Minggu, 26 Februari 2012

Diantara Persimpangan Hati

‘Kreekk’

Terdengar engsel pintu diputar. Aku membuka pintu itu saat aku mulai penasaran dengan orang yang berada diteras depan sejak tadi.

“Masuk mas? Diluar dingin,” tawarku melempar senyum. Diluar memang tengah hujan deras disertai angin kencang. Orang itu ragu menerima tawaranku.

“Nggak apa-apa kok mas. Jangan sungkan,” bujukku dengan senyum ramah. Aku lega, akhirnya orang itu mau juga. Aku mengajaknya duduk dibangku dekat jendela. Aku juga membuatkan dia secangkir kopi.

“Aduh maaf saya jadi ngeropotin,” ucapnya sungkan.

“Cuma secangkir kopi doang kok,” aku mengibaskan tangan. Kami duduk saling berhadapan.

“Oh ya, toko buku ini milikmu?” tanyanya seraya melihat sekeliling.

“Iya, sebenarnya punya Mama tapi yang ngurus aku,” jawabku.

“Hebat dong!” komentarnya kemudian.

“Masih biasa aja mas,” sergahku.

“Jangan panggil ‘mas’, panggil Wahyu aja ya,” sarannya. Aku mengangguk pendek. Barangkali dia tidak suka dengan sebutan ‘mas’. Kami mengobrol banyak hal. Saling bertukar pengalaman. Tertawa kecil. Terasa menyenangkan sekali orang ini. Meskipun baru saja mengenalnya.


“Temannya kak Mita ya?” tanya Dara yang tiba-tiba sudah berdiri disampingku. Karena keasyikan mengobrol sampai-sampai aku tidak menyadari kehadiran Dara. Aku langsung membimbing Dara untuk duduk. Dara mengulurkan tangan, berniat mengajak Wahyu berkenalan. Namun naas, tangan Dara menyambar cangkir itu. Cangkir yang masih ada isinya separuh itu pun jatuh. Pecah berkeping-keping. Aku segera memberesi pecahan beling itu. Dara nampak gentar, ikut merunduk, tangannya meraba-raba lantai. Aku segera menepisnya. Takut-takut tangan Dara malah terluka.


“Kak Wahyu pacarnya kak Mita ya?” ceplos Dara kemudian. Aku sangat kaget. Dan buru-buru mengelak, “Bukan Dar, baru kenal satu jam yang lalu.”

Wahyu hanya tersenyum tipis. Jadinya, kami bertiga terlibat dalam obrolan ringan. Dara malah terlihat sangat antusias. Aku jarang melihat Dara tertawa lepas seperti sekarang ini. Dara memang buta, tapi nalurinya cukup kuat untuk membedakan mana orang baik dan mana yang bukan.

Setelah hujan cukup reda, Wahyu pun berpamitan. Dara sedikit kecewa.
“Besok main-main kesini lagi ya kak,” rajuk Dara yang ikut mengantar Wahyu sampai depan pintu. Wahyu memegang bahu Dara seraya berucap, “Pasti!”

“Thanks buat kopinya Mit,” ucap Wahyu lagi. Dara melambaikan tangan. Aku jadi heran. Jangan-jangan Dara.. Ah, mana mungkin?

“Cowok tadi pasti cakep deh kak!” celetuk Dara cengar-cengir.

“Kamu suka yaa?” godaku, menyenggol pelan lengannya. Pipinya langsung merah padam.
***

“Kak Mita..”

“Apa neng?” jawabku tanpa menoleh. Aku sedang sibuk membuat laporan keuangan bulanan.

“Orang yang kemarin itu belum datang lagi?” tanyanya mengerutkan kening.

“Hmm orang yang mana?” Aku pura-pura tidak tahu. Padahal aku tahu yang dimaksud Dara adalah Wahyu. Siapa lagi kalau bukan dia?

“Tunggu aja, nanti pasti datang,” jawabku memberinya sedikit harapan untuk tetap menunggu. Lalu Dara, tanpa disuruh, duduk manis disampingku. Dia asyik memainkan kuku-kukunya diatas meja layaknya ora yang sedang gelisah.
Aku meliriknya diam-diam. Sudah hampir dua jam Dara duduk disampingku, dan sedikitpun tidak mau berpindah posisi. Aku sudah membujuknya, namun gagal. Dia terlalu keras kepala untuk menunggu kedatangan Wahyu. Baiklah. Nanti kalau Dara sudah bosan pasti sangat mudah untuk dibujuk.

