Minggu, 13 Mei 2012

“Biarkan Aku Mencintaimu” (bagian 6)



Aku Mencintaimu




Hari berlalu lebih cepat dari yang aku bayangkan. Jauh dari Mita selama berbulan-bulan, dan aku bisa melewatinya tanpa keluhan. Aku mengusap wajahku, mendengar pintu diketuk. Aku bergegas melangkah untuk membukanya.

“Kerja bagus! Papa bangga sekali. Siapa yang menyangka kau menang proyek itu.” Papa takjub menepuk-nepuk pundakku. Aku menyunggingkan bibir. Papa datang ke ruanganku hanya untuk menyampaikan hal itu. Sebelum pergi, Papa sempat berpesan, “Jangan terlalu diforsir! Malam ini seharusnya kau pergi berkencan, eh, setidaknya pergi bersenang-senang bersama temanmu.” Papa terkekeh, hampir kelepasan menyindirku tentang pacar. Aku balas menyeringai. Papa melangkah keluar.

Aku kembali terduduk di kursi empukku. Mengelus dahi yang berkerut. Aku merasa tidak punya kewajiban untuk merayakan malam tahun baru. Buat apa coba?


Malam beranjak semakin larut. Aku sedikit menyibak gorden, kerlap-kerlip menghias penjuru ibukota. Perasaan yang membuncah memenuhi langit yang entah terlihat begitu menawan, meski bintang enggan bersinar, tersaput awan tipis. Aku kembali melamun. Tiba-tiba saja perasaan itu datang. Mita. Nama itu sekarang memenuhi setiap ruang di otak sekaligus hatiku. Mengapa perasaan itu tak kunjung menghilang? Meski aku berulang kali berusaha membunuhnya. Aku tidak pernah tahu kapan persisnya segumpal rasa itu bersemayam di hatiku. Aku terlalu sibuk untuk menyadarinya. Rasanya, usahaku sekarang untuk menjauhi Mita terasa sangat sia-sia. Detik ini saja, dari jarak puluhan kilometer, aku kewalahan meredamnya. Apa aku harus pergi ke ujung dunia supaya aku bisa melupakannya? Tidak. Aku bukanlah seorang pengecut. Kenapa aku harus memupus seperti ini jikalau di depan sana masih banyak jalan.


Aku meraih kunci. Berjalan melewati ambang pintu. Melangkah ke dalam lift, menekan tombol dengan tidak sabar. Sedikit melirik arlojiku. Pukul 23.30. Aku memacu kecepatan mobil diatas rata-rata. Aku mengumpat berkali-kali. Sial! Jalanan macet. Aku mengaduh, seharusnya tadi aku mengambil jalan alternatif lain.

Aku semakin mendumal, tepat pukul duabelas aku baru sampai di apartemen. Aku berlarian melewati lantai basement. Lift penuh. Aku berinisiatif lewat tangga. Tidak peduli berapa anak tangga yang harus aku lewati. Satu tanganku berpegangan pada pembatas tangga, dan tangan yang satu menggenggam kembang api. Aku sedikit berjongkok ketika sudah sampai di lantai sepuluh. Napasku tersengal-sengal sekian detik. Tanpa menunggu banyak waktu, aku langsung mendatangi kamar Mita. Sedikit gugup saat mengetuk pintu. Sementara menunggu, aku acap kali membenahi rambut mohawk yang terasa kuyup oleh keringat. Aku juga merapikan kemejaku, terampil mengusap wajah yang basah. Aku tersenyum tanggung melihat Mita membuka pintu. Dia kaku menatapku. Dan aku, bodohnya, malah melamun. Sampai-sampai Mita menepuk pipiku. Aku kikuk, mencoba bersikap normal. Tidak banyak yang berubah. Dia masih seperti Mita yang kemarin.

“Ikut gue, yuk!” tanpa menunggu interupsinya, aku langsung saja menarik tangannya. Aku mengajaknya menikmati sisa-sisa malam tahun baru di gedung tertinggi apartemen.

“Yaela! Lo telat kali! Tuh, lihat. Jam duabelas udah lewat!” Mita sengaja mendekatkan jam tangannya. Aku menepis tangannya pelan.

“Nggak ada salahnya, kan?” Aku nyengir, menyerahkan satu kembang api padanya. Mita heran menerimanya. Matanya langsung berkaca-kaca.

“Kenapa? Ada yang salah sama kembang apinya?” tanyaku yang melihat Mita gemetar memegangnya. Dia menggeleng.

“Ng.. Nggak apa-apa. Eh, mana koreknya?” Mita sengaja mengalihkan perhatianku. Aku cepat merogoh saku.


Mita terlihat berbinar ketika cahaya kembang api menempa wajahnya. Aku sangat terpesona. Mita tertawa geli ketika percik api kecil mengenai tangannya. Sampai dia berteriak jengkel saat aku iseng menyodorkan kembang api milikku. Mita mendelik tajam. Aku mengacungkan dua jari tangan. Tanda berdamai.


Aku sangat menikmati detik-detik ini. Aku sampai tidak ingin memalingkan wajahku dari Mita. Entahlah, senyum yang mengembang di bibir tipisnya seakan mampu menghentikan duniaku. Mampu membuatku melayang.

