Kamis, 24 Januari 2013

“Cinta Bukan Kita”



“Apa yang terlihat oleh kedua mataku tidak cukup untuk mengubah harapan menjadi kenyataan indah. Aku salah jika menyimpulkan atas apa yang aku lihat saja, tanpa mendengar. Aku yang salah di sini. Karena aku berani mempertaruhkan harapanku pada waktu semu. Aku membiarkan hatiku luruh bersama waktu yang kembali membawa cinta itu. Cinta yang tak akan pernah bisa kusentuh dengan mata hatiku. Cinta yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menghapusnya...”


Aku sedang duduk di depan kelas ketika seseorang memanggil namaku. Suara yang sudah tidak asing lagi bagiku. Aku menoleh secara teratur, sambil menahan senyum dengan malu-malu. Orang yang tadi memanggil namaku tersenyum kepadaku. Wajah teduh itu. Sayangnya, aku hanya menatapnya datar. Ingin aku membalas senyumnya. Namun, aku langsung teringat jika semua ini hanya kepalsuan. Aku sudah tahu semuanya, apa maksud dari senyum itu. Sejak saat itu, aku berjanji dengan hatiku, tidak akan pernah berharap kepadanya lagi.

***

“RE! REEEEENA!!” Orang di sampingku berteriak histeris, tidak tahu berapa kali dia memanggilku. Aku spontan menoleh dengan sebal. Seenaknya saja dia memutus lamunanku.

“Aduh! Jangan lihat ke gue! Awas itu di depan!!” Teriaknya lagi. Aku kembali menatap ke depan. Menginjak pedal rem sekuat mungkin. Orang di sampingku sudah menjerit, menutup kedua matanya. Aku juga kalap ketika aku berhasil membanting setir. Mobilku memang tidak kenapa-kenapa.. Tapi, tapi.. Aku langsung gemetar.

“Jantung gue copot!” komentar Gita, mengelus dada sambil mengatur nafas.

“Eh, lo mau kemana? Jangan bilang lo mau nolongin dia!” Gita melotot, menarik sebelah lenganku. Satu tanganku sudah membuka pintu.

“Gue takut dia kenapa-kenapa. Ini semua juga gara-gara gue.” Aku berusaha melepas cengkramannya.

“Bahaya Re. Ini tempat sepi. Lo nggak takut kalau ternyata orang itu penipu?” Gita mulai gelisah, mempererat lenganku.

“Terserah. Lo mau di sini apa ikut gue keluar,” kataku tegas. Gita melepas tanganku. Aku berlari keluar, ke arah sebuah pohon besar di ujung jalan. Kepulan asap mulai mengepul dari mesin mobil. Aku mengetuk kaca pintunya berkali-kali. Coba membuka pintu. Sial. Terkunci dari dalam.

“Udah, Re! Mending kita kabur aja. Gue taku..” Gita menyusul, menarik-narik lenganku.

“Kabur? Lo nggak lihat?!” Aku menunjuk kepulan asap yang menebal.

“Terus.. Terus.. Kita harus berbuat apa?” Gita ikut panik, berusaha membuka pintu.

“Percuma. Sekarang, lo ambil tongkat di bagasi.” Perintahku gusar. Gita menanggapi dengan cepat intruksiku.

Setelah tongkat sudah ada di tanganku, aku mundur selangkah. Tepat dalam satu hantaman, kaca itu retak. Dua hantaman, kaca itu sempurna berguguran menjadi kepingan kecil. Aku melempar tongkat sembarangan. Bergegas tanganku membuka pintu dari dalam, lewat pecahan kaca. Setelah pintu terbuka, aku beralih menatap Gita yang mematung melihat siapa sosok yang ada di dalam mobil.

“Jangan bengong. Bantu gue. Cepat!” teriakku yang kewalahan memapah orang itu keluar dari mobil. Gita tersadar, bergegas membantu. Tepat ketika baru dua langkah dari mobil itu, ledakan hebat terdengar. Aku dan Gita refleks terjatuh bersama orang itu. Aku menarik nafas berat, tidak terbayangkan bagaimana kalau terlambat satu detik saja.
Api mengungkung mobil sampai hangus tak berbentuk. Aku dan Gita bangkit, secepat mungkin melaju ke rumah sakit terdekat. Gita yang mengemudi. Aku duduk di belakang bersama orang itu. Kepalanya yang bersimbah darah kuletakkan di pahaku. Tidak peduli dress putih-ku penuh bercak merah.


Dalam diam, Gita sibuk dengan jalan di depan, sementara tanganku meraba pelipis orang itu yang sobek. Entah datangnya dari mana, air mata tiba-tiba menggelayut di sudut mataku. Aku mengusap rambutnya. Melihat dia yang samar terbatuk kecil. Aku langsung menyingkirkan tanganku dari kepalanya. Nafasku tersendat di dada. Air mataku terlanjur jatuh tanpa bisa kutahan. Dalam diam aku menangis. Dalam diam aku juga mulai mengenali siapa orang ini.

***

Sudah hampir satu jam aku dan Gita tiba di rumah sakit. Aku tidak banyak bicara, menyerahkan orang itu kepada dokter dan suster. Gita duduk di sampingku, membersihkan luka sisa pecahan kaca di tangan kananku dengan kapas.

“Kok dari tadi lo diam terus?” Gita memutus lamunanku, mulai membebatkan kain kasa.

“Nggak kenapa-kenapa,” jawabku pendek.

“Gue kayak pernah lihat orang itu sebelumnya. Tapi di mana ya?” ucap Gita, setelah selesai dengan urusan membebat. Aku berdiri, membelakangi Gita yang masih duduk.

“Siapa?” Gita ikut berdiri, menyentuh bahuku. Aku sedikit menoleh, lantas menunduk.

Aku hanya mampu menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan Gita. Untuk apa menyebut nama itu lagi. Bertahun-tahun aku habiskan percuma untuk mengubur nama itu. Tapi kini semua usahaku terasa sia-sia.

“Saudari Rena..” Suara dokter menyela, aku bergegas melangkah ke depan pintu.

“Pasien terus-menerus menyebut nama Anda.” Dokter itu berkata jelas. Tanpa menunggu perintah, aku masuk ke ruangan di mana orang itu tergeletak dengan selang-selang plastik di sekujur tubuh. Tidak sempat berhenti ketika Gita mencoba mencegahku.

“Re..na.. Re..na.” Suara yang samar terdengar dari balik alat bantu pernapasan. Tubuhku membeku seketika. Dia memanggil namaku berkali-kali? Dengan mata yang tertutup rapat dia menyebut namaku? Aku tak percaya ini. Tuhan, katakan padaku kalau semua ini tidak nyata.


Lima menit diam mematung di samping ranjangnya. Akhirnya aku terpatah-patah meraih tangannya yang diinfus. Setitik bening menetes di tangannya. Ruangan ini menjadi hampa. Otakku mulai memutar kenangan-kenangan masa lalu. Aku menutup mata, menghilangkan apa yang sedang ada dalam otakku sekarang. Gagal. Tidak ada yang bisa kuhilangkan. Semua sudah terlanjur kembali.

“Aku ada di sini,” kataku pelan sekali, tercekat. Hanya itu kalimat yang mampu keluar dari bibirku. Sisanya hanya diam, membiarkan suara mesin pengontrol detak jantung serta tetesan infus yang memenuhi ruangan.

***

Pagi-pagi sekali aku sudah duduk di balik meja kantor. Duduk diam, menyibak gorden jendela lebar-lebar. Berpangku tangan, memainkan bolpen di tangan. Membiarkan ponselku yang berdering berkali-kali. Juga membiarkan pintu ruanganku diketuk Gita berpuluh kali. Aku menyibak rambutku dengan jari-jariku. Sesak menjalari dadaku sejak semalam. Membuat waktuku berantakan dalam sekejap.

