Selasa, 12 Juni 2012

Semua Tentang Kita | part 5



Saat pulang sekolah aku tidak langsung pulang. Aku melangkah menuju lapangan basket. Tidak peduli meski di atas sana awan-awan hitam sedang berarak. Setelah meletakkan tas di pinggir lapangan, kemudian aku melangkah gontai menghampiri bola yang ada di bawah ring. Aku meraih bola itu, tanganku hanya memantul-mantulkannya, aku tergugu menatap ke bawah, bukan bola tetapi lantainya.

Percikan air mulai membuncah di lantai, titik demi titik yang semakin membesar. Hujan turun begitu saja. Rambut bahkan seluruh tubuhku mulai basah. Aku membanting bola itu dengan keras. Bola itu menggelinding begitu saja. Aku menyibak rambutku yang kuyup. Beberapa detik kemudian air hujan itu sudah tidak menimpa kepalaku. Aku mendongak, melihat payung hitam diatas kepalaku. Siapa yang memayungiku? Aku menoleh ke kanan-kiri tidak ada orang. Begitu aku memutar badanku, aku melihat Farish yang berdiri dibelakangku.

“Nanti kalau sakit bagaimana?” Farish tersenyum tipis, terlihat khawatir.

“Kenapa belum pulang juga?” tanyaku tersenyum kecut.

“Aku kan nungguin kamu.” Farish menyeringai.

“Buat apa? Bianka tuh urusin!” Aku mundur satu-dua langkah. Hujan kembali mengguyur badanku.

“Bibirnya sampai sobek kamu tonjok tadi.” Farish beringsut mendekatiku. Terdengar suara air yang membuncah di atas payung, rupanya hujan semakin deras.

“Biar dia tahu rasa. Kalau kamu mau belain dia, silahkan!” Aku menuding hidungnya dengan telunjukku. Farish menautkan kedua alisnya.

“Kamu nggak percaya lagi sama aku?” Farish menangkap tanganku, menggenggamnya lalu meletakkan di dadanya.

“Dengarkan setiap detak jantung ini. Irama yang selalu tercipta saat aku bersamamu, Fel.” Farish menatapku dalam-dalam, “Dan mata ini yang akan menjadi saksi abadi.”

Aku menarik tanganku dari genggamannya. Cukup. Sudah cukup aku terbuai. Masalah ini tidak semudah selama Bianka masih ada disini.

“Aku mau sendiri.” Ucapku lirih, menunduk, menangis bersama deraian air hujan yang kembali menerpaku. Payung itu terjatuh, aku tahu Farish sengaja menjatuhnya. Angin yang berhembus sedikit kencang membuat payung itu bergeming.

Farish basah-kuyup, air menetes dari ujung rambutnya.

“Kumohon. Pulang sekarang!” ucapku, sedikit memohon, meraih lengannya.

“Aku tidak akan pulang sebelum kamu ikut pulang bersamaku.” Farish mengusap wajahnya. Aku hanya khawatir penyakit asmanya kambuh lagi. Aku mengangguk, meraih tasku. Lalu berjalan di samping Farish menuju halte yang ada di depan sekolah. Farish tersenyum tipis seraya memegang payungnya. Tak lama bus pun datang dari arah barat. Aku duduk di dekat jendela. Farish sejak tadi sibuk mengusap rambut basahnya.

“Enak juga ya naik bus berdua sama kamu,” ucapnya girang. Aku meliriknya yang sedang nyengir. Tidak menjawab kalimat tadi, aku hanya menatap kaca jendela yang berembun. Di luar masih hujan deras. Aku menggosok-gosokkan kedua belah telapak tanganku. Lantas aku menempelkan tanganku di punggung tangan Farish. Dia tersenyum manis, balas menggenggam tanganku.

 
***


“Emangnya Icha mau sekolah dimana sih, Ma?” tanyaku saat kami sedang sarapan pagi.

“Itu TK yang ada di ujung jalan.” Mama tersenyum ke arah Icha.