Kami duduk bersebelahan di tepian gedung sejam kemudian. Dari atas sini masih terlihat hingar-bingar yang masih memenuhi setiap sudut kota. Disini, hanya senyap, tidak terdengar suara apapun dari atas gedung. Aku mencuri pandang, tepat sekali, saat itu juga persis ketika Mita menoleh kepadaku. Aku sempat gelagapan. Pura-pura sibuk untuk menyembunyikan pipiku yang memerah, grogi. Mita tiba-tiba merentangkan kedua tangannya. Satu lengannya terjulur tepat di depan wajahku. Aku menoleh lagi. Mita sedang menutup matanya. Aku akan menggunakan kesempatan ini sebaik mungkin. Aku sentuh tangannya, awalnya penuh keraguan, tetapi aku terus meneguhkan hati. Mita terkesiap membuka matanya, lantas menatapku heran. Aku harus mengatakannya sekarang!

“Aku mencintaimu, Mita—” ungkapku. Aku hampir tidak percaya. Entah darimana datangnya keberanian itu, yang tiba-tiba merasup setiap aliran darahku. Aku menggenggam jemarinya. Mita tertunduk.

“Maaf, tapi bukan aku orangnya. Aku yakin, kamu pasti akan mendapatkan wanita yang jauh lebih baik.” Mita menggigit bibir, kepalanya menggeleng tertahan. Aku tercengang demi mendengar penolakannya. Hatiku kembali menciut. Bagai sterofoam disiram bensin. Meleleh.

“Hanya—hanyalah Mita wanita terbaik yang pernah aku temui!” kilahku, sedikit melonggarkan tangannya. Mita menarik tangan yang tadi sempat aku genggam.

“Cukup, Mal! Aku nggak mau kita bertengkar cuma karena masalah sepele ini!” Mita berkata galak. Giliran aku yang tertunduk kaku. Aku mengusap tengkukku yang basah. Apa yang dia bilang? Cuma masalah sepele? Astaga, aku tidak tahu apa arti cinta dimata Mita! Se-rendah itu kah? Aku memang sepatutnya selalu memupus. Nyatanya, apa yang menjadi kecemasanku bukan isapan jempol belaka. Mita memang tidak merasakan apa yang aku rasa.


Mita bangkit berdiri lima menit kemudian. Aku sibuk mematung, membiarkan dia pergi tanpa berkata. Aku bisa mendengar derap langkahnya yang semakin menjauh. Aku mengusap wajah tegangku. Baiklah. Biar, biar saja cinta ini tumbuh sendiri tanpa aku memupuk harapan lagi.


Menjelang pagi, ketika matahari menyemburat kemerahan di ufuk timur, langit yang cerah menyambut pagi. Aku masih tergugu di tepian gedung. Entah berapa lama aku melamun. Aku merasa penolakan itu cukup menikam ulu hatiku. Aku tidak menyesal, aku bahkan sangat lega sudah mengatakannya. Aku akan tetap mencintainya. Dengan atau tanpa Mita menerimanya.


Aku mengucek mata, bahkan rasa kantukku ikut sirna. Aku bergegas bangkit, menepuk-nepuk celana yang kotor kena debu.

“Masih disini ternyata.” Seseorang berseru dari belakangku. Aku memutar tubuhku. Mengatupkan mulut rapat ketika aku tahu siapa yang datang.

“Samalam ketiduran disini,” jawabku tak kalah datar. Tidur? Mana sempat otakku memikirkan tidur, sementara hatiku sedang berkecamuk?


Mita melangkah mendekat. Aku beranikan untuk bersitatap dengannya. Mata indah itu sembab, kantung mata yang lebam.

“Pulang, gih!” usirnya halus. Aku terkesiap dari lamunanku.

“Lupakan soal tadi malam. Anggap saja aku sedang bergurau.” Aku menyeringai tipis. Mita menggeleng. Dahiku langsung berkerut seiring gelengannya. Aku mengibaskan tangan. Terburu-buru melangkah melewatinya.

“Ikmal!” serunya kemudian. Aku berhenti sejenak untuk menatapnya dari jarak cukup jauh.

“Ehm.. Aku mau bilang kalau—” Mita menggigit bibir, urung melanjutkan kalimatnya.


Apa? Hatiku tak sabar menanti kalimat selanjutnya.


“Hati-hati di jalan!” serunya lagi. Jadi hanya itu? Aku tersenyum kaku. Kembali melangkah. Mita mungkin belum mempercayaiku untuk menjadi— Ya, aku sadar betul. Aku baru mengenalnya setengah tahun yang lalu. Dan, ternyata enam bulan memang belum cukup untuk meyakinkan Mita. Entah, berapa lama lagi sampai Mita benar-benar mau membuka hatinya. Memberiku kesempatan itu.


Mobil yang aku kemudikan sudah keluar dari halaman apartemen. Pagi yang indah, gumamku. Sisa-sisa perayaan semalam masih buncah. Aku memperlambat laju mobil, menoleh keluar. Aku tersenyum melihat serombongan anak muda bercengkrama. Aku menelan ludah. Semalam, malam tahun baruku terasa hambar. Hanya ditemani dengan penolakan itu.