“Re.. Buka pintunya! Ada telepon dari pihak rumah sakit!” Gita berteriak keras, sudah putus asa mengetuk pintuku tanpa hasil. Aku tidak peduli seberapa keras suaranya, berita itu membuatku bertindak cepat. Spontan meraih ponsel di meja, memutar kunci sembarangan. Lantas menarik tangan Gita.

“Suster bilang apa?” tanyaku panik. Antara ingin mendengar jawaban Gita dan takut mendengar berita yang buruk.

“Dia udah sadar,” jawab Gita seadanya. Aku terdiam sekarang. Dia sadar? Apa aku kuat bertemu dengannya sekarang?

“Lo jadi aneh semenjak...” Ucap Gita ragu.

“Apanya yang aneh?” tanyaku tidak terima. Gita fokus mengemudi.

“Gue tahu dari mata lo, Re. Jadi.. Siapa dia?” tanyanya penuh selidik.

“.....”

“RE?”

“Emang penting ya?”

“Gue serius Re..”

“Lo nanti juga bakal tahu sendiri.” Aku memutus percakapan. Gita nampak kesal. Aku menghela nafas.

***

Koridor menuju ruangan tempat ia dirawat terasa lebih panjang. Semakin aku melangkah, maka keraguan semakin menggelayut di hatiku. Tidak. Aku harus tetap melangkah. Aku ingin melihat kondisinya sekarang.


Ruangan itu berada di sudut, aku sudah dekat, dan bisa melihat siapa yang sedang berdiri di depan pintu. Langkah kuperlambat, Gita yang berjalan cepat menyadari aku yang tertinggal di belakang.

“Ayo, Re. Kenapa malah berhenti di sini.” Gita menghampiri, menarik lenganku. Aku diam menurut.

Terlihat wanita anggun berdiri di depan kamar Zam.

“Eh, temannya Zam ya?” Wanita itu menoleh, urung membuka pintu.

“ZAM?!” Gita berkerut dahi.

“I..ya mbak,” jawabku, sebelum Gita bertanya macam-macam.

“Prita..” Wanita itu mengulurkan tangan.

“Rena.” Aku menjabat tangannya. Gita melamun, baru setelah aku menepuk pundaknya, ia menyebut nama.

“Ayo masuk..” Prita mempersilahkan, tersenyum anggun. Gita yang melangkah terlebih dahulu. Aku yang terakhir menutup pintu. Butuh beberapa detik untuk membalikkan badan. Dan.. Ya, aku melihat dia yang sedang berusaha duduk, dengan bantuan Prita. Tapi, tunggu.. Siapa Prita? Hubungan mereka apa?

Prita memeluk Zam begitu melihat Zam membuka matanya. Aku yang berada di belakang Gita hanya menunduk, seperti belum siap bertemu dengan Zam sekarang. Sebenarnya apa yang harus aku takutkan? Tidak ada. Kenapa aku tidak bisa mengendalikan kecemasanku? Aku melamun, dan Gita dengan sengaja menyikut perutku. Aku mengaduh.

“Re..na?” Suara itu mengarah kepadaku. Mampus! Aku menggigit bibir bawahku. Setelah kupikir lagi, lebih baik aku tadi tidak usah memaksa datang kemari.

“Ng.. Iya? Eh, gimana keadaan kamu? Sudah baikan?” Aku menggeser tubuhku ke samping, sejajar dengan Gita. Ya, setidaknya hanya kalimat itu yang mampu keluar.

“Makasih ya,” katanya tersenyum kepadaku.

“Buat apa?” tanyaku tidak mengerti. Aku melirik Gita yang memutar bola matanya. Mungkin ia mulai sebal dengan tingkahku yang aneh.

“Buat malam itu. Meski aku tidak sepenuhnya sadar. Aku melihat kamu berjuang untuk menyelamatkanku. Aku tidak tahu jika terlambat sedetik saja, mungkin aku sudah hangus ikut terbakar.” Zam menceritakan dengan detail. Dia ingat apa yang terjadi malam itu? Apa dia juga melihat aku yang hendak menyentuh wajahnya? Kuharap dia lupa dengan bagian itu.

“Aku yang seharusnya minta maaf. Aku yang—” Kalimatku terpotong begitu Gita sengaja menginjak kakiku. Aku melotot kepada Gita, tidak mau kalah, Gita juga malah mempelototiku. Aku tahu maksudnya mengapa tiba-tiba ia menginjak kakiku. Tapi aku harus tetap mengatakannya. Prita yang sejak tadi memilih diam, sekarang berdehem. Aku menyudahi aksi mata dengan Gita. Zam menunggu aku melanjutkan kalimatku.

“Aku tahu mungkin malam itu kamu nggak konsen nyetir.” Zam mendahului, tersenyum. Aku dan Gita terkesiap. Prita juga ikut membulatkan matanya.

“Maaf...” Ucapku sangat menyesal.

“Iya, aku maafin,” kata Zam singkat. Sepertinya aroma keberatan tercium dari Prita.

“Hloh? Nggak bisa gitu aja dong, Sayang! Dia yang bikin kamu celaka. Nggak mudah dibayar hanya dengan kata maaf!” Prita meledak sudah, galak sekali menatapku. Sampai-sampai membuat Gita tak berkutik. Wanita ini diam-diam menghanyutkan!

Tunggu.. Prita memanggil Zam dengan sebutan Sayang?

“Tenang, Sayang, lagian aku juga nggak apa-apa.” Zam menenangkan wanita di sampingnya itu. Sayang? Aku sesak mendengar sebutan itu. Apa yang harus aku cemburukan? Tidak ada.

“Dan kalian berdua, jangan pernah datang kemari lagi! Sudah cukup Zam seperti ini. Apa kalian belum puas?” Sepertinya usaha Zam sia-sia. Kali ini Prita dengan intonasi tinggi mengusirku dan Gita, menunjuk pintu dengan telunjuknya.

“Biasa aja ya! Emang lo pikir kita apa? Masih mending kita mau tanggung jawab!” Gita menanggapi dengan geram. Ternyata sejak tadi Gita diam bukan karena takut dengan Prita. Tetapi rupanya sedang mengumpulkan tenaganya. Jika tidak cepat kupegang tangan Gita, mungkin mereka berdua sudah saling menjambak rambut. Atau saling mencakar? Ya, mungkin dua-duanya.

“Aku pamit ya, Zam. Semoga cepat sembuh,” kataku berpamitan, Zam mengangguk pelan. Gita menjulurkan lidahnya, sengaja mengejek Prita.


***


“Cewek sinting!” umpat Gita di dalam mobil. Emosinya belum mereda.

“Ngapain sih lo ambil hati. Dia berhak marah, secara dia kan pacarnya Zam.” Ucapku, berat rasanya menyebut kata ‘pacarnya’.

“Kenapa? Jangan bilang lo cemburu!” Gita menudingku, pintar sekali membaca gelagatku.

“Udahlah, yang penting Zam nggak marah dan nuntut kita.” Aku mengalihkan pembicaraan. Untung Gita tidak tertarik membahasnya lagi.

“Eh...”

“Apa lagi?” tanyaku sebal. Kali ini apa yang akan terlontar dari mulut cerewetnya?

“Zam itu siapa sih, Re? Aku yakin banget, aku pernah lihat. Tapi di mana ya?” Gita menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Aku mendengus kesal. Kenapa malah pertanyaan ini yang keluar?

“Zam itu kakak kelas kita dulu. Ingat nggak?” tanyaku menoleh kepadanya. Ia sedang mengingat-ingat. Tidak kusangka jika daya ingatnya sudah turun.