“Yakin, Ma? Monster kecil kayak Icha nih susah diatur.” Aku menunjuk Icha dengan sendok. Icha melempar sepotong roti tawar ke wajahku. Icha mencembungkan pipi tembamnya, kali ini bersiap melempar serbet ke arahku.

“Icha kan anak pintar, cantik pula.” Mama menahan tangan Icha yang sudah teracung tinggi. Aku tahu, Mama hanya pura-pura memuji Icha. Itu juga karena Mama takut kalau-kalau meja makan menjadi berantakan.

“Icha nggak mau ngomong sama kak Fel lagi!” Icha berseru jengkel, mengibaskan kakinya, satu sepatu lepas terpelanting di lantai. Aku menjulurkan lidah, kedua telapak tanganku diatas kuping, meledeknya habis-habisan.

“Ih, dasar mak lampir!” Monster itu menunjukku, memegangi perutnya, lantas tertawa geli, terkekeh.

“Icha, sama kak Fel nggak boleh begitu.” Ucap Mama menatap Icha dan aku secara bergantian,
“Dan kamu Fel, jangan pernah ganggu Icha lagi.” Mama menudingku galak. Siapa juga yang mulai duluan? Bukankah monster kecil itu yang selalu menganggu hidupku? Selalu diam-diam masuk ke kamarku? Mengambil boneka-bonekaku?


***


“Ehem!” Rere datang dari belakangku.

“Eh?” Aku sedikit terkejut menoleh ke arahnya.

“Lagi ngapain? Kayaknya seru nih?” Rere melangkah ke sampingku.

“Pantesan, ceritanya udah damai nih sama Farish?” ucap Rere, iseng menjawil hidungku. Aku menepis tangannya.

“Oh ya, Dewi mana?” tanyaku sedikit melirik Rere yang duduk di kursi belakangku.

“Paling juga lagi ngapelin si Dika.” Ucap Rere menyeruput es kopi di gelasnya. Aku nyengir, tidak minat bertanya lagi, mataku kembali konsen pada lapangan basket. Ada Farish dan teman-teman sekelasnya, mereka sedang berolahraga. Farish beberapa kali mengacungkan jempol ke arahku, itu tandanya dia baik-baik saja. Terkadang aku terlalu mencemaskan hal ini, makanya aku selalu memantau Farish dari kantin yang berdampingan dengan lapangan basket. Tidak sengaja, mataku langsung memicing begitu tahu ada Bianka di tepi lapangan. Bersorak. Bertepuk tangan dengan heboh. Dan menyerukan nama “Farish!”


Aku duduk disamping Rere. Sambil meremas rok-ku sendiri, aku mendumal dalam hati. Rere hampir tersedak melihat tingkahku.

“Kenapa? Tadi aja masih nyengir nggak jelas. Sekarang malah cemberut?” Rere meletakkan gelasnya, lalu menyeka bibirnya.

“Gue males. Lihat aja tuh, ada si perusak suasana.” Ujarku mendesis sebal. Rere mengerutkan dahi.

“Maksudnya si Bangkai? Eh, Bianka?” Rere merubah posisinya, memandang sekilas ke lapangan. Rere terkekeh menepuk pahanya.

“Apanya yang lucu?” tanyaku galak. Rere menoyor pipiku.

“Ya tenang aja kali, buk. Farish aja cuek banget,” ujar Rere masih tertawa. Aku menyikut lengannya. Memang iya Farish tidak menghiraukan Bianka. Tetapi, aku hanya risau saja melihatnya.

“Udah ah. Ayo balik ke kelas. Bentar lagi pelajaran Bu Endang nih.” Rere sedikit gentar melihat jam ditangannya. Lantas bergegas menarik lenganku.


***

Singkat cerita, setelah beberapa minggu melewati berbagai macam ujian kelulusan, akhirnya, hari ini tiba saatnya untuk mengambil pengumuman. Sebenarnya aku ingin berangkat bersama Farish, namun setelah kupikir ulang, aku lebih baik berangkat dengan Mama saja.

