Tampilkan postingan dengan label Cerpen Spesial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen Spesial. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Maret 2013

Pelangi Bersamamu, Season 3


                                      

            “Aku takut pelangiku kehilangan warnanya. Aku takut hujan akan meninggalkanku. Aku takut hujan akan membawa pelangiku pergi dan tak pernah kembali. Aku takut kehilangan waktu bersamamu.” Mita menangis dalam pelukku saat itu. Aku tahu seberapa besar ketakutannya akan hal itu. Aku tidak bisa memungkirinya, karena aku juga merasakan hal yang sama. Hanya saja, aku memilih diam dan membiarkan Mita berbicara banyak. Bukan. Bukan karena aku takut menjawabnya. Semua tertahan di tenggorokan. Terlalu sulit, bahkan hanya untuk sepatah kata pun. Tanpa sadar, kerapuhan Mita adalah kerapuhanku juga. Separuh hatinya telah menjadi separuh hatiku. Begitu juga sebaliknya. Sampai kami sangat takut menghadapi kenyataan yang ada. Bukan hanya Mita yang menangis kala itu. Aku yang mendekap tubuhnya yang kuyup juga ikut menangis. Saat itu, aku mulai bertanya dalam hati yang paling dalam, kenapa aku dan Mita harus dipertemukan dengan jalan seperti ini. Dan di saat kami saling menaruh hati, badai datang secara tiba-tiba. Aku hanya takut ia mengeluarkan terlalu banyak air mata.

            Kota ini selalu memberiku cerita yang baru, juga hari yang baru. Kota tempat dimana aku seharusnya pulang. Kota yang merekam kenangan-kenangan indah. Kota yang selalu dilingkupi kabut. Kota saat untuk pertama kalinya aku bertemu dengan Mita. Aku menghela napas. Terasa sesak saat detik-detik pertemuanku dengan Mita di bukit dulu terputar dalam otakku. Ketika aku menemukannya terjerembab di semak dengan lebam di tubuhnya. Semua getaran itu tidak pernah lebih dari faktor kembar.

            Pagi yang masih berembun membatasi jarak pandang. Kini kebun teh di depanku nyaris tertutup tebalnya kabut. Aku duduk di teras, menikmati pagi yang baru. Tentu saja aku tidak sedang duduk di teras villa-ku. Di sini, di rumah ini seharusnya menjadi tempat aku menghabiskan masa kecilku dengan keluarga yang lengkap. Tetapi, ternyata aku bisa berada di rumah ini setelah sekian lama hidup hanya berdua dengan Ayah.
            “Wahyu! Wahyu!!”
            Aku melompat dari dudukku, seketika tersadar dari lamunanku saat Bunda berteriak memanggilku.
            “Ada apa, Bun?” tanyaku ikut panik.
            “Mita nggak ada di kamarnya. Semalam dia nggak mau makan. Ini pagi-pagi malah udah kabur entah kemana. Mana lagi demam!” Bunda melapor dengan kalap. Demam? Aku langsung berpamitan, tidak salah lagi, aku akan mencarinya ke bukit.

***       

“Huh, curang nih! Ke sini nggak ngajak-ngajak!” Aku duduk di sebelahnya. Ia tidak mengindahkan kedatanganku. Menoleh saja tidak.
            “Dicari Bunda tuh. Suruh pulang,” kataku.
            “Paling juga disuruh makan. Terus minum obat!” Mita tetap saja tidak menatapku. Aku tidak tahu apa yang sedang ia pandangi di depan sana. Sementara sejauh mata memandang hanya ada kabut.
            “Kamu masih pusing?” tanyaku cemas.
            “Lepas!” bentaknya saat aku meletakkan punggung tanganku di keningnya. Aku segera menarik tanganku.
            “Kamu kecewa sama aku? Oke, aku terima. Tapi jangan sekali-sekali bawa orangtua kita,” kataku, yang berhasil membuat Mita menoleh. Ini hal yang sangat sensitive, tentu saja aku tahu. Aku merebahkan punggungku di rumput yang basah. Awan mulai berarak di atasku.
            “Kamu belum bisa mengikhlaskannya, Mit?” tanyaku saat Mita tak kunjung bicara.
            “Menurut kamu, aku harus jawab apa?” Mita ikut berebah di sampingku.
            “Aku ingin melihat Mita yang tegar. Bukan yang hobinya nangis melulu,” ucapku, berhasil memancing tangan Mita untuk menyikut perutku.
            “Terus hubungan kamu sama Dara gimana?”
            “Hah?”
            “Iya, hubungan kamu sama Dara. Masa’ nggak peka sih?” Mita sedikit sebal. Aku tertawa samar. Karena memang perasaanku terhadap Dara hanya semacam.. hanya semacam.. hanya.. bahkan aku tidak tahu. Selama ini aku tidak pernah menghiraukan Dara. Karena saat itu semua hidupku ada hanya untuk Mita. Sehingga aku tak sempat ‘melihat’ Dara.
            “Buat apa ke sini, kalau cuma buat bengong!” Mita sengaja menyindir. Aku kembali tersadar.
            “Aku nggak ada feeling sama dia. Cuma aku menghargai dia sebagai perempuan.” Aku bangkit, kemudian duduk.
            “Nikah aja sama dia, siapa tahu bisa cinta,” katanya dengan ketus.
            “Akan aku coba,” kataku.
            “APA?” Mita terlihat memicingkan matanya. Aku menyeringai.
            “Kenapa? Bukannya itu malah bagus? Kita bisa saling melupakan. Iya kan?” Aku berdiri. Mita masih tertegun dalam duduknya. Entah karena kalimatku, atau kalimatnya sendiri tadi.
            “Kalau kamu nikah, aku sama siapa?” Mita memelukku dari belakang. Dari nada suaranya terdengar rajukan seorang adik kepada kakaknya, bukan seperti yang kalian pikirkan. Kalimat itu terdengar sangat lugu.
            “Kan ada Ikmal?” jawabku, terkekeh. Mita diam saja, tetap memelukku. Aku tidak mengerti apa yang sedang ia pikirkan sekarang. Kalau aku bertanya, besar kemungkinan ia akan berkilah.
            “Pulang yuk. Bunda khawatir banget sama kamu. Kita sarapan sama-sama. Kalau perlu aku juga minum obatnya deh,” bujukku. Mita tidak merespon sama sekali. Aku menoleh. Ia masih memelukku. Namun aku tidak sadar jika pelukannya mengendur. Ia nyaris jatuh kalau aku tidak cepat-cepat menahannya. Mita pingsan tanpa sepengetahuanku.

***

            “Apa kata dokter?” Ayah yang baru datang bertanya cemas kepadaku. Aku menggeleng. Sedangkan Bunda terus saja mondar-mandir di depan pintu.
            “Wahyu?” Pintu terbuka, dokter memanggilku. Aku terkesiap, lantas cepat mendekat. Bunda juga ikut mendekat, ingin ikut masuk melihat kondisi Mita. Namun dokter segera mencegah, “mohon bersabar, Bu.”

            “Hei… masih pusing?” Pertanyaan yang sama ketika di bukit tadi pagi. Wajahnya pucat, bibirnya sedikit pecah-pecah. Aku hanya bisa berdoa, semoga tidak akan ada yang bisa menghilangkan senyumnya.
            “Kenapa bengong? Hobi banget,” katanya dengan suara serak. Aku terkesiap.
            “Mita?”
            “Iya?”
            “…….”
            Aku termenung. Kurasa bukan sekarang waktu yang tepat untuk mengatakannya kepada Mita. Takutnya malah membuat kondisinya memburuk. Mita memandangiku dengan heran, namun ia memilih diam dan tidak bertanya apa pun. Kami larut dengan pikiran masing-masing. Saling mengunci mulut.

