Tampilkan postingan dengan label Cerbung : Cinta Terakhir. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerbung : Cinta Terakhir. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Maret 2012

Cinta Terakhir : part 10 (ending)


Ibu Rose lebih memilih menarik tanganku ketimbang menanggapi pertanyaanku. Aku digiring melewati berpetak-petak persegi panjang, batu-batu nisan sejauh mata memandang. Aku masih heran mengapa Ibu Rose membawaku ke tempat ini. Sekian menit kami berjalan, barulah Ibu Rose berhenti, aku yang dari tadi celingukan, cepat-cepat mengerem kaki, hampir saja menabrak Ibu Rose. Aku terhenyak, menautkan alis, kok berhenti disini?


Pandanganku menyapu sekeliling, tunggu sebentar, tulisan itu tertangkap sekilas di mataku. Aku tertarik untuk mendekat, dengan langkah kaki yang amat pelan, aku sangat berharap kalau aku hanya salah baca saja. Ibu Rose mengikutiku cepat.

“Ibu pasti sedang bergurau, iya kan?” Aku tersenyum kecut.

“Tidak, memang ini yang terjadi.” Ibu Rose menggeleng, merengkuh bahuku sebelah.

“Mita pasti lagi mimpi, iya kan, Bu?” Satu tetes meluncur dari mataku. Aku tersenyum, tidak percaya, pasti ini hanya lelucon saja!

“Wahyu sudah pergi seminggu yang lalu karena kanker hati.” Ibu Rose mendekap bahuku semakin erat. Aku terpaku melihat tanah yang masih merah-kecoklatan itu.

“Mita nggak percaya. Wahyu pasti sekarang ada di bandara, iya, dia pasti mau pergi ke London. Mita harus mencegahnya, Bu.” Aku bersikeras melepas tangannya. Beliau berusaha menahanku. Aku jatuh bersimpuh, Ibu Rose memeluk kepalaku, tanganku terjulur, menyentuh gundukan tanah itu. Aku menangis mengerang-erang, aku ini istrinya, bahkan aku tidak mengetahui tentang penyakit sampai kepergian Wahyu pun aku tidak ada disampingnya kala itu. Takdir berjalan tanpa aku mengetahuinya. Sangat jelas sekali setiap huruf yang tertulis di nisan itu.

“Satu hal yang harus kamu tahu, Wahyu pernah berkata kalau dia belum bisa mencintaimu, dan kamu sendiri juga mendengarnya kan? Semua itu tidak benar!” Ibu Rose mulai bercerita, mengusap ubun-ubunku.

“Kamu ingat? Saat Wahyu datang ke Panti untuk terakhir kalinya? Ya, dia sudah mengatakan semuanya kepada Ibu, sebaliknya, bahkan dia sangat mencintai kamu. Wahyu hanya ingin kamu tidak melihat kepergiannya.” Beliau menyeka hidungnya.

“Wahyu selama ini selalu ingin terlihat baik-baik saja di depan kamu. Dia juga sengaja membuat kamu marah, dan pada akhirnya Wahyu berhasil kan membuat kamu membencinya? Semua itu semata-mata karena Wahyu sadar waktunya tidak akan cukup membuatmu bahagia. Wahyu sangat menyesali hal itu, Mit. Bahkan, dia berusaha menebusnya dengan mawar-mawar putih yang datang setiap paginya.” Ibu Rose mengungkapkan selama ini yang tidak pernah aku ketahui. Wahyu sengaja melakukannya? Aku ingin marah sekarang, namun apa mungkin, aku tidak bisa menyalahkan siapapun. Ibu Rose mengelus punggungku. Membujuk untuk lekas beranjak. Langit diatas sudah gelap, sebentar lagi akan turun hujan. Sepanjang perjalanan pulang aku tak henti-hentinya menangis. Memikirkan banyak hal, bagaimana dengan Rinai? Dimana dan dengan siapa Rinai sekarang? Aku mengusap perutku, bagaimana dengan anakku yang akan lahir tanpa seorang ayah?



Ketika sampai di halaman Panti, aku cukup terkejut, melihat Rinai duduk di teras, sedang menungguku? Rinai berlari begitu melihat aku turun dari taksi. Berlari? Aku mengucek mataku sampai dua kali, tidak salah lihat, bahkan, lihatlah dia berlari melewati tiga anak tangga itu. Aku menelangkupkan kedua telapak tangan di mulutku, berdecak kagum, peri kecilku—tanpa bantuan tongkat lagi—bisa melihat. Rinai memeluk perut besarku, aku mengelus rambutnya yang tergerai, mencium kepalanya. Tangisanku pecah lagi, kali ini, rasa sedih dan bahagia menjadi satu. Tumpah-ruah. Aku menoleh ke Ibu Rose, beliau menghembuskan nafas, berjalan mendekat.

“Wahyu tidak seutuhnya pergi meninggalkanmu. Akan selalu ada Wahyu di mata Rinai.” Ibu Rose tersenyum, demi mendengarnya aku mengusap air mataku. Aku sedikit membungkuk, menatap kedua mata Rinai, lamat-lamat, mata ini, binar yang sangat teduh ini milik Wahyu.

“Bunda lebih cantik dari apa yang aku bayangkan selama ini.” Rinai tersenyum menyentuh pipiku. Aku bisa melihat giginya yang sudah tumbuh dengan sempurna.

“Huh, Bunda digombalin nih.” Aku mencubit pipinya. Lihatlah, Rinai terlihat baik-baik saja. Ceria seperti dulu. Tidak ada kesedihan di wajah Rinai. Aku menatap mata Rinai sekali lagi, aku seperti bisa melihat Wahyu sedang tersenyum manis di dalam bola mata itu.

“Bunda jangan sedih, ya. Rinai yakin kalau ayah selalu ada diantara kita. Ayah sudah berjanji sebelum pergi, katanya, ayah tidak akan meninggalkan kita.” Rinai menyeka pipiku, tak terasa satu titik airmata sudah menetes. Aku mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah, mengangguk, berjanji. Rinai memelukku lagi dengan manja. Baiklah. Setidaknya aku masih bisa merasakan kehadiran Wahyu, dengan cara menatap Rinai tentunya.


Setiap hari aku rutin mengunjungi pusara Wahyu. Selalu membawa setangkai mawar putih, meletakannya di dekat batu nisan. Aku hanya berusaha melakukan apa yang sudah Wahyu lakukan untukku.

“Meskipun aku bukan karang yang kokoh saat diterjang ombak. Namun, lihatlah aku sekarang, aku sanggup menjalani ini semua, tanpa kamu. Dan itu semua karena kedua mata yang ada di peri kecil kita, Rinai.” Aku dengan perut besarku beranjak meninggalkan pusara itu. Kehidupanku saat ini bagai burung yang satu sayapnya telah patah. Tetapi, aku masih mempunyai peri kecil yang akan membuat hari-hariku berangsur normal kembali. Aku membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membesarkan hati dalam urusan ini.


Aku bukanlah bintang-gemintang yang menghias langit malam
Aku bukanlah bulan purnama yang menerangi malam sepi
Aku bukanlah karang yang kokoh diterjang ombak bertalu-talu
Aku juga bukan pelangi tatkala hujan pergi
Aku hanyalah sebuah cerita
Yang berakhir tanpa sebuah penjelasan
Hanya sisa waktu yang bergulir
Menjadi sebuah dinding pembatas yang amat sangat nyata
Hati yang telah memudar
Terpupuskan oleh suatu kenyataan
Dinding hati yang tak lagi kokoh
Kini remuk redam melepas segala rasa
Cinta yang kini telah pergi
Hanya menyisakan bayang-bayang kosong
Seiring berjalannya waktu
Rasa itu tidak pernah menghilang
Selalu membekas di relung hati
Merekam setiap kenangan yang tertoreh bersama
Entahlah...
Sampai kapan aku bisa melupakannya?



 



Tamat.

Cinta Terakhir : part 9


Apa yang dia katakan barusan? Aku menatapnya jengah. Penantianku selama ini sia-sia, aku yang telah memberikan dia banyak waktu, tidak pernah membuahkan hasil yang baik. Kupikir, dengan memberinya waktu untuk sendiri akan membuat dia menghargai posisiku. Tetapi nyatanya apa? Aku salah, salah berharap berlebihan seperti ini. Aku masih menahan emosi, sekaligus air mata. Wahyu tiba-tiba bersimpuh, aku terperangah, aku tidak mengerti. Untuk pertama kalinya, aku melihat Wahyu menangis. Yang pada akhirnya membuatku menangis juga.

“Berdiri, ‘Yu. Aku nggak suka lihat kamu seperti ini. Aku tidak akan meminta kamu untuk mempertahankanku lagi.” Suaraku bergetar memohon agar dia bangkit. Aku meraih kedua lengannya, membujuk agar ia mau berdiri. Tetapi ia tetap keukeuh, aku tidak bisa berbuat lebih. Aku membiarkan saat dia memeluk kakiku. Satu per satu air mata menetes dari sudut mataku. Mulai sekarang, aku harus belajar untuk merelakan. Tuhan, bila ini yang terbaik, aku akan melapangkan hati untuk menjalaninya.


Dua jam kemudian, aku hanya mengurung diri di dalam kamar, menangis tanpa suara. Aku butuh waktu untuk sendiri. Tidak peduli di luar sana, meski Ibu Rose dan Dara bergiliran mengetuk pintu berkali-kali, membujuk agar aku mau minum vitamin dan susu seperti biasanya. Aku sedang tidak mau diganggu siapapun.

***

Hari-hariku bertambah kelam. Semuanya memang sudah berubah. Tidak ada lagi mawar putih setiap paginya. Wahyu juga menghilang, entah kemana. Kini aku hanya secuil karang ditengah hempasan ombak bertubi-tubi. Terpuruk sendiri menatap bulir-bulir air hujan dari jendela ini. Tanganku erat merengkuh teralis jendela, menyandarkan keletihan hatiku disana. Aku lelah dengan keadaan ini.