“Setelah lulus, Fel mau kan menuruti apa kata Mama?” tanyanya tiba-tiba ketika kami sampai di depan gerbang sekolah. Mama menarik tanganku.

“Fel janji, Ma.” Aku mengangguk tanpa berpikir panjang. Mama tersenyum lebar. Aku sedikit ragu sebenarnya, harusnya tadi aku tidak perlu janji-janji terlebih dahulu. Mama benci jika janji itu ingkar.


Aku bergabung dengan Dewi dan Rere di depan kelas.

“Eh, lihat Farish nggak?” tanyaku. Mereka berdua menggeleng dengan kompak.

“Memangnya lo tadi kesini nggak sama Farish?” tanya Dewi heran.

“Mana gue berani, kalau Mama lihat gimana!” jawabku kesal.

“Eh, kok gitu? Farish kan setiap hari antar-jemput lo. Buktinya sampai sekarang fine-fine aja.” Rere ikut memprotes. Aku sebal membungkam mulutnya.

“Iya sih, ya itu pinter-pinternya gue aja.” Aku meringis. Rere menyingkirkan tanganku dari mulutnya.

“Itu, dia datang!” seru Rere menunjuk ke belakangku. Aku spontan menoleh untuk melihatnya.

“Kutu kupret itu? Males gila!” ceplosku sangat jengkel melihat Dika berjalan ke arahku.

“Ih, pangeranku bawa bunga mawar. Pasti buat gue!” ucap Dewi terkesima, matanya mengerjap-ngerjap aneh. Aku dan Rere hanya mengerutkan dahi.

Special for my princess.” Aku kaget bukan kepalang, begitu aku menoleh, bunga mawar itu sudah ada di depan mataku. Sementara yang memegang mawar itu mengulum senyum sok-manisnya. Aku tahu apa reaksi Dewi sekarang. Aku menepuk jidatku. Dewi bahkan terlanjur menangis, memukul-mukul dan menendang-nendang tembok. Rere kewalahan mencegahnya.

“Ng.. Dika salah orang kok. Seharusnya bunga ini buat lo, Wi.” Aku menyambar bunga itu dari tangan Dika, lantas menyodorkannya kepada Dewi. Dika mencoba protes, mulutnya sudah terbuka, hampir satu kata keluar. Aku cepat-cepat menoleh, melotot tajam. Dika mengatupkan mulutnya rapat-rapat.

“Permisi, pinjam Fel sebentar ya.” Farish datang menyela.

“Lama juga nggak apa-apa!” seru Rere girang.

“Tunggu, tunggu! Nggak boleh!” Dika menahanku, dia menarik tangan kiriku. Aku risih melihat dia berani memegang tanganku.

“Apa sih?” Farish kesal, dia berusaha melepas tangan Dika dari tanganku. Kemudian Farish membawaku pergi. Dari kejauhan aku melihat Dika menendang tong sampah. Aku terkekeh melihatnya.


“Setelah lulus, kamu mau kuliah dimana, yank?” tanyaku memulai pembicaraan. Kami berjalan pelan melewati koridor-koridor kelas. Farish tersenyum mengacak rambutku.

“Kali ini jawab dong,” ucapku sangat memohon. Farish tidak pernah serius menjawab jika kutanya hal serupa. Dia seperti sedang menghindar.

“Kalau kamu mau kuliah dimana?” tanyanya balik. Aku menghela nafas, apa susahnya sih menjawab pertanyaanku?

“Aku akan jawab setelah kamu menjawab pertanyaanku.” Aku tetap bersikeras. Enak saja, dia bisa mengabaikan pertanyaanku, maka aku pun bisa melakukan hal yang sama.

“Aku mungkin tidak sempat kuliah.” Farish berhenti, lalu menatapku. Aku melongo, sama sekali tidak mengerti apa maksud dari ucapannya.