***
            “Dara? Kapan datang?” tanyaku agak terkejut begitu keluar dari ruangan Mita. Dara persis berdiri di depan pintu.
            “Baru aja kok,” ia tersenyum. Ia cantik hari ini, mengenakan serba kuning.
            “Ngobrol di taman aja, yuk.” Ajakku. Sementara kulihat Bunda masuk menemui Mita.
            “Mita sakit apa?” tanyanya saat kami sudah duduk di bangku panjang. Aku mengangkat bahu.
            “Oh ya, aku bawa makanan buat kamu..” Dara mengambil sesuatu dari tasnya. Lalu menyodorkan kotak makanan kepadaku. Aku ragu menerimanya. Tapi ia memaksaku lewat tatapan matanya. Aku tertegun. Ia selalu baik. Dan tentu saja aku mulai peka. Tetapi.. rasanya berat untuk mencintai gadis di sampingku ini.
            “Thanks,” ucapku. Ia hanya tersenyum. Aku membuka kotak makanan itu. Sedikit terkejut saat aku melihat nasi goreng dengan bentuk wajah. Ada dua irisan tomat sebagai mata, irisan cabai sebagai hidung, dan saos sebagai bibir yang membentuk senyum. Sejak saat itu mulai timbul rasa yang aku sendiri belum mengetahuinya. Tidak pernah mudah untuk mengganti posisi Mita begitu saja.
            “Enak banget!” komentarku setelah melahap sendokan pertama. Wajah Dara bersemu kemerahan.

***

Mita pulang hari ini. Alasannya sepele saja, karena Mita tidak doyan dengan bubur rumah sakit. Aku sudah mencegah. Bunda juga tidak berdaya. Apalagi Ayah, ia memilih untuk diam. Namun setelah dipikir lebih baik menuruti permintaannya, daripada ia terus-terusan tidak mau makan.
            “Akhirnya aku bisa lihat hujan lagi.” Mita bergumam ke arah jendela mobil. Aku yang duduk di sebelahnya ikut menoleh. Ini musim kemarau. Aku jadi teringat dengan kalimat-kalimat itu. Mita selalu bilang, “setiap kali kamu ada, hujan akan turun di musim kemarau.” Dulu aku terlalu serius menanggapi. Dan sekarang aku mulai berpikir bukan karena aku. Tentu saja ini siklus alam. Tidak ada kaitannya dengan kehadiranku.
            “Tuh kan!” katanya kepadaku, ia menjentikkan telunjuknya. Aku mengangkat sebelah alisku. “Hujan turun di musim kemarau saat kamu ada. Dulu waktu kamu nggak ada di sini, nyaris nggak turun hujan.”
            Bunda yang duduk di depan menoleh, tertawa. Lantas berkata, “jangan ngelantur, Mit. Kamu aneh-aneh aja. Memangnya Wahyu penari hujan? Atau pawang hujan?” Mita memasang wajah sebal. Aku terpingkal. Ayah diam, tetap fokus dengan jalan di depan. Tidak tertarik untuk menimpali. Namun sejak tadi kulihat ia mengusap wajah beberapa kali. Seperti sedang gelisah.

            Tanpa disuruh aku langsung membopong Mita keluar dari mobil. Ia sempat protes keras. Namun aku tak mengindahkan. Ia langsung merangkulkan tangannya ke leherku. Mungkin karena takut jatuh.
            “Eh, ada Dara?” Bunda kaget mendapati Dara sudah duduk manis di sofa ruang depan. Aku juga sedikit terkesiap. Dara terpaku menatapku yang menggendong Mita. Bukan apa-apa. Aku hanya tidak ingin ia berpikir yang macam-macam. Sementara Bunda mengobrol dengan Dara, aku langsung membawa Mita ke kamar.
            “Kamu masih marah sama Dara?” tanyaku. Mita menggeleng kuat-kuat. Mulutnya terkunci rapat. Ia meraih selimut tebal, lalu meringkuk di dalamnya, memunggungiku. Tidak ada kalimat yang terlontar. Aku membungkukkan badan, mengecup pelipisnya. Ya Tuhan, getaran ini tidak pernah hilang. Malah setiap hari semakin terasa amat sangat nyata. Meski aku berusaha sekuat tenaga untuk mengingkari hatiku, berdusta pada hatiku, nyatanya tetap sia-sia. Aku selalu gagal untuk berhenti mencintaimu, Mita—

            “Mita langsung tidur. Maaf ya,” ucapku.
            “Oh, nggak apa-apa.” Dara mengangguk maklum. Ia lalu berpamitan pulang. Padahal Bunda baru saja muncul membawa minum.

***
           
Kami berempat duduk di ruang keluarga. Keempatnya saling diam. Bunda membolak-balik majalahnya. Mita memencet-mencet remote tv dengan bosan. Ayah sendiri sibuk dengan laptop di depannya. Aku mendehem, dan membuat Mita melirikku.
            “Aku ingin bicara..” Aku dengan cepat membuat mereka bertiga menoleh serempak.
            “Bicara apa, Nak?” kata Bunda yang sudah menaruh majalahnya. Ayah menyingkirkan laptopnya. Seketika suasana menjadi tegang dan serius. Mita kemudian meletakkan remote di atas meja.
            “Aku ingin serius dengan Dara,” ucapku, meski dengan suara yang bimbang, nyatanya tetap memancing reaksi dari Mita.
            “Nggak! Nggak boleh!” teriaknya.
            “Bunda setuju kok. Dia anak yang sopan, baik lagi.” Bunda sepenuhnya berada di pihakku.
            “Nggak! Mita nggak setuju!” desisnya lagi, kali ini lebih tajam.
            “Ayah juga setuju kalau kamu mau berhubungan serius dengan Dara. Nggak usah pacaran, langsung aja lamar dia.” Sempurna, aku mendapat dukungan penuh.
            “Nggak boleh! Pokoknya nggak boleh.” Mita meledak. Ia lebih memilih untuk menyingkir, untuk menutupi air matanya. Aku berlari menyusulnya. Mita berhenti di balkon atas. Tangisannya terdengar lirih. Aku tidak sanggup mendekat. Itu sama saja membunuhku secara perlahan. Karena aku tidak ingin merasakan getaran itu sekarang, hanya akan menambah berat langkahku untuk mengambil keputusan. Maafkan aku yang membiarkanmu menangis seorang diri.

            “Sudahlah, Yu. Mita biar jadi urusan Bunda. Kamu lebih baik mulai fokus dengan rencanamu itu.” Aku terhenyak ketika Bunda muncul di belakangku. Bunda menatap dengan prihatin.