“Mita.” Ibu Rose menegur dari balik pintu. Aku tidak tertarik untuk membuka pintu.

“Mita baik-baik aja, Bu.” Jawabku, supaya Ibu Rose tidak cemas lagi, aku juga sudah bosan, setiap jam beliau selalu mengetuk pintu kamarku.

“Keluar yuk, kita sarapan bareng, semuanya sudah menunggu di meja makan.” Ibu Rose membujuk, dengan suara yang lembut.

Aku menolaknya, Ibu Rose menyerah, menghilang dari depan pintu kamarku. Aku kembali menatap keluar, tidak mereda, hujan malah bertambah deras, angin kencang juga menyertainya. Dari jendela ini, aku bisa melihat ayunan itu bergerak diterpa angin, tiba-tiba teringat dengan Rinai. Aku beranjak, melangkah menuju pintu, aku memutar kuncinya. Aku ingin menemui Rinai, barangkali ia ada disini. Aku berjalan tertatih menuju ruang tengah, aku termenung, tidak ada Rinai disana, hanya ada Dara dengan kucing-kucingnya yang sedang, entahlah, barangkali menyisir bulu kucingnya. Aku hanya menyeringai, memutuskan untuk kembali ke kamar saja. Namun, baru dua-tiga langkah saja, tiba-tiba Ibu Rose datang menutup jalanku. Ibu Rose berkacak pinggang, firasatku sudah tidak enak, pasti dipaksa untuk sarapan. Aku menurut saja saat beliau menyeret tanganku ke arah meja makan. Aku duduk, beliau ribut menyiapkan makananku, bersikukuh menunggu sampai aku menghabiskannya. Aku menyeringai, akhirnya hanya memainkan sendok diatas piring, tidak bernafsu untuk menyendok walaupun hanya satu suapan. Ibu Rose berdehem, sepertinya kesal menghadapiku. Aku hanya meliriknya dengan ekor mataku.

“Ayolah, Mit. Bayi kamu butuh semua makanan ini. Jangan egois.” Ibu Rose masih sabar untuk membujukku lagi. Aku kira beliau akan meledak-ledak.

“Mita udah nggak kuat, Bu. Rasanya pengen lari dari semua ini.” Aku meletakkan sendok, menyibak poni di dahiku.

“Mita yang Ibu kenal bukanlah seorang pengecut.” Ibu Rose berkata pelan, meraih tanganku, menguatkan.

“Ini bukan soal pengecut atau tidak. Mita juga manusia biasa, yang bisa padam dengan satu sulutan emosi.” Aku hampir menangis, masih kutahan.

“Kamu boleh kecewa dengan Wahyu. Tetapi, calon anakmu jangan kamu terlantarkan. Sekarang, makan ya.” Beliau sekali lagi membujuk lirih. Aku meraih sendok itu kembali, namun hanya sampai lima suapan saja. Ibu Rose lega melihatku, memaksa lagi untuk menghabiskan segelas susu, tak lupa dengan vitaminnya. Aku menyeka dahi. Setelah selesai, aku kembali ke kamar, meratap disana.

***

Dua minggu berlalu dengan cepat. Aku mulai bangkit dari keterpurukanku. Ada Ibu Rose yang senantiasa mendukungku, memberi semangat saat aku terjatuh. Aku mulai menjalani hari-hariku seperti biasanya. Meskipun, aku belum bisa melupakan Wahyu. Dan sampai kapanpun aku tidak akan pernah membuang setiap kenangan bersama Wahyu. Biarkan hati menjadi tempat yang paling rahasia untuk menyimpannya.



“Kita ke rumah sakit sekarang!” Ibu Rose berseru dengan suara bergetar. Matanya merah, menangis? Entahlah. Beliau bergegas, buru-buru menarik lenganku. Aku melihat sudah ada satu taksi didepan Panti. Setiap kali aku bertanya, “Siapa yang sakit?” Ibu Rose langsung terdiam. Tidak berani menatapku. Aku dibiarkan—dengan rasa ingin tahuku—bertanya-tanya dalam hati.


Tiba di rumah sakit. Aku mematung, Ibu Rose melangkah lebih cepat, berhenti ketika mendapati aku tidak berjalan di sampingnya. Ibu Rose menoleh ke belakang, menghampiri, menggandeng tanganku. Sepanjang melewati koridor rumah sakit, aku hanya melipat dahi, sementara rasa penasaran tumbuh liar di hatiku. Ibu Rose menyuruhku untuk menunggu di luar, sedangkan beliau masuk ke sebuah ruangan, dan aku tidak boleh ikut. Sepuluh menit berselang, Ibu Rose sudah keluar dari ruangan itu. Aku melihat beliau menyeka pipinya dengan punggung tangan, ada secarik kertas di tangannya. Aku ingin bertanya, tidak sempat, aku memeluknya. Beliau tersedu-sedu di pundakku.

“Ada apa, Bu? Apa yang terjadi?” Akhirnya aku bertanya. Aku melepas pelukanku. Bahunya masih naik-turun, menangis.

“Ibu ingin menunjukkan sesuatu ke kamu.” Ibu Rose mengusap pipinya, bersiap meraih tanganku. Aku berjalan mengekor di belakangnya menuju pelataran rumah sakit, masuk ke dalam taksi. Ibu Rose menyerahkan secarik kertas tadi ke sopir taksi, sopir itu membaca sekilas, lantas mengangguk. Lagi-lagi aku dibuat penasaran, menelan ludah, menoleh ke Ibu Rose, melihatnya yang masih sibuk mengusap air mata. Sebenarnya apa yang sudah terjadi?


“Eh, kok kesini, Bu?” Aku bertanya spontan, kaget bukan main. Ibu Rose menatapku dengan matanya yang berair.




Bersambung...

Cinta Terakhir : part 8


Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa berharap Wahyu datang lagi pagi ini. Yang benar saja, kemarin pagi aku bahkan mengusirnya secara tidak langsung. Aku juga melihat cincinku masih tergeletak di kursi ini, aku mengambilnya, memutuskan untuk menyimpannya saja, enggan untuk memakainya lagi. Baiklah, cukup lama aku duduk di sini, beranjak menuju ruanganku. Percuma, Wahyu tidak akan datang.


Aku menelan ludah, begitu aku membuka pintu, aku mendapati satu poket mawar putih di atas meja, dekat ranjangku. Aku meraihnya, menghirup aroma yang begitu semerbak. Aku membolak-baliknya, berharap menemukan secarik kertas, aku memajukan bibirku, tidak ada kertas yang terselip diantaranya. Entahlah, aku sangat yakin sekali kalau bunga itu dari Wahyu. Aku buru-buru membuka pintu, menoleh ke kanan-kiri, sepi, tidak ada Wahyu, hanya para suster yang berlalu-lalang.


Sorenya, dokter mengijinkanku untuk pulang. Karena kandunganku lemah, jadinya dokter menulis banyak sekali vitamin penguat kandungan yang harus aku konsumsi, juga susu khusus ibu hamil. Aku menghela nafas, duduk menunggu, sementara Mama sedang menebus semua vitamin itu di apotik yang juga ada di rumah sakit.

“Tuh, lihat vitaminnya banyak banget. Pokoknya harus rutin diminum ya, nggak boleh telat! Mama nggak mau calon cucu Mama kenapa-kenapa.” Mama berpesan, aku menyeringai, sudah kuduga sejak tadi, pasti ujung-ujungnya kena omelan.

“Iya, Ma.” Jawabku pendek. Mama mengantarku sampai Panti, Mama juga heran, kenapa aku tidak pulang ke rumah Wahyu. Aku segera memutar otak, bingung mencari alasan, akhirnya berbohong kalau di rumah Wahyu aku merasa kesepian, kalau ada apa-apa tidak ada yang membantu, sedangkan Wahyu sibuk bekerja. Ibu Rose memutar bola matanya, gemas sendiri saat tahu jika aku berkata bohong kepada Mama. Aku hanya nyengir saat Ibu Rose melototiku. Aku yakin bisa menyelesaikan masalah ini tanpa Mama perlu mengetahuinya. Bahkan, jujur saja, dari awal aku tak berniat membawa Ibu Rose ikut dalam urusan ini. Lebih dari itu semua, aku memang butuh campur-tangannya.



“Sedang apa, kak?” Dara menghampiriku, ikut berdiri di sebelahku, menghadap ke sebuah jendela. Di luar hanya ada hujan. Aku kira dia tidak akan tertarik melihat hujan.

“Lagi galau nih.” Aku bergurau, tertawa kecil. Dara melepas kucingnya, membiarkan kucing itu menggeliat manja di betisnya. Dara melongo, lantas tertawa geli.

“Aku salut sama kakak.” Dara menyentuh pundakku.

“Aku hanyalah sebuah karang yang kecil, selalu kalah diterpa ombak, bahkan hanya percikannya saja.” Aku menatapnya sebentar, kembali menatap hujan, menghela nafas.

“Aku yakin pasti lebih dari itu.” Ucapnya tersenyum, barangkali mencoba melipurku. Ah, tetap saja aku tidak sekuat karang terkecil sekalipun.

***

Berbulan-bulan hidup tanpa Wahyu bagiku terasa amat berat. Aku hanya memendam, segan menceritakan kepada Ibu Rose. Yang beliau tahu, sekarang aku bisa hidup mandiri meski tengah hamil lima bulan. Hingga saat ini aku belum bertemu dengan Wahyu. Aku hanya bertemu dengan mawar putih setiap paginya, bunga yang entah siapa pengirimnya, tidak ada kertas yang menyertainya. Bunga-bunga itu aku simpan dengan baik, tidak peduli meski banyak yang sudah layu, meski Ibu Rose sudah gregetan ingin membuang bunga yang layu. Aku hanya mencegah, cemberut, dan merengek. Akhirnya Ibu Rose mengalah.


