Rabu, 21 Desember 2011

Bunda.. Jangan Pergi!

Aku duduk berpangku tangan di bangku taman dekat sekolahku. Sudah satu jam aku menunggu. Tetapi Ayah tak kunjung datang juga. Mana sebentar lagi hujan akan turun. Huh! Tak biasanya Ayah terlambat menjemputku seperti ini. Ya sudahlah. Ayah pasti punya alasan kenapa terlambat.
Satu titik air menetes di kepalaku. Aku mendongak, rintik itu semakin membesar, jatuh menimpa tubuh mungilku.
“Maaf, Ayah terlambat menjemputmu.” Ayah datang disaat yang tepat. Ia cepat-cepat mengajakku masuk ke dalam mobil.
“Bulan udah nunggu sampai satu jam hlo, Yah!” aku pura-pura marah.
“Bunda masuk rumah sakit lagi sayang...” Ia menghela nafas panjang, mimik wajah Ayah segera berubah drastis.
“Bulan mau lihat Bunda!!” Aku ngotot. Ayah hanya mengangguk pendek.



Aku bergegas berlari ketika sudah sampai di pelataran rumah sakit. Tidak peduli meski beberapa kali aku menabrak suster-suster yang berlalu lalang. Mereka hanya memaklumi, mungkin mereka tidak tega memarahi anak kecil seperti aku. Dan aku sudah tahu Bunda berada di ruangan mana. Karena baru saja kemarin Bunda keluar dari rumah sakit. Tetapi, lihatlah, kondisi Bunda ternyata belum membaik.
“Bunda...” Ucapku lirih saat membuka pintu.
“Bulan.. Sini sayang, mendekat ke Bunda.” Ia mengulurkan tangannya. Aku antusias untuk mendekat. Tadinya aku kira Bunda sedang tidur. Aku duduk di ranjangnya dengan bantuan suster.
“Sini sayang, peluk Bunda.” Ucapnya lembut. Aku mendekat ke wajahnya. Ia mendekapku hangat.
“Bunda.. Cepat sembuh ya. Bulan nggak mau lihat Bunda sakit-sakit lagi. Bulan pengen main-main sama Bunda lagi.” Tangan mungilku mengelus-elus pipinya. Bunda tersenyum tipis.


“Iya sayang. Kamu rajin-rajin berdo'a sama Allah ya. Tetapi kalau sewaktu-waktu Bunda pergi, Bulan harus janji satu hal—”
“Janji apa Bun?” potongku seenaknya. Bunda menaruh telunjuknya di bibirku.
“Bulan harus janji jadi anak yang baik. Anak yang akan menjadi kebanggaan Ayah dan Bunda kelak.” Ia mengecup pipiku. Aku benar-benar tidak mengerti dengan maksud Bunda. Aku masih terlalu kecil untuk merangkai penjelasan ini.
“Memangnya Bunda mau pergi kemana sih?” tanyaku penasaran.
“Bunda mau pergi ke sebuah tempat yang sangat indah sekali, sangat jauh—” Jelasnya.
“Sampai kapan Bun? Untuk apa sih Bunda pergi? Bulan ikut ya?” desakku lagi. Kali ini Bunda hanya menggeleng meningkahi keluguanku.
“Tidak sayang.. Kalau kamu ikut, nanti Ayah sama siapa dong?” Ia tertawa kecil, mencoba bergurau. Terbatuk-batuk. Ada bercak merah di bibirnya. Tangan kecilku meraih tisu yang berada di meja kecil, kemudian aku mengusapnya. Bunda tersenyum ‘Terima kasih’.
“Kalau begitu kita perginya bertiga aja Bun.” Celotehku. Bunda menggeleng lagi. Aku menghela nafas. Sedikit kecewa.
“Bulan.. Bunda kan perlu istirahat. Sini main sama Ayah saja.” Ayah tiba-tiba datang, menyela, menggendong tubuh mungilku keluar. Sebenarnya Bunda ingin menahanku, tetapi Ayah kadung membawaku menjauh. Aku kemudian mendadah Bunda. Dan lihatlah, saat Bunda tersenyum ada cahaya yang begitu terang di sekelilingnya. Ia terlihat sangat cantik, secantik boneka Barbie yang sering kulihat di layar televisi.