***


“Bagaimana acaramu semalam? Pasti seru, bukan?” Papa bertanya dari balik koran yang membentang menutupi wajahnya. Aku duduk di kursi sebelahnya. Menghela napas tertahan.

“Pasti berantakan, ya?” tebak Papa tanpa melirikku. Hanya berdehem, lalu membalik koran ke halaman selanjutnya.

“Ikmal ditolak mentah-mentah…” Aku sempat menceritakan hal ini kepada Papa tempo hari. Dan ia sangat mendukungku.

“Oh ya? Malang sekali gadis itu. Ah, jangan-jangan dia cuma jual mahal. Kau seharusnya tidak boleh menyerah begitu saja!” Papa serampangan melipat korannya, lantas membantingnya ke atas meja. Aku sedikit kaget.

“Dia bukan gadis sembarangan, Pa. Aku terlalu mencintainya. Jadi butuh waktu untuk—” Aku sengaja menghentikan kalimatku, menelan ludah.

“Kau belum mengenalkan gadis itu pada Papa!” sanggahnya galak. Aku memperbaiki posisi duduk.

“Diterima saja tidak. Kenapa harus mengenalkan kepada Papa?” sergahku sebal. Papa terkekeh menepuk bahuku.

“Baru begitu saja kau sudah menyerah!” Papa tergelak menertawakanku. Aku mendengus lirih.

“Kalian berdua sedang memperebutkan apa? Lagaknya seperti rapat DPR!” Mama datang dari balik pintu. Membawa dua cangkir teh di atas nampan.

“Ini, si Ikmal nembak—” Papa menutup mulut dengan tangannya setelah aku berdehem cukup keras. Bisa bahaya kalau Mama tahu tentang ini!

“Nembak? Emangnya nembak siapa?” Mama sibuk menatapku dan Papa secara bergantian.

“Nembak, emm, eh iya, nembak bikin KTP, Ma. Kemarin KTP-ku hilang.” Aku menjelaskan dengan berlepotan. Untungnya, Mama tidak tertarik lagi untuk bertanya. Mama kembali ke dapur. Aku mengelus dada. Papa pura-pura sibuk membuka lipatan koran, membacanya lagi. Papa sedang menutupi rasa malunya karena hampir keceplosan tadi.

“Pa, korannya terbalik!” Aku cengengesan berdiri. Papa buru-buru membenarkan posisi korannya.



Aku berjalan ke arah balkon. Angin pagi masih terasa hening. Aku berpangku tangan di atas besi pembatas balkon. Mataku menatap lurus ke depan. Aku sudah pasrah, biarlah takdir yang akan menentukan kemana hati ini akan berlabuh. Mita? Entahlah.







Bersambung—

Sabtu, 05 Mei 2012

Semua Tentang Kita : part 1



Aku menengok ke arah tikungan di depan rumahku, sudah dua kali aku melakukannya. Jam di tanganku sudah hampir menunjukkan jam tujuh pagi. Sementara jarak menuju ke sekolah membutuhkan waktu lima belas menit. Aku mendesah, menggerutu karena Farish tak kunjung datang menjemput. Pikiranku melayang membayangkan hukuman apa yang menunggu di sekolah. Gelisah. Pengen bolos, tapi, ah tidak mungkin. Aku sedikit lega melihat Farish datang, nafasnya tersengal-sengal.

“Maaf, yank. Tadi bangun kesiangan.” Ucapnya menyerahkan helm kepadaku.

“Huh, kebiasaan nonton bola melulu.” Aku membonceng dengan posisi menyamping. Dia hanya nyengir. Sepanjang jalan menuju sekolah, Farish memacu motor dengan kecepatan diatas rata-rata. Aku terpaksa mengeratkan peganganku. Aku menelan ludah, semua lubang di jalan tidak ia pedulikan. Aku komat-kamit membaca doa, takut jika mati konyol, lulus SMA saja belum!


Yang menjadi ketakutanku terjadi juga. Semua pintu gerbang di utara dan selatan sudah dalam keadaan tergembok. Aku menepuk jidat, Farish malah terlihat santai. Aku mencubit lengannya, “Gimana dong? Itu guru STP2K ada di halaman depan semua!” Aku mendesis pelan. Pak satpam membukakan gerbang utara, aku sedikit lega, banyak juga murid yang terlambat. Sedikit takut aku berjalan, sampai-sampai merinding melihat tatapan Bu Lilik, guru yang juga mengampu mapel BK.

“Ayo lepas jaketnya!” Pak Dibyo menegur. Aku buru-buru melepas jaketku, Farish juga. Tanpa ba-bi-bu, Pak Ranto langsung mengambil kontak motor yang masih menggantung. Akhirnya, semua murid yang terlambat disuruh berkumpul di lapangan rumput. Kami diberi aba-aba untuk membuat barisan rapi lima berbanjar. Aku mengeluh, melirik galak ke arah Farish. Aku sudah tahu hukuman apa yang akan diberlakukan untuk murid-murid yang terlambat. Apalagi kalau bukan berlari mengelilingi lapangan sebanyak lima putaran? Hei! Lapangan itu tidak selebar lapangan basket. Ini seukuran lapangan sepakbola! Aku mendumal dalam hati, mengutuk Pak Makruf yang menjatuhkan hukuman ini, dan tentu saja mengutuk Farish.