Karena penasaran, pagi-pagi sekali, aku sudah berdiri didepan teras, berharap sekali bisa melihat siapa yang mengantar mawar putih setiap paginya. Namun, setelah hampir satu jam menunggu, matahari juga sudah nampak, nyatanya tak ada satupun orang yang datang. Aku mengeluh. Sia-sia aku bangun terlalu pagi. Buang-buang energi saja.



Aku mengaduk susu di gelasku dengan malas, entah sudah berapa kali gerakan sendokku berputar di gelas itu. Aku hanya melamun, pikiranku kembali tersita, aku teringat sesuatu, menghentikan gerakan tanganku. Aku bergegas, melangkah dengan cepat menuju pintu depan. Membukanya cepat, aku kira yang akan aku lihat mawar putih lagi. Aku menggigit bibir, yang kulihat mobil Wahyu sudah terparkir. Kapan dia datang? Sampai-sampai aku tidak mengetahuinya.

Aku termenung, tiba-tiba tersentak, ada yang menyentuh tanganku. Aku bergeming, ekspresi terkejut langsung berubah ketika melihat ada Rinai di belakangku. Aku segera memeluknya, menciumi kedua pipinya, aku kangen dengan peri kecil ini. Aku mengacak poninya, Rinai malah menangis. Katanya, “Rinai kangen banget sama Bunda. Ayah juga selalu sedih saat Bunda nggak pulang-pulang.”

Aku mengusap pipinya, menyibak rambutnya di sela kuping. Aku susah untuk sekadar mensejajari tinggi Rinai, tapi cukup untuk melihat gigi Rinai yang mulai tumbuh. Sedang asyik bercengkrama dengan Rinai, aku sampai tidak tahu kalau Wahyu sedang berjalan ke arahku. Tatapannya, masih sama seperti dulu, meneduhkan. Ibu Rose berjalan di belakangnya, entah kali ini apa yang telah mereka berdua obrolkan. Tapi aku yakin, apalagi kalau bukan Ibu Rose mengadu soal ini-itu kepada Wahyu, melaporkan keadaanku akhir-akhir ini. Aku tidak tahu sudah berapa menit Wahyu berdiri di hadapanku, aku terlalu asyik memikirkan hal lain. Lama sekali aku dan Wahyu diam dalam kebisuan. Ibu Rose berdehem, menatap kami berdua dengan heran, lalu beranjak pergi, tak lupa mengajak Rinai untuk pergi juga. Ruangan ini hanya menyisakan aku dan Wahyu saja. Aku tidak tahu kenapa Wahyu hanya menatapku saja tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Apa yang akan dia katakan? Apa dia sudah lelah dengan keadaan ini dan ingin mengakhiri segalanya? Seperti halnya dengan cara menceraikanku? Aku mengepalkan genggaman, menelan ludah. Wahyu mengulurkan tangannya, meraih jemariku, aku tak bisa menepisnya. Wahyu mendekat, patah-patah mencium keningku, aku bisa merasakan desahan nafasnya.

“Aku tidak akan pernah menceraikanmu. Maaf jika selama ini aku tidak ada di sampingmu untuk melewati masa-masa berat ini.” Wahyu melepas tangannya. Aku mengatupkan bibir.

“Aku juga yang salah.” Aku memilh tidak menatapnya.

“Aku juga minta maaf kalau sampai sekarang aku belum bisa cinta sama kamu.” Wahyu memaksaku untuk bergeming, aku menoleh dengan raut wajah yang tidak terjelaskan. Aku menatap matanya dalam-dalam. Hatiku hancur dalam hitungan detik.





Bersambung...

Cinta Terakhir : part 7


Aku tidak bisa menghindar lagi. Wahyu membulatkan mata, ekspresi wajahnya berubah seketika. Wahyu perlahan melangkah mendekatiku, udara seakan memberi ruang, senyap. Wahyu menyentuh pipiku, aku membuang muka, tidak siap menatapnya, padahal aku sangat merindukannya. Wahyu dengan rona wajah tidak terjelaskan, matanya yang teduh kini berbinar. Wahyu memelukku kemudian, mencium ubun-ubunku. Aku ingin sekali membalas pelukannya, urung, aku menghentikan tanganku, sadar kalau sampai detik ini Wahyu belum bisa mencintaiku. Cukup lama dia mendekapku, sampai-sampai Rinai menarik lengan Wahyu, bosan menunggu. Akhirnya Rinai pulang ke rumah bersama Wahyu, dia juga membujukku untuk ikut pulang bersamanya, namun aku menolak. Wahyu hanya mengecup pipiku, berpesan, agar aku menjaga kandunganku dengan baik.

***

Sejak siang aku mual-mual lagi, kepalaku terasa berat. Dari tadi aku hanya berbaring di tempat tidur. Aku melihat Ibu Rose mondar-mandir, sebentar-sebentar bertanya apa keluhanku.

“Sudahlah, Bu. Aku nggak kenapa-kenapa kok. Paling cuma masuk angin aja.” Ucapku, aku sudah bosan melihatnya mondar-mandir. Tapi apa? Bukannya mengindahkan kalimatku, Ibu Rose malah melakukan hal di luar dugaanku.

“Menelepon Wahyu? Aduh, seharusnya itu tidak perlu.” Aku melotot, protes.

“Kamu ini, selalu saja menganggap enteng masalah. Kamu sedang hamil, bukan hanya sekadar masuk angin biasa. Tidak bisa dibiarkan begitu saja.” Ibu Rose menjawab dengan helaan nafas, mengotot, tidak mau ditentang. Aku menelan ludah, sadar akan satu hal, jika dibandingkan dengan Mama ternyata Ibu Rose lebih cerewet. Over protective.

“Tapi kan— Uhh,” Rintihku. Ibu Rose cepat tanggap, segera duduk di pinggir ranjang.

“Apanya yang sakit?” tanyanya sangat panik.

“Kaki Mita, kram, Bu.” Aku meringis kesakitan. Ibu Rose memijat kakiku.

“Mita..” Wahyu datang, menatapku dengan cemas, meletakkan punggung tangannya di keningku. Tanpa menunggu persetujuanku, Wahyu langsung mengangkat tubuhku, membawa masuk ke dalam mobilnya. Aku memanyunkan bibir, ingin protes tapi tidak bisa.

Apa boleh buat, beberapa hari ini aku terpaksa menginap di rumah sakit. Wahyu dengan sabar menunggu, sebenarnya sejak tadi aku sudah menyuruhnya pulang, namun keukeuh tidak mau pulang. Aku kehabisan akal, akhirnya hanya membiarkan. Jujur, aku sangat senang Wahyu ada di sampingku saat ini. Setia mengenggam tanganku.


“Sudah baikan, belum?” Wahyu mengusap keningku.

“Masih pusing,” jawabku pelan. Sejurus kemudian, handphone Wahyu berdering, dia beranjak berdiri, menjauh dari posisiku. Aku curiga, pasti wanita itu yang meneleponnya.


“Siapa?” tanyaku saat Wahyu sudah mengakhiri perbincangannya yang entah dengan siapa. Wahyu tidak menjawab, mengecup keningku. Aku menarik lengannya, “Wanita itu lagi?” Wahyu mengangguk, aku melepas genggamanku, membiarkan dia pergi. Wahyu berpamitan, berjanji akan segera kembali. Dia sempat ingin mencium pipiku sebelum pergi, aku sengaja menghindar. Sangat jelas sekali, dia lebih mementingkan wanita itu daripada aku, istrinya sendiri.

***

Aku berjalan tertatih melewati lorong-lorong rumah sakit, sendirian, tanganku berpegangan pada dinding-dinding, berjalan menuju halaman belakang. Aku ingin merasakan sejuknya embun pagi, terpaan sinar matahari yang hangat. Aku duduk di kursi panjang, udara sedikit lembab, daun-daun yang basah oleh embun. Aku memejamkan mata, merentangkan kedua tanganku, angin berhembus lembut menerpa wajahku. Saat aku membuka mata, jelas sekali, setangkai mawar putih ada didepan mataku sekarang. Aku terpukau menatap bunga itu, tanganku terjulur, hendak meraih mawar putih itu. Pandanganku beralih, melihat siapa yang berdiri membawa mawar itu, aku terkesiap, menarik tanganku kembali, urung mengambil bunga itu setelah melihat Wahyu yang berdiri tak jauh dariku. Aku mendengus sebal. Memangnya aku bisa di suap dengan setangkai mawar itu? Wahyu menatapku tidak mengerti, membolak-balikan mawar itu, mengerutkan dahi, memangnya kenapa dengan mawarnya?

“Buat apa kesini lagi?” tanyaku ketus, Wahyu duduk di sebelahku.

“Sudah tugasku buat jagain kamu,” jawabnya membelai rambutku. Dia memang peduli atau hanya basa-basi?
“Aku rela bila kamu menceraikanku.” Aku menatapnya lamat, suaraku bergetar.

“Maksud kamu apa?” Wahyu tercekat, tidak percaya.

“Karena aku tahu, bahagiamu tidak ada bersamaku.” Aku menahan kelopak mataku yang sudah berat.

“Aku benar-benar..” Wahyu mengangkat kedua telapak tangannya.

“Benar-benar tidak bisa mencintaiku?” Aku memotong, menatapnya nanar.

“Sejak awal, aku ingin hidup dalam sebuah kesempurnaan, mencintai dengan segala kekurangan. Tetapi apa yang aku dapat? Selama ini hanya kebohongan besar!” Aku membentaknya, air mataku tumpah. Wahyu diam menunduk.

“Kamu tahu, bagaimana aku sangat mencintaimu. Tapi apa pernah kamu menghargai perasaanku? Bahkan, urusan wanita itu lebih penting.” Aku mengusap pipiku. Biarlah, aku ingin semuanya selesai detik ini juga.