“Astaga!! Jadi dia orangnya? Aduh, jodoh kali sama lo, Re!” Gita terkekeh. Apa yang lucu? Aku dengan sengaja menginjak pedal rem. Gita hampir mencium dashboard.

“Lo jangan ngawur deh, Git. Lo bilang jodoh? Bullshit!” Sergahku cepat. Tidak semudah itu, ini terlalu rumit.


***


Beberapa hari aku tidak menjenguk Zam, meski aku sangat mengkhawatirkannya. Aku hanya sekadar ingin tahu kondisinya, tapi Gita berhasil mencegahku. Lagipula ada Prita yang menjaga Zam. Lantas kenapa aku malah gelisah? Bukankah keberadaanku di sana hanya akan mengganggu saja?


Aku tidak pernah mengira jika orang di masa laluku datang kembali. Tanpa permisi. Semesta seperti berkonspirasi mengatur kecelakaan malam itu. Hingga akhirnya aku bertemu Zam. Cinta yang tidak pernah bisa kumiliki sejak dulu hingga sekarang. Tidak ada yang salah dengan takdir. Hanya saja, menyakitkan ketika aku harus menghadapi apa yang seharusnya hilang dari hidupku.


Seperti pagi ini. Aku melajukan mobilku menuju kantor tempatku bekerja. Ada yang berbeda pagi ini. Aku membanting setir, berbelok ke kanan. Tidak, aku tidak lupa jalan ke kantorku. Tapi entah mengapa mendadak aku mengambil keputusan untuk menuju rumah sakit. Sekuat mungkin aku menahan diri. Maka semakin yakin aku ingin melihat keadaan Zam. Aku membuang napas, untung Gita tidak berangkat bersamaku.


Dari jarak lima meter aku memandangnya diam-diam. Zam sedang duduk di teras belakang yang menghadap ke taman. Ia duduk di kursi roda, diam, dan terlihat sendirian. Apa Prita baru saja pulang atau memang belum datang?


Dari tempatku berdiri, aku bisa melihat separuh wajahnya yang datar menatap riak kecil di kolam dekat taman. Tidak ada yang pernah berubah. Lesung pipitnya yang menawan, sorot matanya yang teduh. Semua detail yang tidak pernah aku lupakan. Tuhan, andai aku boleh meminta. Kembalikan mata teduh dan lesung pipit itu ke sisiku. Jangan biarkan waktu memisahkan lagi—


“Rena?”


Wajah itu menoleh secara tiba-tiba. Aku yang salah tingkah karena ketahuan mengintip tidak sengaja menjatuhkan stopmap dari tanganku. Aku menepuk jidat. Antara malu dan grogi berbaur menjadi satu. Sementara Zam mendekat, aku masih kerepotan memunguti kertas-kertasku yang berantakan.

“Rena?” ulang Zam, aku sedikit mendongak.

“Eh, bagaimana keadaanmu?” tanyaku begitu aku selesai merapikan kertasku.

“Udah agak mendingan, Re.” Zam tersenyum, memperlihatkan lengkungan di pipinya. Ia mengajakku untuk mengitari taman. Aku tentu tidak menolak. Urusan terlambat masuk kantor itu masalah belakangan.

“Syukur kalau gitu. Oh ya, kok aku nggak lihat Prita ya?” tanyaku saat aku mendorong kursi roda Zam pelan.

“Dia baru pulang tadi pagi. Aku yang maksa. Setelah urusan di rumah selesai, dia pasti ke sini.” Zam tampak berbinar. Ada kejanggalan yang aku rasakan. Tapi aku langsung menepisnya.

“Sekarang kerja di mana?” Melihat aku yang terdiam, Zam langsung mengalihkan pembicaraan. Aku menghentikan gerakan tanganku. Zam sedikit menoleh ke belakang.

“Kerja di perusahaan periklanan,” jawabku singkat. Zam tersenyum. Aku tidak tahu ia tersenyum untuk apa.

“Kamu tahu, Re? Aku merasa sangat bersalah. Seharusnya waktu itu aku tidak mempermainkanmu. Dan sekarang aku menyesal. Kamu mau kan memaafkanku?” Zam berujar dengan nada bergetar, namun tidak ada keraguan di sana. Ucapan perminta-maafan itu terdengar tulus.

“Aku sudah melupakan semuanya, Zam. Tidak ada yang salah. Juga bukan salah takdir. Barangkali memang begitu cara kita bertemu. Tetapi, sungguh, kamu tidak perlu meminta maaf.” Aku berhenti mendorong kursi rodanya. Terasa menyakitkan saat aku mendengar kalimat itu keluar dari mulutku sendiri. Apa yang sudah aku katakan? Membohongi hatiku? Mengelabui perasaanku sendiri?

“Kamu baik, Re. Itu yang membuatku menyesali perbuatanku dulu. Tak seharusnya aku—” Zam tidak meneruskan kalimatnya begitu aku berjongkok di sampingnya dan menyentuh tangannya.

“Berhentilah meminta maaf,” kataku. Zam mengangguk patuh. Lengang untuk beberapa saat kemudian.


Zam tersenyum, aku belum berdiri dari posisi jongkokku. Aku lantas menoleh ke arah di mana senyuman Zam mendarat. Sudah bisa ditebak siapa yang datang. Aku bergegas berdiri, mengambil jarak dari Zam. Ini jauh lebih baik daripada ada kesalahpahaman. Kulihat langkah Prita semakin lebar, dan begitu sampai ia langsung mencium kedua pipi Zam. Apa kalian tahu apa yang sedang terjadi di relung hatiku?

Prita sepertinya pura-pura tidak melihat kehadiranku. Ia langsung mengajak Zam untuk kembali ke ruangannya. Dan aku dibiarkan berdiri di sini sendirian. Zam sempat menoleh ke belakang dua kali, tetapi Prita berhasil mengalihkan perhatian Zam. Kuusap kening yang berkeringat. Tidak ada yang lebih baik selain meninggalkan tempat ini dan segera pergi ke kantor. Aku rasa sekarang Gita sudah gemas menunggu di ruanganku.


***


“Beli apa sih? Buruan kenapa! Mau hujan, Re!” Gita sempat mengomel saat aku menghentikan mobilku di pelataran kedai buah. Aku juga sebal, kenapa ia tadi harus pulang bersamaku!

“Lima menit, Git. Lo juga nggak bakal kehujanan kalau lo diam dan duduk manis di dalam mobil.” Aku mendorong pintu mobil, menyisakan Gita yang bersungut-sungut ria.

“Buat apa beli parcel buah?” tanyanya spontan setelah enam menit aku keluar dari kedai itu. Aku tidak menjawab.

“Jangan bilang kita ke rumah sakit sekarang! Buat apa? Zam kan udah sembuh. Gue sih nggak mau ya. Nenek lampir itu pasti ada di sana!” Gita bergidik. Aku hanya menyeringai, tidak ada yang perlu aku jawab.

***

Rumah sakit, hujan deras turun membalut sore yang kelabu...


Gita mengekor di belakangku. Ia mencoba mengimbangi langkahku yang tergesa melewati koridor. Bahkan dengan konyolnya Gita melepas high heelsnya. Aku terus berjalan tanpa mempedulikan Gita.


Pintu berderit pelan ketika aku membukanya. Zam terbaring di ranjangnya. Sendiri. Tidak ada Prita di sini. Mungkin dia belum datang. Aku melangkah masuk.

“Eh, maaf membangunkanmu..” Aku menggigit bibir melihat Zam yang membuka mata.

“Rena? Sendirian?” Zam menyelidik. Aku mengangkat bahu, “tadi bareng Gita.”