***
            “Apa? Kamu pasti lagi bercanda. Iya kan? Udah deh, aku tahu kok!” Dara menganggap apa yang aku katakan hanya sebuah lelucon.
            “Jadi, kamu mau nikah sama aku?” ia masih tertawa. Aku menunggu sampai tawanya berhenti.
            “Aku ingin menemukan aku yang baru. Dan aku percaya kamu bisa membuat hari-hariku berbeda.” Aku menggenggam satu tangannya. Ia mengalihkan matanya dari pandanganku. Aku bisa merasakan tangannya yang dingin sekali. Padahal cuaca sedang cerah. Kabut juga sudah tidak menutupi perkebunan teh ini. Wajahnya bersemu merah.
            “Jujur, aku kaget banget kamu ngomong gini. Padahal semalam aku nggak mimpi apa-apa.” Dara balas meremas tanganku.
            “Jadi?” tanyaku meminta kepastian. Ia menjawabnya dengan anggukan dan senyum malu-malu. Seharusnya aku lega karena Dara menerimaku. Seharusnya aku bahagia sekarang, karena semua berjalan mulus. Tetapi ada rasa yang jauh lebih hebat berkecamuk di hatiku. Sehingga menutupi rasa bahagia itu.

            “Mita pulang-pulang nangis. Tadi dia pamit mau nyusul kamu. Pas ditanya malah diam aja,” kata Bunda seraya menata sarapan di meja. Aku mengusap wajahku dengan getir. Mita menyusulku? Apa dia sudah mendengar semuanya? Aku yakin dia mendengarnya. Ya Tuhan—
            Aku memutar gagang pintu kamarnya, karena memang tidak terkunci. Kulihat ia tengkurap di kasur. Aku mendekat, lalu duduk di tepi kasur.
            “Beri aku alasan kenapa kamu nangis..” Aku mengacak rambutnya. Dia sama sekali tidak merespon. Aku mengoyak pundaknya. Mita tetap saja diam. Panik mulai menderaku. Aku membalik tubuhnya dan mendapati ia yang tak sadarkan diri. Wajahnya pucat sekali.

***

            Aku seperti tidak mengenal Mita semenjak kami tahu jika kami saudara kembar. Ia berubah perlahan, dulu aku terlalu sibuk untuk menyadarinya. Rasanya seperti ada tembok raksasa yang membelenggu kami. Aku merasa ada yang hilang. Aku bisa merasakan jika pelangi itu mulai memudarkan warnanya. Tidak seperti dulu yang selalu bersinar. Tanpa sadar aku mulai kehilangan sosok Mita. Aku mulai mencari-cari kemana hilangnya warna-warna pelangi di wajahnya.
            “Aku sedih melihat Mita seperti ini, Yah.” Aku duduk bersama Ayah di kafetaria rumah sakit. Menyeduh kopi bersama. Ayah diam, raganya memang di sini, tetapi nyawanya mungkin berada di tempat lain.
            “Mita sakit, Yu. Itu yang membuat akhir-akhir ini wajahnya selalu pucat. Ditambah lagi dia nggak mau minum obat-obatnya.” Ayah menatapku serius dari balik kacamatanya. Aku menangkup wajahku dengan kedua tanganku.
            “Sakit? Selain sakit demam?” selidikku. Ayah menggeleng.
            “Ayah jangan membuatku bingung,” desakku. Ayah menarik napas, lalu menghelanya.
            “Ayah tidak tahu sampai kapan Mita bisa bertahan,” ungkapnya. Mataku membelalak kaget. Sakit itu tidak pernah main-main jika sudah menyangkut bisa bertahan atau tidak. Aku mendongakkan kepalaku, kutahan air mataku supaya tidak jatuh. Aku takut bertanya lebih jauh. Mendengar kalimat tadi sudah menjadi mimpi burukku. Tuhan, apa yang sedang Kau rencanakan? Memisahkan kami? Apa belum cukup dengan kenyataan kalau kami saudara kembar? Kenapa harus bertubi-tubi seperti ini?

            Kulihat Dara baru saja keluar dari ruangan Mita saat aku kembali dari kafetaria. Matanya sembab kemerahan. Aku menahan lengannya saat ia berlalu begitu saja dari hadapanku. Ia berusaha melepas tanganku. Namun peganganku lebih kuat.
            “Ada apa?” tanyaku khawatir. Dara menggeleng. Aku mengajaknya duduk.
            “Kamu kenapa?” tanyaku dengan tenang. Ia masih sesenggukkan.
            “Aku nggak mau hidup dalam kebohongan,” katanya, menatapku getir.
            “Maksudnya?” tanyaku, belum paham.
            “Kamu itu cuma mimpi buat aku, ngerti?!” katanya tajam. Aku mengendurkan tangannya. Ia beranjak dari duduknya.
            “Mita bilang apa sama kamu?” tanyaku, entah mengapa kalimat tuduhan itu keluar dari mulutku.
            “Mita nggak bilang apa-apa. Tapi aku cukup sadar, Yu. Mita lebih butuh kamu, daripada aku. Begitu juga sebaliknya. Kamu butuh Mita, bukan aku, atau siapa pun.” Dara berbalik, berlari pergi dari hadapanku. Aku hanya bisa menatap rambut panjangnya yang bergerak saat ia berlari menjauh. Bahkan aku belum sempat untuk meyakinkannya lagi.
           
***

            “Kak Wahyu?” ia akhirnya bersuara setelah kami selesai berkeliling rumah sakit. Aku berhenti mendorong kursi rodanya. Butuh waktu beberapa detik untuk menyadari kalau ia memanggilku ‘kakak’.
            “Iya?” jawabku, sedikit berjongkok di hadapannya.
            “Mita udah ikhlas, Kak. Mita mau melihat kak Wahyu menikah dan…’’ katanya meraih kedua tanganku, “bahagia.” Lanjutnya.
            “Ta.. tapi..” sergahku.
            “Kebahagiaan kak Wahyu adalah kebahagiaanku juga,” ia memutus kalimatku.
            “Aku takut jika aku tidak sempat melihat kak Wahyu menikah,’’ lanjutnya lagi. Kali ini ada sorot mata yang berbeda di bola matanya. Ingatanku tersedot pada perkataan Ayah sewaktu di kafetaria tempo hari.
            “Aku rela kehilangan pelangi-ku. Aku juga tidak keberatan kehilangan hujan-ku. Asal.. asal.. ia bisa menemukan tempat untuk pulang, tempat untuk bermuara.” Mita menangis. Air matanya yang menetes di tanganku membuatku terkesiap dari lamunanku. Aku bangkit dan mencium ubun-ubunnya. Aku belum tahu penyakit apa yang tengah mendera Mita akhir-akhir ini. Tuhan, biar aku saja yang merasakan sakit. Jangan Mita—