“Yah...” Aku menyentuh lengannya saat ia duduk tercenung di kursi panjang. Aku ikut duduk di sampingnya.
“Kenapa sayang?” tanyanya kaku. Aku melihat mata Ayah merah. Kenapa? Aku tidak tahu. Yang aku tahu selama ini, Ayah selalu saja berhasil menyembunyikan kesedihannya. Tapi kali ini, aku rasa tidak lagi.
“Memangnya Bunda mau pergi kemana sih, 'Yah? Kok Bulan nggak boleh ikut?” Aku bertanya khas anak kecil yang serba ingin tahu. Ayah hanya mendehem.
“Bunda tidak akan pergi kemana-mana sayang!” Jawabnya dengan intonasi yang lugas. Aku jadi bingung. Aku harus percaya kepada siapa?
“Tapi.. Bunda tadi bilang gitu,” terbata-bata aku memberi alasan.
“Memangnya Bulan pengen Bunda pergi?!”
“Nggak mau!!!” Jawabku keras.
“Makanya, Bulan banyak-banyak berdoa untuk kesembuhan Bunda.” Ayah membelai rambutku. Aku mengangguk cepat.

***

Keesokan harinya, aku di paksa untuk berangkat sekolah. Juga di paksa untuk sarapan. Padahal, padahal aku tidak mau! Yang aku mau hanya melihat Bunda sekarang. Ya apa boleh buat, jadinya aku mengamuk pagi ini. Membuang tas sekolah sembarangan, membanting gelas yang berisi susu hangat. Dan hampir saja aku ingin membanting guci, tetapi Ayah datang menengahi. Mbak Minah juga mundur beberapa langkah, sepertinya sudah kewalahan menanganiku. Bahkan, Ayah juga tidak bisa berbuat apa-apa lagi.
“Oke, oke.. Ayah antar kamu menemui Bunda sekarang,” ucapnya pasrah.
“Horeee!!” aku loncat-loncat heboh. Ayah menggelengkan kepala melihat tingkahku.
“Yah, Bulan khawatir sama Bunda. Kalau Bunda keburu pergi gimana? Kan belum pamitan sama kita?” aku menarik gandengan tangan Ayah, membuat langkah kami terhenti sejenak tepat di depan pintu lift.
“Bunda tidak akan pergi sayang!” Ia mencoba meyakinkanku.



“Kebetulan anda datang Pak.” Salah satu dokter menghampiri Ayah.
“Memangnya ada apa dok? Kenapa dengan istri saya? Dia baik-baik saja kan?” Ayah bertanya dengan panik. Aku juga ikut-ikutan panik.
“Bunda kenapa Yah?” aku menarik ujung kemeja Ayah dengan gemas. Ia tidak menjawab.
“Maaf Pak, kami sudah melakukan yang terbaik untuk istri anda. Namun.. Semua bukan kehendak kita.” Dokter itu menarik nafas dalam, ada gurat kecewa di wajahnya.
“Anda hanya bercanda kan dok? Istri saya pasti baik-baik saja! Tidak, tidak mungkin!” Ayah menggamit bahu dokter itu. Aku, hanya berdiri kaku mendengar apa yang tidak kumengerti. Memangnya Bunda kenapa? Ada apa ini? Dan, kenapa Ayah menangis? Aku benar-benar tidak mengerti.
“Bunda kenapa Yah?” Aku bertanya lagi ketika sudah sampai di depan ruangan Bunda. Kali ini Ayah hanya menggeleng. Aku semakin tidak mengerti.
“Bulan pengen ketemu Bunda.” Aku berniat masuk, namun Ayah mencegahku.
“Jangan sayang. Bunda masih tidur, jangan di ganggu dulu.” Suara Ayah serak. Air mata masih membanjiri pipinya.
“Kok Ayah nangis sih? Bulan kan jadi ikut sedih.” Sekarang aku duduk di pangkuannya. Ayah mengecup ubun-ubunku.
“Ayah salah, Bunda kamu terlanjur pergi.”
“Nggak boleh! Kan kata Ayah, Bunda sedang tid...” Ucapanku terhenti ketika aku melihat ranjang itu di dorong keluar.

Aku berusaha mendekati ranjang itu dengan rasa penasaran berkecamuk.
“Sus, Bunda mau dibawa kemana?!” Dua-tiga kali aku bertanya, suster itu tetap saja diam. Aku sibuk merengek, akhirnya menarik rok suster itu dengan sebal. Ayah mencoba menarik tubuhku menjauh dari ranjang itu. Hampir aku menangis. Aku masih saja menatap Bunda yang wajahnya tertutup kain putih bersih.