“Uhh, kok nggak datang sih?” keluhnya. Aku hanya memandangnya heran.

“Lihat besok aja ya, siapa tahu dia bakal mampir kesini.” Aku menepuk-nepuk pundaknya. Dara mengangguk tertahan. Tidak seperti biasanya Dara bertingkah seperti ini. Aku membuang nafas. Benar-benar tidak mengerti.

***

“Eh, mau kemana neng?” tanyaku menarik lengannya.

“Aku cuma mau duduk dikursi depan,” jawabnya, lalu berjalan lagi. Aku membiarkan. Namun aku tetap memantaunya lewat pintu kaca. Aku menyeringai, pasti dia sedang menunggu Wahyu lagi!

 
Tiba-tiba..


“Kak Mita!! Lihat siapa yang datang!” Dara berseru heboh. Aku menengok dari balik tirai bambu. Wahyu? Pantas saja Dara sampai heboh begitu. Wahyu tersenyum takzim kepadaku. Bahkan, senyum itu mampu membuatku meleleh dalam sekejap.

Aku melamun sejenak, terpesona sendiri oleh senyum itu. Dara mengajak Wahyu masuk kedalam, dan Wahyu pun dengan senang hati menuntun Dara. Wahyu tertarik untuk melihat-lihat buku. Aku menemaninya untuk memilih buku. Dara lebih memilih untuk duduk saja. Enggan ikut mencarikan Wahyu buku.

“Sejak kapan Dara mengalaminya?” tanya Wahyu hati-hati. Takut membuatku tersinggung.

“Sejak kecil Dara sudah buta,” jawabku.

“Aku bangga sama Dara. Dia bisa punya semangat sebesar ini.” Wahyu terlihat kagum. Matanya beralih menatap Dara. Aku membatin, ‘Ya, sejak bertemu kamu hidup Dara berubah drastis.’

***

Hari berikutnya. Wahyu tidak datang sendirian. Kali ini ada perempuan cantik yang menggelayut di lengannya. Wanita itu siapa? Pacarnya? Barangkali.

“Itu kak Wahyu ya?” sapa Dara berjalan cepat dengan tongkat ditangannya. Tanpa ba-bi-bu, Dara langsung menarik lengan Wahyu. Barangkali ingin mengajak Wahyu duduk bersama. Tapi aku menarik tangan Dara. Dia tidak tahu kalau Wahyu tidak datang sendirian.

“Kak Mita.. Kenapa kak Wahyu nggak ditawarin duduk sih?” protes Dara. Aku menatap Wahyu dan perempuan itu bergantian. Aku menggigit bibir bawahku. Takut kalau ini akan menyakitkan untuk Dara.

“Nggak apa-apa kok Dar, aku kesini cuma mampir sebentar. Mau ngasih ini, jangan lupa datang ya?” ucap Wahyu seraya menyerahkan undangan berwarna gold dengan aksen pita diatasnya. Tanganku terpatah-patah menerimanya. Wanita disamping Wahyu pun tersenyum kepadaku. Tapi sayang, aku sama sekali tidak berminat untuk membalas senyumnya. Wahyu lantas berpamitan. Aku diam memaku. 


  Dara dengan sengaja membanting tongkatnya. Aku sedikit terkejut. Mungkin itu reaksi dari apa yang barusan dia dengar. Marah? Barangkali itu yang sedang Dara lakukan. Aku melihat Dara menyeka kedua pipinya, bahunya naik-turun. Airmata dengan cepat berlinang. Aku mendekapnya, mengelus-elus kepalanya. Bisa dibayangkan betapa hancur mimpinya kini. Aku juga tidak bisa berbuat apa-apa. Tak bisa kupungkiri, aku juga memang sedikit menaruh hati pada Wahyu. Tapi itu sebelum aku tahu semuanya.












