetapi, lagi-lagi, mana tega Satria menyakiti hati ibunya. Ia mengusap wajahnya ketika ponsel yang digenggamnya bergetar. Tadi, pagi-pagi sekali ia mengirim pesan kepada Kinta. Satria menyunggingkan bibir ketika selesai membaca balasan sms dari Kinta. Ia segera lompat dari duduknya, meraih jaket di atas kasur.



“Kenapa kau mengajakku? Kenapa tidak—?” kalimat Kinta terhenti tiba-tiba. “Maksudku, kau seharusnya pergi dengan Kayla,” tambahnya lagi.

“Kayla, emm, dia sedang sibuk fitting gaun. Lagi pula aku ingin sedikit membuat surprise untuknya.” Satria mengangkat bahu, sedikit berbohong. Ia mulai menyalakan mesin mobil. Kinta tidak tertarik untuk membahas tentang Kayla lagi.



Mereka berdua mulai menyusuri lantai basement pusat pembelanjaan yang besar itu. Sejak tadi keluar dari mobil, Satria tanpa ragu langsung menggandeng tangan Kinta. Ia senang-senang saja melakukan itu.


Satria sigap menangkap tubuh Kinta yang hampir jatuh. Kinta tadi sangat teledor ketika menginjak tangga pertama eskalator. Satria tertawa lirih melihat raut muka Kinta yang memerah. Malu sekaligus senang saat Satria berhasil menangkap tubuhnya yang hampir terjungkal. Mungkin sudah beratus kali ia naik eskalator, tapi baru kali ini Kinta sangat ceroboh.

“Lain kali hati-hati, Nenek.” Satria tertawa geli seraya membimbing Kinta selama berjalan di eskalator. Kinta menyeringai sebal.

“Apa yang kau bilang barusan? Ne-nek?” ucap Kinta tidak terima. Mereka berdua sudah sampai di lantai dua setengah menit kemudian.

“Ya. Ne-nek.” Satria terkekeh melihat wanita di depannya berkacak pinggang.

“Setidaknya kau lebih cantik dari nenek-nenek yang pernah aku lihat.” Satria mengatupkan bibir, menahan gelak tawa. Kinta sudah bersiap memukul Satria dengan tasnya. Satria cepat-cepat mengelak. Kinta sampai lelah sendiri.


“Selamat siang,” tegur pelayan toko emas itu dengan ramah.

“Ada cincin pertunangan yang pas dengan wanita di sebelah saya ini?” mata Satria sibuk mengamati kaca etalase yang berderet khusus cincin. Kinta mengerjapkan mata, ia tidak mengerti. Pelayan itu kembali membawa sepasang cincin yang berkilau.

“Ini koleksi terbaru kami. Terlihat cocok dengan Anda berdua.” Pelayan itu tersenyum melihat dua orang di hadapannya. Satria mengambil salah satu cincin dari kotak putih-kecil. Ia mengamati setiap detail cincin itu sejenak.

“Aku pinjam tanganmu sebentar,” ucap Satria. Tanpa menunggu jawaban Kinta, ia langsung meraih tangan wanita itu. Satria memasangkan cincin itu di jari manis Kinta.

“Terlihat pas sekali,” komentar Satria. Kinta, jantungnya berdegup demi melihat Satria melakukan hal barusan. Kinta merasa tersanjung. Andaikan... andai semua ini menjadi kenyataan. Alangkah bahagianya ia sekarang.

“Cocok sekali.” Pelayan itu berdecak kagum. Kinta langsung melepas cincin itu dari jari manisnya.

“Saya ambil yang ini saja,” kata Satria mengeluarkan dompet dari saku celananya.

“Semoga langgeng,” ucap pelayan itu seraya menyerahkan kotak putih-kecil yang berisi sepasang cincin.

“Terima kasih,” ujar Satria mengangguk, tersenyum. Kinta serba-salah, hanya ikut tersenyum kikuk mendengar ucapan pelayan tadi.

 
***

“Kau mau makan apa?” tawar Satria setelah keluar dari parkiran. Kinta bertopang dagu melihat keluar jendela mobil.

“Kinta, kau mau makan apa?” ulangnya sekali lagi, penuh kesabaran. Kinta gelagapan, langsung menoleh ke arah Satria.

“Ya, aku sangat menyukai cincinnya,” sahut Kinta cepat. Satria tertawa pelan.


“Kita makan bakso saja,” ucap Satria setelah ia berhenti tertawa. Kinta mendengus sebal.