Aku duduk di kursi samping ranjangnya. Kami sempat terlibat percakapan ringan. Mulai dari membahas masa SMA dulu sampai kepindahan Zam. Aku baru tahu jika Zam ikut pindah kedua orangtuanya. Namun tiga tahun yang lalu Zam memutuskan kembali ke kota ini.
“Memulai lembaran hidup yang baru.” Itu jawaban yang terlontar dari mulutnya begitu aku tanya alasan ia kembali ke kota ini. Aku hanya manggut-manggut.

“Zam, aku bawa Aliya—” Prita menghambur masuk dan langsung tercekat melihat aku duduk di samping Zam. Aku menoleh, melihat Prita yang membulatkan mata. Ekspresi keberatan tergambar jelas di raut wajahnya. Aku yang sadar akan tatapan itu langsung bangkit dari dudukku.

“Selama ini aku membiarkan kamu datang ke sini. Bukan berarti kamu juga bebas mengambil tempatku.” Prita berkata dengan mata memerah. Aku merasa bersalah. Prita benar. Tidak seharusnya aku di sini. Aku menunduk. Ada yang luput dari mataku. Dan aku baru menyadari setelah aku menundukkan kepala. Anak kecil yang manis. Mengenakan rok putih selutut. Rambutnya yang ikal dikuncir kuda. Ia menatap tidak mengerti. Sesekali menggenggam tangan Prita lebih kencang. Giliran aku yang terhenyak saat melihat pipi anak manis itu. Pipi yang berlesung pipit, sama seperti milik Zam.

“Maaf. Aku tidak pernah bermaksud untuk mengacaukan kehidupan kalian,” ucapku dengan gemetar. Mataku terasa hangat. Kumohon, jangan menetes di sini!


Gita muncul di depan pintu dengan menenteng high heelsnya di tangan. Ia menatapku dan Prita dengan curiga. Juga tidak luput menatap anak kecil yang digandeng Prita. Gita kali ini membisu. Benar-benar tidak mengerti apa yang harus keluar dari mulutnya. Prita masih menatapku. Aku mengalihkan mataku kepada Zam. Tidak ada sepatah kata yang keluar dari mulut Zam.

“Ma, aku pengen peluk Papa!” Gadis kecil yang baru berumur dua tahun itu merajuk dengan kalimat yang berlepotan. Prita mengangkat gadis itu, tangan Zam yang menerimanya. Terlanjur sudah. Air mata tanpa bisa kutahan meluncur begitu saja. Gita menarik tanganku sebelum situasi bertambah menyakitkan.


Dalam genggaman tangan Gita, aku sempat menoleh ke ruangan itu. Aku sepenuhnya sadar atas apa yang aku lihat dan dengar tadi. Tidak ada yang bisa mengubahnya menjadi mimpi.


***


Aku berjalan lunglai memasuki rumahku dengan mata yang sembab. Gita ikut masuk, barangkali ia cemas aku akan nekad melakukan apa saja.

“Rena—” sergahnya. Aku menoleh dan mendapati cermin besar yang merefleksikan diriku.

“Gue tahu, gue tahu gimana rasanya. Sesakit apa hati lo sekarang, gue ngerti...” Gita memecah kesunyian dengan suara lembutnya. Aku masih menatap cermin, sedikit pun tidak menoleh.


Tanganku meraih guci kaca di atas meja dengan sembarangan. Gita tergesa mencegah, namun kalah cepat dengan tanganku. Aku melemparnya dalam satu tarikan napas. Gita berteriak karena terkejut. Cermin besar itu remuk sudah. Serpihan cermin besar tadi bergemerincing menghujam lantai lantas terberai menjadi serpihan kecil. Kedua kakiku lemas, bahuku naik turun. Akhirnya aku jatuh terduduk di lantai. Aku menangis kencang, meremas rambut panjangku. Gita lantas mendekat dengan hati-hati. Ia merangkulku.

“Jangan seperti ini, Re. Hidup kalian memang sudah berbeda. Zam bahagia dengan keluarga kecilnya.” Gita berbisik di telingaku. Ya, aku tahu di mana letak kesalahanku. Karena sejatinya apa yang terlihat oleh kedua mataku tidak sama dengan apa yang menjadi rahasia di balik harapan-harapanku. Memori itu terputar dalam otakku. Malam ketika aku menyebabkan kecelakaan Zam. Ketika aku hendak menyentuh wajahnya. Saat aku melihat senyum di lesung pipitnya. Pancaran mata teduhnya—Menyakitkan! Aku terkulai lemah, jatuh di pangkuan Gita.


Aku memasuki lorong yang sepi. Sejauh mata memandang hanya putih pekat yang bisa tertangkap oleh mataku.

Di mana aku?

Apa aku sudah mati?

Aku berdiri dengan berpegangan pada dinding. Tidak ada siapa pun di sini. Kosong. Seperti ruang hampa. Aku mencoba berteriak. Memanggil nama siapa saja yang aku kenal—termasuk Zam.

‘Rena?’

Aku mencari sumber suara berasal. Yang ternyata dari belakangku. Aku berbalik dan mendapati Zam berdiri di ujung. Ia tersenyum mengulurkan tangannya. Perlahan aku mendatanginya. Saat aku ingin menyambut uluran tangannya. Ia menghilang begitu saja. Jemariku menyentuh udara yang kosong. Aku mulai menangis dan kembali terjatuh ke lantai yang terasa dingin menusuk tulang. Kenapa Tuhan? Kenapa? Mengapa Engkau mendatangkannya kembali ke dalam hidupku hanya untuk membuatku mengerti kalau aku dan Zam tidak ditakdirkan untuk bersama?




“...ketika aku memutuskan untuk berhenti dan melupakan, aku dihadapkan pada dua pilihan; mengenangnya atau menghapusnya? Aku tidak tahu harus memilih yang mana, waktu hanya memberiku waktu yang singkat untuk memilih. Jika aku mengenangnya, aku akan tetap hidup di antara bayangnya. Dan bila aku menghapusnya, maka aku seyogyanya akan membiarkan waktu melenyapkannya. Aku tidak ingin kehilangannya, waktu yang aku rangkai bersamanya tidak sebentar. Sang waktu, bila engkau ingin membawanya pergi dari hidupku, maka beri aku waktu sebentar saja untuk merasakan kehadirannya yang nyata untuk terakhir kali. Walau hanya sedetik waktu—”





TAMAT

Rabu, 09 Januari 2013

“Pelangi Bersamamu”



Kalian pasti pernah ditanya orang-orang terdekat atau teman kalian seperti ini: kamu suka warna apa? Maka kalian akan menyebut satu-dua atau bahkan tiga warna yang menjadi favorit kalian. Sampai semua barang-barang kalian berwarna sesuai dengan warna kegemaran. Namun berbeda jika pertanyaan itu diajukan kepadaku. Aku tidak tahu warna apa yang aku suka. Bagiku semua warna itu indah. Semua warna memiliki korelasi antara satu dengan yang lain. Seperti halnya pelangi. Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu. Aku suka dengan warna pelangi. Dan aku suka sekali dengan rainbow cake.


“Bunda.. Kita jadi kan ke bukit? Ayo buruan, nanti keburu hilang.” Mita kecil sedang menarik-narik tangan ibunya. Ada yang menarik perhatian Mita dari atas bukit itu. Hujan baru saja reda. Sepanjang jalan setapak menuju bukit itu licin dan becek. Mita kecil sudah terbiasa naik ke atas bukit setelah hujan. Jadi dia sudah tidak takut lagi jatuh terpeleset. Sesuatu yang ingin diraih pasti butuh perjuangan. Mita yang baru tujuh tahun paham sekali soal itu. Ibunya dengan senang hati mengantar Mita ke bukit sehabis turun hujan. Senyum dan tawa kecil di bibir Mita adalah segalanya.