“Kamu harus kejar cita-citamu, yank. Buktikan sama aku kalau kamu bisa melakukannya.” Lanjutnya lagi. Aku tidak diberi kesempatan untuk bertanya lebih banyak. Farish tidak sedang bercanda, berbeda dari biasanya, kali ini wajahnya amat serius.

“Penulis, ya, kamu pasti bisa!” Farish merengkuh kepalaku. Aku diam, memang sengaja diam. Entah, aku merasa benar-benar aneh.


“Se-angkatan kita lulus semua hlo, yank!” Farish kembali menggandeng tanganku. Aku berjalan dengan mata berkaca. Bahkan, aku tidak tahu apa yang membuatku bersedih. Aku menarik nafas, mengerjapkan mata cepat, memaksa air mataku agar tidak jatuh.

“Oh ya? Alhamdulillah kalau gitu.” Aku tersenyum tertahan, lalu menghela nafas lagi.

“Mama kamu kan yang ambil?” tanyaku kemudian. Aku sudah lama tidak bertemu Tante Reva.

“Mungkin sebentar lagi keluar dari aula.” Farish melihat arlojinya. Aku dan Farish duduk menunggu di hall. Tanganku menggenggam tangan Farish erat.






Bersambung—

Endless Love | part 2

Cincin Pertunangan



Satria tergugu, berdiri di dekat salah satu jendela kamarnya, kedua tangannya terbenam di saku celana. Matanya menyiratkan kepedihan yang begitu mendalam. Tentang keputusan itu. Ia seperti sedang menyesalinya. Wajah kakunya tertunduk, sekarang ia memilih untuk duduk menjuntai di bingkai jendela besar itu. Hanya satu nama yang memenuhi otaknya. Kayla? Bukan. Kinta? Tentu saja.


Satria mengambil keputusan bukan berdasar pada hatinya. Ia terpaksa mengiyakan, ketika ibunya yang sedang sakit, memintanya untuk bertunangan dengan Kayla. Saat itu, Satria tidak tega menolak permintaan ibunya. Sekarang, Satria merasa keputusan ini adalah kesalahan terbesarnya. Tetapi, lagi-lagi, mana tega Satria menyakiti hati ibunya. Ia mengusap wajahnya ketika ponsel yang digenggamnya bergetar. Tadi, pagi-pagi sekali ia mengirim pesan kepada Kinta. Satria menyunggingkan bibir ketika selesai membaca balasan sms dari Kinta. Ia segera lompat dari duduknya, meraih jaket di atas kasur.



“Kenapa kau mengajakku? Kenapa tidak—?” kalimat Kinta terhenti tiba-tiba. “Maksudku, kau seharusnya pergi dengan Kayla,” tambahnya lagi.

“Kayla, emm, dia sedang sibuk fitting gaun. Lagi pula aku ingin sedikit membuat surprise untuknya.” Satria mengangkat bahu, sedikit berbohong. Ia mulai menyalakan mesin mobil. Kinta tidak tertarik untuk membahas tentang Kayla lagi.



Mereka berdua mulai menyusuri lantai basement pusat pembelanjaan yang besar itu. Sejak tadi keluar dari mobil, Satria tanpa ragu langsung menggandeng tangan Kinta. Ia senang-senang saja melakukan itu.


Satria sigap menangkap tubuh Kinta yang hampir jatuh. Kinta tadi sangat teledor ketika menginjak tangga pertama eskalator. Satria tertawa lirih melihat raut muka Kinta yang memerah. Malu sekaligus senang saat Satria berhasil menangkap tubuhnya yang hampir terjungkal. Mungkin sudah beratus kali ia naik eskalator, tapi baru kali ini Kinta sangat ceroboh.

“Lain kali hati-hati, Nenek.” Satria tertawa geli seraya membimbing Kinta selama berjalan di eskalator. Kinta menyeringai sebal.

“Apa yang kau bilang barusan? Ne-nek?” ucap Kinta tidak terima. Mereka berdua sudah sampai di lantai dua setengah menit kemudian.

“Ya. Ne-nek.” Satria terkekeh melihat wanita di depannya berkacak pinggang.