“Kau tidak mau memakannya? Ini kan bakso kesukaanmu?” tanya Satria melihat wanita di hadapannya hanya mengaduk mangkok bakso tanpa menyantapnya.

“Aku tidak sedang lapar,” sergah Kinta mendorong mangkok bakso itu sedikit menjauh.

“Sejak kapan kau tidak berselera makan bakso?” tanya Satria lagi.

“Mulai sekarang,” jawab Kinta pendek. Satria menelan ludah, meletakkan sendoknya, urung menghabiskan baksonya. Satria merasa perubahan sikap Kinta sangat aneh. Ya, semenjak membeli cincin tadi. Hampir terjatuh di eskalator, melamun di mobil, dan tidak berselera makan bakso favoritnya. Apa yang sedang Kinta rasakan sekarang? Satria mengusap dahinya yang berkerut.


“Thanks, Kin.” Satria berkata lirih. Tanpa disangka sebelumnya, ia kemudian mengecup kening Kinta.

“Kau selalu membuat hidupku lebih berarti.” Satria tersenyum manis. Kinta mematung, Satria mengecup keningnya? Ya, tentu saja hanya sebatas sebagai ucapan terima kasih. Kinta tak mau ambil pusing. Ia mendorong pintu sampai terbuka. Lantas melambaikan tangan hingga mobil Satria hilang di kelokan. Kinta mengusap keningnya. Kecupan itu terasa sangat membekas. Kinta membuka gembok pagar rumahnya sambil bersenandung riang. Ia salah menafsirkan tentang kedatangan Kayla, toh sampai detik ini ia dan Satria belum terpisahkan. Kinta menggigit bibir, tetapi sewaktu-waktu Kayla bisa merusak segalanya dalam sekejap. Dan semuanya akan terlupakan.

***

“Kau dari mana, Sat?” tanya wanita paruh-baya dari belakangnya. Satria berbalik, kembali menuruni dua anak tangga.

“Beli cincin, Ma.” Satria berkata sumringah. Bukan karena cincin itu, lebih karena ia tadi pergi membelinya bersama Kinta.

“Kenapa tidak mengajak Kayla?” Ibu mengerutkan alis.

“Hmm.. Aku tidak perlu melibatkannya. Sedikit surprise, dan aku harap Kayla menyukai cincin pilihanku ini.” Satria duduk berjongkok di depan kursi roda ibunya. Wanita renta itu tersenyum bahagia mendengar penjelasan anaknya itu. Satria begitu bahagia melihat senyum mengembang di bibir ibunya. Satria segera menyeka sudut mata yang keriput ketika air bening bersiap tumpah di kedua pipi ibunya.









Bersambung—

Jumat, 25 Mei 2012

Endless Love | part 1


Hijau dan Merah




 “Kau sudah membukanya?” tanya seseorang diujung telepon.

“Jadi kotak merah itu darimu? Kenapa tidak memberinya secara langsung? Aku belum sempat membukanya,” jawab Kinta to the point. Ia meraih kotak di atas meja. Memandangi setiap sudut kotak dengan mata terpicing.

“Pokoknya setelah membukanya. Kau harus pilih salah satu nanti.” Telepon ditutup. Kinta menghela napas. Selalu saja begitu. Ia sudah hapal benar bagaimana sifat sahabatnya yang satu ini. Malam beranjak matang, ia sudah menguap lebar. Seraya menenteng kotak merah itu, ia keluar dari ruangannya setelah menekan saklar. Ruangan itu berubah gelap gulita.


Rasa penasaran itu ternyata tak mampu mengalahkan rasa kantuknya. Baru keesokan paginya, Kinta tiba-tiba terkesiap dari tidurnya, seperti terbangun dari mimpi buruknya. Lengannya terangkat menutup matanya dari silau matahari, jendela kamarnya sudah terbuka lebar. Kinta menyingkap selimut tebalnya. Tentu saja ia terbangun karena teringat dengan kotak itu.


Kinta duduk di balkon dekat kamarnya. Ia duduk di kursi berpelitur, rambut yang tergerai menutup wajahnya, beberapa kali harus menyibaknya. Ia membuka perlahan. Bahkan jantungnya ikut berdebar. Sempurna terbuka. Kinta tidak sengaja menjatuhkan tutup kotak itu. Berdebam di lantai keramiknya. Isinya? Kinta menggigit bibirnya dengan gemetar. Tangan kanannya menjangkau ke dalam. Satu kertas tebal ia genggam erat-erat. Surat undangan.. Pertunangan?