***

“Kenapa? Masih mau kabur lagi? Terus ngambek sama Bunda lagi? Oh, kamu mau manjat pagar lagi malam-malam?” Bunda sengaja menyindir. Mita yang tengah minum susu langsung terbatuk. Terakhir, ia memang kabur dengan memanjat pagar. Mita tidak menyangka jika ibunya tahu itu.

“Nggak sih.. Tapi, kenapa kita harus pindah sih, Bun?” Mita menusuk-nusuk roti tawar di piring dengan pisau. Mita setahun terakhir—semenjak pindah rumah ke kota ini—selalu bertindak aneh-aneh. Mulai dari acara kabur sampai mengancam berhenti kuliah. Ada-ada saja alasan untuk membuat ibunya kembali ke rumah yang lama. Rumah yang dekat bukit itu. Tetapi setahun ini pula ia gagal membujuk ibunya. Dan Mita sebal sekali, ia sudah kehabisan akal.

“Kan nanti kalau liburan kamu bisa ke sana, Mit. Tentu saja Bunda tidak akan melarangmu..” Bunda tersenyum melihat mulut Mita yang penuh dengan roti tawar.

***

Beberapa tahun silam...


Mita kecil yang sudah beranjak dewasa. Wajahnya yang dulu menggemaskan, kini berubah banyak. Mulai ada jerawat di wajahnya. Ia cantik dengan rambut pendeknya. Ia juga terlihat cantik dengan baju maskulin-nya.


Libur semester akhirnya tiba. Ini yang sudah lama ditunggu-tunggu Mita. Libur itu bertepatan dengan musim penghujan. Ini akan menjadi hari-hari yang menyenangkan untuk Mita. Tentu ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan begitu saja. Malah ia dengan konyolnya ingin berkemah di bukit itu. Tetapi Bunda melarang keras.


“Pelanginya tidak usah kamu jaga. Dia tidak akan pergi, dia masih di sana, dan pasti akan kembali setelah hujan reda. Pelangi tidak akan mengingkarinya.” Itu kata Bunda, Mita hanya manggut-manggut.


“Kamu yakin ke sana sendirian?” tanya Bunda cemas.

“Berdua kok, Bun.” Mita terkekeh, Bunda membulatkan mata.

“Emang bayangan tubuh Mita nggak boleh ikut?” sahut Mita melihat ekspresi keberatan dari ibunya.

“Nanti pulangnya jangan malam-malam,” pesan Bunda. Hari memang sudah sore. Mita masih saja ngotot pergi ke bukit. Melihat pelangi.


Mita sudah sampai di bukit setelah lima belas menit berjalan kaki dari rumahnya. Jalan menuju bukit memang terlihat licin dan becek. Ini urusan yang mudah untuknya. Ia sudah terbiasa sejak kecil. Bukit ini tidak terlalu tinggi. Letaknya dekat dengan sawah. Jadi kalau sore begini banyak burung yang terbang melintasi bukit, pulang ke sarangnya.


Semua di luar dugaan Mita. Ia yang sudah terbiasa melewati jalan setapak itu. Ia yang dari dulu tidak pernah jatuh atau terpeleset. Kini ia merasakan sakitnya terjatuh sekaligus terpeleset. Tubuh Mita tersangkut di semak. Sekujur tubuhnya memar. Pelipisnya sedikit sobek. Dan kakinya? Mita mengaduh saat mencoba menggerakkan kakinya. Rencananya sore ini berantakan sudah. Ia tidak bisa bangkit, tubuhnya melemah. Senja berganti dengan malam. Mita tahu, mungkin hanya keajaiban ada orang di bukit ini. Karena jarang sekali orang menyambangi bukit ini. Jadi ia harus meminta bantuan kepada siapa? Apa harus menunggu sampai pagi? Mita menelan ludah. Maafkan Mita, Bunda.

Tidak. Mita salah besar. Apa yang ia pikirkan tidak terbukti. Sore itu ada orang di sana, yang baru turun dari bukit. Mita samar-samar mendengar derap langkahnya. Dan tangan itu menyentuh pipinya. Mita tidak sempat melihat wajah orang itu. Ia jatuh pingsan kemudian.


Mita membuka matanya, satu kerjapan, dua kerjapan. Ia ada di mana? Kamar siapa ini? Mita berusaha bangun, namun tubuhnya terasa sakit saat digerakan. Orang itu datang dan membantu Mita bangun.

“Aku di mana?” tanya Mita bingung. Ia tidak kenal dengan kamar ini. Apalagi dengan laki-laki di hadapannya ini. Terlihat asing.

“Di villa-ku. Tadi aku menemukanmu di semak. Sepertinya kamu terpeleset, dan kakimu keseleo.” Ungkap orang itu. Ia menuangkan air putih ke gelas, lalu menyodorkan ke Mita.

“Aku ingin pulang sekarang. Bunda pasti khawatir..” Mita menyingkirkan gelas itu dari hadapannya. Mita kalap begitu teringat ibunya.

“Tapi kamu belum pulih. Ini juga sudah larut malam,” ucap orang itu mengingatkan.

“Tapi aku harus pulang. Aku bisa sendiri.” Mita tetap bersikeras berdiri, memaksa kakinya untuk melangkah. Tentu ia tahu resikonya apa. Terjatuh.

“Hati-hati.” Orang itu sigap menangkap tubuh Mita. Suaranya terdengar lembut.

“Tunggu sampai besok pagi. Dan aku akan mengantarmu pulang,” tegas orang itu. Mita mau tidak mau menurut. Orang itu tersenyum, lantas meninggalkan kamar itu.



Matahari tidak muncul pagi ini. Diganti dengan gerimis. Mita sudah terjaga sejak tengah malam. Ia tidak bisa tidur dengan tenang. Ia memikirkan ibunya yang pasti cemas menunggunya di rumah.

“Sarapan dulu,” orang itu datang membawa segelas susu dan roti tawar. Mita hanya meminum susu saja, tidak berselera makan.

“Terimakasih. Kalau nggak ada kamu mungkin aku udah mati di sana.” Mita tersenyum tipis.

“Takdir yang mempertemukan kita.” Orang itu mengangkat bahu. Mita menautkan alis. Takdir? Kita?

“Ng.. Kamu jadi pulang sekarang?” Orang itu sengaja mengalihkan pembicaraan. Mita mengangguk. Orang itu memapah Mita menuju mobilnya. Gerimis membuat pagi semakin berembun. Jalanan terlihat basah. Sawah-sawah terlihat berlinang. Dan bukit itu berkabut.


***


“Oke. Lima menit sudah!” Ikmal menunjuk arlojinya.

“Eh.. Apanya yang lima menit?” tanya Wahyu yang tiba-tiba tersadar.

“Lima menit gue jadi patung di sini. Nunggu lo selesai ngelamun! Puas?” pekik Ikmal menuding hidung Wahyu dengan telunjuknya.

“Santai.. Tarik napas..” Wahyu menyingkirkan telunjuk Ikmal. Ikmal kembali duduk.

“Lo sebenarnya kenapa sih?” tanya Ikmal seraya menumpangkan kedua kakinya di kursi yang kosong. Cafe itu sedang ramai. Banyak mahasiswi berlalu-lalang. Ikmal bersiul menggoda mereka. Wahyu melempar Ikmal dengan sedotan.

“Gue jatuh cinta, Mal.”

“Hah? Apa? Bilang kalau gue nggak mimpi! Please, tampar gue!” Ikmal langsung heboh mendengarnya. Wahyu menampar pipi Ikmal sesaat kemudian.

“Sakit, bego!” teriak Ikmal.