***



Cukup lama aku tertidur dipangkuan Mbak Minah. Sampai-sampai aku tidak menyadari kalau ada banyak orang yang datang ke rumah. Mereka mengenakan pakaian serba hitam. Ada acara apa memangnya?
“Mbak, kok jadi ramai gini sih?” Aku bertanya heran. Mbak Minah tidak bereaksi apapun. Ia langsung membawaku ke lantai atas. Dan, aku dipaksa untuk mandi. Kali ini aku menurut. Tidak ada lagi acara mengamuk.



Selesai mandi, Mbak Minah menggendongku menuruni anak tangga. Aku melipat dahi ketika melihat orang yang datang semakin banyak.
“Yah, kok Bunda dibungkus sih?” tanyaku polos. Mbak Minah sibuk mengalihkan perhatianku. Ayah diam saja. Mbak Minah malah membawaku masuk ke dalam mobil. Aku berkali-kali bertanya. Tetap saja semua memilih untuk diam tidak menanggapi.


Hingga sampai di sebuah tempat. Aku kini yang memilih untuk diam. Entah mengapa, tiba-tiba saja aku ingin menangis. Dalam hati aku membatin, “Ngapain sih Bunda dibawa ketempat ini?”



“Ayah!! Bunda kenapa? Kenapa dimasukin kedalam tanah? Ayah tolongin Bunda dong!!” Aku sibuk menarik tangan Ayah. Berteriak-teriak kesetanan. Suaraku nyaris habis. Namun, lihatlah, Ayah malah diam membisu.


“Ayah, kenapa diem aja?” Tenagaku telah habis. Kini aku duduk bersimpuh tepat didepan gundukan tanah yang telah bertaburan bunga mawar. Air mataku berjatuhan di tanah. Tidak ada yang menghiraukanku.


“Bulan.. ayo kita pulang,” bujuk Ayah pelan. Aku menolaknya mentah-mentah. Sekarang aku sedang marah dan kecewa.
“Bulan nggak akan pulang kalau Bunda masih disini!” aku tetap keukeuh.
“Bulan sayang kan sama Bunda? Biarlah Bunda tenang sayang... Bunda tidak suka melihat kamu nakal.” Ayah membelai kepalaku dengan sabar.
“Biarkan Bunda pergi dengan tenang sayang...” Mbak Minah mencoba menenangkanku.
“Bulan mau nyusul Bunda, ‘Yah!” ucapku bersuara parau. Ayah mendekap erat tubuhku. Setelah dibujuk cukup lama, akhirnya aku mau diajak  pulang. Tetapi kalau Bunda disini kesepian bagaimana?
“Akan ada malaikat yang menemani Bunda, sayang...” Ayah sepertinya tahu apa yang sedang kupikirkan.
“Bunda.. Bulan akan menepati janji itu. Bulan ingin melihat Bunda tersenyum bahagia.” Ucapku tersenyum seraya meraba-raba tanah merah itu sebelum aku pulang.
“Bulan selalu sayang Bunda—”




Selamat Jalan Bunda...












Tamat


Rabu, 16 November 2011

Aku dan Rinai, part 4 (ending)



Aku menelan ludah, lidahku terasa kaku untuk menyalahkannya lagi. Aku jadi merasa tidak enak hati melihat Wahyu yang jadi muram. Aku malah memberanikan diri untuk menyentuh tangannya.

“Maafkan saya... Saya mengerti, Rinai jauh lebih membutuhkan Anda. Saya tidak akan melarang Anda untuk membawa Rinai pergi. Karena itu bukan hak saya.” Aku menghela napas. Biarkan malam ini semua masalah terasa jelas. Dan keputusan terakhirku: membiarkan Rinai tinggal bersama Ayahnya.

“Terimakasih...” Wahyu balas menggenggam jemariku. Grogi melandaku hebat.

“Terimakasih untuk apa?” Dahiku berkernyit, menatapnya dengan skeptis.

“Untuk semuanya... Boneka-boneka, membacakan buku dongeng, dan petikan gitar itu. Semua yang kamu lakukan untuk Rinai...” Wahyu tersenyum takzim, melepas genggaman tangannya. Bagaimana dia tahu itu semua?