“Setidaknya kau lebih cantik dari nenek-nenek yang pernah aku lihat.” Satria mengatupkan bibir, menahan gelak tawa. Kinta sudah bersiap memukul Satria dengan tasnya. Satria cepat-cepat mengelak. Kinta sampai lelah sendiri.


“Selamat siang,” tegur pelayan toko emas itu dengan ramah.

“Ada cincin pertunangan yang pas dengan wanita di sebelah saya ini?” mata Satria sibuk mengamati kaca etalase yang berderet khusus cincin. Kinta mengerjapkan mata, ia tidak mengerti. Pelayan itu kembali membawa sepasang cincin yang berkilau.

“Ini koleksi terbaru kami. Terlihat cocok dengan Anda berdua.” Pelayan itu tersenyum melihat dua orang di hadapannya. Satria mengambil salah satu cincin dari kotak putih-kecil. Ia mengamati setiap detail cincin itu sejenak.

“Aku pinjam tanganmu sebentar,” ucap Satria. Tanpa menunggu jawaban Kinta, ia langsung meraih tangan wanita itu. Satria memasangkan cincin itu di jari manis Kinta.

“Terlihat pas sekali,” komentar Satria. Kinta, jantungnya berdegup demi melihat Satria melakukan hal barusan. Kinta merasa tersanjung. Andaikan... andai semua ini menjadi kenyataan. Alangkah bahagianya ia sekarang.

“Cocok sekali.” Pelayan itu berdecak kagum. Kinta langsung melepas cincin itu dari jari manisnya.

“Saya ambil yang ini saja,” kata Satria mengeluarkan dompet dari saku celananya.

“Semoga langgeng,” ucap pelayan itu seraya menyerahkan kotak putih-kecil yang berisi sepasang cincin.

“Terima kasih,” ujar Satria mengangguk, tersenyum. Kinta serba-salah, hanya ikut tersenyum kikuk mendengar ucapan pelayan tadi.

 
***

“Kau mau makan apa?” tawar Satria setelah keluar dari parkiran. Kinta bertopang dagu melihat keluar jendela mobil.

“Kinta, kau mau makan apa?” ulangnya sekali lagi, penuh kesabaran. Kinta gelagapan, langsung menoleh ke arah Satria.

“Ya, aku sangat menyukai cincinnya,” sahut Kinta cepat. Satria tertawa pelan.


“Kita makan bakso saja,” ucap Satria setelah ia berhenti tertawa. Kinta mendengus sebal.

“Kau tidak mau memakannya? Ini kan bakso kesukaanmu?” tanya Satria melihat wanita di hadapannya hanya mengaduk mangkok bakso tanpa menyantapnya.

“Aku tidak sedang lapar,” sergah Kinta mendorong mangkok bakso itu sedikit menjauh.

“Sejak kapan kau tidak berselera makan bakso?” tanya Satria lagi.

“Mulai sekarang,” jawab Kinta pendek. Satria menelan ludah, meletakkan sendoknya, urung menghabiskan baksonya. Satria merasa perubahan sikap Kinta sangat aneh. Ya, semenjak membeli cincin tadi. Hampir terjatuh di eskalator, melamun di mobil, dan tidak berselera makan bakso favoritnya. Apa yang sedang Kinta rasakan sekarang? Satria mengusap dahinya yang berkerut.


“Thanks, Kin.” Satria berkata lirih. Tanpa disangka sebelumnya, ia kemudian mengecup kening Kinta.

“Kau selalu membuat hidupku lebih berarti.” Satria tersenyum manis. Kinta mematung, Satria mengecup keningnya? Ya, tentu saja hanya sebatas sebagai ucapan terima kasih. Kinta tak mau ambil pusing. Ia mendorong pintu sampai terbuka. Lantas melambaikan tangan hingga mobil Satria hilang di kelokan. Kinta mengusap keningnya. Kecupan itu terasa sangat membekas. Kinta membuka gembok pagar rumahnya sambil bersenandung riang. Ia salah menafsirkan tentang kedatangan Kayla, toh sampai detik ini ia dan Satria belum terpisahkan. Kinta menggigit bibir, tetapi sewaktu-waktu Kayla bisa merusak segalanya dalam sekejap. Dan semuanya akan terlupakan.