“Aku tidak akan mencegah, silahkan kamu mencari kebahagiaan itu. Aku ini apa sih? Barangkali hanya wanita beruntung yang bisa menikah denganmu.” Aku berusaha melepas cincin dari jari manisku, lantas meletakannya didekat Wahyu. Arti cincin pernikahan itu sudah tidak ada. Wahyu sejak tadi bungkam, menunduk, beberapa kali menyeka hidungnya.

“Baiklah, sepertinya kamu belum mengerti juga.” Wahyu berdiri, beranjak pergi. Angin berhembus kencang. Aku tergugu, apa yang sudah aku lakukan? Aku telah menyakitinya.

“Aku selalu menunggu sampai kamu kembali, ke rumah kita.” Wahyu berhenti, berbalik menatapku, tatapan itu dingin. Aku mengusap wajahku, menyesal, berkata sedemikian rupa.

“Cintai aku, maka aku akan kembali.” Ucapku pelan, berharap Wahyu tidak mendengarnya, tetapi aku salah, nyatanya Wahyu menoleh, menghentikan langkahnya untuk kedua kali.

***

Aku menunggu dengan cemas, pagi ini, seperti kemarin, aku duduk di kursi taman belakang rumah sakit. Aku memejamkan mata, merentangkan kedua tanganku, angin bertiup lembut. Aku sangat berharap, saat aku membuka mata akan ada setangkai mawar putih di depan mataku. Aku nyengir, menghitung mundur, dalam hitungan satu aku langsung membuka mata. Aku menelan ludah, tidak ada mawar putih, hanya angin, aku menjulurkan tangan, kosong.





Bersambung...

Cinta Terakhir : part 6


Daun pintu sedikit terbuka. Aku bisa melihat raut wajah Wahyu, matanya yang memerah, entah karena apa.

“Ada masalah apa sebenarnya? Semalam Mita pergi secara diam-diam. Pulang tahu-tahu dia menangis. Ibu benar-benar tidak mengerti apa yang sudah dan tengah terjadi.” Ibu Rose membulatkan mata. Menatap Wahyu dengan gusar.

“Aku yang salah, Bu. Sejak awal aku salah mengambil keputusan untuk menikah dengan Mita.” Wahyu menunduk. Ibu Rose mengerutkan alis.

“Apa kurangnya Mita, Yu? Bahkan dia terlalu baik. Dia bisa menyayangi Rinai dengan tulus.”

“Tetapi.. aku masih belum bisa mencintainya, Bu.” Wahyu berdiri, tidak terima terpojokkan seperti ini. Aku mati rasa demi mendengar kalimat itu. Jadi, selama ini aku tidak pernah berharga dimata Wahyu. Lantas, semua sikap manisnya dulu untuk apa? Aku tidak pernah menyangka jika selama ini aku hidup dalam kebohongan besar. Aku tidak perlu menunggu sampai dia menceritakannya, karena aku sudah tahu apa yang akan dia ceritakan.

“Ibu heran dengan kamu. Kamu tega sekali mencampakkan Mita seperti ini. Asal kamu tahu, Mita ham—” Ucapan Ibu Rose terhenti. Beliau tahu jika aku ada didepan pintu. Aku menggelengkan kepala, mengisyaratkan agar beliau tidak melanjutkan kalimatnya. Aku tahu niat Ibu Rose baik. Tapi tidak untuk sekarang. Biarkan Wahyu tahu dengan sendirinya. Ibu Rose yang tadinya tersulut emosi, kini bisa mengendalikan diri. Aku melihat Wahyu berjalan keluar dari ruangan itu, aku segera menyingkir dari depan pintu. Aku menatap punggungnya yang semakin menjauh. Hari ini, semua yang mengganjal di hatiku, sudah terjelaskan dengan sangat detail. Satu pukulan telak. Sehebat apapun itu, tetap saja tidak mampu mengikis cintaku untuk Wahyu. Biarlah cinta ini tetap ada seiring tumbuhnya benih cintanya.


Ibu Rose menatapku heran. Menghela nafas panjang. Dan, ujung-ujungnya rusuh memaksaku makan dengan porsi lebih. Mengomel saat aku menolak menghabiskannya. Rinai tertawa kecil mendengar suara Ibu Rose yang sedang mendumal. Katanya, “Ibu Rose, Bunda kan udah besar. Kenapa dipaksa makan sih?”

“Kamu masih marah dengan Wahyu?” Ibu Rose bertanya, menoleh sebentar, melanjutkan memotong wortel.

“Mita bisa apa lagi. Cuma dengan cara ini aku bisa bertahan, Bu.” Aku melangkah, berdiri disampingnya.

“Kamu tidak kasihan, Wahyu kamu tinggal sendirian dirumah?” Beliau menatapku lagi. Aku tersenyum kecut. Kasihan?

“Buat apa kasihan? Jelas-jelas sudah ada wanita itu.” Aku menjawab dengan sebal. Aku beranjak ke bak cuci, meraih satu piring kotor. Ibu Rose mendehem. Diam, tidak mencercaku lagi.

“Mamamu sudah tahu tentang ini?” Manuver beliau cukup ampuh, piring di tanganku hampir saja terjatuh. Aku terdiam, memperlambat gerakan tanganku, aku menggigit bibir. Bahkan aku lupa dengan itu. Tapi, mana berani aku berkata jujur kepada Mama. Aku takut sekali.

“Kok, diam? Belum ya?” Ibu Rose memastikan. Aku menoleh, menggeleng, belum, tidak ada keberanian untuk itu.

“Tapi, Mamamu berhak tahu kalau anaknya sedang mengandung.” Ibu Rose berdiri, menghampiri, mengambil alih pekerjaanku. Aku sedikit bergeser.

“Nanti pasti Mita kasih tahu kok.” Ibu Rose tersenyum tipis.


“Eh, itu Rinai main sama siapa, Bu?” Mataku memicing, penasaran, melihat Rinai bermain ayunan bersama seorang perempuan. Aku melihatnya dari kaca jendela. Ibu Rose mendongak, tersenyum, “Oh, itu, ponakan Ibu.”

“Kok Mita baru lihat ya?” Aku melihat Rinai sudah akrab dengan perempuan itu.

“Baru tadi pagi dia tiba disini, dari Bandung, namanya Dara,” Ibu Rose menjelaskan. Aku ber-oh kemudian. Rinai terlihat senang bermain dengan Dara. Aku berjalan menuju taman belakang, menghampiri mereka berdua. Dara tersenyum saat melihatku menghampirinya. Dia lantas mengulurkan tangannya. Aku menjabat tangannya, “Mita, Bundanya Rinai.” Dia gantian menyebutkan namanya.

“Sudah berapa bulan?” tanyanya dengan sopan.

“Baru tiga bulan,” jawabku. Karena gerimis, kami memutuskan untuk melanjutkan perbincangan di dalam rumah. Rinai lebih memilih untuk tidur siang. Dara bercerita banyak hal, dia baru saja lulus SMA, dia yang ternyata anak yatim-piatu. Aku terenyuh, menatap matanya yang teduh kini berkaca-kaca.

***

Ruang tengah cukup ramai malam ini, berkumpul bersama. Anak-anak sibuk dengan mainannya masing-masing. Aku duduk di sofa bersama Ibu Rose, menyimak. Rinai asyik mengelus-elus kucing milik Dara. Anak yang lain mendekat, penasaran, ingin ikutan mengelus kucing itu. Dalam sekejap rusuh hebat, gaduh. Anak-anak dengan usil mengejar kucing itu, gemas sendiri, entah kalau tertangkap ingin diapakan kucing itu. Dara tidak tinggal diam, berteriak-teriak, sibuk melarang, “Aduh, jangan dong. Kasihan, nanti dia ketakutan!!”

Maka paginya, Dara langsung membeli kandang mini untuk kucing kecilnya. Selalu di tenteng kemana-mana, setiap waktu, takut kalau anak-anak akan mengejar-ngejar kucingnya lagi. Saat kutanya, dia hanya menjawab seadanya, “Semalam saja Ibunya dikejar-kejar, apalagi anak-anaknya, bisa dibikin sate sama mereka.” Aku hanya tertawa mendengar Dara mengutuk perbuatan anak-anak semalam.



Satu bulan kemudian, aku menelepon Mama, mengabari tentang kehamilanku. Mama sangat senang mendengarnya. Maka tanpa ba-bi-bu, Mama datang satu jam kemudian. Dua tangannya menenteng dua plastik besar. Satu plastik berisi buah-buahan, dan satunya lagi berisi baju-baju ibu hamil. Aku menelan ludah, Mama memaksa, menyuruhku mencoba salah satu baju yang dibawanya. Lagi-lagi aku nurut saja. Lagi pula semua bajuku juga sudah tidak muat. Jadinya, aku terpaksa memakai baju terusan selutut. Nah, kalau begini, aku benar-benar kelihatan hamil tua. Padahal, baru juga menginjak empat bulan. Mama tersenyum melihatku. Senang, sebentar lagi dapat cucu. Aku hanya menyeringai.


Sudah hampir satu bulan aku tidak pulang. Sungguh, aku khawatir dengan Wahyu. Entahlah, aku enggan untuk mengangkat teleponnya. Dia selalu menghubungiku setiap jamnya, dan aku tidak pernah mempedulikannya. Aku mengibaskan tangan, membuang angan itu jauh-jauh. Mobilku sudah sampai, pelan memasuki halaman sekolah Rinai. Aku bergegas, melirik jam ditangan, aku telat menjemputnya hampir sepuluh menitan. Aku langsung menghentikan langkahku, menatap jerih, melihat Wahyu bersama Rinai berjalan ke arahku.





Bersambung...

Cinta Terakhir : part 5


Buat apa? Aku sudah tidak peduli. Wahyu juga pasti memilih merayakannya dengan wanita itu.