Tamat

Malaikat-Malaikat Kecil



Jalanan kota metropolitan pagi ini cukup lengang. Tidak seperti biasanya yang mengular. Maklum saja, pagi ini kota Jakarta tengah diguyur hujan. Jadi kebanyakan orang urung untuk berangkat kerja lebih pagi. Tetapi.. Lihatlah siapa yang terlihat sangat bersemangat sekali. Mengemudi dengan hati gembira, menyibak bulir-bulir hujan. Kipas air kaca mobilnya terus saja berderit kekanan-kiri. Ah ya, pagi ini ia akan menemui anak-anak kecil itu. Selang beberapa menit mobilnya sudah memasuki halaman rumah sakit. Untuk apa dia ke rumah sakit? Entahlah. Lihat saja nanti.



“Kak Mita...” sambut anak-anak dengan kompaknya. Berebut untuk memeluk dan mencium pipi Mita. Yang tidak kebagian hanya cemberut. Anak-anak itu berbilang tujuh sampai sembilan tahun. Mereka terlihat sangat polos, dan tentu saja menggemaskan. Namun.. Lagi-lagi ada yang membuat mereka berbeda. Mereka terlihat istimewa meskipun dengan kekurangan masing-masing. Hei, itu juga bukan kemauan mereka!

“Pagi ini kakak bawa sesuatu untuk kalian,” ucap Mita menjijing plastik putih itu tinggi-tinggi. Semua mulai berseru antusias. Ada juga yang loncat-loncat kegirangan, mencoba meraih plastik putih itu. Mita hanya tertawa kecil.

“Nanti, siapapun yang bisa menyelesaikan permainan ini dengan sempurna, akan dapat hadiah.” Mita mulai membagi permainan lego itu satu per satu. Ia kemudian tersenyum takzim, melihat beberapa anak yang menatap lego dengan tidak mengerti. Dengan senang hati Mita memperlihatkan cara menyusun lego-lego itu. Anak-anak mulai rusuh, berebut untuk duduk disamping Mita. Ya, semua memang terlihat begitu menyenangkan. Maka sepanjang pagi itu berakhir sudah. Jadwal kunjungannya hanya pagi hari saja. Anak-anak itu membutuhkan perawatan yang intensif. Anak-anak yang terpaksa harus menginap di bangsal-bangsal rumah sakit.

***

Seperti pagi-pagi sebelumnya, Mita meluangkan waktu khusus untuk anak-anak itu. Dan lihat apa yang dia bawa pagi ini? Balon-balon yang beraneka warna. Mereka membulatkan mata, tidak sabaran, akhirnya menarik ujung baju Mita dengan gemas.

Saling berebut balon. Tapi, kali ini semua anak kebagian rata. Ada yang sibuk memencet-mencet balon itu. Mita hanya mengerutkan dahi. Hal yang ditakutkan Mita akhirnya terjadi juga. Balon itu meletus tiba-tiba. Membuat ruangan itu sedikit gaduh. Malah sebagian anak menangis karena saking terkejutnya. Mita menggaruk kepalanya. Sempat bingung. Dengan sabar Mita menenangkan anak-anak itu. Akhirnya anak-anak itu diam setelah Mita membacakan mereka buku dongeng.


Setelah dirasa cukup lama di bangsal itu, Mita pun memutuskan untuk pulang. Anak-anak mendadah dengan kecewa. Mita balas tersenyum dan berjanji akan datang lagi esok hari. Mita buru-buru, lupa menutup pintu ruangan itu. Baru beberapa langkah saja..

“Kak Mita..” suara kecil itu milik Bintang. Mita bergeming, menatap anak polos itu dengan senyum takzim. Kemudian ia berjalan mendekat, merunduk mensejajari posisi Bintang.

“Ada apa sayang? Apa yang kamu bawa itu? Kak Mita boleh melihatnya?” tanya Mita sedikit penasaran melihat Bintang membawa sesuatu dibalik punggungnya. Mita mulai menengadahkan telapak tangannya. Bintang hanya meringis, malu-malu menyerahkan lego yang ada ditangannya. Mita berdecak kagum menerima lego itu. Lego itu sudah tersusun dengan sempurna.

“Anak pintar.. Kak Mita janji, besok kakak akan bawa hadiah spesial buat kamu.” Mita membelai kepala anak itu dengan lembut. Bintang lalu balas memeluk Mita. Entah mengapa, tiba-tiba saja Mita terenyuh. Anak sekecil ini menderita kanker otak?