Isinya ada dua. Satu berwarna hijau pupus. Yang satu lagi berwarna merah marun. Tentu dengan motif yang berbeda-beda. Kinta menggeleng, ia tidak mengerti apa maksud semua ini. Satria akan bertunangan? Dengan siapa? Bertahun-tahun Kinta mengenal Satria. Dan selama itu pula Satria tidak pernah mengenalkan calon tunangannya. Hanya baru kali ini, Kinta sampai tidak percaya, Satria akan bersanding dengan wanita—yang entah sangat beruntung itu.


Kinta cepat menyambar handuk. Ia bergegas mandi. Ada yang harus segera ia luruskan. Tidak segampang itu ia mempercayai Satria akan bertunangan. Ia sangat tahu bagaimana Satria.

***

“Pagi, Tante.” Kinta menyapa ketika mendapati wanita paruh-baya itu duduk dengan kursi rodanya di halaman samping.

“Pagi, Kin. Aduh, Satria tadi pagi buta sudah pergi. Entah kemana.” Tante Ema mengangkat bahu. Kinta menemaninya duduk di taman. Ini kesempatan yang baik untuk mengorek informasi, pikirnya.

“Satria, emm..” Kinta gugup melanjutkan kalimatnya.

“Satria belum bilang ya, Kin? Minggu depan dia akan bertunangan. Kau mungkin bingung sekali. Semua memang serba mendadak. Mungkin lusa kau mau ikut menjemput Kayla di bandara?” Tante Ema sumringah menceritakan rencana pertunangan. Kinta melongo, jadi namanya Kayla? Secantik apakah dia? Kinta merasa perlu mengerjapkan matanya. Jangan sampai ia tersedu di depan Tante Ema.

“Kayla?” ucap Kinta patah-patah.

“Iya. Teman masa kecil Satria. Tante sudah tidak sabar menanti hari itu, Kin!” serunya girang, menggenggam tangan Kinta.

“Kinta juga ikut bahagia, Tan. Memang sudah saatnya Satria menemukan pendamping hidup.” Kinta mengerjapkan mata lagi, kali ini lebih cepat. Gagal. Airmatanya kadung menetes deras. Ia cepat-cepat mengusap pipi sebelum tante Ema memalingkan wajah ke arahnya.

“Tante yang paksa, Kin. Satria sebenarnya tidak mau, keukeuh, dia bilang, dia mencintai gadis lain. Tapi entahlah, ketika sebulan lalu tante sakit, tiba-tiba saja Satria berubah pikiran. Tante sungguh senang mendengarnya.” Ucapnya dengan menggebu-gebu. Kinta terburu pamit ke kamar mandi. Sudah cukup ia mendengar kalimat menyakitkan itu.


Kinta berlari tanpa melihat apa yang ada di depannya. Ia lebih sibuk membungkam mulutnya. Sementara airmata memenuhi pipi mulusnya. Kinta terkesiap begitu tubuhnya terpental, tanpa sengaja menabrak Satria yang baru datang. Untungnya dengan cepat Satria meraih tubuh Kinta. Kalau tidak, mungkin Kinta akan terjerembab di lantai.

“Hei, kenapa menangis?” tanyanya tercekat, mengangkat dagu Kinta yang tertunduk.

“Aku antar pulang, ya?” tawarnya kemudian. Kinta mengangguk lemah.

“Kau tidak apa-apa kan? Katakan padaku apa yang membuatmu menangis!” ucap Satria cemas.
“Aku sangat bahagia mendengar kabar itu dari Mamamu.” Kinta mengusap sisa air mata dengan tisu. Satria tertegun sejenak.

“Maaf kalau kau harus mendengarnya dari Mama. Seharusnya aku memberitahumu sejak awal,” ucap Satria merasa bersalah.

“Sudahlah. Sekarang, kau harus fokus menyiapkannya dengan matang-matang.” Kinta menepuk pundaknya. Yang ditepuk hanya mengernyitkan keningnya.

“Kenapa?”

“Aku tidak mencintainya, Kin.” Satria memperlambat laju mobilnya. Kinta tertunduk, tak tahu harus berkata apa lagi.

“Tapi aku akan berusaha mencintainya demi Mama.” Ungkapnya lagi. Kinta masih membisu.