***

            Satu minggu setelah Mita keluar dari rumah sakit…

Aku akhirnya menuruti permintaan Mita waktu itu. Demi membuat hati Mita lega, aku akan menikah dengan Dara hari ini. Tidak ada pesta-pesta mewah. Hanya satu tenda biru yang terpasang di depan rumah, dengan janur kuning yang melengkung di pagar. Aku seharusnya bahagia. Harusnya aku bisa tersenyum lepas. Tapi aku sulit melakukannya.
Aku duduk tenang di depan penghulu. Ayah dan Bunda duduk di belakangku. Aku menoleh sekilas, dan mendapati Mita tidak ada di sana.
“Mau kemana, Yu?” cegah Bunda, melihat aku yang hendak berdiri.
“Mita dimana, Bun?” tanyaku sedikit panik.
“Mita masih di kamarnya. Kamu kan tahu, dia dandannya lama banget.” Bunda berhasil membuatku tenang.
“Bunda paksa dia pakai kebaya?” tanyaku. Bunda menggeleng. Ayah menahan senyum di sampingnya.
“Atau… Bunda paksa dia pakai high heels?” desakku. Bunda menggeleng lagi.
“Siapa sih yang bisa maksa dia? Kamu aja nggak bisa kan?” Bunda tertawa pelan. Aku menyeringai.
“Aku cari Mita sebentar ya, Bun. Sebentar aja deh,” rajukku. Bunda melolot, tatapan matanya seperti bilang, ‘jangan sekali-sekali bergerak!’
“Dara sebentar lagi keluar. Jadi kamu jangan pergi kemana-mana,” tegas Ayah. Aku menghela napas. Sama sekali belum tenang sebelum melihat Mita duduk di belakangku. Entah dari mana datangnya perasaan itu. Firasatku benar-benar tidak enak. Saat aku sibuk dengan pikiranku, semua perhatian para tamu sudah teralih. Aku ikut menoleh. Dara turun dari tangga dengan anggun sekali, tangan kanannya menggenggam erat tangan ibunya. Gaun putih yang membalutnya berkilau terkena sinar matahari yang menembus celah-celah jendela. Aku membeku seketika. Darahku berhenti mengalir. Duniaku hilang sejenak. Aku seperti lupa berpijak pada lantai. Ia hampir dekat. Aku langsung terhenyak saat duniaku kembali. Seperti diingatkan kalau Mita belum muncul juga. Kembali ingat kalau aku tidak bisa menikah jika tidak ada Mita di sini. Secantik apa pun Dara saat ini, aku tidak peduli.
“Mita mana? Kamu lihat dia?” Pertanyaan bodoh. Dara terperangah mendengarnya.
“Sudah siap calon mempelai?” Pak penghulu menyela. Dara samar mengangguk.
“Tunggu, pak. Saya ingin mencari saudara kembar saya terlebih dahulu,” tegasku, tidak peduli Bunda yang mencegah, atau tatapan tajam dari Ayah. Aku tidak menghiraukannya. Aku berlari melewati Dara, tangannya sempat menarikku, lalu dengan sendirinya ia melepas tanganku.
Baru satu langkah berpijak pada anak tangga pertama, aku mendengar suara benda jatuh. Cukup keras. Sehingga membuat para tamu, Ayah dan Bunda, juga Dara terkejut. Aku tak kalah terkejutnya. Aku berlari melewati anak tangga ke lantai atas.
“Mit, kamu kenapa?” teriakku menggedor pintu kamarnya yang terkunci.
“Mit, kamu di dalam?” teriakku lagi. Aku mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintunya. Dalam hentakan bahu lima kali pintu baru bisa terbuka. Kamarnya dalam keadaan kosong. Mataku menyapu ke sudut-sudut kamar. Aku beralih menggedor pintu kamar mandi. Sial! Terkunci. Aku berniat mendobraknya lagi, tapi Ayah yang baru menyusul sudah mencegahku.
“Kendalikan emosimu, Yu!” Ayah menahanku. Aku mendengar sirine ambulans di halaman depan.
“Mita di mana, Yah?” aku mengoyak lengan Ayah.
“Di kamar Bundamu,” katanya dengan tenang. Aku berlari menuruni tangga secepat yang aku bisa.
“Mita…”
“Mita…”
Dengan sigap aku menyibak kerumunan tamu di depan kamar itu. Juga menyibak petugas medis yang hendak mengangkat tubuh Mita. Bunda menangis histeris di dekat pintu, tidak berani mendekat.
“Mita…” kataku pelan. Kuangkat kepalanya yang terkulai lemas. Di sekitarnya banyak kepingan guci yang tadi pecah. Aku mengusap pipinya yang penuh dengan darah. Darah terus keluar dari hidungnya. Aku membopongnya, dengan teratur tamu yang tadi berjubel di depan pintu kini berangsur menepi, memberi jalan. Dara? Aku tidak sempat melihat keberadaannya.

***

            Dengan hati yang penat aku menyandarkan kepalaku pada dinding koridor rumah sakit. Bunda menangis dalam dekapan Ayah. Sejak tadi tangisannya belum mereda. Banyak yang memenuhi otakku. Keadaan Mita bagaimana di dalam sana? Bagaimana dengan Dara? Bagaimana dengan pernikahanku? Sudahlah, aku bahkan tidak peduli jika kemejaku penuh dengan darah. Aku tidak akan bisa tenang selama kepastian tentang keadaan Mita belum kudapat. Perlahan aku melirik Ayah. Tatapanku seolah meminta penjelasan. Ayah menunduk dan tidak menatapku lagi.
            “Keadaan Mita gimana?” seseorang menepuk bahuku. Aku refleks mendongak. Ikmal?
            “Sorry baru bisa datang. Ada urusan keluarga di Jakarta.” Ia duduk di sampingku, setelah tersenyum kepada Ayah dan Bunda.
            “Eh, Dara kok nggak kelihatan?” tanyanya kemudian. Aku mengusap wajahku.
            “Ya udah, nggak usah dijawab. Gue sangat paham, ini berat buat lo.” Ikmal menepuk-nepuk pundakku.
            “Gue sayang mereka berdua, Mal. Gue nggak mau salah satu di antara mereka terluka. Tapi lo lihat kan apa yang udah gue lakukan? Gue melukai salah satunya. Dara.” Aku menatap lantai di bawahku, menautkan kesepuluh jariku dengan kuat.
            “Lo juga nggak akan menduga ini bakal terjadi kan? Jadi jangan terus-terusan nyalahin diri lo.” Ikmal menghiburku lagi.


Ada banyak hal yang aku takutkan saat kamu tidak ada dalam hidupku, Mita. Kamu tahu? Aku akan kehilangan pelangi dalam hidupku. Aku akan kehilangan hujan dalam hidupku. Untuk apa ada hujan di musim kemarau jika pelangi tidak akan muncul lagi? Melewati waktu bersamamu sama berartinya dengan aku bernapas. Berada di dekatmu membuatku tenang menghadapi apa pun, karena kamu adalah kekuatanku. Kamu yang memiliki separuh raga ini. Sehingga ketika kamu pergi, sama halnya kamu membawa separuh duniaku pergi bersamamu—


“Wahyu?”
“……..”
“WAHYU!” Aku tidak tahu Ikmal memanggilku berapa kali. Aku terlelap sejak satu jam yang lalu.
“Mita sadar,” ujarnya. Aku mengucek mataku.
            “Eittttss. Tunggu!” sergahnya. Aku mengerutkan alis, “kenapa?”
            “Ada Dara di dalam. Lo udah siap ketemu sama dia?” katanya dengan hati-hati. Aku sedikit gamang, namun aku tetap ingin masuk.
            Benar apa yang dikatakan Ikmal. Dara berdiri di samping Mita. Ia menatapku sejenak lalu menunduk dalam-dalam.
            “Aku nggak mau sampai kamu kenapa-napa,” bisikku saat aku memeluknya. Mita mengelus punggungku.
            “Kak Wahyu nggak bakal ninggalin aku kan?” katanya, dan hanya aku yang bisa mendengarnya. Aku tahu kecemasan itu, karena aku juga merasakannya. Aku mengangguk untuk menjawabnya.
            “Kakak pengen lihat kamu cepat sembuh. Biar kita bisa main ke bukit lagi,” kataku dengan tersedu. Aku masih dalam posisi memeluk Mita yang terbaring di kasur. Aku sedikit mengesampingkan urusan Dara.
            “Kapan ya ada pelangi di bukit lagi? Mita udah lama nggak lihat pelangi, kak. Mita keseringan tidur ya? Jadi nggak tahu deh,” ia tersenyum sendiri. Aku melihat Bunda menyeka sudut matanya. Dara? Ia berlari keluar seraya menahan tangis.
            “Eh, ada Ikmal?” Mita sudah kembali ceria. Aku melepas pelukanku. Ikmal mendekat.
            “Kangen nih sama Mita yang dulu,” ucap Ikmal, berusaha menciptakan suasana baru. Sayang sekali, rasanya tidak tepat untuk saat ini.
            “Semua orang berhak berubah. Tuh rambutmu aja udah nggak jabrik lagi,” timpal Mita, tertawa. Ikmal hanya tersenyum.
            Sore itu kami menyangka keadaan Mita menujukkan tanda-tanda akan membaik. Mita sudah tertawa lepas seperti dulu. Seperti Mita yang masih mempunyai pelangi di bola matanya. Mita yang selalu terlihat apa adanya. Mita yang selalu menganggapku selalu membawa hujan pada musim kemarau. Tetapi kami harus menelan ludah penuh kegetiran. Menjelang malam hari ia pergi begitu saja. Tanpa sepatah kata pun. Tanpa berpamitan. Malam itu langit menggelegar. Satu per satu air jatuh ke bumi, seperti sengaja mengiringi kepergian Mita.
            Kakiku terasa lemas sehingga aku terduduk di depan kamar jenazah. Bunda pingsan beberapa menit yang lalu. Ikmal dan Dara mematung di dekatku. Mereka sama sekali tidak berani menggangguku. Mulut kukunci rapat-rapat, bahkan aku tidak membiarkan air mataku jatuh. Biarkan aku menangisinya di dalam hatiku, tempat di mana aku meletakkan seluruh kenanganku bersama Mita. Tempat yang akan, masih dan terus ditempati oleh Mita.