***

Maka esok harinya Mita menepati janji itu. Dia membawa hadiah untuk Bintang. Bahkan, anak-anak lainnya menatap iri. Mita jadi merasa bersalah. Kenapa dia tidak membawakan boneka lebih dari satu? Tapi, mana Bintang?

“Ada yang tahu dimana Bintang?” tanya Mita dengan hati-hati. Dia sedikit gentar melihat ekspresi kekecewaan dari anak-anak itu.

“Bintang tadi dibawa sama sustel-sustel, didolong pakai kulsi loda.” Seorang anak kecil berani menjawab. Mita sangat terkejut. Menutup mulutnya dengan ujung-ujung jarinya. Mita cepat-cepat keluar. Bertanya kepada suster penjaga.

Mita berjalan lunglai menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Sedih berkecamuk dihati kecilnya. Sangat takut jika terjadi sesuatu terhadap Bintang. Mita menghentikan langkahnya. Jemarinya menempel pada kaca itu. Hatinya bergetar hebat demi melihat Bintang terkapar di ranjang itu. Mita menunduk menangis. Boneka yang sejak tadi dia pegang erat-erat terlepas begitu saja. Airmata juga berlinang di pipinya. Nampak seorang dokter anak didalam sana, sedang menge-cek kondisi Bintang. Wajah dokter itu mengguratkan kekecewaan. Entahlah. Mita akhirnya memutuskan untuk pulang saja. Soal boneka itu? Besok ia akan memberikannya kalau Bintang sudah kembali ke bangsal.


Tapi, hingga beberapa hari berlalu Bintang tak kunjung membaik. Sampai suatu hari Mita mendapatkan kabar dari salah satu suster penjaga bangsal. Mita sungguh tak percaya. Bintang meninggal? Ia saja belum sempat memberikan hadiah itu kepada Bintang.


Saat itu juga, Mita langsung bergegas menuju pusara Bintang yang berada tak jauh dari rumah sakit itu. Tak lupa, Mita juga membawa boneka teddy bear besar untuk Bintang.


Mita menangis demi melihat gundukan tanah itu. Bintang yang baru saja dia lihat tempo hari. Sekarang telah tiada. Gadis kecil yang akan menjadi malaikat-malaikat surga. Mita menyeka pipinya, menaruh boneka yang dibawanya tadi disamping nisan Bintang. Mita mendadah dari kejauhan.

“Kak Mita sudah menepati janji sayang.. Kakak bawa boneka itu untuk menemani kamu tidur disana.”







Tamat

Detik Bersamanya, Part 3




“Aku ingin melihat kamu lebih lama lagi. Melihat kamu menjemput kebahagiaan masa depan yang begitu cerah. Saat aku benar-benar telah pergi.” Dia mengusap rambutku. Aku menatapnya lekat. Seketika itu, aku hanya diam, semua kalimat tertahan di kerongkongan. Aku lebih memilih terpekur dalam dekapannya. Malam ini, untuk pertama kalinya aku mengerti satu hal yang sangat penting. Arti sebuah kasih sayang. Aku berjanji akan membalas semua jasa-jasa kak Mita. Meski aku tahu, semua kebaikannya tidak akan terbalaskan. Dia yang selama ini memberiku janji kehidupan yang lebih baik.


“Kak Mita mau kemana?” seruku. Dengan panik aku menuruni tangga, mencoba menahan dia yang sudah membuka pintu depan.

“Keluar kota. Kamu baik-baik dirumah ya?” dia tersenyum tipis.

“Sepagi ini? Kak Mita nggak mau sarapan dulu sama aku?” tanyaku mencembungkan pipi, tanda kekecewaanku.

“Aduh, maaf Dar. Gimana lagi? Pesawatnya berangkat pagi. Kamu sarapan sendiri nggak apa-apa kan?” dia mengecup keningku, memelukku sebentar lantas buru-buru berjalan menuju mobilnya. Mungkin saja dia takut aku akan menghalang-halangi kepergiannya. Sudahlah, aku hanya mendadah dengan cemberut.


Pagi ini aku tidak masuk kantor. Untuk apa? Toh kak Mita juga ada di luar kota. Apalagi Bad mood-ku sedang kambuh.