Kami semua—murid yang terlambat—berlari mengitari lapangan. Aku berlari di samping Farish, sempat juga bergandengan tangan, melepas gandengan ketika Pak Makruf sengaja mendehem. Baru tiga kali putaran saja aku sudah loyo. Bagaimana tidak? Tadi pagi saja aku belum sarapan. Farish meraih tanganku, berusaha menarikku pada putaran keempat. Aku tergugu, teringat sesuatu, kembali menatap punggung Farish yang berlari didepanku. Bukankah dia mempunyai penyakit asma? Aku tidak yakin dia baik-baik saja. Berlari mengelilingi lapangan sebesar ini berbeda dengan urusan dia begadang setiap malam untuk menonton bola. Dalam hitungan sekejap, sepersekian detik, Farish ambruk, jatuh tersuruk. Aku meneriakinya, panik bukan main, semua murid yang ada di lapangan bergegas menghampiri. Aku mendekap tubuh Farish, menangis, aku menyesal, kenapa tadi aku lupa soal penyakit asma? Mengapa aku membiarkan Farish ikut menjalani hukuman ini?

Pak Makruf dan Pak Pitoyo segera datang, menyibak kerumunan, berseru untuk menggotong Farish ke dalam mobil milik Pak Pitoyo untuk dibawa ke puskesmas terdekat. Tanganku gemetar menyentuh bibirku, aku ingin ikut, tapi Bu Lilik mencegahku. Aku sempat protes, aku ini pacarnya, kenapa tidak boleh mendampingi?

Setelah gagal merengek didepan Bu Lilik, akhirnya aku hanya mengalah. Siapa juga sih yang bisa melawan setiap perintahnya? Sepanjang jalan menuju kelas, aku menangis sesenggukan, tanganku menenteng dua buah jaket, sedih teringat keadaan Farish sekarang bagaimana. Berjalan gontai memasuki kelas, semua teman-temanku menatapku, bersiap mencibir, barangkali tadi melihat aku dihukum. Aku tidak menghiraukan, tetap berjalan, menuju bangku yang ada di deretan paling belakang. Aku sedang tidak berminat untuk menanggapi pertanyaan ini-itu. Lebih memilih menutup kepala dengan jaket, terpekur diatas meja, menangis menghadap ke tembok. Teman-temanku sibuk mendekat, membelai rambut panjangku, bertanya-tanya dengan cemas.

“Fel, kok nangis? Kenapa, pasti dimarahin sama Bu Lilik ya?” Dewi bertanya, serba ingin tahu.


Aku terus-terusan menangis, tidak menanggapi, membiarkan mereka penasaran sendiri. Aku sedang sedih memikirkan Farish. Aku menolak saat Dewi mengajak pergi ke kantin. Aku duduk di depan kelas, memandangi kelas Farish dari kejauhan. Biasanya dia akan berjalan ke arahku. Tetapi sekarang? Aku menyeka pipiku.


Saat istirahat kedua aku memilih untuk menyambangi hall. Siapa tahu Farish sudah kembali ke sekolah, pikirku. Aku duduk di salah satu kursi, menghela nafas, mengaitkan jari-jariku, menunggu dengan cemas. Jam di hall menunjukkan pukul dua belas tepat. Ayolah, cepat datang, ah sial! Bel masuk terlanjur berbunyi. Dengan terpaksa aku meninggalkan hall, aku ingat jika jam selanjutnya adalah pelajaran Bu Endang—guru yang paling disegani karena kegalakannya. Aku berjalan lunglai melewati pintu kelas. Baiklah. Aku sangat yakin jika Farish akan baik-baik saja. Selama dua tahun lebih kami berpacaran, Farish bukan tipikal orang yang suka mengeluh, selalu tegar. Malahan selama ini aku yang banyak mengeluh, merajuk, merengek. Aku memang belum bisa se-dewasa Farish, aku selalu menghadapi masalah dengan gegabah. Farish juga tidak pernah memarahiku, jika dia jengkel atau kesal kepadaku cukup dengan mencubit pipiku saja.

Aku menghembuskan nafas pelan, lega sekali, akhirnya bel pulang berbunyi juga, setelah hampir dua jam mental dan nyali menciut. Kelas ditutup dengan doa bersama. Aku biasanya keluar paling terakhir, sangat malas jika harus berjubel-jubelan. Setelah cukup lengang, aku keluar dari kelas seraya menenteng jaket Farish. Aku sangat terkejut ketika melihat Farish duduk manis didepan kelasku.

“Kamu nggak apa-apa kan?” Aku dengan panik mendekatinya.

“Lihat sendiri, nggak apa-apa kan?” Farish tersenyum membuka tangannya, berdiri dari duduknya.

“Iya sih.” Aku mengecek pipi, bahu dan tangannya. Aku melihat bekas infus di pergelangan tangannya.