            Maafkan aku Mita, aku tidak bisa menepati janjiku kepadamu. Begitu banyak hal yang aku takutkan ternyata terjadi terlalu cepat. Senyummu. Pelangimu. Hujan di musim kemarau. Semua seperti hilang begitu saja dari hidupku, tanpa kata permisi.

            Tanpa aku sadari, di luar sana, di langit yang sedang tumpah. Warna-warna yang tercetak dengan sendirinya menghias langit malam. Langit yang kelam tanpa bulan dan bintang, nyatanya tersemat sebuah pelangi yang melengkung teramat indah. Sayang, Mita sudah tidur.





TAMAT                               
           

Minggu, 17 Februari 2013

“Pelangi Bersamamu, (Season 2)”




Setiap pertemuan pasti berakhir dengan perpisahan. Aku benci kalimat itu, muak mendengarnya. Apa itu juga bagian dari takdir? Sebagian besar orang menyangkalnya, seakan tidak percaya dengan hukum alam itu. Termasuk aku yang kini sedang duduk tercenung di antara keramaian. Aku duduk menatap lantai di bawahku. Satu titik air menetes tanpa kuduga.

“Kamu nangis?” Seseorang di sebelahku menyentuh pundakku. Dengan cepat aku mengusap pipiku.

“Nggak.. Mungkin karena kurang tidur.” Aku pura-pura menguap. Orang di sampingku mengacak rambutku. Entah percaya atau tidak dengan ucapanku tadi.

“Aku berjanji setelah semua selesai, aku akan kembali. Dan kita akan bersama selamanya...” Wahyu meraih tanganku, meyakinkanku. Aku mengangguk, kemudian ia mendekapku.


Tidak ada percakapan lagi setelah itu. Pesawat yang ditumpangi Wahyu akan segera take off. Pengeras suara sudah memberitahukan penumpang untuk lekas bersiap. Wahyu menggenggam kedua tanganku sebelum beranjak.

“Hati-hati ya...” kataku pelan. Ia mengangguk.

“Jaga kesehatan kamu...” Pesannya balik. Aku mengangguk patuh. Rasanya tidak mungkin aku menangis di depannya.

“Aku mencintaimu...” Wahyu mengecup keningku. Aku menjerit dalam hati, tidak tahu harus menahan air mata dengan cara apa lagi. Perlahan, Wahyu berbalik. Genggaman tangan kami merenggang, pelan tapi pasti, tangan kami sudah terlepas. Aku terus menatap punggungnya. Berharap perpisahan ini hanya mimpi buruk. Tidak. Ini bukan mimpi. Karena aku yang memaksanya pergi. Aku yang mendesaknya untuk menyelesaikan kuliahnya di sana. Dan ia akhirnya mengalah, meski bersikeras untuk berhenti kuliah. Kami sempat diam-diaman selama satu bulan karena masalah ini. Apa aku telah menyesal telah membuat Wahyu pergi? Tidak. Aku mempercayakan semua kepada takdir. Aku membiarkan takdir dan waktu berjalan dengan semestinya.



***


“Aduh, telat gue!” ucap Ikmal dengan ngos-ngosan.

“Dara mana?” tanyaku.

“Gue bukan babysitter dia, Mita.” Ikmal tampak kesal. Lalu duduk sambil mengatur napas. Kurasa tadi ia lari dari rumah menuju bandara.
“Wahyu baru aja berangkat. Kamu cepat dikit pasti kekejar,” kataku.

“Macet. Ini tadi juga udah lari!” keluhnya. Aku tertawa kecil melihat wajahnya yang berkeringat. Aku mengeluarkan saputangan dari kantong celanaku.

“Nih, lap tuh muka,” aku menyodorkannya. Ia hanya menatapku tidak berkedip.

“Ikmal!” bentakku. Ia tersadar lalu menyambar saputangan.



***


“Kok nggak ada yang bangunin gue sih? Lo juga Mit! Kenapa nggak ngajak gue. Lihat kan, gue nggak bisa ikut ngantar Wahyu!” Dara mengamuk dengan tampang kusut baru bangun. Rambutnya berantakan kesana-kemari. Ikmal cekikikan di sampingku. Entah sedang menertawakan apa.

“Siapa yang suruh lo ketawa?!” Dara melotot tajam. Ikmal bukan jadi diam, malah semakin terpingkal. Mungkin ia sedang membayangkan dua tanduk keluar dari kepala Dara.

“Wahyu juga buru-buru. Pesawatnya berangkat pagi,” kataku, membuat Dara tambah kecewa.

“Idih! Wahyu juga malu kali lo ikut ke bandara. Malu-maluin! Pakai baju tidur, rambut berantakan, bau iler...” Ikmal mencibir. Dara hampir mencekiknya. Aku menggelengkan kepala, dan memilih menyingkir dari ruang tengah.


Aku berdiri di depan pembatas balkon. Pemandangan kebun teh terhampar luas di hadapanku. Pagi ini masih berkabut. Jadi terasa dingin menyentuh kulit. Setelah kepergian Wahyu, apakah semua akan berubah? Apa tanpa Wahyu aku bisa melihat indahnya pelangi seperti saat Wahyu ada di sini? Apakah tanpa Wahyu, hujan akan turun di musim kemarau? Aku tidak tahu. Jangan tanya itu padaku. Aku tidak mau mendengarnya, juga tidak sanggup menjawabnya.

“Dara tahu tentang ini?” tanya Ikmal yang berdiri di sebelahku. Aku tidak tahu kapan ia menyusulku.

“Tentang apa?” tanyaku mengerutkan dahi.

“Hubungan kalian?” Ikmal menatapku. Aku terkesiap mendengarnya.

“Belum. Aku belum siap melihatnya terluka.” Aku menatap ke depan.