“Saya sangat ikhlas, Rinai sudah saya anggap sebagai adik saya sendiri. Anda sangat beruntung mempunyai anak seperti Rinai,” aku menyunggingkan bibir. Wahyu tersenyum tipis. Aku sempat heran, mungkin malam ini dia sedang tidak pelit untuk membagi senyum indahnya. Dan malam ini, aku merasakan aroma perdamaian yang tercipta antara aku dan dia. Mungkin ini adalah awal yang menyenangkan. Tetapi tetap saja tidak bisa mengusir rasa sedihku karena harus berpisah dengan gadis kecil itu. Suasana dalam mobil hening, hanya suara riak hujan yang terdengar samar-samar.

“Jam berapa berangkat ke London?” Aku bertanya, memastikan.

“Semuanya tergantung sama kamu.” Wahyu mengangkat bahu. Aku tidak mengerti maksudnya.

“Kamu bingung? Oke, akan saya perjelas kalimat tadi. Saya dan Rinai tidak akan pergi ke London asalkan Rinai mendapatkan ‘Bunda’ yang baru. Kamu ngerti kan maksud saya?” Wahyu mendehem. Hujan agak mereda. Oke, aku sangat paham dengan maksud perkataannya.

“Saya harus pulang!” Seketika itu aku memutuskan untuk mengakhiri perbincangan yang semakin lama terasa aneh. Aku segera membuka pintu mobil. Sungguh, aku tidak bisa mendengar kalimat yang akan dia lontarkan selanjutnya. Lebih baik aku mencari aman dengan cara pergi dari hadapannya.

***

Malam itu, aku berhasil ‘melarikan diri’. Tidak bisa terbayangkan jika aku berlama-lama di dalam mobilnya.

Pagi-pagi buta, aku memaksakan mataku untuk terbuka. Mama juga sudah siap menggedor-gedor pintu kamarku. Peduli apa dengan pintu yang akan roboh karena mendapatkan hantaman bertubi-tubi setiap pagi? Tetapi pagi ini Mama tidak perlu mengeluarkan tenaganya untuk membangunkanku. Aku sudah bangun sendiri.

“Tumben bangun pagi Mit? Mau langsung ke Panti ya? Sarapan dulu yuk. Sekalian ada yang ingin Mama tanyakan ke kamu.” Mama menegur, menawariku untuk duduk. Sudah ada satu piring nasi goreng di hadapanku. Aromanya membuat perut keroncongan. Tetapi, aku sedang tidak berselera untuk memakannya. Mama berdehem.

“Sayang, kok cuma di pantengin terus sih? Di makan dong, paling nggak satu suapan saja.” Mama menatapku khawatir. Aku ingin berkata ‘Tapi Ma, aku nggak lapar!’ tetapi mana aku tega melihat Mama kecewa karena aku tidak menghargai masakannya. Aku menyendok nasi goreng, memaksa mulutku untuk menelan. Rasanya hambar di lidahku. Begini nih kalau orang lagi merana di paksa makan.

“Mit, kamu punya calon suami kok nggak pernah bilang sama Mama sih? Pakai main rahasia-rahasiaan segala.” Mama tertawa riang.

Apa?

Seketika nasi goreng gagal tercerna dengan baik. Tersedak-sedak. Tanganku sigap meraih gelas berisi teh. Tapi, ah panas!! Teh panas ternyata isinya. Kebat-kebit aku mengipas-ngipas mulutku. Apa yang di tanyakan Mama tadi? Calon suami? Punya pacar aja belum. Ini malah calon suami.

“Aduh, maaf Mit. Kamu sih, Mama kan cuma tanya soal itu kok sampai salting sendiri?” Mama menutup mulutnya, menahan gelak tawa yang akan lepas.

“Mama... Mita aja nggak punya pacar. Apalagi calon suami?” Aku menggelengkan kepala. Tak habis pikir, ini kenyataan atau mimpi. Atau hanya gurauan Mama saja? Ah, benar-benar konyol.

“Orang yang semalam datang kesini nggak mungkin salah alamat! Jelas-jelas dia bilang ketemu kamu di Panti beberapa hari yang lalu.” Mama ngotot habis-habisan, mempertahankan pendapatnya itu. Aku mendengus sebal.

“Kamu pinter juga cari calon suami. Orangnya ramah, sopan, ganteng, dan mapan pula.” Mama mulai bercerita, terlena sendiri.