***
Berhari-hari aku menunggu kepulangannya. Tapi sore ini aku menunggunya di lobby kedatangan. Duduk dengan hati gelisah. Entah, perasaanku tiba-tiba saja tidak enak. Membuang nafas. Melirik jam ditangan. Dan.. Itu dia kak Mita! Bukannya berlari menghampiri, aku malah terpaku, sibuk memperhatikan wajahnya yang pucat pasi.

“Kok aku nggak dipeluk sih? Nggak kangen?” tanyanya pelan, lalu tersenyum. Senyum itu seperti dipaksakan. Aku memeluknya kemudian, cukup lama. Dia balas mengelus punggungku. Badannya terasa dingin.

“Kak Mita..” ucapku sedikit panik. Bagaimana tidak? Aku bisa merasakan nafasnya yang memburu cepat. Aku segera melepas pelukanku. Kak Mita memegang dadanya. Tersengal. Dia ambruk, aku gagal menahan tubuhnya. Aku menangis, mendekap kak Mita. Orang-orang mulai berkerumun.



***

Dokter menggeleng pasrah setiap aku tanya tentang perkembangan kak Mita.

“Tinggal menunggu waktu saja,” dokter itu berkata pelan pada suster disampingnya. Berdehem. Seringkali dokter itu melirik jam arlojinya.

“Tolong dok, jangan biarkan ini terjadi!” aku mencekram baju dokter itu. Aku jatuh bersimpuh. Tidak! Aku tidak mau kehilangan kak Mita!

Aku bangkit, duduk disamping ranjang kak Mita. Selang-selang plastik menghujam disekujur tubuhnya. Dia terkulai tak berdaya. Aku meremas tangannya yang dingin. Dokter dan suster itu hanya menatap prihatin. Aku tersentak, dengan tiba-tiba mesin pengontrol jantung itu berdecit dengan cepat. Aku buru-buru mendekap kak Mita. Tuhan, jangan ambil kak Mita sekarang..


“Dok, detak jantungnya menghilang!” suster berseru panik. Suster itu menarik tubuhku, menjauh dari ranjang itu. Dokter mulai melepas selang-selang yang tadi menempel di tubuh kak Mita. Aku meronta, berteriak histeris. Suster tadi menahanku semakin erat. Tanganku terjulur, terpatah-patah meraihnya, tapi tak bisa. Tubuh yang sudah ditutup dengan kain putih. Aku terpekur di lantai. Semuanya sudah terlambat!

***

Tanganku menyusuri tanah yang masih basah itu. Hujan memang baru saja reda. Hujan yang tadi ikut mengiringi kepergian kak Mita.
“Kenapa kakak pergi nggak pamit sama aku? Bukannya setiap ke luar kota kakak selalu pamit, memelukku, lalu mencium keningku..”

“Kakak takut kalau aku akan menghalang-halangi?”

***

Sepulang dari pemakaman tadi, aku tidak langsung pulang. Langkah kakiku memaksa untuk menyambangi taman itu lagi. Sudah cukup lama aku tidak duduk di ayunan itu. Aku tertegun sejenak, menatap air yang perlahan menetes dari besi-besi tua, air sisa hujan tadi siang. Aku menatapnya miris. Banyak sekali kenangan tercipta di tempat ini. Saat-saat yang tidak mungkin terulang kembali. Sedikit ragu aku duduk di ayunan itu. Aku menoleh sebentar, melihat ayunan disebelahku. Bukankah seharusnya ada kak Mita disitu? Tapi sekarang.. Aku tak mampu untuk sekadar berharap ada kak Mita yang duduk disampingku saat ini.


Tanpa sengaja aku melihat sebuah amplop yang tergeletak di bawah ayunan. Aku mengambilnya. Amplop itu basah kuyup. Lusuh. Aku membukanya perlahan. Ada sepucuk surat didalamnya. Gemetar aku membuka lipatan kertas itu. Airmata sudah memenuhi sudut mataku. Lihatlah, tinta-tinta yang sudah memudar. Tulisan ini.. Kak Mita.