“Iya, gue paham soal itu. Tapi, Mita, yang gue takut suatu hari nanti lo yang bakal terluka. Gue nggak bermaksud untuk.. Lo ngerti kan, Mit?” ucap Ikmal yang membuatku menoleh kepadanya. Apa yang ia katakan tidak salah. Tapi aku mencoba untuk tetap tenang.

“Gue tahu, Mal. Tapi untuk sekarang bukan waktu yang tepat,” sergahku. Ikmal diam sejenak. Sementara aku sedang membuang pikiran-pikiran aneh yang terlintas di kepalaku.

“Gue yakin lo bukan wanita sembarangan. Lo kuat, dan lo tahu apa yang seharusnya lo lakukan. Wahyu beruntung ya, Mit.” Ikmal menyeringai.

“Satu hal yang perlu lo tahu. Gue juga masih bisa nangis.” Aku terkekeh. Ikmal tertawa samar seraya manggut-manggut.

“Wahyu udah telepon?” tanyanya kemudian. Aku menoleh ke belakang, ke ponsel yang tergeletak di atas meja. Aku menggelengkan kepala. Sudah seminggu ini Wahyu tidak meneleponku. Saat aku mencoba menghubunginya, nomornya tidak aktif. Tetapi aku tidak mau berterus-terang kepada Ikmal. Cukup aku saja yang merasa khawatir.



***


Bahkan malam pun terasa hampa. Angin malam bertiup hambar menerpa wajah kami. Aku melirik ke kanan, dan mendapati Dara membolak-balikkan majalahnya dengan bosan. Kulirik ke kiri, melihat Ikmal yang menatap layar ponselnya dengan muka kusut. Aku menghela napas. Bukan hanya mereka yang merasakan bosan. Meski aku tidak tahu apa yang membuat mereka bosan. Karena aku juga merasakannya, lebih dari yang mereka rasa.

“IIH!” pekik Dara yang membanting majalahnya ke meja. Membuat aku dan Ikmal terperanjat.

“Nah! Keluar tanduk kan? Nggak ada hujan, nggak ada angin.” Ikmal mengejeknya, ia sudah kembali fokus pada ponselnya. Dara menatapnya galak.

“Kenapa?” tanyaku saat melihat Dara beralih memainkan ponselnya.

“Wahyu dari tadi pagi nggak nelepon gue! Gue telepon balik tapi nomornya nggak aktif. Nyebelin nggak sih?” Dara nampak kecewa. Dara kecewa? Aku bahkan lebih dari kecewa saat mendengar apa yang ia katakan barusan. Ikmal langsung terkesiap, dan menatapku. Dara sepertinya terlalu sibuk untuk melihat ekspresi di wajahku.

“Gue tidur duluan ya..” Aku segera bangkit. Aku tidak tahu jika Ikmal mengejarku. Ia menghadangku yang akan membuka pintu kamar.

“Gue masih percaya lo wanita hebat. Meski sekarang lo nangis..” Ikmal menyentuh pipiku, mengusap bekas air mataku. Aku menyingkirkan tangannya.

Aku masuk ke kamar begitu saja. Ikmal masih berdiri di depan pintu. Tetapi aku sedang ingin sendiri. Agar aku bisa menangis sepuasnya. Wahyu, apa kamu tahu? Aku menangis malam ini. Untuk pertama kalinya aku menangis karena aku cemburu. Juga takut akan kehilanganmu. Apa kamu bisa merasakan setiap tetes air mata yang jatuh karenamu?




***


“Sini biar gue aja,” ucap Ikmal merebut koper dari tanganku. Lalu memasukkannya ke bagasi.

“Kenapa harus pulang sekarang?” Ikmal bertanya, menatapku sejenak.

“Bunda nyuruh gue pulang. Mendadak,” kataku beralasan. Sebenarnya bukan itu alasannya. Hanya saja Ikmal tidak perlu mengetahuinya.

“Terus? Gimana?” Ikmal teringat sesuatu, wajahnya langsung berubah. Aku mengangkat sebelah alisku.

“Lo kan pulang nggak bawa tuh mak lampir. Masa’ iya gue harus..” Ikmal berhenti berkata ketika aku menepuk bahunya. “Lo jagain dia ya. Yang akur,” kataku yang tidak bisa menahan tawaku. Ikmal melengos. Aku tahu, berat untuk Ikmal berdamai dengan Dara.

“Jangan nangis lagi ya...” Ikmal melambaikan tangannya saat mobilku hendak melaju. Aku tidak berjanji untuk hal itu. Kalau pun aku menangis, itu adalah cara terakhir untuk berkata ketika mulutku tak sanggup mengungkapkan.



***


“Ada yang kurang deh, Mit?” Bunda menatap sekelilingku. Aku juga ikutan menoleh.

“Dara?” tanyaku.

“Iya. Dia mana?” tanyanya.

“Masih di villa, Bun. Mita pulangnya juga diam-diam, waktu dia masih tidur,” ceritaku. Aku melepas ranselku, duduk di sofa dan melepas sepatuku. Bunda sedang menata sarapan di meja.

“Kamu keterlaluan. Nanti dia ngamuk gimana? Katanya galak?” Bunda tertawa mendengar kalimatnya sendiri. Aku mendekat ke meja makan. Meraih satu roti tawar dan melahapnya.

“Kamu belum punya pacar kan, Mit?” Bunda menatapku. Pertanyaan itu berhasil membuat roti tidak tertelan dengan sempurna. Aku cepat meraih gelas berisi susu.

“Bunda tanya apa tadi?” tanyaku, berharap Bunda menarik kembali pertanyaannya.

“Kamu udah punya calon belum?” Bunda memperjelas kalimatnya. Aku terperanjat sampai gelas di tanganku hampir jatuh ke lantai.

“Mita sebenarnya udah punya, Bun. Tapi..” Aku tidak melanjutkan. Kulihat Bunda menatapku penuh minat.

“Tapi dia kuliah di Austria,” kataku. “Dua tahun lagi dia selesai.”

“Kamu sanggup berhubungan jarak jauh dengan dia?” Bunda terlihat sangsi.

“Mita tahu dengan resiko atas keputusan yang Mita ambil. Bunda percaya kan sama Mita?” Aku memeluknya. Bunda mengangguk.

“Sarapan dulu, yuk!”


***


Satu tahun berlalu dengan cepat. Secepat aku perlahan mulai mengetahui semuanya. Secepat rahasia yang sedikit demi sedikit terkuak...

Selama satu tahun hubunganku dengan Wahyu tidak pernah berjalan mulus. Ada saja yang membuat kami salah paham. Ego kami memang besar. Meski seringnya Wahyu yang mengalah dan memilih diam. Tetapi aku atau pun Wahyu masih mencoba bertahan dengan keadaan yang ada. Kadang aku berpikir kalau cinta ini hanya sesaat. Tetapi setiap kali aku mencoba berpikir demikian, separuh hatiku tidak sepakat.

Ini untuk entah ke berapa kali aku duduk di kursi ini. Dara duduk manis di sampingku, diam, tidak seperti biasanya. Kurasa ia sedang gugup. Terlihat tangannya gemetar. Sementara Ikmal mondar-mandir. Juga terlihat gelisah. Kali ini aku yakin Dara tidak akan membentaknya untuk duduk. Dara terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri. Aku mengerjapkan mataku, tertunduk menatap lantai yang mengilat. Suara decit sepatu Ikmal memenuhi kepalaku. Pikiranku juga ikut kacau. Padahal tadi waktu berangkat ke sini aku masih normal saja. Dara juga ikutan berdiri, melakukan apa yang Ikmal lakukan.