“Namanya?” tanyaku dengan sebal. Mama tertawa. Bahagia? Tentu saja saat ini Mama sedang bahagia.

“Wahyu!!” Mama berseru lantang. Aku jadi kepikiran, kira-kira ayam tetangga sebelah mati nggak ya? Mengingat suara Mama naik delapan oktaf.

“Tapi aku tuh nggak cinta sama dia, Ma. Ketemu juga baru dua hari yang lalu,” aku mencoba memberi sanggahan tidak terima.

“Ayolah Mit, cinta kan juga bisa tumbuh setelah kamu menikah dengan Wahyu? Apa kamu nggak kepengin lihat Rinai bahagia?” Mama tetap bersikukuh pada pendiriannya. Memaksa. Membujuk. Menyebalkan.

“Hloh, Rinai kok di bawa-bawa sih Ma?” aku mengaduh, menepuk jidat. Ini adalah salah satu kelemahanku. Semua yang berhubungan dengan Rinai terasa berat untuk aku tolak.

“Asal kamu tahu. Rinai-lah yang meminta Wahyu untuk melamar kamu.” Mama berdiri, merengkuh bahuku. Sepertinya Mama akan mengeluarkan jurus pamungkas-nya.

“Semua keputusan ada di tangan kamu. Mama hanya bisa menyarankan yang terbaik buat kamu. Dan kamu yang akan menentukan sendiri, kamu mau menerima lamaran itu atau menolaknya.” Menepuk-nepuk pundakku, menghela napas panjang, Mama sudah hampir putus asa membujukku.


Aku mengaduk-ngaduk nasi didepanku dengan sendok. Aku bingung. Kenapa harus seperti ini? Apa tidak ada alternatif lain? Apa aku harus menerima lamaran itu dan menikah dengan Wahyu? Tapi, aku belum siap menikah. Penampilanku saja masih seperti ini. Dan Rinai? Bahkan ia sangat berharap aku jadi Bunda-nya. Pikiranku benar-benar kalang kabut. Keputusan ini tidak main-main. Baiklah, mungkin aku bisa sharing masalah ini dengan Ibu Rose. Paling tidak, harus ada jalan lain untuk meredam masalah ini. Kalau bisa, aku ingin Rinai tetap tinggal di Jakarta tanpa aku perlu menikah dengan Wahyu. Itu adalah jalan terbaik.


Aku mengetuk pintu ruangan Ibu Rose. Selang beberapa detik, Ibu Rose membukakan pintu.
“Bu, ada yang perlu saya bicarakan.” Tanpa basa-basi aku mengutarakan tujuanku.
Ibu Rose berjalan mendekati jendela, aku mengekor di belakangnya. Ibu Rose menatap keluar, aku juga ikut-ikutan menatap taman Panti dari kaca jendela.

“Saya sudah mengerti tujuan kamu datang kemari.” Ibu Rose menatapku, tatapannya nanar.
“Kamu lihat gadis kecil itu? Sejak tadi pagi Rinai ngambek. Rinai tidak mau berbicara dengan siapapun kecuali dengan kamu.” Beliau menatapku dengan gelisah.

“Kok bisa Bu? Memangnya ada apa dengan Rinai?” Aku bertanya dengan cemas.

“Ibu juga tidak tahu Mit,” beliau mendesah kecewa.

“Apa tadi ayahnya sudah datang?” Demi melihat Rinai yang murung aku sedikit melupakan tujuan awalku menemui Ibu Rose.

“Rinai sangat susah untuk di bujuk. Wahyu saja kewalahan. Tolong Mit, kamu bujuk Rinai ya.” Ibu Rose menggenggam kedua pergelangan tanganku. Memohon. Aku mengangguk.

Dengan langkah berat aku mendekati Rinai. Gadis kecil itu duduk di sebuah ayunan. Tangan mungilnya mendekap boneka SpongeBob pemberianku dua hari yang lalu. Rinai menangis, aku bisa melihat dari tetesan air matanya yang jatuh di tanah. Ya Tuhan, apa yang terjadi dengan Rinai?


“Aduh, anak manis kok nangis sih? Kasian SpongeBob-nya nanti basah kuyup gara-gara kamu nangis.” Aku sedikit bergurau. Merundukkan badanku, berjongkok, mensejajari posisi Rinai di ayunan itu. Aku menyeka pipinya yang basah. Tangannya terjulur, mencoba meraih tanganku. Rinai menghambur dalam pelukku, hampir saja membuat aku jatuh terjengkang. Untung dengan segera aku bisa menjaga keseimbanganku.