Sudah beberapa hari aku bersikap dingin kepada Wahyu. Selalu diam saat Wahyu mencoba mencari perhatian. Sekuat mungkin aku berusaha bertahan. Meredam amarah. Ini semua demi Rinai. Aku tidak mau Rinai melihat Ayah dan Bundanya bertengkar. Aku bersikap seperti tidak terjadi apa-apa ketika ada Rinai dirumah.


“Mita.. Bicara sama aku. Jangan kayak gini.” Wahyu mengoyak lenganku. Aku tergugu menatapnya. Wahyu masih mencengkram lenganku. Sebelumnya Wahyu tidak pernah sekasar ini padaku.

“Aku mau kamu jauhi wanita itu!” Aku membuang muka.

“Maaf, aku nggak bisa.” Cengkraman tangan Wahyu mengendur.

“Kenapa!” Aku membentaknya, menarik kerah kemejanya.

“Kamu cinta sama dia, hah? Jawab!!” cercaku lagi. Wahyu menunduk. Entah apa dia merasa bersalah.

“Dia hanya rekan kerjaku saja. Hanya sebatas itu, Mit.” Wahyu mencoba menyentuh tanganku. Namun aku menghindar. Aku bergeming demi mendengar isakan tangis yang terdengar samar. Rinai? Sejak kapan dia berdiri disitu? Aku berniat menghampirinya. Tapi Wahyu mendahuluiku, membuat langkahku terhenti. Aku menepuk jidat, kenapa aku bisa lupa kalau Rinai ada dirumah.


“Rinai marah sama Bunda?” tanyaku saat kami bertiga sarapan bersama. Aku mencoba mencairkan suasana yang beku. Rinai hanya menggeleng. Wahyu berdehem.

“Rinai marahnya sama ayah!” Rinai membanting sendoknya dipiring. Wahyu terkesiap, begitu juga dengan aku. Rinai sangat mengerti betul tentang kondisi ini. Wahyu memilih bungkam, enggan mencari masalah. Padahal aku menanti apa reaksi Wahyu selanjutnya.


Siang hari, setelah menjemput Rinai, aku kembali mengunjungi Panti itu. Rinai juga senang-senang saja saat kuajak menyambangi Panti. Aku pikir Rinai tidak akan kesepian berada di Panti. Setidaknya hal ini membuat Rinai lupa dengan kejadian tempo hari.


Aku membantu Ibu Rose menyiapkan makan siang untuk anak-anak. Rinai duduk manis diruang tengah. Aku membelai rambutnya, “Bunda antar kamu main ayunan yuk?” tawarku. Rinai menggeleng cepat.

“Kenapa?” aku duduk disebelahnya.

“Rinai takut.. Bunda jatuh lagi seperti dulu,” tolaknya.

“Bun, malam ini kita tidur disini aja ya. Rinai nggak mau pulang.” ia merajuk, mengalihkan pembicaraan.

“Nanti kalau ayah nyariin kamu gimana?” kilahku. Aku sebenarnya mau-mau saja. Tapi Wahyu? Aku menggigit bibir. Akhirnya aku mengiyakan. Ibu Rose juga tidak akan keberatan.


Aku mematung didekat jendela, melipat tangan didada. Menatap butir-butir air tumpah dari langit. Sejak tadi sore sudah turun hujan. Aku jadi khawatir, cemas memikirkan Wahyu. Apa dia sudah pulang? Atau masih di kantor bersama wanita itu? Barangkali begitu. Angin berhembus kencang, aku segera menutup bingkai jendela, merapatkan tangan. Tidak sengaja pandanganku terpaku pada sebuah kalender yang menggantung didekat jendela. Aku mengaduh. Hampir saja aku melewatkan peristiwa penting. Bukankah besok Wahyu berulang tahun? Aku melirik jam ditanganku. Pukul sebelas malam. Sebelum pergi, aku mencium kening Rinai yang sudah terlelap. Aku memang tidak mengajaknya dalam urusan ini. Aku membiarkan dia tidur dalam buaian mimpi indahnya. Lagian diluar juga masih hujan.


Aku langsung menuju toko kue. Tidak susah mencari toko kue yang masih buka tengah malam begini. Setelah selesai membeli kue, aku buru-buru menyibak air hujan. Saking terburu, tanganku sampai gemetar membuka pintu mobil. Alhasil, aku cukup basah kuyup. Tidak masalah, yang penting kuenya tidak hancur karena kehujanan. Aku melajukan mobil sedikit cepat, berhitung dengan waktu, aku harus sampai dirumah tepat pukul duabelas.


Aku turun dari mobil. Hujan cukup mereda. Aku melipat dahi, melihat mobil yang terparkir didepan rumah. Sangat jelas, ini bukan mobil milik Wahyu. Lantas mobil siapa? Apa jangan-jangan? Aku sangat penasaran, berlarian kecil menuju pintu. Aku mendorong pintu yang dalam keadaan tidak terkunci. Mataku menyapu seluruh ruangan. Sempurna gelap gulita. Aku melangkah pelan, menekan saklar yang ada didekat pintu. Ruangan terang. Dalam sekejap aku menoleh. Lihatlah, siapa yang sedang tiduran mesra berdua di sofa itu.

Tanpa sengaja kue yang ada ditanganku terjatuh begitu saja. Berhamburan di lantar, hancur, sehancur hatiku saat ini. Wahyu mencoba bangkit, sempoyongan berjalan ke arahku. Mencoba memanggilku berulang kali. Aku tidak mempedulikannya. Dia terjatuh, tersuruk-suruk. Aku tidak pernah tahu jika Wahyu suka mabuk-mabukan. Aku membiarkan. Wanita itu membantu Wahyu berdiri. Aku menghela nafas panjang, pipiku sudah berlinangan airmata. Aku bergegas meninggalkan rumah itu. Hujan kembali turun, lebih deras. Petir juga menggelegar, membentuk akar serabut dilangit. Aku tak bisa berhenti menangis. Apa yang barusan aku lihat cukup membuat hatiku tak karuan. Remuk-redam.


“Kamu darimana saja? Sudah lewat tengah malam begini.. Astaga! Kenapa menangis?” Ibu Rose menunggu di teras dengan cemas. Mengusap pipiku, lalu memelukku, mengusap rambutku. Tangisanku semakin menjadi-jadi. Ibu Rose menenangkan, mengajakku masuk. Beliau bertanya dengan penasaran. Aku sama sekali tidak menjawab satupun. Aku lebih memilih berdiam diri dikamar. Menangis lagi. Menata hati yang kini tinggal puing-puing, terlumat habis tak bersisa. Mengeluh dalam hati. Kenapa semua ini menimpaku saat aku tengah hamil?


Pagi sekali, ketika embun-embun membasahi rerumputan. Air sisa-sisa hujan semalam yang menetes dari dahan kering. Aku memandangnya dengan tatapan kosong. Berdiri di pinggir teras belakang. Tanpa terasa satu titik bening menetes dari kelopak mataku. Aku memang cengeng. Aku mengusap perutku. Sedih membayangkan nasib rumah tanggaku. Aku bergeming, mendongakkan kepala, guntur tiba-tiba menyalak. Hujan rintik kembali membungkus bumi. Aku menyeka pipiku, menoleh ke belakang. Aku mendengar suara mesin mobil datang. Aku berjalan gontai, melihat siapa yang datang. Aku mengatupkan rahang begitu tahu jika mobil Wahyu sudah berada di halaman Panti. Aku berinisiatif menemui Ibu Rose di ruangannya. Benar dugaanku, Wahyu ada di ruangan Ibu Rose. Aku menguping dari balik pintu. Mereka terlibat dalam obrolan yang cukup serius. Aku bisa mendengarnya dengan sangat jelas.




Bersambung...

Cinta Terakhir : part 4

Ibu Rose mengiyakan saja, tidak mau mendebat lagi. Rinai mengangguk paham. Aku tahu, Rinai bisa diandalkan dalam hal ini. Rinai bisa dipercaya.

Jam di dinding menunjukkan pukul tujuh malam. Aku memaksakan diri untuk menyetir mobil sendiri. Meski sejak tadi tak henti-henti Ibu Rose sibuk mencegah. Khawatir sendiri melihatku yang masih sempoyongan.

“Jangan, Mit. Bahaya nanti!” Beliau mencegah untuk terakhir kali. Aku berusaha meyakinkannya. Akhirnya beliau hanya bisa melambaikan tangan saat mobilku bergerak mundur, keluar dari halaman Panti.


Layar handphone-ku berkedip. Satu sms masuk. Aku membuka. Membaca sekilas. Isinya? Wahyu pulang malam ini! Bahkan, dia sudah menunggu dirumah. Cemas saat tidak mendapati aku dan Rinai tidak ada dirumah. Aku sengaja tidak memberitahu Rinai. Biar jadi surprise untuknya.


Setibanya aku dirumah, aku melihat Wahyu sudah berdiri dipelataran rumah, tangannya masih menenteng koper. Wahyu mendekat, aku menaruh telunjukku dibibir, mengisyaratkan Wahyu agar diam. Hampir saja Wahyu kelepasan, saat melihat aku berjalan tertatih. Aku berniat menuntun Rinai keluar dari dalam mobil. Namun, Wahyu mencegah. Dia berbisik, “Biar aku saja ya.”


Hitungan detik, suara Rinai menggema. Menangis terharu dipelukan Wahyu. Rinai menangis histeris, saking kangennya. Wahyu menggendong Rinai masuk rumah. Aku menyeret koper miliknya.


Rinai sepertinya enggan melepas pelukan Wahyu. Rinai terlihat sangat manja, tidak seperti biasanya. Aku tersenyum melihat Wahyu yang tidak mengerti. Mengangkat bahu. Aku duduk disampingnya, mengerutkan dahi, sepertinya aku belum kuat menaiki anak tangga. Aku meluruskan kaki, Wahyu menatap kakiku dengan heran.