***

“Kau dari mana, Sat?” tanya wanita paruh-baya dari belakangnya. Satria berbalik, kembali menuruni dua anak tangga.

“Beli cincin, Ma.” Satria berkata sumringah. Bukan karena cincin itu, lebih karena ia tadi pergi membelinya bersama Kinta.

“Kenapa tidak mengajak Kayla?” Ibu mengerutkan alis.

“Hmm.. Aku tidak perlu melibatkannya. Sedikit surprise, dan aku harap Kayla menyukai cincin pilihanku ini.” Satria duduk berjongkok di depan kursi roda ibunya. Wanita renta itu tersenyum bahagia mendengar penjelasan anaknya itu. Satria begitu bahagia melihat senyum mengembang di bibir ibunya. Satria segera menyeka sudut mata yang keriput ketika air bening bersiap tumpah di kedua pipi ibunya.









Bersambung—

Senin, 04 Juni 2012

“Priceless Love”




“Aku mencintaimu, Kay!” seru Rehan, membuat semua mata tertoleh. Petugas taman yang sedang sibuk merapikan rumput juga ikut menoleh. Rehan sukses membuat ia dan Kay menjadi pusat perhatian dadakan. Orang-orang menatap penuh minat.

“Aku..” Kay menggigit bibir, takut-takut melihat tatapan aneh orang yang ada di taman itu.

“....”

“Aku, maaf, aku tidak bisa.” Kay berlari meninggalkan taman. Rehan tertunduk lemas. Sudah sembilan kali ia menyatakan cinta. Dan ini yang ke sepuluh, ditolak juga. Rehan mengusap wajahnya. Gadis itu selalu misterius.

***

Kanaya kembali dilarikan ke rumah sakit. Ibunya sangat terkejut ketika mendapati putri semata-wayangnya tak sadarkan diri di dalam kamar. Ibu Kay menatap nanar, bersedekap tangan, menangis tersedu di depan ruangan yang tak asing lagi baginya. Ruangan UGD itu berdengking lagi. Seminggu yang lalu Kay juga menempati ruangan yang sama, masih di ranjang yang sama.

“Kay akan sembuh, Tante.” Rehan berdiri di samping Ibu Kay. Ia cepat-cepat datang begitu Ibu Kay meneleponnya setengah jam lalu. Rehan terpaksa menerobos padatnya lalu-lintas menjelang petang. Senja ini ia kembali bersedih, sama seperti seminggu yang lalu.

“Dokter bilang kesempatan hidupnya kecil. Tante pasrah. Biarlah. Barangkali Kay akan bahagia di tempat lain, bukan disini.” Ibu Kay menyeka sudut matanya. Ray menatap ke dalam, kaca pembatas di depannya berdecit saat tangannya menyentuh kaca bening itu.

“Rehan tidak akan tinggal diam, Tante. Kay tidak akan pergi kemana-mana.” Rehan berjanji, yang entah barangkali sudah berpuluh kali ia ucapkan. Ia tidak pernah bosan mengatakan kalimat itu. Sama seperti ia tak kunjung bosan mengatakan cinta kepada Kay. Ia selalu percaya Kay juga mencintainya. Dan ia akan menanti hari itu tiba, ketika Kay menerimanya. Rehan tahu masalah ini tidak main-main. Dan ia akan selalu memperjuangkannya.

“Lihatlah wajah itu. Tante selalu terluka melihat semua kenyataan pahit ini. Tetapi Kay selalu saja berusaha tegar, seolah ia hanya mengidap penyakit—” Ibu Kay tercekat, urung berkata lagi.