“Gimana rasanya disuntik?” Aku menyeringai. Dia kan paling takut dengan jarum suntik?

“Sakit lah. Mending pilih digigit kamu aja deh.” Farish bergurau. Aku mendorong pipinya pelan.

“Pulang sekarang aja yuk.” Farish meraih tanganku, menggandengku. Kami berjalan menuju tempat parkir. Sekolah sudah sepi, hanya ada beberapa anggota OSIS yang lalu-lalang, entahlah, barangkali sedang mempersiapkan classmeeting untuk hari senin.


“Kamu yakin bisa?” Aku menarik lengan Farish yang hendak menaiki motornya.

“Kamu nggak percaya sama aku?” Farish menoleh, mengernyitkan dahi.

“Ya, bukannya gitu. Aku aja deh yang nyetir.” Aku memaksa dia pindah posisi. Farish melotot.

“Aduh, nggak lucu dong, yank. Udah, biar aku aja.” Farish tertawa kecil, lalu menyerahkan helm kepadaku.

“Awas, pelan-pelan tapi.” Aku menepuk pundaknya. Farish mengacungkan jempolnya.


“Kamu tadi di puskesmas diapain aja?” tanyaku saat berhenti di lampu merah.

“Di cium sama suster cantik!” Jawabnya santai. Aku mencubit perutnya, “Ih, nggak lucu!”

“Tadi cuma di infus kok, yank. Terus sempet tidur tiga jam.” Farish menyalakan mesin motornya, lampu sudah berwarna hijau. Syukurlah ternyata dia tidak kenapa-kenapa. Kalau sampai terjadi sesuatu dengan Farish, aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri.



Handphone-ku bergetar sejak tadi, aku tahu itu panggilan dari Farish. Tapi, ah, bagaimana mungkin mengangkat telepon dalam keadaan tanggung seperti ini? Tanganku saja berlepotan busa, piring-piring yang kotor masih banyak, belum lagi mencuci pakaian dua ember besar. Aku menghembuskan nafas pelan, menoleh ke arah hp yang masih terus saja berkedip. Nanti-nanti saja aku menelepon balik, sekarang kembali fokus ke piring kotor yang ada di tanganku. Begini kalau weekend tiba, tidak leluasa berkomunikasi dengan Farish.


Selesai mencuci piring, aku bergegas merendam pakaian-pakaian kotorku. Aku menoleh lagi, melipat dahi, hp-ku bergetar, entah sudah berapa ratus Farish mencoba meneleponku. Aku mengangkat telepon itu, memakai headset di kedua telinga, seraya tangan sibuk mengucek cucian.

“Aduh, yank, maaf baru aku angkat. Tadi sibuk nyuci piring, sekarang lanjut nyuci baju. Hah? Apa? Oh, udah. Kamu makan belum? Buat istirahat aja. Jangan nonton bola melulu!”

Farish langsung mengakhiri panggilan, katanya, takut mengganggu aku yang sedang sibuk. Aku mendesah, sedikit kecewa. Baiklah. Lebih baik sekarang menyelesaikan pekerjaanku dahulu.


Aku mulai beranjak, mengangkat dua ember ke tiang jemuran. Aku mengibaskan pakaian yang basah, bergidik, terkena percikan. Handphone yang ada di saku celanaku bergetar. Farish? Tidak mungkin. Aku menatap layar sekilas, tersenyum kecut, Dika? Begitu tahu panggilan itu dari dia, aku jadi malas mengangkat. Dika adalah batu sandungan terbesar yang sewaktu-waktu bisa mengancam hubunganku dengan Farish. Dika selalu mengejarku, meskipun sudah aku tolak mentah-mentah, tetap saja dia keukeuh. Aku sampai sebal sendiri, untung saja Farish sangat mengerti kondisi ini. Farish malah berkata, “Waduh, aku punya saingan baru. Tapi, ah, masih gantengan aku dong!”


Aku terkesiap, tadi sempat melamun sebentar. Mataku kembali menatap layar yang berkedip. Jika diberi pilihan, aku ingin sekali mengutuk Dika menjadi kodok! Mau tidak mau, aku sengaja menon-aktifkan handphone-ku. Peduli setan dengan makhluk itu.


Aku mendengar suara pintu diketuk, beranjak dari dudukku, lalu membukanya. Aku sampai menepuk-nepuk pipiku dua kali, ini mimpi atau apa? Lihatlah siapa yang datang membawa setangkai mawar merah. Aku kembali menutup pintu dengan cepat.

“Felisa, kok malah ditutup sih?” Dika mencoba mengetuk pintu lagi dengan nada kecewa.

“Pulang aja sana. Gue nggak suka mawar merah!” Aku berseru dari balik pintu, mengusirnya. Sial bagiku, Dika tetap tidak mau pergi.

“Mau lo apa sih?” tanyaku jengkel.

“Cuma mau ngasih bunga ini kok. Masa sih cewek dikasih mawar nggak suka?” Dika seperti sedang memohon aku mau membukakan pintu. Aku memutar bola mata dengan mangkel. Aku memang suka mawar merah, jika itu pemberian Farish. Aku membuka pintu, akhirnya menerima bunga itu.