***

“Mit, ayo kita pulang. Udah mau hujan ini!” Dara merajuk. Ia takut melihat awan di atasnya. Hitam pekat.

“Ngapain pulang? Ini kan masih siang!” ucap Mita yang masih fokus dengan kamera di tangannya. Pemandangan dari atas bukit selalu indah. Tidak pernah berubah sedikit pun.

“Tahu gitu gue tadi ke kebun teh aja! Nggak di bukit yang banyak nyamuk gini!” Dara kesal sekali. Sedari tadi yang ia lakukan hanya menepuk nyamuk yang hinggap di tangannya.

“Kan nggak ada yang maksa lo ikut. Salah sendiri kenapa belum mandi.” Mita menoleh, menyeringai meledek. Dara memberengut.

“Ya udah. Ayo kita pulang.” Mita akhirnya mengalah. Padahal sebentar lagi hujan, dan pelangi akan melingkar di bukit ini. Tapi ya sudahlah. Lain kali ia tidak akan mengajak Dara lagi.

“Jalannya pelan aja!” teriak Mita yang tertinggal di belakang. Gerimis yang turun membuat jalan semakin licin.

“Keburu hujan, Mita!” pekik Dara tanpa mengindahkan perkataan Mita.

“Arrrgh!!”

“Dara!” Mita langsung panik mendengar jeritan itu. Ia berjalan lebih cepat, berpegangan pada rumput yang tumbuh menjulang.


Mita menghentikan langkahnya mendadak. Lega melihat Dara tidak terperosok. Mita yang tadi menatap Dara, sekarang mengalihkan pandangannya tepat ke orang yang menangkap tubuh Dara. Mita melihat Dara dan orang itu saling bertatapan.
Mita mendehem. Orang itu melepas tangannya yang melingkar di pinggang Dara.

“Thanks ya. Dara memang ceroboh,” ucap Mita pada orang itu. Dara sedari tadi hanya bengong, tak henti menatap sosok laki-laki di depannya. Mita mendehem lagi, kali ini lebih keras.

“Eh iya, thanks ya. Gue belum terbiasa ke sini sih,” kata Dara sok imut dan manis. Mita memutar bola matanya dengan sebal.

“Kita duluan ya,” Mita tersenyum, berpamitan kepada orang itu. Dara sudah melangkah lebih dulu.

“Senang bisa ketemu kamu lagi.” Orang itu meraih tangan Mita. Mita langsung menoleh ke belakang. Tatapan matanya? Mita sepertinya kenal. Tapi siapa? Mita memiringkan kepalanya, menyipitkan mata.

“Kamu dulu juga ceroboh seperti dia.” Orang itu menyunggingkan bibir. Mita ingat sekarang!

Gerimis menjadi saksi pertemuan mereka yang kedua kalinya.

***

Wahyu menghabiskan libur semester di villa keluarganya di Bogor. Ikmal juga memaksa ikut. Liburan ini akan menyenangkan bagi Wahyu. Apalagi bertepatan dengan musim penghujan. Bukit itu alasan utama mengapa ia memilih untuk berlibur di kota ini.

“Tadi gue ketemu bidadari,” celetuk Wahyu saat mereka berdua sedang duduk di teras, menikmati malam yang sedikit gerimis. Ikmal yang sedang menyeruput kopinya terkejut. Kopi itu muncrat dari mulutnya. Dan mengenai baju Wahyu.

“Ish! Jorok lo!!” teriak Wahyu ketika mendapati bajunya terkena semburan kopi.

“Maaf, maaf nggak sengaja. Ketemu bidadari di mana?” Ikmal tergesa bertanya. Nyaris menumpahkan kopi yang akan ia letakkan kembali di meja.

“Di bukit tadi sore,” jawabnya singkat.

“Berapa?” desak Ikmal.

“Dua sih. Eh, satu kayaknya.” Wahyu menatap langit-langit, meralat perkataannya.

“Jadi ada satu atau dua?” Ikmal mendesak lagi.

“Satu!” Wahyu mengangkat telapak tangannya.

“Itu dua!” Ikmal memprotes Wahyu yang mengacungkan dua jarinya.

“Okelah, whatever! Mau tiga, empat, lima, sepuluh…” Ikmal mengoceh sendiri. Wahyu tidak mendengarkan. Ia sedang membayangkan wajah bidadarinya yang cantik. Yang tadi tidak sengaja bertemu di bukit. Dara? Bukan, bukan. Tapi yang satunya lagi. Ah! Wahyu lupa tidak bertanya siapa namanya.


***

“Kenapa senyam-senyum? Dih, kesambet ya lo?” ucap Mita menempelkan punggung tangannya di kening Dara, “Nggak panas kok!”

“Yang tadi cakep banget ya, Mit.” Dara nyengir. Mita beralih duduk di kursi.

“Siapa?” tanya Mita, tangannya meraih toples berisi kacang.

“Ih, yang tadi ketemu di bukit. Cowok yang nolong gue.” Dara gemas hampir mencekik Mita.

“Biasa aja tuh!” Mita bersungut-sungut, menyumpalkan kacang ke mulutnya sampai penuh. Dara masih cengar-cengir. Ada rasa takut yang menghantui Mita. Ia tidak tahu bagaimana jadinya jika Dara benar-benar jatuh hati pada orang itu. Memang bukan sekarang, tapi cepat atau lambat semua pasti akan terjadi.

“Mit, besok gue ikut ke bukit lagi ya! Gue janji deh besok nggak akan rewel lagi,” desak Dara sambil meringis, juga menarik-narik lengan Mita.

“Oke, oke, oke! Lepas nggak?” Mita risih menyingkirkan tangan Dara.

***

“Eits.. Mau kemana?” Ikmal menghadang di dekat pagar. Meletakkan satu tangannya di teralis besi.

“Cari angin,” jawab Wahyu.

“Ikut ya? Siapa tahu ketemu bidadari.” Ikmal meringis, membiarkan Wahyu berlalu. Ia lantas mengekor di belakang.

“Kita kemana?” tanya Ikmal. Ia menatap sekitar. Sawah? Kenapa tidak ke kebun teh saja?

“Naik ke bukit. Jadi ikut?” tawar Wahyu, berharap Ikmal berubah pikiran dan memilih pulang.

“Ya jelas ikut dong! Bukit itu kan? Kecil…” Ikmal berseru, menyepelekan. Wahyu hanya menyeringai.

“Eh, awas!” teriak Wahyu ketika melihat Ikmal yang berjalan mundur, tepat di belakangnya ada gadis itu. Sedetik kemudian, Ikmal menabrak tubuh di belakangnya. Wahyu bergerak cepat, menarik lengan gadis itu yang hendak terjatuh. Keadaan tanah yang miring membuat Wahyu kesulitan menjaga keseimbangan. Mau tak mau Wahyu juga ikut jatuh terperosok ke bawah. Jatuh berguling bersama gadis itu. Wahyu baru menyadari siapa gadis itu setelah mereka bertatapan.

“Kamu?” ujar gadis itu. Wahyu hanya mengerutkan dahi. Tidak menyangka akan bertemu dengan gadis ini lagi.

“Mit, kamu nggak apa-apa kan?” Dara hati-hati mendekat, membantu Mita bangun. Ikmal yang menyusul di belakang hendak membantu Wahyu bangkit. Namun Wahyu menepis tangan Ikmal.

“Heh, kalau jalan mata di depan! Cuma orang sinting jalan mundur!” Dara berteriak kesetanan, menuding Ikmal galak. Seolah ia lupa ada Wahyu di sampingnya.

“Iya, maaf nggak sengaja.” Ikmal gemetaran.

“Nggak cukup kata maaf doang!” Dara masih berteriak, tidak terima.