***


Rehan tercenung lama sekali. Ia duduk di samping ranjang, setia terjaga menunggu Kay sepanjang malam. Rehan ragu-ragu menggores kertasnya yang masih kosong. Bolpen yang ia genggam basah oleh keringat. Rehan meneguhkan hati. Perlahan. Ia mulai menulis sepatah kata di atas kertas. Ia tidak menghiraukan kepalanya yang terus berdenyut. Ia tetap menulis kalimat selanjutnya, di larik berikutnya. Hingga darah segar menetes dari hidungnya. Darah yang membuat satu-dua bercak merah di sela tulisannya. Ia hampir selesai. Dan semua urusan akan segera berakhir malam ini juga. Rehan melipat kertas itu, memasukannya bersama dengan sebuah alamat ke dalam amplop putih.


Rehan mendongak ketika tangan Kay yang ia genggam bergerak pelan. Kay mengerjapkan mata, silau dengan lampu ruangan. Rehan mengusap bercak merah yang masih menempel.

“Kay...” Rehan mendekat, berbisik lirih.

“Kau tidak perlu menjawabnya,” sergah Rehan, melihat Kay bersiap membuka mulutnya. Alat bantu pernapasan itu membuatnya sulit bicara. Kay mengangguk pelan.

“Kau akan kembali melihat indahnya dunia dengan nafasku, Kay. Kau akan kembali normal. Hidup dengan jantung yang normal.” Rehan menatap gadis itu lamat-lamat. Kay yang tidak mengerti maksud kalimat Rehan, hanya mengangguk lagi, mengamini. Namun semua terasa ganjil di hati Kay.

“R-e-h-a-n.” Kay terpatah-patah berkata, ia menatap Rehan dengan ganjil.

***


Satu minggu berlalu...


“Sedang menunggu siapa, Kay?” tanya Ibu melihat putrinya yang tak kunjung bosan duduk berlama-lama di teras sepanjang hari. Apalagi kalau bukan melamun?

“Rehan, Bu. Kemana sih dia? Apa dia nggak tahu kalau Kay kangen—eh!” Kay langsung membungkam mulutnya sendiri, kelepasan mengucapkan kata yang terakhir. Ibu tersenyum penuh bimbang.

“Ibu tahu, Kay. Kau juga sangat mencintainya, bukan? Jadi.. Kenapa waktu itu kau menolaknya lagi?” Ibu menarik napas, mencoba bersikap se-normal mungkin, meski suara yang keluar tetap saja bergetar.

“Dulu kan beda, Bu. Kay nggak mau hidup Rehan sia-sia hanya untuk memperjuangkan cinta Kay.” Gadis itu menunduk, pipinya bersemu merah merona.
            “Apa itu, Bu?” Tanya Kay melihat tangan Ibunya dibalik punggung.
“Amplop ini Ibu temukan di tepi ranjangmu waktu di rumah sakit.” Ibu menyodorkan sebuah amplop yang masih rapi. Kay meraihnya dengan ragu. Ia mulai membukanya, merobek bagian tepi amplop dengan hati-hati. Kay menemukan sebuah alamat di dalamnya. Ia urung membuka lipatan kertas yang lain. Kay menatap wajah Ibu yang tergugu di sampingnya.

“Kay tidak mengerti. Maksudnya apa? Ini alamat siapa, Bu?” Kay mengerutkan alis. Ibu menyeka sudut matanya.

“Kau harus pergi sekarang. Temui dia, Kay. Katakan apa yang selama ini kau pendam. Katakan padanya kalau kau juga amat mencintainya. Ceritakan apa yang kau simpan di hatimu. Kau memang sudah terlambat. Tetapi, percayalah, kau tidak pernah menyesal karena kau sempat mengenalnya.” Ibu menangis tersedu. Kay semakin bingung. Apa maksud dari perkataan Ibunya?

***


Sore itu, ketika senja tersaput mendung tipis. Kay memutuskan untuk mencari alamat itu. Rintik hujan yang turun sedikit membuatnya bertambah gelisah. Ia menatap kaca di sampingnya yang berembun. Kalimat itu kembali terngiang di otaknya, mengambang bersama desau angin di sela hujan.