“Rinai nggak boleh nangis dong! Kamu ingin membuat ayah bahagia kan? Kalau begitu Rinai harus menuruti semua perkataan ayah ya,” aku mengelus punggungnya. Rinai terpekur di pundakku.

“Tapi kak, Rinai nggak akan pergi kemana-mana tanpa kak Mita!!’ Rinai berseru jengkel, sesenggukkan menahan tangis.

“Rinai... Kamu percaya kan sama kakak? Walaupun kita jauh, Rinai tetap ada dihati kakak, begitu pula sebaliknya.” Aku melepas pelukannya. Sejurus Rinai mendorong tubuhku, aku jatuh terjengkang ke belakang. Gadis kecil itu berteriak-teriak, “Rinai benci kak Mita!!!!”

Kulihat Ibu Rose beringsut mendekat, mendekap tubuh Rinai. Tanpa banyak bicara beliau membawa Rinai menjauh dariku. Ya, mungkin saat ini Rinai sangat membenciku. Aku memang tidak bisa mengambil keputusan ini dengan bijak.

“Mama? Ngapain kesini?” aku tercengang melihat Mama sudah berdiri dihadapanku.

“Mama cuma nggak habis pikir, Mit.” Mama mendesah kecewa, ada gurat sesal di raut wajahnya.

“Maksud Mama?” aku spontan berdiri, dahiku saling bertaut.

“Tadi sebelum Wahyu pergi, dia sempat menelepon Mama,” ujarnya bersuara serak.

“Wahyu pergi tanpa Rinai?” aku menelan ludah. Jadi ini alasan Rinai marah padaku?

“Karena Wahyu yakin bahwa kamu bisa menjaga Rinai dengan baik. Dia percaya sama kamu, Mit.” Mama menyeka sudut matanya. Aku menatap Mama dengan bingung.

“Jika kamu ingin merubah semuanya, masih ada kesempatan untuk kamu! Pesawat Wahyu berangkat lima belas menit lagi.” Mama mengoyak lenganku. Baiklah, aku tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Semua ini semata-mata hanya untuk Rinai.




Tanpa menunggu perintah dua kali, aku segera bergegas menuju bandara. Aku tidak boleh terlambat. Wahyu tidak boleh pergi.

Aku memaksa kakiku untuk berlari, menyusuri setiap sudut bandara. Beberapa kali aku melihat sosok Wahyu, begitu aku mendekatinya, ternyata salah orang, bukan Wahyu. Aku berhenti sejenak, menyapu pandanganku lagi. Apa memang Wahyu benar-benar sudah pergi? Aku memutar otak, tidak akan menyerah begitu saja. Sekejap, mataku terpicing, aku melihat Wahyu di pintu masuk keberangkatan. Kali ini aku tidak mungkin salah orang lagi.

“Wahyu!!” teriakku lantas berlari ke arahnya. Tetapi, dengan tangkas petugas menghadangku, memaksaku untuk menjauh. Petugas itu tidak hanya satu, dua orang sekaligus mencengkram lenganku, melarang memasuki area itu tanpa tiket. Aku berontak, tapi percuma saja.

“Tolong lepasin pak, dia teman saya!” Wahyu datang menengahi. Dua petugas itu langsung melepas cengkramannya. Sejurus Wahyu menyeret lenganku, mengajakku duduk di kursi tunggu. Wahyu meletakkan koper besarnya di lantai. Dia diam membisu.

Aku memberanikan diri untuk mengelus punggungnya. Tetapi aku tidak berani menatap matanya. Bisa-bisa aku mati kutu kalau bertatapan dengan dia.


“Aku... Aku akan belajar untuk mencintaimu. Berusaha untuk membahagiakan Rinai dengan caraku sendiri.” Aku menarik napas lega, akhirnya kalimat itu bisa terucap.

Wahyu menoleh, eksperesi ‘kaget’ tersirat dari matanya. Dia tersenyum lebar. Membalas menggenggam tanganku.

“Terimakasih... Rinai pasti bahagia mendengarnya. Karena Rinai-lah yang memintaku untuk melamarmu, jujur saja sebelumnya aku tidak mempunyai keberanian untuk itu.”