“Oh, jadi lo mau lapor polisi?” tantang Ikmal berkacak pinggang.

“Iya! Kenapa? Lo takut? Terus mau sembunyi di bawah ketek emak lo?” Dara yang tertantang semakin menyerocos. Pertengkaran di antara mereka terdengar samar di udara ketika dua pasang mata itu sejak tadi saling tatap. Teriakkan Dara seperti mengambang di udara, dan hilang terbawa angin. Mita tergugu menatap Wahyu. Tidak ada yang mengingkari tatapan di antara mereka. Dan pertemuan mereka pagi ini juga tidak ada yang memungkiri. Semua terjadi seperti memang sudah seharusnya terjadi.

“Maaf,” suara pelan itu keluar dari mulut Mita. Kalimat itu untuk Wahyu, bukannya malah… Ikmal dan Dara menoleh, melupakan pertengkaran mereka.

"Eh, dia yang salah! Kenapa minta maaf sih, Mit?” tandas Dara menunjuk Ikmal.

“Mau mampir ke villa-ku?” tawar Wahyu memutus pertengkaran.

“Boleh!” Dara menyambut tawaran itu dengan sukacita.

“Ng.. Sepertinya lain waktu aja.” Mita menyanggah.

“Sekarang aja boleh kan?” Dara mengerlingkan mata. Wahyu mengangguk.

“Nggak!” bentak Mita seraya memelototi Dara.

“Ehm.. Maksudku—” Mita memperbaiki kalimatnya.

“Nggak ada salahnya kan kalau sekarang aja? Dekat kok dari sini.” Wahyu memutus kalimat. Dara tersenyum lebar. Mita setengah mengangguk.

***

“Yah, malah hujan,” keluh Mita yang menengadahkan sebelah telapak tangannya di udara. Wahyu berdiri di sampingnya. Dara memilih untuk meringkuk di dekat perapian. Dan Ikmal? Ia sibuk di alam mimpinya. Hari masih siang. Mendung itu membuat siang seolah hampir petang. Dan hujan membuat kabut sepanjang mata memandang.


Wahyu mengangkat sebelah tangannya. Meletakkan telapak tangannya pelan-pelan di atas telapak tangan Mita yang sejak tadi tertimpa air hujan. Mita menoleh, antara terkejut dan gugup bercampur menjadi satu.

“Aku suka hujan, aku selalu merasa damai setiap kali melihat hujan.” ucap Wahyu. Ia belum menurunkan tangannya. Membuat Mita lupa bernapas.

“Aku.. Aku suka pelangi,” Mita tersenyum.

***

Mita sedang merapikan rambut pendeknya di depan cermin. Wahyu datang ke rumahnya pagi ini. Mendadak. Jangan bayangkan keadaan Mita sewaktu membuka pintu untuk Wahyu tadi. Dan Wahyu dibiarkan menunggu setengah jam di teras, hanya untuk menunggu Mita selesai mandi.

“Eh, gitar gue mau dibawa ke mana?” Mita menghentikan gerakan tangannya begitu melihat Dara dari cermin. Dara yang mengendap-endap masuk.

“Pinjam sebentar,” ujar Dara meringis. Dara langsung menutup pintu tanpa menunggu jawaban Mita.


Mita mendengar gitar miliknya dipetik. Pelan ia mulai melangkah ke teras. Sumber suara itu dari sana. Tentu saja bukan Dara yang memainkannya. Apa mungkin Wahyu?


Mita berdiri di bawah bingkai pintu. Diam-diam mengamati Wahyu yang sedang memetik gitar. Sementara Dara sesekali tertawa lepas atau sekadar iseng mencubit lengan Wahyu. Mita sesak melihat mereka yang cepat akrab. Tetapi apa perlu Mita cemburu? Untuk apa? Mita menyandarkan kepalanya di daun pintu. Suara tawa Dara masih terdengar jelas.

***

Tidak ada yang bisa mengganggu gugat keputusan Mita sore itu. Dara juga sudah lelah memprotes. Padahal liburan itu masih tersisa satu minggu. Namun Mita memilih untuk berkemas, dan pulang lebih cepat. Bukan karena Mita sakit hati dengan apa yang ia lihat pagi tadi. Tetapi akan lebih baik jika ia pergi sekarang. Sebelum rasa itu semakin terasa jelas. Sebelum semuanya terlanjur.

“Iya. Kita pulang mendadak. Apa? Mita? Ini lagi nyetir.” Dara sibuk berbicara dengan seseorang di balik telepon. Mita menoleh begitu mendengar namanya disebut.

“Oh ya? Terus? Wah, bagus dong! Tapi kenapa harus ke sana? Jauh banget!” Dara tampak manyun. Mita menggaruk rambutnya dengan sebal. Kapan mereka berhenti mengobrol?

“Yah, lowbat!” Dara mengaduh, Mita menyeringai menang. Namun tanpa ba-bi-bu Dara langsung merampas ponsel Mita yang tergeletak di dashboard.

“Eh, eh!” sergah Mita. Namun ia kalah cepat dengan tangan Dara.

“Halo? Iya, ini gue. Pakai handphone-nya Mita.” Dara tertawa, entah kali ini sedang membicarakan apa dengan Wahyu. Mita hanya mendengus. Apa ia cemburu?



***


Di sini,
Aku menemukan warna hidupku,
Ada pelangi dan kamu,
Meski kamu tidak seindah pelangi,
Namun pelangi tidak berwarna tanpa kamu,
Kamu yang membuat warna itu amat nyata untukku,
Kamu membuat hidup ini terasa hidup,
Membuat semua pelangi iri kepadaku..
Saat bersamamu sama artinya dengan aku bernapas,
Berdiri di sampingmu sama artinya dengan melihat sejuta warna,
Dan melihatmu tersenyum di sampingku sama halnya dengan setiap detak jantungku,
Tidak ada yang mengingkarinya,
Barangkali waktu lah yang ingkar.
Berada di sampingmu membuatku mengerti,
Senyum yang mengembang di bibirmu membuatku semakin paham,
Kalau kita bertemu bukan karena alasan biasa,
Bukan untuk membingkai kenangan yang sebentar,
Dan bukan untuk menghabiskan waktu, hari, dan udara yang singkat—


Mita menumpukan kedua tangannya di pembatas balkon. Udara pagi masih terasa sejuk. Embun masih menyelimuti dedaunan. Ini pagi yang entah ke berapa semenjak Mita memutuskan untuk pergi dan melupakan segalanya.


Soal Wahyu? Ya, Mita tahu semuanya dari cerita-cerita Dara setiap hari. Tentang Wahyu yang melanjutkan kuliah di Austria. Tentang apa saja yang berhubungan dengan Wahyu. Termasuk pagi ini.

“Eh, besok dia pulang ke Indonesia hlo!” Dara berkata dari balik majalah. Mita berbalik, sekarang menyandarkan pinggangnya di pembatas seraya melipat tangan di depan dada.

“Bagus dong. Jadi kalian nggak LDR lagi,” sambut Mita, memaksa bibirnya tersenyum. Dara meletakkan majalahnya di atas meja, lalu menghampiri Mita.

“LDR?” Dara tertawa miris.
“Resmi aja belum.” Air mukanya berubah muram.
“Cuma libur sebentar. Udah gitu dia balik lagi ke sana.” Dara tampak kecewa. Mita menyentuh pundak Dara. Menghibur.


Dua ponsel yang tergeletak di atas meja bergetar secara bersamaan. Mita dan Dara langsung menoleh.

“Ah, itu pasti Wahyu!” tebak Dara sumringah, lalu ia berlari meraih ponselnya.

“Yah, bukan dari Wahyu.” Dara memberengut sebal, menghentakan satu kakinya di lantai.