Aku memejamkan mata dan menyandarkan tubuhku ke punggung kursi. Wajah Bunda terlintas di kepalaku. Bunda yang sudah tiga hari tak sadarkan diri di rumah sakit. Selama ini Bunda sukses menyembunyikan penyakitnya dariku. Hingga aku baru tahu saat Bunda mengalami komplikasi. Aku mendekap wajahku dengan tangan.

“WAHYU!!”

Aku membuka mataku. Tepat di depanku Dara merangkul Wahyu. Ikmal menatapku sendu. Wahyu seperti tidak berusaha melepas pelukan Dara. Aku berdiri dengan kaki yang gemetar, kepalaku berdenyut. Duniaku terasa berputar kencang.
Ketika itu aku merasa kehilangan dayaku. Samar aku melihat Wahyu menangkap tubuhku yang nyaris tertelungkup ke lantai. Sisanya, hanya gelap.


Aku membuka mataku. Wahyu duduk di sampingku. Ikmal dan Dara juga ada di sini. Tetapi sepertinya Ikmal pintar membaca situasi. Ia segera membawa Dara keluar dari kamarku. Membiarkan aku dan Wahyu berbicara empat mata.

“Hei, kamu kenapa?” Wahyu bertanya dengan suara yang lembut. Ia pelan memijat tanganku.

“Aku nggak apa-apa,” kataku parau.

“Kamu nggak usah bohong, Mit. Aku tahu.” Wahyu menatapku. Aku mencoba bangun dengan bantuan Wahyu.

“Aku khawatir, Wahyu. Aku takut kehilangan kamu,” ucapku berterus terang.

“Kamu cemburu? Sama Dara?” tanyanya spontan. Aku terdiam. Tanpa aku menjawab pun Wahyu seharusnya sudah tahu.

“Bundaku sakit. Tiga hari tak sadarkan diri di rumah sakit,” ungkapku kemudian, berhasil mengalihkan perhatian. Wahyu menatapku prihatin. Air mata berderai di pipiku. Wahyu memelukku.

“Maafkan aku, Mita. Aku tidak berada di sampingmu saat kamu membutuhkan tempat untuk bersandar,” katanya dalam pelukanku. Aku menggeleng.

“Kamu tidak perlu meminta maaf,” ucapku.


“Oh, jadi gitu ya, Mit?”


Aku dan Wahyu menoleh dengan posisi tetap berpelukan. Dara berdiri kaku di depan pintu yang terbuka. Nampan yang dibawanya bergetar, sampai airnya nyaris tumpah. Aku bergegas melepas pelukan Wahyu. Dara sudah menangis sesenggukan. Ia sengaja menjatuhkan nampan itu. Gelasnya pecah menjadi kepingan kecil. Aku tahu, sangat tahu bagaimana perasaannya sekarang. Aku sangat paham bagaimana dengan hatinya yang sesak. Aku mengerti apa yang Dara rasakan saat melihat Wahyu memelukku. Aku tahu!


Dara berlari entah kemana dan Wahyu mengejarnya. Apa Wahyu lebih mementingkan Dara ketimbang aku?



***


“Pasien sudah sadar...” Dokter berkata setelah keluar dari kamar Bunda. Aku senang mendengarnya. Aku langsung masuk, diikuti Wahyu yang berjalan di belakangku.

“Bunda—” Aku mengecup tangannya yang tidak terpasang infus. Bunda sedikit tersenyum. Aku menoleh dan mendapati Wahyu yang mematung di depan pintu.

“Wahyu! Jangan bengong. Sini.”

“Ini Wahyu, Bun. Dia yang Mita ceritakan dulu..” Aku menarik tangan Wahyu mendekat. Bunda menatapku dengan sorotan berbeda.

“Bunda.. Ehm. Tante..” Wahyu mencium tangan Bunda. Aku kira tidak masalah dengan sebutan yang pertama. Bunda hanya tersenyum lalu terdiam. Tidak banyak kalimat yang terlontar. Mungkin karena keadaan Bunda yang masih lemas. Waktu itu aku tidak tahu apa pun. Hingga suatu hari semua tersingkap secara tiba-tiba. Tanpa ampun. Dan segalanya akan berubah. Aku kira ini adalah awal yang baik. Ternyata aku salah.


***

Wahyu tertidur di sampingku. Kepalanya tersandar di dinding. Ia terlelap dengan posisi duduk. Sudah larut malam dan aku masih terjaga. Sebenarnya tidak ada yang harus aku cemaskan. Apalagi sekarang Bunda sudah membaik. Namun tetap saja ada yang mengganggu pikiranku. Apa ini tentang Dara? Kucoba membuang ketakutanku jauh-jauh. Aku menoleh. Seharusnya aku mempercayai Wahyu. Bukan malah berpikir yang tidak-tidak.

“Wahyu!!” Aku terperanjat. Suara itu menyeruak memenuhi koridor rumah sakit. Wahyu langsung terbangun.

“Dara?” Wahyu mengucek matanya. Aku diam, tidak tertarik untuk menanggapi.

“Kenapa malam-malam begini kesini?” tanya Wahyu.

“Kamu pasti belum makan. Jadi aku bawa makanan. Aku masak sendiri hlo. Sini. Aku suapin ya...” Dara membuka kotak makanan setelah duduk di sebelah Wahyu. Aku sepertinya sama sekali tidak digubris Dara. Aku memilih menyingkir. Wahyu sempat mencegahku tetapi aku menepis tangannya.


“Kamu cemburu lagi?” Aku dengan jelas mendengar pertanyaan itu. Kenapa harus itu yang ia tanyakan?

“Aku nggak mau ngomong banyak. Toh percuma juga, kamu nggak akan ngerti. Aku cuma mau kamu ambil keputusan. Kamu pilih aku atau Dara..” Aku menatap ke langit, menghindari sorot mata Wahyu. Sekaligus menahan air mataku.

“Apa kamu mulai meragukanku?” Wahyu menggamit bahuku, memaksaku untuk menatapnya. Namun aku masih menunduk.

“Aku selalu percaya sama kamu. Tetapi, setiap kali Dara ada di antara kita, aku merasa ini nggak adil. Aku seperti tersisih,” jelasku, kali ini aku berani menatap matanya.

“Kamu tahu jawaban itu, Mita. Tanpa aku harus mengatakannya.” Wahyu menyeka pipiku. Aku menyingkirkan tangannya saat sekelebatan aku melihat Dara. Tetapi tidak ada siapa pun saat aku menoleh. Jika benar itu Dara, maka bisa dipastikan ia akan semakin membenciku. Aku tahu resiko itu.


***


“Bunda boleh bicara sama kamu sebentar?” Bunda berkata lirih. Wahyu yang juga mendengarnya langsung berpamitan untuk keluar.

“Bunda tidak setuju kamu dengan dia. Dengar, Bunda memang belum bisa memberimu alasan sekarang. Karena nanti kamu akan tahu dengan segera,” kata Bunda tanpa berbasa-basi. Aku membulatkan mata.

“Maksudnya apa, Bun? Mita nggak bisa, dan nggak mau!” kataku berkeras hati. Bunda meredupkan sorot matanya.

“Buang perasaan itu sekarang, Mita. Sebelum semua terlambat, atau kamu akan menyesal. Lakukan demi Bunda. Jauhi dia mulai dari sekarang,” Bunda meremas tanganku, berharap aku mencamkan baik-baik ucapannya. Air mataku menetes tanpa bisa kutahan.