“Udah gue terima. Sana pulang!” Aku mengusirnya, mengarahkan telunjuk ke pagar depan rumah. Dika tersenyum, berjalan mundur, mendadah, bahkan memperagakan ‘kiss bye’. Aku bergidik ngeri melihat dia ke-pede-an.






Bersambung...

Jumat, 04 Mei 2012

“Biarkan Aku Mencintaimu” (bagian 5)


 
 Awal Dari Segalanya


“Ehem.” Aku sengaja berdehem untuk mengalihkan perhatiannya. Mita terlalu khidmat menikmati pemandangan di depan sana, sampai tidak menyadari kedatanganku. Entahlah, aku sendiri juga tidak tahu mengapa aku menjadi serba-tanggung untuk menyapanya. Padahal mana pernah aku seperti ini. Mita perempuan pertama yang berhasil membuatku menjadi sekarang ini.

“Sejak kapan ada disini, Mit?” tanyaku sedikit basa-basi. Mita, seperti malam sebelumnya, dia sedang berdiri di pinggiran gedung.

“Sejam yang lalu.” Mita sedikit menoleh, menjawab singkat. Dia kembali menatap hamparan gedung dibawah sana. Kerlip lampu seakan menambah aksen malam yang beranjak matang.

“Gue bawa es krim nih. Mau?” Aku mengangkat plastik putih di tanganku. Meringis.

“Enak nggak?” sergahnya tidak tertarik.

“Cobain dulu.” Aku melangkah mendekatinya. Mita memandangi plastik di tanganku, kemudian dia mengangguk sekilas.

“Gimana? Enak kan?” tanyaku ketika kami duduk bersebelahan, menyantap double dutch bersama. Mita lagi-lagi hanya mengangguk.

“Makan es krim gini, jadi ingat sama seseorang.” Mita menghentikan gerakan tangannya, urung menyendok es krimnya, air mukanya langsung berubah.

“Siapa? Pacar lo ya?” tanyaku tergesa, lebih karena aku penasaran, dan sekaligus untuk memastikan apakah Mita sudah mempunyai pacar atau belum.

“Bukan.” Mita langsung meletakkan es krimnya, matanya menerawang lurus kedepan.

“Lalu siapa?” tanyaku lagi, tidak sabar mendengar jawaban dari Mita.

“Bukan siapa-siapa!” kilahnya cepat. Mita segera bangkit dari duduknya, cepat-cepat melangkah pergi. Aku berlari mengejarnya. Mita berjalan gontai, menuruni anak tangga. Aku mencoba mengimbangi langkahnya, kusentuh lengannya.

“Jangan marah ya.” Aku menarik lengannya, lantas melepasnya saat Mita risih menyingkirkan tanganku. Mita berhenti sebentar, lalu kembali meneruskan langkahnya. Aku melangkah cepat, menutup jalan di depannya. Mita terpaksa berhenti dan kali ini dia menatapku.

“Nggak marah. Cuma lagi—ngantuk!” Mita menyibak tubuhku, aku sedikit terdorong ke samping.

“Eh, awas ya, jangan tanya-tanya lagi!” Mita berbalik, telunjuknya tegas menudingku. Dalam ruangan minim cahaya sekalipun, aku masih bisa melihat Mita melototiku. Aku nyengir sesaat ketika Mita menghilang dari pandanganku.

***

“Lagi bakar apa sih?” Aku sangat penasaran ketika melihat Mita ada di halaman belakang apartemen. Mita mengangkat bahu, tidak menjawab, hanya saja pandangannya tetap berada di tong sampah itu. Aku mengambil jarak lebih dekat lagi, sampai aku akhirnya tahu apa yang barusan dia bakar. Aku bergumam. Majalah? Untuk apa dia membakarnya? Yang lebih mengejutkan lagi, aku melihat cover depan yang sudah setengah hangus. Ada foto Papa terpampang di halaman pertama majalah itu. Tentu saja majalah tentang bisnis.

“Buat apa dibakar?” tanyaku semakin merasa aneh. Untuk apa dia repot-repot membeli majalah hanya untuk membakarnya.

“Isinya jelek. Nggak bermutu! Apalagi covernya bikin muntah!” ucapnya dengan nada yang meletup-letup.

“Kalau udah tahu jelek, ngapain tadi dibeli? Covernya? Kenapa, apanya yang salah?” sanggahku tak terima. Tidak, alasannya bukan karena aku penasaran, lebih karena aku merasakan hal ganjil disini. Apa yang barusan dia katakan itu sungguhan atau apa?

“Bisa kan untuk kali ini lo berhenti bertanya? Tidak semua hal perlu lo ketahui.” Mita seakan menjelaskan kepadaku tentang batas-batas privasinya yang mulai terusik sejak mengenalku. Tetapi mana bisa aku diam? Aku membutuhkan penjelasan yang masuk akal mengapa dia sepertinya sangat membenci Papa? Apa sebenarnya yang telah terjadi? Mita, darimana dia mengenal Papa?

“Kali ini gue mohon, Mit. Jawab pertanyaan gue tadi.” Aku mengoyak bahunya, masih memaksa. Mita kesal menepis tanganku.