“Tadi cuma kepleset waktu main sama Rinai di Panti.” Jelasku sebelum dia sempat bertanya.

“Aduh, lain kali hati-hati dong, yank.” Wahyu mencoba menyentuh tumitku. Aku mengaduh.

“Kita ke rumah sakit saja ya?” sarannya menatapku cemas.

“Nggak usah. Paling besok juga sudah baikan.” Sergahku. Tetapi sakit di kakiku cukup membuatku tidur bersama Rinai malam ini, di lantai bawah.


Sarapan pagi ini cukup spesial. Tadi aku bangun pagi-pagi sekali. Memasak nasi goreng secara otodidak. Dan aku tak menyangka jika rasanya akan seenak ini. Dengan senang aku menuangkannya ke piring Wahyu dan Rinai. Wahyu tersenyum, menyendokkan ke mulutnya. Dia bilang ini nasi goreng terenak yang pernah dia makan. Aku senang dibuatnya. Semoga saja Wahyu tidak sedang berbohong demi membuatku senang. Wahyu mengacungkan dua jarinya, “Sumpah, enak banget. Iya kan, Rinai?” ucap Wahyu. Rinai mengangguk setuju. Aku tertawa kecil. Berdehem. Aku memegangi perutku. Segera aku menutup mulutku. Mual-mual. Aku berlari kecil menuju kamar mandi. Wahyu menyusulku, memijat tengkukku.

Rasanya semua isi diperutku ingin keluar. Tapi bagaimana bisa? Aku saja belum makan dari kemarin. Aku menyeka mulutku dengan air. Wahyu khawatir melihatku. Kepalaku terasa berat, aku menyandarkan tubuhku di dinding. Wahyu merengkuhku, membantuku duduk di sofa. Dia cekatan mengambil segelas air putih hangat. Aku meminumnya satu tegukan saja. Lalu dia memijat pelipisku. Aku menahan tangannya.

“Aku udah nggak apa-apa. Kamu cepetan antar Rinai, nanti keburu telat.” Wahyu menyelimutiku sebelum ia pergi mengantar Rinai.


Beberapa saat aku tertidur. Rasa pusing itu baru hilang. Aku lihat Wahyu sudah pulang. Dia hari ini tidak pergi ke kantor, memilih untuk menemaniku dirumah.
“Ayolah, ke dokter aja yuk.” Wahyu masih memaksa. Aku menggeleng cepat. Tidak mau ya tidak mau! Bisa gawat jika Wahyu tahu kalau aku hamil. Aku ingin ini menjadi kejutan di hari ulang tahun Wahyu yang tinggal dua bulan lagi. Masih cukup lama memang, namun aku sudah tidak sabaran menanti hari itu tiba. Senang-senang saja aku membulati tanggal-tanggal di kalender dengan spidol merah. Aku tidak ingin terlewat seharipun.

***

Satu bulan berlalu, perutku sudah agak membesar. Tapi tidak cukup untuk memancing orang berpendapat jika aku tengah hamil. Aku bernafas lega. Namun aku harus pintar-pintar menghindar, mengingat setiap tidur Wahyu sering memelukku dari belakang. Aku beralasan banyak hal.


Wahyu mengernyitkan dahi, “Kok pakai baju cowok lagi?”

“Ng.. Lagi nggak mood aja. Pakaian cewek bikin gerah.” Aku meringis. Aku tidak ingin Wahyu curiga jika perutku semakin membesar.

“Nggak mood juga pakai high heels?” Wahyu nyengir menunjuk kakiku. Aku garuk-garuk kepala.

“Takut kepleset lagi. Sumpah, itu sakit banget.” Aku memasang ekspresi hiperbolis. Wahyu tertawa geli. Aku mencembungkan pipi. Apanya yang lucu? Nggak tahu apa, susahnya orang hamil gimana?


“Eh, bentar deh. Ada yang berubah dari kamu. Tapi apa ya? Hmm.” Wahyu meletakkan telunjuk didagunya. Berfikir. Menatapku dengan serius. Aku menciut. Takut sekali Wahyu bisa menebak kehamilanku. Aku berdiri dari sofa. Wahyu menarik tanganku.

“Ah ya, pipi kamu tambah tembem.” Wahyu mencubit pipiku dengan gemas. Tertawa. Aku menepis tangannya. Kami berhenti tertawa saat mendengar suara pintu diketuk. Wahyu membukanya. Wanita itu lagi? Aku menelan ludah. Sempat-sempatnya dia mencium pipi Wahyu, sementara aku berdiri menyaksikan semuanya. Wahyu juga tidak menolak. Api cemburu segera menyulut dinding hatiku. Aku berjalan keluar melewati mereka berdua. Wahyu sempat menahanku, aku menampik kasar tangannya. Wahyu sangat tahu jika aku cemburu. Dia berusaha mengejarku, menahan pintu lift yang akan tertutup. Aku hanya menatapnya dengan airmata dipipi. Besok-besok aku tidak sudi menginjak kantornya. Sudah cukup dua kali aku melihat Wahyu bermesraan dengan wanita itu.

***

“Ada masalah apa?” Ibu Rose mendekat, merengkuh pundakku.

“Wahyu, dia berani bermesraan dengan wanita lain didepan mataku, Bu.” Aku menghela nafas.
“Jangan terlalu mencemaskan hal itu. Kasihan calon bayimu. Wahyu pasti tidak berniat untuk itu.” Ibu Rose mengelus punggungku. Aku menggeleng.

“Tidak, Bu. Semakin hari aku semakin merasa Wahyu belum bisa mencintaiku.” Aku terpekur dalam. Menangis didekapan Ibu Rose.

“Sudahlah, katanya kamu ingin merayakan ulang tahun Wahyu di Panti ini?” Beliau mencoba menghiburku. Membanting topik pembicaraan. Aku mengatupkan bibir, enggan membicarakan rencana perayaan itu.








Bersambung...

Cinta Terakhir : part 3


“Aku tahu, kamu ada masalah kan?” aku mendesaknya. Wahyu tetap bungkam. Binar matanya kini meredup. Aku benar-benar tidak mengerti apa yang terjadi dengan dia.

“Kalau kamu belum mau cerita sekarang. Aku akan tunggu sampai kamu siap menceritakannya kepadaku. Aku tidak pernah keberatan.” Aku menggenggam jemarinya. Wahyu mengangguk tertahan. Aku tidak akan memaksa.

***

“Bun, ayah belum pulang juga?” Rinai sudah beberapa kali bertanya hal yang sama. Aku menjawab seadanya. Rinai cemberut tiap kali mendengar jawabanku. Memeluk bonekanya erat, terkadang Rinai menangis tak henti. Aku juga sering kewalahan menghentikan tangisnya. Aku hanya bisa mendekap tubuh kecilnya. Menceritakan dongeng-dongeng juga tak mempan untuk menghentikan tangisnya. Barangkali dua minggu tak bertemu ayahnya, membuat Rinai sangat sedih. Jujur saja, perasaanku juga tak tenang tiap kali melihat Rinai menangis. Dua minggu yang lalu Wahyu pergi ke London. Bersama wanita itu tentunya. Mengurus proyek disana berdua saja. Aku membesarkan hati. Membuang semua hal-hal buruk yang terlintas dibenak dan pikiranku. Aku pun cemas dibuatnya.



Rinai mendadahku dari kejauhan. Rinai sangat tahu jika aku belum beranjak sebelum melihat ia masuk ke kelasnya. Aku juga mendadah, meski Rinai tidak bisa melihatnya. Aku tersenyum melihat semangat peri kecilku. Padahal semalam saja matanya sembab karena menangis terus-terusan. Sekarang, ia sudah terlihat ceria. Setelah pulang dari sekolah, aku akan mengajaknya berkunjung ke Panti. Mungkin hal itu juga yang membuat Rinai bersemangat sekali hari ini.


Selama menunggu Rinai keluar dari kelasnya, aku pun mencoba menghubungi Wahyu. Aku ingin tahu bagaimana kabarnya. Tapi apa? Nomernya tidak aktif. Aku mengusap wajahku. Semua pesan singkatku juga tidak dibalas. Selama di London, Wahyu belum pernah mencoba untuk mengabariku. Aku tertegun, buru-buru menyeka sudut mataku saat mendengar bel pulang menggema dilangit-langit ruangan. Aku langsung berdiri menyambut Rinai. Aku lega, kali ini Rinai tidak tahu kalau aku baru saja menangis.

Mobilku melaju memasuki halaman Panti. Sebelum ke Panti, aku menyempatkan membeli mainan untuk anak-anak Panti. Aku cukup kerepotan membawanya. Ibu Rose tiba-tiba datang, terlihat senang melihat aku datang bersama Rinai. Dengan senang hati Ibu Rose membantu membawakan plastik besar yang berisikan mainan. Aku menuntun Rinai menaiki tiga anak tangga yang ada diteras Panti. Anak-anak berseru antusias melihat berbagai macam mainan baru. Mata mereka saling mengerjap, tanpa aba-aba langsung berebut mengambil mainan. Rinai menarik ujung bajuku. Dia merajuk, minta ditemani bermain ayunan.


Aku mendorong pelan ayunan itu, maju-mundur. Rinai tertawa. Senang sekali setelah beberapa bulan tidak bermain ayunan, pikirku. Aku juga ikut tertawa melihat giginya saat tadi ia tersenyum lebar, giginya yang baru tanggal tempo hari. Bisa dibayangkan bagaimana Rinai rewel saat diajak ke dokter gigi. Sempat juga membuatku bingung karena Rinai mogok makan selama dua hari. Katanya, “Dokternya kejam, Bun. Lihat nih, masih perih banget.” Aku hanya tersenyum, tak menimpali.