“Kamu sangat beruntung mempunyai peri kecil seperti Rinai. Jadi, aku mohon urungkan niatmu untuk pergi.” Aku menyentuh bahunya, menggeleng-gelengkan kepalaku (jangan pergi!).

“Mana mungkin aku pergi tanpa Rinai dan calon istriku?” Wahyu mencubit pelan pipiku. Aku tersipu malu di buatnya. Baiklah. Aku merasa sudah mengambil keputusan yang paling tepat. Ah, inikah yang orang bilang tentang cinta? Cinta yang tidak pernah kumengerti sebelumnya. Tentu saja semua ini karena Rinai. Gadis kecil itu. Peri kecil yang menyimpan sejuta kebahagiaan. Lihatlah, semua memang terasa sempurna bila kita mau sedikit saja mengesampingkan rasa ego itu.


Tamat

Aku dan Rinai, part 3


 Pagi ini aku melangkah dengan gontai, membawa gitar di tangan kananku dengan riang hati. Aku pikir Rinai akan merasa senang jika aku mengajaknya bernyanyi. Mataku menyapu ke setiap sudut Panti, mencari wajah polos itu. Tetapi tidak ada. Kemana Rinai?

“Kak Mita!!” seru seseorang mengagetkanku. Aku menengok, gadis kecil itu menyeringai dari balik pintu. Aku segera menghampirinya.

“Kakak hari ini bawa gitar nih. Kita nyanyi bareng yuk? Kamu mau kan?” Rinai mengangguk antusias. Aku membimbingnya menuju halaman belakang.

Kami duduk di kursi panjang berpelitur kayu. Jemariku pelan mulai memetik gitar akustik itu, dengan sedikit iringan lagu tentunya. Rinai menyimak dengan serius, malah suara kecilnya lamat-lamat terdengar, ikut bernyanyi bersamaku. Ah, bahagia sekali menghabiskan waktu bersamanya. Waktu-waktu yang tidak akan pernah terulang kembali dalam lembaran hidupku.

Setelah dirasa bosan bernyanyi, sesekali kami saling melempar canda. Tertawa. Saling menggelitiki. Terpingkal-pingkal.
“Kak Mita hebat!! Andaikan aku punya Bunda seperti kakak, mungkin aku adalah anak yang paling beruntung di dunia ini!” Rinai menyeringai lebar.

“Kamu kangen ya sama Bunda kamu?” Aku menyentuh tangannya, wajah itu berubah murung.

“Kata Ayah, Bunda udah bahagia di tempat lain. Bunda sekarang tinggal bersama malaikat-malaikat di surga.” Rinai mendongakkan kepala, tangannya menunjuk langit. Oke, aku mengerti maksudnya. Gadis sekecil ini tumbuh tanpa kasih sayang seorang Ibu. Aku menyeka sudut mataku.

“Bunda kamu pasti bahagia diatas sana. Rinai jangan bersedih lagi ya.” Aku mengelus rambutnya yang di kepang dua. Air mata meleleh di pipinya.

***

“Anda lagi? Astaga, mimpi apa saya semalam sampai harus bertemu lagi dengan makhluk dingin seperti Anda.” Aku mengibaskan tangan, terkekeh.
“Terserah saya. Memangnya kamu itu siapa? Pemilik Panti ini? Enggak kan?” Wahyu balas menyeringai, berlalu begitu saja dari hadapanku. Untuk kedua kalinya aku merasa dianggap sebagai ‘patung hidup’. Tapi tunggu, kenapa dia masuk ke ruangan Ibu Rose? Aku mengikutinya lagi. Penasaran.


Apa salahnya menguping lagi?


Dengan segera, aku mengintip di celah-celah pintu. Mencari posisi yang strategis untuk mendengarkan pembicaraan mereka berdua.
“Saya sudah ambil keputusan. Besok saya akan membawa Rinai ke London untuk tinggal bersama saya disana. Jujur, disini saya selalu terbayangi dengan rasa bersalah itu.” Wahyu berkata parau, tertunduk dalam.
“Sudahlah, Wahyu. Ikhlaskan istrimu yang sudah pergi. Jangan pernah kamu menyesali apa yang sudah menjadi takdir.” Ibu Rose menyentuh pundak Wahyu, menatap iba.


“Tapi, bagaimana aku bisa tenang Bu? Istri saya meninggal karena kecerobohan saya. Dan Rinai harus kehilangan penglihatannya juga karena saya!” Wahyu semakin terpekur, meremas rambutnya.