“Buat apa, gue tanya, buat apa? Memang dengan gue jawab pertanyaan lo tadi, itu akan menyelesaikan semua masalah? Nggak kan?” Mita membentakku, geram mendorong bahuku. Aku salah jika memaksa kehendak kepada Mita. Dia sangat amat keras kepala.

“Terserah! Gue cuma mau meringankan beban lo, Mit. Gue cuma pengen jadi tempat berbagi. Bukan tempat yang selalu lo bentak-bentak!”

Suaraku meninggi ketika menanggapi perkataan Mita yang tidak tahu berterimakasih. Bukan apa-apa, tidak bermaksud meminta imbalan, aku hanya ingin Mita menganggap aku teman seutuhnya. Bukan seperti ini yang aku harapkan.

“Mulai sekarang lo boleh jauhin gue. Toh, itu yang orang-orang lakukan selama ini. Gue terbiasa sendiri. Anggap aja lo nggak pernah kenal perempuan se-galak gue.” Mita memunggungiku. Tidak, dia bukan seperti Mita yang aku kenal. Bukan hatinya yang berbicara, melainkan emosi.

“Mit, sebenci apapun gue sama lo. Dan semarah apapun lo sama gue. Nggak semudah itu menganggap tidak pernah ada apa-apa diantara kita.” Aku berkata dari belakangnya, nyaris menyentuh pundaknya. Aku mengurungkan niat itu, menurunkan tanganku cepat. Mita berbalik untuk menatapku dari jarak yang bisa dibilang cukup dekat.

“Mudah, sangat mudah, Ikmal.” Mita berujar sinis, menyeringai tertahan.

“Oke, mau lo sekarang apa?” kataku mengalah, mencoba meredam suasana.

“Jangan dekat-dekat lagi,” ucapnya datar, nyaris tak terdengar.

“Apa?” tanyaku memperjelas.

“Jangan ikut campur lagi!” Mita berbisik di telingaku. Lantas beranjak pergi. Aku menatapnya tidak mengerti. Aku mengalihkan pandanganku ke tong sampah tadi. Majalah itu sudah menjadi abu.

***

Entah mengapa, sejak kejadian itu, aku benar-benar menjaga jarak dari Mita. Aku hanya berusaha menghargai pilihannya, mau dipaksa juga tidak mungkin. Aku percaya, dia bisa mengatasi masalahnya sendiri, tanpa aku.

“Kamu yakin sudah mantap untuk bekerja di kantor ini?” Papa menghela nafas panjang, menatapku skeptis, rupanya masih meragukan kesungguhanku. Aku sebenarnya belum sempurna yakin dengan keputusan ini. Namun, setelah aku pikir-pikir tidak ada salahnya mencoba. Sebenarnya, ini cara paling efektif untuk menjauh dari Mita, itu salah satu alasan terbesar mengapa aku berdiri di hadapan Papa sekarang.

“Kamu sudah memikirkannya masak-masak?” Papa mengangkat dagunya, sekali lagi menaruh curiga kepadaku.

“Papa.. Ikmal harus apa supaya Papa percaya?” tanyaku jengkel. Papa membenarkan posisi dasinya.

“Pulanglah. Papa tidak ingin melihat kamarmu kosong.” Papa berdiri dari kursi empuknya, berjalan satu-dua langkah ke arah jendela kaca, matanya menatap entah apa yang ada diluar sana. Rambut hitam-tipisnya yang klimis terlihat bercahaya diterpa sinar matahari.

“Harus sekarang ya, Pa? Bagaimana kalau satu bulan lagi? Ehm, seminggu?” tanyaku hati-hati, sedikit memohon. Papa menggeleng dengan tegas.

“Tapi.. Aku masih belum bisa kalau dalam waktu dekat ini meninggalkan apartemen.” Aku mengimbuhkan. Papa beralih menatapku, mengerutkan dahi.

“Papa anggap kamu tidak serius.” Papa menyimpulkan cepat, melipat tangan di dadanya. Seperti segan memberiku kesempatan.

“Baiklah. Terserah kamu, Papa tidak akan memaksa. Hanya saja, Mamamu itu ingin sekali kamu cepat pulang, tinggal di rumah lagi. Papa sampai bosan mendengar rajukannya. Kalau mau Papa bisa saja menyeretmu paksa, tapi itu tidak etis, bukan?” Papa menyeringai sekilas. Tatapannya dingin.

“Aku pikir-pikir dulu deh, Pa. Dan secepatnya aku pasti pulang.” Aku menghembuskan nafas tertahan. Mengapa jadi serba-salah begini. Aku pamit, Papa hanya mengangguk tanpa berkata. Aku melangkah keluar dengan perasaan campur-aduk. Tetapi, memang sudah saatnya aku harus pulang.



Maka sepulang dari kantor Papa. Aku cepat-cepat berkemas. Sepanjang jalan pulang tadi aku sudah mempertimbangkan, mencari sisi baiknya, dan meneguhkan hati. Mungkin aku akan meninggalkan apartemen besok pagi, setelah membereskan segala macamnya. Kurasa aku tidak perlu berpamitan dengan Mita. Dia—mungkin—sangat lega melihat aku pergi jauh dari hidupnya. Dengan begitu dia bebas melakukan apa saja tanpa harus repot-repot mendengarkan interupsi dariku.