Dara..
Andaikan aku punya waktu lebih lama lagi..
Aku ingin setiap malam menemanimu duduk di taman ini..
Melihat bintang jatuh seperti malam itu..
Melihat kamu cemberut saat aku paksa untuk pulang..
Aku juga tidak keberatan meski harus kamu injak dengan high heels lagi..
Karena hanya detik-detik itu aku bisa merasakan hidup yang sesungguhnya..
Tugasku sudah selesai, Dar..
Aku sudah menemukanmu..
Adikku yang selama ini hilang, dan itu kamu..
Aku sangat bahagia saat berada disampingmu..
Menghabiskan sisa-sisa waktu yang tersisa..
Aku tidak akan melarangmu untuk pergi ke taman ini lagi..
Karena aku akan selalu berada disini untuk menamanimu dengan caraku sendiri..




Sebuah kunang-kunang dengan cahaya berpendar-pendar terbang mengelilingiku. Aku pun bergeming untuk melihatnya. Dan lihatlah siapa yang tersenyum manis di ayunan sebelahku. Aku mencoba menyentuh pipinya. Tapi dengan cepat dia menghilang. Kosong. Aku tidak bisa menyentuhnya! Bayangan itu memudar begitu saja—








Tamat

Detik Bersamanya, Part 2



Aku menutup album itu. Tak mau ambil pusing soal siapa tadi yang ada di dalam foto bersama kak Mita. Aku meletakkannya ke tempat semula. Lantas bergegas menutup pintu dari luar. Malam semakin matang. Menguap lebar. Sudah saatnya aku tidur.

***
Berhari-hari dia belum pulang dari luar kota. Seminggu berlalu. Setiap kali aku mencoba menghubunginya, sia-sia. Hp-nya mati. Kenapa? Itu yang sedang sibuk kupikirkan. Biasanya dia pergi hanya dua hari. Aku sedikit marah. Itu berarti sudah tujuh hari aku tidak menyambangi ayunan itu. Apa aku harus menunggu sampai sepuluh hari? Ah, benar-benar menyebalkan.

Layar hp-ku berkedip. Satu sms masuk. Aku meraihnya. Membaca sekilas. Tertawa riang bin heboh. Isi sms itu adalah kabar baik untukku. Kak Mita pulang pagi ini!!



“Di luar kota ngapain aja sih kak? Kok lama banget? Biasanya cuma dua-tiga hari. Aku kan kangen sama kakak. Rumah jadi sepi,” aku sibuk memprotes, tanganku menyeret kopernya menuju mobil. Dia lebih banyak diam. Hanya tersenyum menanggapi celotehanku. Ah, barangkali dia kecapekan.


Aku diam-diam meliriknya. Dia menyandarkan kepalanya di bahuku. Aneh sekali, ada apa dengan dia? Aku menyentuh keningnya dengan punggung tanganku. “Kak Mita sakit? Kita langsung ke rumah sakit aja ya,” aku makin cemas.

“Nggak usah... Aku nggak kenapa-kenapa. Mungkin cuma kurang tidur,” dia mencoba tersenyum (semuanya baik-baik saja!). Meski sangat terlihat senyum itu di paksakan. Aku meremas erat punggung tangannya. Entahlah, tiba-tiba rasa takut itu muncul. Entah takut akan hal apa.

***

“Kak, istirahat aja deh. Jangan ke kantor dulu. Badan kakak aja masih panas gini,” aku sibuk mencegah. Meletakkan punggung tangan di keningnya (lagi). Panasnya masih sama seperti kemarin pagi. Dia menatapku sebal.

“Dar, kerjaan di kantor banyak! Apa cuma ongkang-ongkang kaki di rumah semua pekerjaan akan terselesaikan? Enggak kan!” dia berdiri, sedikit membentak. Aku tidak berani menatapnya. Lebih memilih diam, urung menjawab kalimat dia tadi. Ah, kenapa tadi aku harus merusak suasana sarapan pagi ini?

“Kak, aku minta maaf soal tadi pagi!” Ucapku setelah membuka pintu ruang kerjanya. Tapi tunggu dulu, kak Mita kemana? Aku celingukan mencari. Mungkin saja kak Mita sedang ada urusan di luar. Lebih baik aku duduk, menunggu sampai dia datang. Aku melihat pergelangan tangan, sudah hampir tiga puluh menitan aku menunggu. Sudahlah. Aku memutuskan untuk kembali ke ruanganku. Soal minta maaf? Nanti-nanti saja juga bisa.
 