Karena langit mendung, aku membujuk Rinai untuk berhenti main ayunan. Rinai langsung menurut. Hujan turun, aku menggendongnya, aku menutup kepalanya dengan telapak tanganku. Bergegas. Aku lupa, lupa kalau memakai high heels. Terpeleset oleh licinnya rumput. Aku jatuh berdebam. Aku bernafas lega karena Rinai jatuh diatas tubuhku. Aku menggigit bibirku. Bukan hanya kakiku yang terasa sakit. Tetapi perutku juga sakit sekali. Rinai mencoba bangun, lantas berteriak, “Ibu Rose.. Ibu Rose. Tolong!!”

Aku tidak bisa berdiri. Ibu Rose panik melihatku. Berlari menghampiriku. Panik untuk kedua kalinya, “Mita, darah..” Ibu Rose berseru khawatir. Darah? Aku bergeming untuk melihatnya. Benar. Darah segar mengalir di pahaku. Ibu Rose terpatah-patah membantuku berdiri. Tertatih-tatih beliau menuntunku. Aku menggandeng tangan Rinai dengan sisa-sisa dayaku. Tubuh kami sempurna basah kuyup. Rinai bahkan sudah menggigil kedinginan sejak tadi. Bibirnya memucat. Ibu Rose membawaku ke kamarnya.

Ibu Rose membantuku berbaring di tempat tidurnya. Rinai ikut duduk disampingku. Menunggu. Sementara Ibu Rose keluar, menelepon dokter. Rinai? Aku menatapnya prihatin, wajahnya yang pucat pasi. Aku menggosokkan kedua telapak tanganku. Lantas menempelkannya dipipi Rinai.

“Maafin Bunda ya, sayang. Bunda nggak bisa jagain kamu.” Terbata-bata aku berucap. Perutku terasa semakin nyeri. Aku menggigit bibir menahan rasa sakit. Tidak mungkin aku mengeluh kesakitan didepan Rinai. Selang beberapa menit, Ibu Rose datang bersama seorang dokter. Aku meminta Ibu Rose agar membawa Rinai keluar. Dokter itu menge-cek bagian perutku. Wajah dokter itu segera berubah. Aku heran, perutku saja dicek, kenapa kakiku tidak?
Sambil menuliskan resep, dokter itu berkata

“Lain kali Anda harus berhati-hati. Mengingat kandungan Anda yang baru menginjak tiga minggu. Untung saat terjatuh tadi, Anda tidak terlalu mengalami hal yang fatal. Hanya pendarahan kecil.” Dokter itu menyerahkan secarik kertas. Aku masih tergugu mendengar ucapan dokter barusan. Aku hamil? Tiga minggu? Selama ini aku menganggap keterlambatan bulanan itu hal yang wajar saja. Dokter itu pun keluar. Ibu Rose tiba-tiba masuk. Girang mendengar berita bahwa ternyata aku hamil. Beliau memelukku, hampir sesak dada aku didekapnya.

“Rinai tahu tentang ini, Bu?” aku bertanya setelah Ibu Rose menyingkir dari tubuhku. Belum sempat Ibu Rose menjawab pertanyaanku.

“Hore.. Rinai bakal punya adik baru.” Rinai berseru riang dari ambang pintu. Melangkah tertatih menghampiri. Rinai duduk dipangkuan Ibu Rose.

“Wahyu harus tahu secepatnya, Mit.” ucapnya. Tanpa disuruh tangannya sudah menekan-nekan hp. Aku langsung mencegah.

“Jangan, Bu. Dia lagi sibuk sama proyeknya. Wahyu jangan tahu dulu tentang ini.”
Ibu Rose heran, mengatupkan rahangnya. Bertanya dengan cemas, “Kenapa?”

“Ayah pasti sangat bahagia mendengar berita ini.” Rinai memotong, nyengir.

“Ini jadi rahasia kita bertiga saja ya, sayang. Nanti ada saatnya Ayah tahu. Tapi tidak untuk sekarang-sekarang.” Aku membelai rambut Rinai yang masih basah.


Bersambung...

Cinta Terakhir : part 2


Aku segera menghampiri saat Rinai sudah keluar dari kelasnya. Aku langsung mengajaknya masuk mobil. Hari ini dia terlihat senang. Barangkali dapat teman yang banyak di kelas barunya.

“Kita mampir ke kantor Ayah dulu ya,” ajakku. Rinai mengangguk pendek.

“Sekolahnya tadi gimana, sayang?” Aku mengelus kepalanya.

“Seru, Rinai dapat teman baru, Bun.” Rinai tertawa kecil. Pelan mobilku sudah memasuki area kantor Wahyu. Aku membimbing Rinai turun dari mobil. Lantas menaiki lift menuju lantai 10, ruangan Wahyu. Tangan kananku memutar gagang pintu, sementara tangan kiriku menggandeng tangan Rinai. Pintu terbuka, berdecit. Aku kehilangan ekspresi terbaikku saat melihat Wahyu tidak sendirian di ruangan yang cukup besar itu. Ada seorang wanita disana. Duduk dengan mesra disamping Wahyu. Entah membicarakan apa, barangkali sedang membahas proyek. Saking seriusnya, beberapa detik berlalu Wahyu tetap tidak menyadari kehadiranku dengan Rinai. Wahyu baru bergeming saat mendengar rajukan Rinai yang minta diantar ke kamar mandi. Aku menatap Wahyu sebentar. Lantas bergegas memasuki lift. Entahlah apa reaksi Wahyu saat ini. Aku mengantar Rinai ke kamar mandi yang ada di lantai basement. Aku menunggu di luar, membiarkan Rinai masuk ke dalam sendirian. Aku menyandarkan punggungku di tembok. Pipiku terasa hangat. Lihatlah, apa Wahyu mencoba untuk mengejarku? Tidak kan. Dia lebih memilih melanjutkan bermesraan dengan wanita itu. Aku cepat-cepat mengusap pipiku saat melihat Rinai sudah keluar. Rinai menarik lenganku, membuatku menghentikan langkahku.

“Bunda, nggak apa-apa kan? Bunda kok nangis?” selidiknya. Darimana dia tahu kalau aku sedang menangis?

“Ah, enggak kok, Bunda nggak nangis, tadi cuma kelilipan debu.” Aku mengarang jawaban. Berdehem. Mengajak Rinai pulang. Urung mengajak Wahyu makan bersama di restoran.


Hingga malam Wahyu pun tak kunjung pulang. Aku duduk di karpet, menemani Rinai bermain dengan boneka-nya. Jam besar yang berada di ruang tengah sudah berdenting sembilan kali. Aku juga sudah menyibak gorden lima kali.

Aku mengantar Rinai menuju kamarnya. Malam sudah larut. Tadi saja Rinai sudah menguap berulang kali. Rinai sejak tadi keukeuh ikut menunggu kepulangan Wahyu. Namun setelah kubujuk akhirnya dia luluh dan mau saat kusuruh untuk tidur duluan. Aku mencium keningnya, “Mimpi indah ya sayang.” Aku berbisik lirih.

Perhatianku teralih, bergegas keluar dari kamar Rinai. Aku mendengar suara mobil Wahyu menderu di halaman depan rumah. Benar saja, saat aku membuka pintu depan, Wahyu sudah berdiri dihadapanku. Aku memaksakan diri untuk tersenyum menyambutnya. Aku tidak tega bila harus marah-marah, apalagi aku melihat wajah Wahyu yang kelelahan. Aku juga tidak menghindar saat dia mencium pipiku. Aku membawakan tasnya. Wahyu melepas sepatunya.

“Sudah makan malam?” Aku bertanya saat akan menaiki anak tangga.

“Sudah, tadi makan di kantor.” Jawabnya berjalan menyusulku. Aku curiga, jangan-jangan Wahyu makan malam bersama wanita itu.

“Kamu sudah makan?” tanyanya. Aku mengangguk. Padahal, padahal sejak siang tadi aku belum makan. Mana ada nafsu makan setelah melihat Wahyu duduk mesra dengan wanita lain tadi siang?

“Aku udah siapin air hangat buat kamu mandi,” ucapku. Wahyu duduk bersandar di sofa. Aku duduk agak jauh dari posisinya. Sejak pulang tadi, dia terlihat muram.

“Kenapa? Ada masalah besar di kantor?” tanyaku menatapnya tak mengerti. Wahyu bangkit dari duduknya. Membelai rambutku, “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” Wahyu menyeringai. Aku tahu, dia bohong, dari bola matanya saja dia seperti menyimpan masalah yang sangat serius. Aku tidak berani bertanya lagi. Sebenarnya, aku ingin sekali Wahyu memberiku penjelasan tentang apa yang kulihat tadi siang di kantornya. Aku hanya menghela nafas. Setelah mandi, Wahyu langsung tidur. Aku tak berani untuk menegurnya lagi. Aku tersenyum tipis saat tangannya memelukku erat dari belakang. Kurasa, aku mulai mencintai Wahyu. Dan itu sedikit membuatku lupa dengan peristiwa tadi siang yang sempat membakar hatiku. Baiklah. Aku masih menolerir hal itu. Selama Wahyu tahu batas-batasnya.

***

Seusai aku mengantar Rinai ke sekolahnya, aku mampir sebentar ke mall. Aku ingin belajar membuat kue. Dengan antusias aku mendorong troli, mengitari rak-rak yang berjejer, mencari bahan-bahan kue. Setelah cukup lama berkeliling di mall itu, aku menuju kasir. Bergegas pulang. Aku sudah tidak sabar untuk mencoba eksperimenku.


Aku bernyanyi riang memasuki dapur. Menaruh dua plastik besar diatas meja. Aku memakai celemek, bersiap membuat adonan kue. Aku nyengir sebentar. Apa jadinya rasa kue ini nanti?