Malam hari ini aku habiskan untuk memandangi bulan sabit yang menggelayut indah di punggung langit. Sayang sekali, aku hanya sendiri disini. Senyap. Angin malam tetap berhembus. Mita tidak ada disini, aku juga heran, sekarang dia ada dimana aku juga tidak tahu. Seharian ini aku belum melihatnya. Lagipula kalaupun melihatnya, aku sendiri tidak tahu apa reaksi Mita.

***

Aku menyeret dua koper besar dari kamarku. Cukup kerepotan aku membawanya.

“Biar gue bantu bawa kopernya.” Seseorang datang dari belakangku, mengambil alih satu koperku. Mita? Aku tertegun melihatnya.

“Nggak perlu. Gue bisa sendiri.” Aku menolak secara halus. Mita tetap tidak mau melepas koperku dari tangannya.

“Gue kan jarang berbuat baik sama lo. Jadi kali ini, gue pengen bisa berguna buat orang lain.” Mita tersenyum. Aku mulai menaruh curiga, dia manusia berkepribadian ganda atau bagaimana? Aneh sekali melihat Mita lembut seperti ini. Dia sedang waras atau tidak?

“Emang mau pindah kemana sih?” tanya Mita saat kami sudah di dalam lift, menuju lantai dasar.

“Mau pulang ke rumah,” jawabku pendek.

“Kok serba mendadak?” telisiknya lagi.

“Iya, baru kemarin Papa minta gue pulang.” Aku sedikit canggung, sehingga tak berani menatapnya secara langsung. Tapi aku bisa melihat pantulan wajahnya di dinding lift. Dia seperti kecewa, bukan, melainkan wajah dengan seribu pertanyaan.

“Sampai kapan?” tambahnya. Dari nada bicaranya saja aku sudah bisa menebak. Mita sangat takut kehilanganku. Ya, secara kasarnya, bisa dibilang dia tidak ingin kehilangan seorang sahabat. Aku hanya menggeleng untuk menjawab pertanyaannya barusan sebelum akhirnya lift berdenting, pintu terbuka kemudian.

“Eh, mau ikut ke rumah gue nggak?” tawarku seraya memasukkan koper-koper tadi ke dalam bagasi. Mita masih diam, memikirkan lebih lanjut.

“Mungkin lain waktu aja.” Mita menolaknya.

“Oke. Lo jaga diri baik-baik ya, Mit. Kalau lo sewaktu-waktu butuh bantuan ataupun teman curhat, lo tinggal telepon gue aja. Gue selalu siap kapanpun lo butuh gue.” Aku menggamit bahunya. Mita menunduk, beberapa kali menyeka batang hidungnya.

“Thanks untuk semuanya, Mal. Hari-hari gue selalu indah saat lo datang. Ya, meskipun gue sering marah-marah. Tapi gue salut, bahkan lo terlalu sabar menghadapi gue.” Mita memelukku spontan. Aku hampir belum percaya, ragu untuk membalas pelukannya. Tanganku perlahan mengelus punggungnya. Aku tidak tahu jika Mita menangis di pundakku.

“Lo nangis, Mit?” tanyaku sedikit terkejut, berusaha melihat wajahnya yang tertunduk, aku mengangkat dagunya. Mita sudah menghapusnya, tetapi aku melihat bekas parit di kedua pipinya. Mita mengatupkan mulutnya, sedikit senyum mengembang di pipinya.

“Jangan sedih ya!” seruku mengacak poni pendeknya. Mita menendang kakiku pelan. Dia pura-pura meninju bahuku. Aku sigap menahan tangannya. Lama sekali Mita menatapku. Aku juga balas menatap mata beningnya. Memang sengaja aku tidak mengelak, aku membiarkan pandangan kami saling terkunci. Aku menunggu sampai Mita sendiri yang menyudahi tatapannya. Aku berdehem lirih, dia menatap ke arah lain dengan kikuk.

“Buruan gih, pasti keluarga lo udah kangen banget sama lo.” Mita tersenyum, lantas mendorong tubuhku ke arah pintu mobil, dia gemas memaksaku masuk mobil. Aku menurunkan kaca pintu, lalu mendadah Mita lama sekali. Hingga mobilku keluar dari halaman apartemen, aku masih melihat Mita berdiri ditempat tadi. Kalau dulu, aku tidak pernah menyangka akan bertemu dengan Mita. Tetapi, sekarang, aku tidak pernah menduga jika pada akhirnya harus pergi dari kehidupan Mita. Ya, setidaknya, intesitas bertemu dengan Mita menjadi relatif kecil. Itu bisa dibilang perpisahan. Aku pasti akan sangat merindukan omelannya, tentunya juga rindu menghabiskan malam berdua di taman atau gedung tertinggi apartemen, menatap hamparan langit yang kosong pun akan terasa syahdu jika bersama Mita.





Bersambung...


Cari Blog Ini