Baru saja aku beranjak berdiri, tiba-tiba dalam sekejap, perhatianku teralihkan, mataku terpaku pada sebuah map berwarna hijau yang tergeletak begitu saja di atas meja. Aku pun penasaran dengan isinya. Dengan tampang tanpa bersalah, aku perlahan membukanya. Isinya? Kertas-kertas putih hasil pemeriksaan kesehatan. Memangnya dia sakit apa? Aku mendetail tiap tulisan-tulisan itu. Memahami kalimat medis yang susah di mengerti. Tidak perlu waktu lama untuk aku merangkai penjelasan itu. Tanpa menunggu, air mata dengan segera memenuhi sudut mata. Aku terhenyak saat tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Dan aku gelagapan demi melihat siapa yang datang. Tanpa sengaja kertas-kertas tadi terjatuh dari tanganku, berhamburan di lantai. Kak Mita berjalan mendekat, menatapku dengan bingung. Semakin dia menatapku, maka satu titik air mata jatuh menetes. Dia melipat dahi, melihat kertas berserakan di lantai.

“Kak Mita—” aku menghambur dalam peluknya. Tidak peduli meski kakiku menginjak kertas-kertas itu.

“Kamu sudah tahu semuanya?” suaranya terdengar sengau. Membelai rambut panjangku.

“Kenapa harus orang sebaik kak Mita yang merasakannya?” aku mempererat pelukanku. Aku benar-benar takut kehilangannya. Semua ketakutan itu bukan semu semata. Kenapa harus dia yang menderita penyakit jantung? Kenapa tidak aku saja? Aku menangis sekian lama dalam dekapannya. Dan lihatlah, seberapa tegar kak Mita saat ini. Tembok China di hatinya seakan runtuh saat itu juga. Bagaimana tidak? Aku bisa merasakan basah di pundakku. Dia ikut menangis. Maaf kak, aku membuat kak Mita jadi cengeng seperti ini! Seharusnya aku bisa menguatkan kakak.


Sore itu aku sengaja pulang lebih awal dari jam biasanya. Aku juga memaksa dia pulang bersamaku. Aku tidak akan membiarkan kak Mita lembur. Maka dengan muka masam dia terpaksa menuruti perintahku.

“Pak, kita mampir ke taman biasanya,” ucapnya pada Pak sopir. Aku menatap bingung.

“Ngapain ke taman itu?” tanyaku heran saat mobil berbelok ke arah taman.

“Jangan banyak tanya! Ayo turun,” perintahnya, tidak memberiku kesempatan untuk protes lagi.


Kak Mita malah terlihat antusias, ikut duduk di salah satu ayunan. Aku duduk di ayunan sebelahnya.

“Seharusnya kita kan langsung pulang aja!” aku merajuk kecewa. Padahal, tadi susah payah aku membujuknya pulang. Tetapi kalau pada akhirnya mampir ke taman, apa gunanya?

“Sudah seminggu kan kamu nggak kesini? Apa salahnya aku temenin kamu malam ini?” dia menoleh kepadaku, tersenyum tipis.

“Tetapi kesehatan kakak jauh lebih penting!!” aku beranjak dari ayunan itu. Dia memandangku takzim.

“Karena hanya malam ini aku bisa menemani kamu pergi ke taman ini.” Dia berkata pelan, menarik lenganku. Aku duduk kembali di ayunan. Apa maksud perkataan kak Mita? Aku mendengus kesal.

“Hei! Ada bintang jatuh!!” dia berseru, telunjuknya menunjuk cahaya bintang yang melesat entah kemana. Sayangnya, aku sedang tidak berselera melihat bintang jatuh itu.

“Ayo make a wish!” dia menyenggol lenganku. Matanya mulai memejam. Demi menghargainya, aku juga ikut menutup mata dan mulai membatin sebuah harapan indah.

“Tadi make a wish apa?” tanyanya. Aku menyeringai jahil.

“Kasih tahu nggak ya?” aku memutar bola mataku. Sejurus, dia menarik pipi kananku dengan kencang. Aku mengaduh.

“Kalau kak Mita apa?”






Bersambung...

Cari Blog Ini