Aku menghentikan tanganku yang sedang mengaduk adonan kue, mendongak, aku seperti mendengar ada yang datang. Wahyu? Tidak mungkin. Aku melanjutkan lagi, tidak mau ambil pusing dengan suara pintu terbuka. Aku terkesiap sendiri. Ada orang yang tiba-tiba memelukku dari belakang. Reflek, aku ingin memukul orang itu. Wahyu tangkas menahan tanganku. Naas, wajah Wahyu terlanjur berlepotan terkena adonan yang tadi menempel ditanganku. Wahyu bergidik. Aku mencari tisu, lantas mengusap wajahnya.

“Aduh, maaf yank.” Aku telaten membersihkan wajahnya. Wahyu menyeringai jahil. Tangannya mengambil tepung, lalu mencolek pipiku dengan sengaja. Aku balas melumeri wajahnya dengan adonan yang tadi ada ditanganku. Cemong-cemong. Wahyu mengacak rambutku. Aku balas mencubit perutnya. Wahyu terpingkal-pingkal menunjuk rambutku yang kini putih karena terkena tepung. Aku memanyunkan bibir, mencembungkan pipi. Tertawa kecil. Wahyu memelukku kemudian. Kini kemejanya terlihat lusuh dan kumel.

“Tumben pulang jam segini?” Aku bertanya seraya mencuci tangan di bak cuci.

“Bosen di kantor terus.” Ucapnya membuka kulkas, meraih satu minuman kaleng. Alisku saling bertaut. Aku kira dia akan betah berlama-lama di kantor karena ada wanita itu.

“Eh, kamu mau masak apa sih?” tanya Wahyu, sumringah mendekatiku. Aku mengangkat bahu. Aku sudah tidak mood untuk memasak lagi. Bosan. Aku menyimpan semua bahan-bahan di kulkas. Sekarang, aku lebih memilih menemani Wahyu bersantai di taman belakang rumah.

“Kamu baik-baik saja?” Aku menyentuh punggung tangannya.






Bersambung...

Cinta Terakhir : part 1

*lanjutan dari cerbung : Aku dan Rinai



Pernikahanku dengan Wahyu berlangsung seminggu setelah peristiwa di bandara itu. Mama sibuk menyiapkan banyak hal, memesan ini-itu. Cukup mewah, Mama ingin pernikahanku terlihat glamour. Tapi sayang, aku tidak sependapat dengan Mama. Aku memanyunkan bibir, memprotes.

“Batalin aja, Ma. Mita nggak suka mewah-mewahan.” Aku menahan tangannya yang hendak menelepon even organizer. Mama mengerutkan dahi.

“Wahyu juga lebih memilih untuk mengundang kerabat terdekat saja,” ucapku meyakinkan. Mama menghela nafas, mengurungkan niatnya, meletakkan kembali gagang telepon. Aku tersenyum melihat Mama akhirnya mau membatalkan rencananya.

“Kamu kan anak Mama satu-satunya. Mama cuma pengen kali ini jadi momen yang berkesan.” Mama duduk di sofa, kecewa. Aku ikut duduk disampingnya.

“Yang terpenting kan ijabnya, Ma.” Aku merangkulnya. Mama balas mengecup keningku.

***

“Ma, terlalu menor nggak sih?” Aku mematut-matut diri didepan cermin. Mengingat tadi aku nurut-nurut saja saat Mama rusuh memakaikan lipstik dengan warna mencolok, berikut juga dengan bedak yang tebal. Belum lagi dipaksa untuk memakai bulu mata. Mengenakan kebaya yang ketat berwarna putih gading. Tak kalah, high heels terbilang 11-12cm. Aku menyeka dahi, untung kemarin aku sudah belajar berjalan menggunakan high heels milik Mama. Untuk kali ini, aku menurut saja. Hari ini aku ingin kebahagiaan Mama menjadi sempurna.

“Pas kok Mit. Cantik!” Mama menyentuh bahuku. Aku masih duduk didepan cermin. Ragu-ragu. Menggigit bibir, takut berdiri. Aku memegang tangan Mama kuat-kuat saat aku menuruni anak tangga. Aku melangkah pelan. Mama mendampingi, senantiasa mengulum senyum. Dalam hati aku was-was. Takut jika terpeleset-lah, keseleo-lah, dan yang terburuk adalah jatuh tersuruk-suruk. Aku membuang jauh-jauh pikiran itu saat aku sudah sampai dihadapan Wahyu. Aku tersenyum takzim. Wahyu berdiri menyambutku. Ada Rinai yang berdiri disamping Wahyu. Aku duduk didekat Wahyu. Mama memakaikan selendang putih yang sempurna menutup kepalaku dan Wahyu. Dan, prosesi itu berlangsung dengan sakral.

Semua acara itu selesai dengan sesi foto bersama. Tertawa riang. Saat-saat yang menyenangkan meskipun hanya sesederhana ini. Aku tak akan pernah melupakannya. Ada yang sedikit membuatku takut. Hari itu juga aku ikut Wahyu pulang ke rumahnya. Aku tidak bisa menolaknya. Tanganku gemetar menggandeng tangan Rinai.

“Ayo, masuk. Kok malah diam disitu.” Wahyu menegur, mendekatiku yang berdiri mematung di teras.

“Eh, iya. Maaf ngelamun sebentar.” Aku melangkah dibelakangnya. Wahyu membuka pintu. Tanpa disuruh aku langsung mengantar Rinai ke kamarnya. Membacakannya dongeng sebentar. Setelah melihat Rinai pulas, aku pun keluar. Menguap lebar. Bergegas menuju kamar.


Aku gugup saat memutar gagang pintu. Pintu terbuka. Mataku menyapu seluruh kamar. Mawar-mawar sempurna menghiasi ranjang. Tapi mana Wahyu? Aku menutup pintu kembali. Urung masuk kamar. Aku melangkah menuruni anak tangga. Aku menyibak gorden di salah satu jendela. Ternyata Wahyu ada di halaman belakang. Sedang apa? Itu yang membuatku penasaran. Aku menghampirinya. Mencoba tidak membuat suara tetapi gagal, dia tahu jika aku berdiri di belakangnya.
Aku nyengir, “Sedang apa?”
“Cari angin doang. Kamu ngapain disini?” selidiknya menoleh kepadaku.

“Ng... Ikutan cari angin,” jawabku asal. Wahyu memicingkan mata, tertawa kecil.

“Kenapa tertawa?” tanyaku tak mengerti.

“Serius, kamu lucu. Kenapa daritadi belum ganti baju?” ucapnya menahan tawa. Aku menyeka dahi, melihat sendiri kebaya yang menempel ditubuhku. Aku menepuk jidat.

“Aduh, kok bisa lupa ya.” Aku mengeluh dalam hati. Belum tua juga udah pikun!


Wahyu ikut masuk kamar bersamaku. Barangkali dia sudah mengantuk. Aku garuk-garuk kepala, bingung mau pakai baju apa.

“Kenapa?” tegurnya melihatku heran.

“Bingung mau pakai baju apa.” Aku menutup lemari dengan sebal.

“Kamu nggak pakai baju tetap cantik kok.” Wahyu berbisik, mendekat, tersenyum jahil. Aku pura-pura ingin memukulnya, dengan cepat dia menangkap tanganku. Aku jatuh dalam dekapannya. Wahyu memelukku sangat erat. Bagaimanalah? Malam itu terasa sangat sempurna.


Pagi sekali, aku terbangun tiba-tiba, bergegas menyingkap selimut. Buru-buru aku mengenakan piyama. Aku melihat Wahyu masih terlelap. Aku berlari kecil menuruni anak tangga. Aku baru ingat, hari ini hari pertama Rinai masuk di Sekolah khusus. Aku membujuk Rinai untuk lekas bangun. Aku membantunya mematut diri. Setelah Rinai mandi, aku menyisir rambut panjangnya. Memakaikan bando pink. Rinai tiba-tiba menyentuh tanganku.
“Rinai bahagia, Bun.” Rinai tersenyum. Aku balas mengecup pipinya, “Bunda juga bahagia melihat hari ini Rinai sekolah lagi.”


Aku menarik kursi, membantu Rinai duduk. Bergegas menuju dapur, mengambil roti tawar beserta selai, mengaduk segelas susu hangat untuk Rinai. Cukup cekatan aku membawa nampan itu, aku menaruhnya dihadapan Rinai. Rinai cukup mandiri untuk menghabiskan sarapannya sendiri. Aku ingin menyuapinya, namun ia menolak.

“Kok aku nggak dibangunin?” Wahyu sudah rapi dengan kemejanya menuruni anak tangga.

“Bunda tadi ngurusin Rinai dulu, ‘Yah.” Rinai memotong, mulutnya penuh roti. Wahyu tersenyum memaklumi.

“Mau dibuatin sarapan apa?” tawarku. Dalam hati aku membatin. Jangan sampai Wahyu minta sarapan yang aneh-aneh karena aku belum banyak belajar memasak pada Mama.

“Nanti sarapan di kantor saja. Buru-buru nih,” ucap Wahyu duduk di sofa, sibuk memakai sepatunya. Aku membantu Rinai memakai tasnya setelah ia selesai sarapan. Rinai berangkat bersama Wahyu. Aku mengecup tangan Wahyu, dia balas mencium keningku. Aku mengantar sampai depan, mendadah sampai mobil Wahyu hilang di kelokan.


Siang hari aku memutuskan untuk menjemput Rinai. Hari ini aku sedikit merubah penampilan. Memakai rok dengan atasan blues. Ini juga karena tadi pagi Mama menelepon, menasehati, rusuh mengomentari gaya busanaku yang maskulin, sibuk memprotes banyak hal. Dan lagi-lagi aku mengikuti kemauan Mama. Baiklah, ini juga demi Wahyu. Sebagai istri yang baik, aku harus bisa membuat Wahyu bahagia. Aku duduk di kursi panjang yang ada di lorong lantai dasar. Ternyata bel pulang baru berbunyi setelah aku duduk hampir dua jam.






Bersambung..


Cari Blog Ini