‘Kau akan kembali melihat indahnya dunia dengan nafasku, Kay. Kau akan kembali normal. Hidup dengan jantung yang normal.’


Kay terkesiap ketika pak sopir memanggil namanya untuk ketiga kalinya. Kay tersadar dari lamunan, menurunkan kaca jendela, memperhatikan pemandangan yang menghampar di luar sana.

“Mang, ini beneran tidak salah alamat, kan? Kok kita kesini?” Kay kembali menaikkan kaca jendela, bertanya dengan cemas.

“Mamang tidak salah alamat, Non. Ini sesuai dengan alamat yang tertulis di kertas itu.” Pak sopir menjelaskan. Kay melupakan soal itu. Perhatiannya tersita dengan amplop yang masih ia genggam, hampir melupakannya. Kay membuka lipatan kertas, menggigit bibir.




Kanaya...
Aku tahu, detik ini kau sedang menikmati duniamu dengan sempurna..
Kau sedang merasakan apa yang selama ini sempat sirna dalam hidupmu..
Kau tahu, aku selalu mencintaimu..
Tetapi, aku sadar, kita tidak pernah bisa bersatu..
Bukan karena waktu telah memisahkan kita..
Karena cinta tak butuh mata untuk melihat..
Tak butuh telinga untuk mendengar..
Tak perlu mulut untuk berbicara..
Juga tak butuh kaki untuk berjalan..
Tetapi cinta membutuhkan nafas untuk tetap hidup..
Dan cinta itu ada bersamamu, Kay..
Andaikan waktu tetap bersama kita..
Aku ingin kau mencintaiku, barang satu detik saja..



Kay menjatuhkan kertas itu. Air matanya mengalir begitu deras. Kay menghambur keluar. Pak sopir berseru, mengingatkan tentang payung. Kay tidak butuh payung. Biarlah hujan sedikit membasuh luka hatinya. Kay berlari di atas rumput yang licin. Ia jatuh terpeleset, lalu bangkit lagi. Bahkan ia tidak merasa sakit, semuanya telah mati rasa, kecuali hatinya. Tubuh Kay kuyup oleh hujan dan air mata. Tuhan, katakan ini hanya mimpi buruk..


Kay tersengal. Ia sudah sampai persis ketika tubuhnya ambruk. Kay bersimpuh, tertunduk dalam. Ia tercekat, tidak tahu kalimat apa yang seharusnya keluar dari mulutnya. Detik-detik dalam diam. Hanya suara riak air hujan menghujam tanah merah serta angin yang membuat satu-dua bunga kamboja putih gugur dari dahannya. Kay menghela napas berat, perlahan ia memberanikan diri untuk menatap nisan di depannya. Dan ia tetap saja masih membisu.


“Maafkan aku..” Suara itu nyaris hilang ditelan hujan dan angin. Kay sangat menyadari keterlambatannya.

“Kau seharusnya tidak perlu melakukan apa-apa, Rehan!” Kay berseru lemah. Ia marah dengan dirinya sendiri.

“Kau harusnya membiarkan aku mati saja..” Kay tercekat lagi.

“Maafkan aku..” Kalimat itu keluar lagi dari mulut Kay. Kali ini ia menyadari kebodohannya.

“Aku tidak pernah bermaksud membuatmu terluka dengan penolakan-penolakan itu. Kau tidak pernah menyerah. Kau selalu mengatakannya lagi dan lagi.. Sampai aku tidak menyadari kalimat itu untuk yang terakhir kalinya.” Kay tergugu, hujan sedikit mereda. Langit gelap berganti awan jingga.

“Waktu itu aku takut mengatakannya. Aku takut mengakui kalau aku juga sangat mencintaimu, Rehan.” Kay menyeka pipi dengan punggung tangan. Ia tidak sanggup berdiri. Kay telah kehilangan sekeping hatinya.












TAMAT

Cari Blog Ini