Mita tahu siapa pemilik nomor yang tertera di layar LCD-nya. Mita memang sengaja tidak memberinya nama. Dan sengaja tidak mau mengangkatnya.

“Kok nggak diangkat?” tanya Dara heran.

“Nggak penting,” sergah Mita. Sudah berpuluh kali Mita tidak menghiraukan panggilan itu. Dan kali ini layarnya berkedip lagi. Satu sms masuk.

‘Aku berharap takdir belum membuatmu benar-benar pergi dariku, Mita. Seperti sore itu kamu memutuskan untuk pergi.’


Mita menahan napas, kembali bersadar pada pembatas sebelum tubuhnya jatuh. Ponselnya terjatuh di lantai. Dara yang hendak membaca majalah langsung menaruhnya kembali di meja.

“Kenapa, Mit?” Dara membantu mengambil ponsel itu dari lantai.

“Yah! Tuh kan mati. Lo ceroboh sih,” cerocos Dara. Lebih baik ponsel itu mati daripada Dara membaca sms dari Wahyu.


***

Ikmal gelisah bukan main, sedari tadi mondar-mandir. Duduk, berdiri, lalu duduk lagi. Begitu saja terus selama setengah jam. Dan tentu itu membuat Dara semakin sebal dengan tingkah Ikmal.
“STOP Ikmal! Lo bisa duduk kan?” Dara yang sudah gemas dan jengkel akhirnya berteriak. Mita yang melamun di sampingnya sampai terkejut.

“Apa sih? Lo malu dikit kek! Lo kira ini hutan rimba? Mikir dong mikir!” Ikmal balas membentak. Dara sudah membuka mulut, namun Mita cepat mencegah.

“Lo ajak gue ke sini bukan untuk lihat lo sama Ikmal bertengkar kan?” Mita berbisik seraya membekap mulut Dara. Ikmal langsung diam dan duduk begitu mendapat tatapan tajam dari petugas bandara.


Tidak ada yang menggembirakan kecuali siang ini. Ikmal bergegas berdiri, menyambut kedatangan Wahyu dengan pelukan. Dara juga tidak ketinggalan, ia malah berinisiatif mencium kedua pipi Wahyu. Lalu bagaimana dengan Mita? Ia hanya berdiri kaku. Jujur saja, ia tidak berani mendekat. Jangankan menyambut seperti Ikmal dan Dara tadi. Sekadar berjabat tangan saja Mita tidak yakin bisa melakukannya. Sampai Wahyu yang melangkah menghampirinya.

“Senang lihat kamu makin chubby.” Wahyu tersenyum. Mita menoleh ke arah lain untuk menutupi pipinya yang memerah.

“Nah, mumpung Wahyu pulang. Gimana kalau kita liburan ke villa?” usul Ikmal yang mengambil alih pembicaraan.

“Tapi—” ucap Mita mengambang.

“Kita setuju kok. Mita juga pasti setuju. Iya kan, Mit?” Dara merangkul bahu Mita, memaksa.

***

‘Pelanginya tidak usah kamu jaga. Dia tidak akan pergi, dia masih di sana, dan pasti akan kembali setelah hujan reda. Pelangi tidak akan mengingkarinya.’


Selama perjalanan ke villa, kalimat itu selalu memenuhi otak Mita. Bunda, apa kalimat itu juga berlaku untuk takdir cintaku? Karena pada hakekatnya tiada pelangi tanpa hujan yang mengawalinya. Kini hujan itu kembali, Bunda. Ia datang lagi dalam hidupku. Membuat pelangi-ku semakin berwarna. Membuatku tidak membutuhkan pelangi, karena ada dia di sampingku. Apa semua memang akan seindah itu?

“Ini musim kemarau aneh deh. Masa’ hujan sih?” Ikmal mengeluh, menatap jendela mobil yang dipenuhi rintik air. Dara kali ini mengiyakan. Mita malah membuka jendela di sampingnya. Ia menjulurkan telapak tangannya keluar. Wahyu yang melihat Mita melakukan hal demikian hanya tersenyum.

***

“Kita mau langsung balik ke rumah—” ucapan Mita terhenti ketika Wahyu meraih tangannya. Ikmal dan Dara sedang mengambil koper di bagasi. Itu pun mereka sempat-sempatnya bertengkar karena Ikmal tidak sengaja menginjak kaki Dara.

“Ada sedikit kejutan untukmu,” ujar Wahyu menarik tangan Mita ke dalam villa.

“Kejutan apa?” tanya Mita saat mereka menaiki tangga. Wahyu masih menggandeng tangannya. Untuk apa? Mita masih mampu menaiki anak tangga sendiri.

“Kok ke sini?” Mita bertanya ketika mereka sampai di lantai tiga, lantai yang memang beratapkan langit.

“Balik badan kamu sekarang,” ucap Wahyu tersenyum. Mita berbalik secara teratur. Dan, astaga? Mita mendekap mulutnya saking takjubnya. P-e-l-a-n-g-i? Mita menoleh ke Wahyu. Yang ditoleh hanya menyunggingkan bibir. Ini luar biasa indah. Tampak lebih memesona dilihat dari atas sini daripada di bukit itu. Pelangi yang melingkar di sisi bukit itu terlihat sangat anggun. Mita berdecak kagum, kemudian melangkah ke tubir. Wahyu ikut berdiri di sampingnya.

“Hanya di sini, di tempat ini, dan di kota ini aku menemukan pelangi paling indah. Dan ketika aku kembali. Pelangi itu tidak benar-benar pergi dari hidupku. Ia ada di sini sekarang, berdiri menatap langit di sampingku.” Wahyu menyentuh jemari Mita. Ini yang Wahyu tunggu sejak bertahun-tahun lamanya. Melihat pelangi bersama Mita.

“Aku kira hujan tidak pernah datang sewaktu musim kemarau. Aku kira aku telah kehilangan banyak waktu. Ternyata aku salah besar. Ia datang kembali, membawa pelangi untukku.” Mita menggenggam erat tangan Wahyu.

“Aku kembali karena aku tahu, aku tidak akan pernah menemukan pelangi terindah di mana pun, kecuali di sini—” Wahyu tersenyum mengacak rambut gadis di sampingnya. Gerimis kecil yang turun kembali seolah tidak mengingkari. Karena semua terjadi memang sudah seharusnya terjadi.


Dari kejauhan samar-samar terdengar pertengkaran Ikmal dan Dara di teras. Kali ini mereka berebut pintu, siapa yang masuk terlebih dahulu. Wahyu dan Mita tertawa kecil mendengar pertikaian yang entah sampai kapan akan berujung. Dan di sini semua berawal, maka di sini pula semua akan dimulai—



Kita bersama bukan tanpa sengaja,
Di tempat kita berdiri sekarang adalah buktinya,
Setiap pertemuan selalu berakhir dengan perpisahan,
Aku takut mendengarnya,
Jika kita berpisah,
Artinya kamu membawa separuh hatiku,
Dan sisanya kamu biarkan layu di sini.
Tetaplah di sini, bernapas di sampingku.
Jangan biarkan pelangi-ku tidak berwarna lagi,
Jangan biarkan ia memudarkan warnanya,
Buatlah pelangi-ku tetap ada,
Sekalipun musim kemarau tanpa hujan,
Karena aku tidak butuh pelangi itu, selama kamu di sampingku.
Buatlah semua semakin nyata di depan mataku,
Lengkapilah pelangi-pelangi itu dengan kehadiranmu di sampingku,
Jangan biarkan waktu membuat semua terhenti,
Tidak ada yang mengingkari pertemuan kita,
Juga tidak akan ada yang memisahkan kita,
Sejengkal pun...





TAMAT

Cari Blog Ini