“Aku akan selalu mendukungmu, Sat.” Kinta tersenyum tipis.


“Mau mampir dulu? Aku buatkan nasi goreng spesial, gimana?” tawar Kinta sebelum membuka pintu mobil. Satria langsung mengangguk cepat.


“Tidak takut apa kalau tinggal sendirian?” tanyanya bergurau. Kinta nyengir.

“Kau masih suka kopi kan?” Kinta mencoba mengalihkan topik. Satria mengangguk, tentu saja masih suka.


Kinta kembali ke dapur, meninggalkan Satria dan secangkir kopi di atas meja. Lima belas menit berselang, Kinta selesai dengan urusan dapurnya.

“Kau tidak berpikir untuk mengikuti jejakku?” tanya Satria ketika Kinta datang dengan dua piring nasi goreng di tangannya.

“Maksudnya?”


“Bertunangan atau bahkan menikah?” ucap Satria memperjelas. Kinta hanya mengibaskan tangan. Bagaimanalah ia akan mudah menikah dengan lelaki lain? Sementara lelaki yang sangat ia cintai ada di hadapannya saat ini.

“Maaf kalau pertanyaanku menyinggung perasaanmu,” ucap Satria agak lirih. Kinta tersadar dari lamunannya.

“Aku belum menemukan orang yang cocok. Aku sangat mencintai seseorang, tapi dia akan segera bertunangan dengan wanita lain. Sayang sekali, aku belum beruntung rupanya. Eh, itu bukan kau ya! Jangan ge’er.” Kinta menyeringai. Satria lahap menyantap nasi goreng di hadapannya, tanpa menghiraukan kalimat Kinta, ia berkata, “Sumpah enak banget! Bikinanmu tetap yang paling mantap!”


Kinta menelan ludah. Tadinya memang perutnya lapar. Entah mengapa selera makannya hilang begitu saja.

“Aku harus cepat-cepat pulang. Thanks untuk sarapannya.” Satria melambaikan tangan. Kinta bersedekap tangan, menatap Satria yang berjalan ke arah mobil. Ia langsung teringat sesuatu.

“Satria!” pekiknya keras.

“Ada apa?” yang dipanggil menoleh cepat, siapapun akan kaget mendengar seruan itu.

“Aku pilih warna merah marun!” teriak Kinta lagi. Satria mengacungkan jempolnya, melambaikan tangan sekali lagi sebelum mobilnya keluar melewati pagar.

***

Hari itu tiba juga. Kinta akan ikut menjemput Kayla di bandara. Entah, ekspresi seperti apa yang akan dipasang Kinta saat bertatap muka dengan Kayla. Menjambaknya? Menamparnya? Atau bahkan...


Satria menepuk bahu Kinta yang sedang asyik melamun. Satria menunjuk ke arah pintu kedatangan, Kinta ikut melihat kemana arah jari telunjuk Satria. Dan lihatlah, wanita dengan perawakan tinggi semampai sedang berjalan anggun. Angin seperti mengibarkan rambut tergerainya. Lagi-lagi Satria menepuk pundak Kinta. Kayla sudah mendekat, tersenyum sangat ramah. Bahkan sempat-sempatnya mencium kedua pipi Satria. Melihat pemandangan itu, Kinta mencak-mencak dalam hati.

“Kinta,” ucapnya menyodorkan tangan. Kayla balas menjabat tangan Kinta dengan hangat. Satria membantu membawakan koper ke mobil.


Kinta sempat mengeluh dalam hati, tapi sekuat mungkin ia tahan. Matanya kosong menatap pemandangan di depan matanya. Satria dan Kayla sibuk bercanda, saling melemparkan gurauan satu sama lain. Kinta sampai bosan melihatnya. Ia sebenarnya sangat sebal, tadi waktu berangkat ke bandara, ia duduk manis di depan. Sedangkan, setelah Kayla datang, ia harus rela pindah ke kursi belakang. Kinta memalingkan wajahnya ke samping jalan. Tak masalah jika ia akan pusing melihat pemandangan yang berjalan mundur. Kinta juga menyumpal kupingnya dengan headset. Pura-pura asyik sendiri. Padahal dalam hatinya menjerit pilu. Mulai dari sekarang, Kayla akan menggantikan posisinya. Dan itu artinya, ia harus membuang jauh-jauh keinginannya untuk tetap berada di dekat Satria. Cepat atau lambat ia pasti akan tersingkirkan jauh.







Bersambung—

Cari Blog Ini