Aku menggeleng. Tidak mungkin. Apa yang harus aku rangkai dari penjelasan ini? Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang. Kakiku gemetar, aku terduduk di ambang pintu. Meringkuk, memeluk kedua lututku. Semua ini sangat menyakitkan. Tanpa terasa basah membajiri kedua pipiku. Rinai? Oh Tuhan, gadis kecil itu...

Aku mendongakkan kepala, melihat siapa yang menyodorkan saputangan. Wahyu? Aku beranjak dari dudukku, menatap wajah Wahyu dengan geram.
“Saya butuh semua penjelasan itu! Tentang Rinai—” Aku mendesis. Wahyu menyeka hidungnya.
“Saya rasa kamu tidak perlu mengetahuinya. Ini urusan keluarga saya!” Wahyu berlalu, tetapi aku menahan lengannya.
“Rinai anak kandung Anda? Iya kan?” Aku menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Kami saling berhadapan. Wahyu menggeleng, enggan menjelaskan.
“Tetapi, kenapa Anda dengan tega meninggalkan Rinai sendirian di Stasiun Kota dua bulan yang lalu?” Aku berseru, mencengkram kerah kemejanya, emosiku meluap tak tertahankan.
“Itu memang kesalahan saya!” Wahyu menepis tanganku, berjalan meninggalkanku, segan memberi tanggapan lagi. Ya Tuhan, kenapa masalah ini sangat rumit? Aku benar-benar tidak mengerti. Rinai akan di bawa ke London? Bagaimana mungkin aku bisa jauh dari gadis kecil yang amat polos itu. Apa aku bisa merelakan Rinai pergi jauh?

Malam harinya, entah aku tiba-tiba ingin pergi menemui Rinai. Karena aku sadar, besok aku harus membiasakan diri hidup tanpa Rinai. Aku datang membawa sepotong coklat kesukaannya. Aku berharap Rinai belum tidur.


Aku mengetuk pintu kamar Rinai tiga kali. Tidak ada respon. Aku melipat dahi, memanyunkan bibir tanda kekecewaanku. Mungkin saja Rinai sudah tidur. Ya sudahlah, mungkin besok pagi saja aku datang kemari lagi.

Tapi, ada sesuatu yang membuat langkahku terhenti. Lamat-lamat aku melihat halaman Panti dari gorden jendela, ada Rinai disana. Tetapi dia tidak sendirian, lantas dengan siapa?
Setelah mendekat, aku baru tahu kalau Wahyu yang duduk bersama Rinai. Wahyu menoleh, mungkin merasakan kehadiranku.

“Siapa ayah?” Rinai bertanya, ikut-ikutan menoleh ke arahku.


“Bukan siapa-siapa kok.” Wahyu berkata datar, memberiku isyarat agar menjauh. Dan bodohnya, aku menuruti perintahnya.

Lebih sialnya, hujan turun dengan deras. Terpaksa aku mengurungkan niat untuk pulang. Aku menelangkupkan kedua tanganku didada. Hujan membuat malam semakin dingin.


“Kamu belum pulang?” tegurnya, sok perhatian.


“Hujan! Mobil saya terparkir didepan gerbang.” Aku tak mengacuhkannya. Tadi saja dia mengusirku dengan seenaknya.


“Ada sesuatu yang perlu saya bicarakan dengan kamu, tapi tidak disini.” Wahyu berdehem seraya melepas jaketnya.


“Kenapa harus di tempat lain? Disini juga bisa kan?” Mataku terpicing melihat gelagat anehnya. Tanpa basa-basi, Wahyu memayungi kepalaku dengan jaketnya. Oh Tuhan, kami saling bertatapan. Derai hujan seakan tertahan di udara. Lagu romantis seperti mengalun indah di sela-sela angin malam.


“Kita bicara di mobil saya!” Wahyu membuyarkan lamunanku. Aku mengiyakan.


“Memangnya apa sih yang akan kita bicarakan? Sok penting!!” Aku mulai berkomentar dengan sebal.


“Ini tentang Rinai. Oke, saya akan menceritakan semuanya. Kamu memang benar, Rinai adalah putri kandung saya. Dan tepat dua bulan yang lalu, Rinai menghilang dari rumah. Dan saya tidak tahu keberadaannya. Sampai Ibu Rose memberi tahu saya kalau Rinai berada di Panti ini—”




Bersambung...

Cari Blog Ini