“Bunda sangat berat mengatakan ini, Sayang. Tapi Bunda harus tetap mengatakannya. Bunda tahu perasaan kamu bagaimana. Tetapi tolong, kali ini saja, turuti perkataan Bunda ya...” Aku menangis lagi mendengarnya. Bunda tidak pernah seyakin ini. Sorot matanya tegas. Aku diam karena aku tidak bisa memberikan janji apa pun. Itu tidak mudah untukku. Setelah sekian tahun sulit untuk menganggap tidak pernah ada apa-apa.

“Mita mencintainya, Bunda. Sangat mencintainya,” tandasku. Kulihat air matanya merambat turun dari sudut mata. Bunda memilih untuk bungkam.



***


“Setiap kamu ada, hujan selalu datang di musim kemarau. Tanpa terduga. Sama seperti sekarang.” Aku menjulurkan kedua tanganku. Rintik hujan menimpa tanganku. Wahyu tersenyum di sampingku. Meski kali ini bukan di tempat biasanya saat melihat pelangi. Tetapi ini cukup membahagiakan, asal ada Wahyu di sisiku. Meski pelangi tidak akan terlihat dari teras rumah sakit, tetapi ada pelangi yang jauh lebih indah berdiri di dekatku.

“Nanti kalau kita berpisah bagaimana ya? Apa.. kita bisa menjalani hidup dengan normal?” kataku membuka pembicaraan.
“Tidak ada yang akan memisahkan kita, Mita. Selain kematian,” katanya mantap.

“Tetapi kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi nanti, besok, lusa, hari selanjutnya—” Aku teringat kalimat Bunda. Air mataku menggenang, membuat pandanganku sedikit kabur.
“Aku hanya takut semua hilang begitu saja dari hidupku. Termasuk kamu.” Menetes sudah air mataku.

“Aku tidak akan menghilang kemana-mana. Aku akan di sini, membuat hujan turun di musim kemarau seperti sekarang.” Wahyu memeluk bahuku, mendekapnya tenang.

Aku memilih bungkam. Wahyu memilih menatap air yang mengalir turun dari atap teras. Bagaimana jika ketakutanku terjadi? Bagaimana jika hujan tidak akan turun di musim kemarau lagi untukku? Bagaimana jika perkataan Bunda terbukti? Aku takut menghadapinya.

Tetapi kenapa aku harus berpikiran sejauh itu? Aku menoleh sekilas. Kenyataan kalau Wahyu masih ada di sampingku sedikit membuatku tenang. Bunda, lihatlah wajah teduh ini, ia akan tetap berada di sisiku. Dan masih tetap menjadi milikku. Entah sampai kapan.

Aku memejamkan mataku. Menikmati dinginnya aroma hujan. Banyak hal yang membuatku merapuh. Apalagi setelah percakapanku dengan Bunda. Dan sekarang, aku dibuat bingung dengan—entahlah—aku belum mengerti apa maksud Bunda melarangku berhubungan dengan Wahyu.



***


“Hloh, Bunda pulang sekarang?” aku terkejut melihat Bunda yang sudah rapi duduk di tepi ranjang.

“Om siapa?” aku mengalihkan pandanganku pada seseorang yang menenteng tas besar berisi baju-baju Bunda. Orang itu hanya tersenyum. Aku seperti mengenalnya.

Mereka kompak terdiam. Aku yang tak kunjung mendapat jawaban semakin dibuat penasaran.

“Bunda, siapa dia? Kok aku nggak pernah lihat?” tanyaku sedikit mendesak. Bunda hanya menunduk. Orang itu tidak bergeming dari posisinya. Aku tidak mau menebak-nebak.

“Ayah? Ayah di sini?” Pintu terbuka dari luar. Aku menoleh cepat, dan mendapati Wahyu berdiri di ambang pintu. Jadi, apa yang sedang terjadi sekarang?

“Kalian sudah saling kenal? Astaga, kabar yang menggembirakan.” Lelaki yang tadi diam kini membuka mulutnya.

“Jadi Ayah sudah kenal dengan Mita?” Wahyu bertanya setelah keterkejutannya hilang. Kulihat Bunda sudah berdiri, melangkah tertatih ke arah Wahyu. Setelah sampai, Bunda langsung memeluk Wahyu. Kudengar bisik lirih itu. “Anakku, ini Bundamu. Ibu kandungmu.”

Aku hampir mati berdiri mendengar apa yang Bunda katakan. Selirih apapun suara itu, aku bisa mendengarnya dengan sangat jelas. Mataku perih, gumpalan air seperti mendesak keluar dari pelupuk mataku. Aku tak sempat melihat ekspresi yang ada di wajah Wahyu.

Lelaki paruh baya itu mendekat. Menyentuh bahuku, namun aku menepis tangannya. Bunda belum melepas pelukannya. Aku berlari keluar dari ruangan itu. Berlari melewati koridor dengan hati yang teriris. Aku tidak bisa membedakan apa ini kebahagiaan atau malah sebaliknya.

Bahagia karena aku telah bertemu dengan saudara kandungku. Atau sedih karena itu berarti aku harus berhenti mencintai Wahyu. Entah! Biarkan aku menangis sekarang. Biarkan waktu seolah berputar hanya untukku. Biarkan hujan seakan turun hanya untukku.

Aku berlari menerabas hujan yang begitu derasnya. Gemuruh di langit menambah sesaknya hati. Angin menelisik relung jiwa yang rapuh. Tuhan, katakan padaku, juga pada semua orang, kalau cinta ini tidak pernah terlarang. Cinta ini akan tetap abadi selamanya.

Aku berhenti untuk mendongak ke langit. Kilatan langit tak membuatku bergeming. Satu getaran menghentak bumi. Bertepatan dengan tangan yang menyentuh bahuku dari belakang.

“Kamu masih mau bilang kita akan tetap bersama, hanya kematian yang memisahkan?”

“Kita masih bisa bersama, Mita. Bahkan sampai kapan pun. Sebagai saudara kembar.” Wahyu memaksaku untuk menatapnya. Aku tertegun di bawah tatapannya.

“Saudara.. Saudara.. Kembar?” aku tercekat, mencoba meyakinkan diriku sendiri. Wahyu membelai rambutku.

“Jadi kamu mau bilang kalau perasaan ini hanya kebetulan yang salah tempat? Apa kamu juga akan bilang jika getaran yang kita rasakan dulu karena kita saudara kembar?!” Aku marah dan kecewa. Jika ini mudah untuknya, apa ia juga berpikir akan mudah untukku?

“Aku tidak akan mengatakannya. Karena aku tidak pernah menyesali apa yang telah kita lewati bersama. Meski sekarang, kita harus mulai semuanya dari awal lagi. Bukan sebagai sepasang kekasih.” Wahyu mendekap tubuhku yang basah kuyup. Wajahnya tetap tenang.

“Aku takut pelangiku kehilangan warnanya. Aku takut hujan akan meninggalkanku. Aku takut hujan akan pergi membawa pelangiku dan tak pernah kembali. Aku takut kehilangan waktu bersamamu.” Aku menangis di dadanya. Ia memelukku lebih erat. Tangannya bergetar.

Aku tahu, dalam diam ia menangis. Dalam diam ia menguatkan hati kami. Dalam diam ia mencoba menerima takdir ini, meski hatinya merapuh. Aku juga tahu, di bawah hujan yang masih turun mengguyur kami dan langit yang hitam pekat, perasaan ini selalu kekal.






TAMAT

Cari Blog Ini